Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Berdebat


__ADS_3

Nada menatap langit langit kamarnya. Richard yang katanya mau menjemputnya sepulang dari kantor, nyatanya tidak datang.


" Sepertinya Mas Richard masih marah sama aku, apa aku telepon saja ya? Takutnya kalau Mas Richard kenapa napa." Monolog Nada.


Nada mengeluarkan ponselnya, ia segera menelepon Richard.


Tut.... Tut....


Telepon tersambung namun Richard belum juga mengangkatnya.


Klik...


Richard justru menolak panggilannya. Nada menghela nafasnya pelan.


Nada mencoba menelepon Richard lagi, kali ini panggilan terjawab.


" Halo Mas." Ucap Nada.


Tidak ada sahutan, samar samar Nada mendengar suara perempuan.


Kau tenang saja Richard, aku akan membuatmu puas malam ini


Klik....


Nada mematikan sambungan teleponnya. Entah mengapa hatinya terasa sakit mendengar ucapan wanita itu tanpa tahu artinya.


" Apa yang kau lakukan dengannya Mas? Apa kalian melakukan hal terlarang? Kau bilang sangat mencintaiku tapi kenapa kau melakukan ini padaku? Di saat aku membutuhkanmu kau justru tidak ada di sampingku, kau malah bersama yang lainnya." Monolog Nada.


Tidak mau bersedih, Nada memejamkan matanya.


Di dalam ruangan Richard, saat ini Richard sedang minum bersama Rida sekretarisnya dan Juna, asisten pribadinya.


Awalnya mereka hanya ingin minum sedikit saja namun mereka larut dengan suasana. Alhasil mereka bertiga mabuk.


...----------------...


Pagi hari menyingsing, Nada bangun dari tidurnya. Ia segera mandi lalu turun ke bawah menghampiri mamanya yang sedang masak.


" Pagi Ma." Sapa Nada duduk di kursi.


" Pagi sayang, kenapa Richard tidak menjemputmu?" Tanya nyonya Nadira.


" Dia lagi keluar kota Ma." Kilah Nada.


" Memang seperti itu kalau punya suami seorang pengusaha, kita harus siap jika tiba tiba di tinggalkan." Ujar nyonya Nadira.


" Iya Ma." Sahut Nada.


" Kau benar Ma, aku harus siap di tinggalkan Mas Richard kapan saja, apalagi saat ini Mas Richard sedang dekat dengan seorang wanita, jadi aku harus menyiapkan diriku jika suatu saat wanita itu mengaku hamil dengannya." Batin Nada.


" Kapan dia akan kembali?" Nyonya Nadira.

__ADS_1


" Mungkin siang nanti atau beberapa hari ke depan Ma, tergantung pekerjaannya di sana." Ujar Nada.


Nyonya Nadira menyiapkan makanan di meja makan.


" Sekarang ayo kita makan." Ajak nyonya Nadira.


Nyonya Nadira dan Nada makan dengan khidmat.


Ting tong


Suara bel berbunyi, Nada segera membuka pintunya.


Ceklek...


Nada menatap Richard yang saat ini berdiri di depannya dengan keadaan kacau. Kemeja kusut, jas di tangannya, dan rambut acak acakkan.


" Pagi sa....


Nada masuk ke dalam membuat Richard melongo. Richard mengikuti Nada dari belakang kembali ke meja makan.


" Richard, kamu sudah pulang? Kenapa keadaanmu berantakan seperti ini?" Tanya nyonya Nadira.


" Mas Richad sangat sibuk Ma, makanya dia tidak memperhatikan penampilannya." Sahut Nada.


" Ya sudah ambilkan makanan untuk suamimu." Ucap nyonya Nadira.


" Iya Ma." Sahut Nada.


" Bukankah seharusnya aku yang marah? Kenapa malah sepertinya Nada yang marah? Apa karena aku tidak menjemputnya semalam? Ini semua gara gara Rida dan Juna." Batin Richard.


" Ma aku ke kamar dulu ya, mau menyiapkan baju buat Mas Richard." Ucap Nada meninggalkan meja makan.


Richard menatapnya dengan tatapan heran. Ia segera menghabiskan makanannya.


" Ma aku ke kamar dulu ya." Ucap Richard.


" Iya." Sahut nyonya Nadira.


Richard berjalan menuju kamar Nada.


Ceklek...


