
Di part ini kita ambil sisi positifnya ya, author tidak bermaksud mencontohkan hal hal yang tidak baik, ataupun menyudutkan salah satu pihak....
Sekali lagi ini hanya hiburan semata, kita tinggalkan yang buruk dan kita contoh yang baik...
Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author...
Happy Reading...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sevia menenggak minumannya hingga setengah botol, tiba tiba ia merasa kerongkongannya terasa seperti tercekat. Matanya membulat lalu tiba tiba...
Brugh.....
Tubuh Sevia ambruk ke lantai.
" Sevia." Teriak Abhi mengangkat kepala Sevia ke paha.
Sevia mengalami kejang kejang dengan busa keluar dari mulutnya.
" Sevia, apa yang terjadi padamu? Sevia ku mohon jangan seperti ini sayang! Sevia jangan tinggalkan aku! Bertahanlah sayang demi aku." Ucap Abhi tanpa sadar jika Ia menjadi pusat perhatian siswa yang lainnya.
Tanpa pikir panjang Abhi segera membopong tubuh Sevia.
Para siswa tercengang dengan kejadian yang menimpa Sevia dan dengan kata kata yang Abhi lontarkan. Bukankah mereka bermusuhan? Lalu kenapa Abhi begitu perhatian dan takut kehilangan Sevia.
Desas desus mulai terdengar di telinga.
" Ya Tuhan.. Apa yang terjadi pada Sevia." Ujar Hana.
" Bawa ke mobil gue Bhi, kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Reno.
Abhi berlari membawa Sevia menuju mobil
Reno di ikuti Hana dan Reno dari belakang.
Abhi memangku tubuh Sevia di kursi belakang, sedangkan Hana dan Reno di depan. Reno segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Sevia segera di tangani oleh dokter di ruang ICU. Abhi dan yang lainya menunggu di depan ruangan.
" Bagaimana jika Sevia tidak tertolong Ren? Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, aku telah ceroboh dalam menjaganya,ya Tuhan... Selamatkan Sevia." Abhi mengusap air matanya.
" Tenanglah Bhi! Kita berdoa saja semoga Sevia dapa tertangani dan dia baik baik saja." Ujar Reno.
" Iya Bhi, kita berdoa untuk keselamatan Sevia." Sahut Hana.
Abhi nampak komat kamit membaca doa untuk istrinya.
" Gue yakin kalau Riana berada di balik semua ini." Ucap Hana.
" Apa maksud lo Han?" Tanya Reno.
" Lo pikir saja deh, kalau Sevia tahu di dalam minumannya ada racun, pasti dia tidak mau donk meminumnya, dia tidak sebaik itu hingga dia mengorbankan dirinya sendiri demi orang lain Ren." Ujar Hana.
Abhi dan Reno saling melempar pandangan.
" Mending sekarang lo kabari mertua lo dulu Bhi, urusan Riana biar gue yang urus." Ucap Reno.
Abhi segera menghubungi Tuan Anton. Setelah itu ia duduk termenung di kursi tunggu.
" Bertahanlah demi aku, lawan lah racun itu sayang, aku tidak mau kehilanganmu." Gumam Abhi menarik kasar rambutnya.
Tap.... tap... tap....
Kedua mertua Abhi berjalan cepat menghampirinya.
" Bagaimana kondisi Sevia, Abhi?" Tanya nyonya Nadira.
__ADS_1
" Sedang di tangani dokter Ma." Sahut Abhi.
" Ya Tuhan, Sevia... Pa bagaimana kalau Sevia tidak selamat Pa? Mama tidak bisa menerima ini." Ucap nyonya Nadira.
" Maafkan aku yang tidak bisa menjaga Sevia, hingga Sevia mengalami kejadian seperti ini." Lirih Abhi menundukkan kepalanya.
" Kalau sampai Sevia kenapa napa, Mama benar benar akan menyalahkan kamu." Ucap nyonya Nadira.
