Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Menemanimu


__ADS_3

Pagi ini Sevia sudah di pindahkan ke ruang rawat. Dengan setia Abhi menemaninya tanpa mau meninggalkannya walau hanya sebentar saja.


Abhi menatap wajah Sevia yang nampak pucat. Tak terasa air matanya menetes begitu saja.


" Abhi kamu makan dulu, dari kemarin kamu sama sekali belum makan, Mama tidak mau kalau kamu sampai sakit." Ucap nyonya Nadira meletakkan makanannya.


" Aku nggak nafsu makan Ma, aku mau nunggu Sevia sadar dulu." Sahut Abhi mengusap air matanya.


" Makanlah walau hanya sedikit Abhi." Bujuk nyonya Nadira


" Sevia seperti ini gara gara aku Ma, aku belum bisa tenang sebelum Sevia sadar." Ujar Abhi menggenggam tangan Sevia.


" Baiklah terserah kau saja, Mama pulang dulu ya, kalau Sevia sadar segera beritahu Mama." Ucap nyonya Nadira.


Bukan ia tidak mau menemani putrinya, namun ia ingin memberikan waktu berdua untuk Abhi dan Sevia.


" Hati hati Ma!" Ucap Abhi.


Sepeninggal mama mertuanya, Abhi kembali meneteskan air mata. ia merasa sangat sedih dan takut akan kehilangan istri yang sudah mencuri hatinya sejak lama.


" Sayang ku mohon bukalah matamu! Aku akan mempercayai semua ucapanmu setelah ini, maafkan aku sayang.... Ku mohon bangunlah, marahi aku, kalau kamu mau pukul aku, tapi jangan diam seperti ini, aku merindukan omelanmu dan tingkah absurd mu, sadarlah sayang aku sangat merindukanmu." Abhi mengusap air matanya.


Tatapannya tertuju pada jemari Sevia yang mulai bergerak.


" Sayang kamu merespon ucapanku." Abhi merasa bahagia.


" Sayang bangunlah! Buka matamu! Kami semua merindukanmu." Ucap Abhi menggenggam tangan Sevia.


Perlahan Sevia membuka matanya.


" Sayang kamu sadar, aku bahagia banget sayang, akhirnya kamu sadar, aku merindukanmu." Tanpa sadar Abhi memeluk Sevia.


Deg....


Tubuh Sevia mematung, jantungnya berdetak sangat kencang. Ada sesuatu yang berdesir di dalam hatinya.


" Sayang." Abhi menangkup wajah Sevia.


" Haus." Lirih Sevia.


" Sebentar aku ambilkan minum." Abhi segera mengambil segelas air putih. ia membantu Sevia meminumnya.


Sevia menatap Abhi, begitupun sebaliknya.


" Aku minta maaf sayang." Ucap Abhi.


" Sayang?" Sevia mengerutkan keningnya.


Entah mengapa ucapan Abhi seperti air es yang menyiram hati Sevia.


" Ah maaf, aku salah mengucapkan, maksudku aku minta maaf Sevia." Kilah Abhi.

__ADS_1


Hati Sevia mencelos, ia berpikir panggilan sayang itu Abhi ucapkan untuknya namun ternyata untuk Riana, kekasihnya.


" Kau butuh sesuatu?" Tanya Abhi.


Sevia menggelengkan kepalanya. Ia memejamkan matanya menahan sesak di dalam hatinya.


" Seharusnya gue nggak terlalu berharap, lagian siapa gue buat Abhi? Hanya cewek bandel yang jauh dari kata idaman, gue bukan spec idamannya." Batin Sevia.


" Aku akan panggil Dokter." Ucap Abhi meninggalkan Sevia.


Tak lama setelah itu Abhi kembali bersama seorang dokter.


" Saya periksa dulu Nona." Ucap dokter.


Dokter memeriksa Sevia, dari tensi, detak jantung dan sebagainya.


" Semuanya baik, semua alat vital bekerja dengan baik, istirahat cukup dan minum obat secara teratur membantu pemulihan." Ujar dokter.


" Alhamdulillah, terima kasih Dok." Ucap Abhi.


" Saya permisi." Dokter keluar ruangan.


Abhi duduk di kursinya menatap Sevia yang malah memalingkan wajahnya.


" Semalam Reno ke sini, dia bilang kalau semua ini rencana Riana buat nyakitin kamu, dia iri sama kamu dan dia berniat untuk melenyapkanmu, itulah sebabnya dia menghentikanku saat hendak meminumnya." Sevia mengepalkan erat tangannya mendengar ucapan Abhi.


" Dia sudah di keluarkan dari sekolah, dan aku melaporkannya ke polisi, saat ini dia sedang dalam penyelidikan." Sambung Abhi.