Richard masuk ke dalam menghampiri Nada yang katanya ingin menyiapkan baju untuk Richard, nyatanya ia duduk bersandar sambil memainkan ponselnya.


" Sayang, mana baju ganti buat aku?" Tanya Richard menatap Nada.


" Memangnya kamu ke sini bawa baju? Enggak kan? Kalau mau cari baju ganti, sana pulang ke rumah bukan ke sini." Ketus Nada tetap fokus pada ponselnya.


" Sayang kamu marah karena Mas nggak jemput kamu?" Richard merebut ponsel Nada.


" Apaan sih Mas! Kembalikan ponselku!" Ucap Nada.

__ADS_1


" Kalau kamu marah sama Mas karena Mas tidak menjemputmu Mas minta maaf, semalam Mas sangat sibuk sayang, tapi tidak seharusnya kamu bersikap seperti sama Mas sayang." Ujar Richard.


" Seharusnya Mas yang marah sama kamu karena kamu tidak mengijinkan Mas menyentuhmu, Mas sangat tersiksa sayang, karena Mas tidak bisa menyalurkan hasrat Mas." Sambung Richard.


Nada berdiri di depan Richard lalu menatapnya dengan nyalang.


" Bukankah semalam kau sudah melepaskannya? Wanita itu memuaskan malammu sampai pagi kan? Lalu kenapa sekarang kau kemari? Aku malah senang kamu tidak menjemputku, biarkan aku tinggal di sini bersama mamaku." Ucap Nada.


Richard mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan apa yang Nada ucapkan, ia juga tidak menyangka kalau Nada bisa menjadi berani kepadanya.


" Apa maksudmu sayang? Wanita mana yang kau maksud? Apa maksudmu melepaskan? Mas tidak mengerti apa maksud ucapanmu." Ujar Richard.


" Tidak perlu beralasan lagi Mas, semalam kamu bukan sibuk bekerja tapi kau sibuk bersenang senang dengan wanita lain, itu sebabnya kau menolak teleponku, di sini aku memikirkan bagaimana caranya membujukmu agar kamu tidak marah lagi, tapi di sana kau malah bersenang senang." Ucap Nada.


Deg...


Jantung Richard terasa berhenti berdetak.


" Kamu meneleponku? Tidak ada panggilan telepon di ponselku." Ucap Richard.


Richard mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia membuka riwayat telepon di WA nya.


Satu panggilan tak terjawab dan satu panggilan masuk dari Nada.


" Siapa yang mengangkat panggilannya? Kenapa aku tidak menyadarinya? Nada salah paham akan hal ini." Batin Richard.


" Sayang kamu salah paham, apa yang kau dengar saat kau meneleponku?" Tanya Richard.


" Wanita itu berkata kalau dia akan membuatmu puas semalaman, kau sudah menghabiskan waktu bersamanya kan? Kenapa kau tidak menikahinya? Seharusnya kau menikahinya saja dan biarkan aku menikah dengan Mas Reno."


" Nada." Bentak Richard hendak mengangkat tangannya.


" Kenapa? Mau menamparku? Tampar saja! Kau tidak ada bedanya dengan papaku." Ucap Nada berjalan menuju balkon.


Ia membuka pintunya lalu duduk di balkon kamarnya mencoba meredam emosi nya. Walaupun ia belum mencintai Richard tapi ia tidak akan terima kalau sampai Richard mengkhianatinya.


" Sayang Mas minta maaf!" Richard duduk di samping Nada.


" Jujur, semalam Mas memang tidak sibuk bekerja, Juna dan Rida mengajak Mas minum sebentar, Mas pikir kalau sebentar saja tidak masalah, tapi kami malah terbawa suasana sampai kami mabuk berat, mungkin pas kamu telepon, Rida sedang mengucapkan ingin memuaskan Mas dengan minuman maksudnya, kami tidak melakukan apa apa, karena setelah kami minum, kami bertiga tidak sadarkan diri, kami bertiga langsung tertidur di tempat, di ruangan Mas." Terang Richard.


" Aku tidak peduli apa yang terjadi Mas, terserah kau saja mau melakukan apa!" Nada masuk ke dalam kamarnya.


Richard menghela nafasnya pelan. Ia harus membujuk Nada agar Nada tidak marah padanya.


Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹 buat author biar author semangat nulisnya...


Terima kasih untuk reades yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


Karya terbaru Author... Author tunggu dukungan kalian di sana ya... Thank you...

__ADS_1



__ADS_2