Abhi memejamkan matanya, ia tidak bisa membayangkan jika Sevia benar benar tidak tertolong.
" Tenang Ma! Kita doakan yang terbaik untuk Sevia, berpikirlah positif! Jangan berpikir hal hal yang buruk!" Sahut Tuan Anton.
Ceklek....
Pintu terbuka, seorang dokter pria keluar dari sana. Abhi segera menghampirinya.
" Bagaimana kondisi istri saya Dok?" Tanya Abhi.
" Istri? Dia istri anda?" Dokter mengerutkan keningnya, pasalnya Abhi dan Sevia masih menggunakan seragam sekolah.
" Iya, bagaimana kondisinya sekarang?" Abhi bertanya lagi.
" Ah maaf.... Beruntung racunnya belum menyebar ke jantung pasien, jadi kami berhasil mengeluarkan racunnya, namun kondisi pasien saat ini masih kritis, berdoa saja semoga pasien berhasil melewati masa kritisnya." Terang dokter.
" Racun apa yang anak saya minum Dok?" Tanya Tuan Anton.
" Sejenis sian*da, namun ini tidak seganas sian*da jadi masih ada peluang menyelamatkannya." Sahut dokter.
" Apa dia akan baik baik saja Dok?" Tanya Abhi.
" Insya Allah pasien akan segera pulih jika sudah melewati masa kritisnya." Sahut dokter.
" Kapan saya bisa menemuinya Dok? Tanya Abhi.
" Sekarang boleh, tapi bergantian saja, saya permisi." Ucap dokter.
" Papa atau Mama duluan, aku yang terakhir saja." Ujar Abhi.
" Tidak, kami akan menemui Sevia kalau sudah di pindah ke ruang rawat, jadi kamu saja yang menemaninya saat ini." Ujar nyonya Nadira.
" Baiklah." Sahut Abhi.
Ceklek....
Abhi masuk ke dalam, ia menghampiri ranjang Sevia lalu menatap wajah pucat Sevia.
" Maafkan aku sayang." Abhi mengecup kening Sevia.
" Maafkan aku, karena tuduhan ku membuatmu jadi seperti ini hiks... Tanpa sengaja aku telah membuatmu dalam bahaya, maafkan aku yang telah meragukanmu, maafkan aku sayang." Abhi kembali mengecup kening Sevia lama.
Abhi duduk di bangku sebelah ranjang, ia menggenggam tangan Sevia.
" Cepat sadar sayang! Aku tidak mau kehilangan kamu, aku merindukan omelanmu yang tidak berguna itu, aku rindu sikap jailmu sama aku, aku rindu tatapan tajam yang sering kau berikan kepadaku, sadarlah sayang, aku merindukan apa yang ada pada dirimu." Abhi mencium punggung tangan Sevia.
...****************...
Riana di panggil ke depan oleh kepala sekolah. Sedangkan teman teman yang lain tetap berada di kursinya.
" Riana, darimana kau tahu kalau minuman yang di bawa Sevia mengandung racun?" Pak Dedy menatap tajam ke arah Rania.
" Saya melihatnya memasukkan sesuatu ke dalam botol itu Pak." Sahut Riana.
" Apa kau punya bukti atas tuduhanmu?" Pak Dedy bertanya lagi.
" Sevia memasukkan bungkusnya di dalam tasnya Pak." Ucap Riana.
Pak Desfian segera menggeledah tas Sevia, dan benar saja, ia menemukan bungkus obat yang sudah kosong.
__ADS_1
" Ini Pak." Pak Desfian memberikan bungkus itu kepada Pak Dedy.
" Jika Sevia yang memberinya, lalu kenapa dia nekat meminumnya?" Gumam pak Dedy.
" Untuk menutupi kesalahan dan rasa malunya Pak, karena dia ketahuan berbuat salah." Sahut Riana.
Teman teman yang lain saling melempar pandangan.
" Sevia tidak akan melakukan hal itu Pak." Ujar Hana.
" Jika Sevia sengaja ingin meracuni Abhi, kenapa dia sendiri yang memberikan botol itu kepada Abhi? Bukankah seharusnya Sevia melakukannya secara diam diam? Sevia tidak sebodoh itu hingga dia harus meninggalkan jejak." Ucapan Hana di benarkan oleh pak Dedy namun ia juga harus punya bukti.
" Jika kamu menyangkal kesaksian Riana, kamu harus punya buktinya Hana." Ucap pak Desfian.
Riana menyembunyikan senyumnya.
" Saya bisa membuktikannya Pak." Ucap siswa bernama Falah.
Riana menoleh ke belakang menatap Falah tidak percaya.
" Bukti apa yang akan kau tunjukkan kepada kami Falah?" Tanya pak Dedy.
" Ini Pak, ini sebuah video yang membuktikan Sevia tidak bersalah." Falah memberikan ponselnya kepada pak Dedy.
" Tadi saya sedang membuat konten, tanpa sengaja kamera saya menangkap pelaku yang sebenarnya ingin mencelakai Sevia, namun Sevia memberikan botol nya kepada Abhi, itu sebabnya Riana menghentikannya, karena sasarannya Sevia bukan Abhi." Ucap Falah melirik Riana.
Pak Dedy memitar video yang berdurasi dua puluh detik itu, dimana Riana sedang memasukkan sesuatu ke minuman Sevia, lalu ia memasukkan bungkusnya ke dalam tas Sevia.
" Apa apaan ini Riana." Bentak pak Desfian membuat Riana berjingkrak kaget.
" Saya tidak menyangka kau bisa melakukan semua ini kepada temanmu sendiri." Ucap pak Desfian dengan nada meninggi.
" Sa... Saya.... Saya minta maaf Pak." Gugup Riana.
" Kata maafmu tidak bisa membuat Sevia pulih seperti sedia kala, dia sekarat di rumah sakit akibat perbuatanmu, dan semudah itu meminta maaf? Perbuatanmu ini tidak bisa di maafkan." Ujar pak Desfian.
Hana menghampiri Riana, ia menatap tajam ke arahnya lalu...
Plak....
Tamparan keras mendarat di pipi Riana.
" Lo harus di hukum atas perbuatan lo yang sudah menyakiti sahabat gue, lo harus merasakan apa yang Sevia rasakan saat ini." Ucap Hana.
" Apa maksud lo Hana?" Tanya Riana.
" Lo harus meminum racun yang sama yang lo berikan kepada Sevia."
Jeduar..
" Tidak.... gue tidak mau, gue melakukan itu karena gue ingin mendapatkan Abhi, gue suka sama Abhi tapi Abhi malah suka sama Sevia, itu sebabnya gue ingin melenyapkan Sevia dari hidup Abhi." Ungkap Riana.
" Lo hilang Riana, lo bermain main dengan nyawa orang hanya karena cemburu." Ujar Hana menggelengkan kepalanya.
" Gue menyesal Hana, gue tidak berpikir kalau tindakan gue membuat Sevia sekarat, gue minta maaf Hana." Ucap Riana.
" Tidak Riana, kamu di keluarkan dari sekolah ini sekarang juga." Ucap pak Dedy memberi keputusan.
" Dan mengenai hukuman, kami akan menyerahkannya kepada pihak keluarga Sevia, apakah mereka akan memaafkanmu atau memenjarakanmu." Ucapan pak Dedy bagai pedang yang menyayat leher Riana.
Harapannya sekolah tinggi pupus sudah sampai di sini. Ia menyesali perbuatannya karena kecerobohan yang ia lakukan hingga mencelakai nyawa seseorang. Karena menuruti kebencian dan emosi sesaat justru membawanya ke dalam kubangan penderitaan.
Jangan di contoh ya perilaku buruk Riana..
Miss U All....
TBC.....
__ADS_1