" Kenapa lo laporin dia ke polisi? Bukankah dia pacar lo? Atau lo mau cari sensasi biar semua orang memuji lo." Sevia menatap Abhi.


" Dia bukan siapa siapa bagiku Se, dia tidak se istimewa dirimu." Sahut Abhi.


Lagi lagi ucapan Abhi membuat hati Sevia teduh. Namun ia kembali berpikir kata istimewa yang Abhi ucapkan itu karena dia istrinya.


" Lalu kemarin?" Tanya Sevia.


Abhi paham apa yang di maksud oleh Sevia.


" Kemarin ban ku bocor, aku naik taksi untuk sampai ke sekolah, sampai di depan sekolah aku terburu buru menyebrang karena jam sudah mepet banget, aku tidak melihat jika ada mobil yang melaju kencang, Riana menolongku dan dia jatuh sampai sikunya lecet, dia minta bantuanku untuk menggandeng nya sampai ke kelas, itulah sebabnya aku masuk ke kelas bareng sama dia." Terang Abhi.


Abhi menggenggam tangan Sevia.


" Aku tidak akan menjalin hubungan dengan gadis lainnya, karena aku sudah menikah, aku ingin menikah sekali dalam hidupku, gadis yang akan aku cintai yaitu gadis yang menjadi istriku, ku harap kau paham akan hal itu." Ujar Abhi memberi kode.


Sevia menatap Abhi dengan penuh haru. Walaupun ia tidak yakin dengan signal yang di berikan oleh Abhi.


Ceklek....


" Sevia lo baik baik saja?" Sevia segera menarik tangannya. Ia menatap Ezzar yang baru saja masuk.


" Abhi, lo di sini? Sejak kapan?" Ezzar mengerutkan keningnya menghampiri mereka.

__ADS_1


" E... E... A.. Aku...


" Abhi menjenguk ku Zar, karena aku sendiri di sini jadi dia menemaniku, dia merasa bersalah karena secara tidak langsung dia yang menyebabkan aku seperti ini." Sahut Sevia memotong ucapan Abhi.


Ia tidak ingin kalau pernikahannya terendus oleh teman temannya, termasuk Ezzar. Lebih tepatnya belum ingin.


Abhi menghela nafasnya, ia berpikir inilah saat yang tepat untuk mengumumkan pernikahan mereka.


" Oh gue kira lo ada hubungan sama Abhi, secara kan kemarin Abhi panik banget tuh saat lihat lo kejang kejang, terus Abhi manggil lo sayang gitu." Ujar Ezzar.


" Abhi manggil gue sayang? Lo salah dengar kali." Ujar Sevia.


" Enggak, teman teman juga dengar kok, Abhi ngucapinnya sangat jelas." Sahut Ezzar.


Sevia menatap Abhi, Abhi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Tapi benar kan lo nggak punya hubungan apa apa sama Abhi?" Selidik Ezzar. ia menangkap kejanggalan di sini.


" Itu bukan urusan lo Zar, biarkan itu menjadi privasi gue, by the way thanks ya lo udah jenguk gue." Ucap Sevia.


Ezzar sedikit kecewa dengan jawaban Sevia. Namun ia berusaha terlihat baik baik saja.


" Iya, gue ke sini nggak sendirian, ada Reno sama Hana kok, mereka lagi di parkiran." Sahut Ezzar.


Ceklek.....


" Assalamu'alaikum Sevia." Hana menghampiri Sevia dengan parcel buah di tangannya.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Abhi.


" Alhamdulillah kamu udah sadar Sev." Hana memeluk Sevia.


" Iya, makasih ya udah jenguk gue." Ucap Sevia.


" Nih Bhi dari Ezzar, dia malah kabur duluan." Hana memberikan parcelnya kepada Abhi.


" Thanks ya." Ucap Abhi.


" Cepat sembuh ya Sev, biar kita bisa bareng bareng lagi di sekolah, sepi tahu nggak kalau nggak ada lo." Ujar Hana.


" Do'ain aja ya biar gue cepat subuh, gue juga nggak betah lama lama di sini." Ujar Sevia.


" Pasti, doa terbaik buat lo." Sahut Ezzar.


Mereka mengobrol untuk menghibur Sevia. Kadang Ezzar ngebanyol membuat Sevia tertawa. Abhi tersenyum bahagia melihat semua itu.


" Semoga kau selalu tersenyum bahagia seperti ini Se, maafkan aku, untuk saat ini aku belum bisa mengungkapkan perasaanku padamu, aku takut cintaku bertepuk sebelah tangan, dan pengakuanki justru akan membuatmu menjauh dariku." Ujar Abhi dalam hatinya.


Yuk tekan like koment vote dan 🌹nya buat Abhi.


Terima kasih author ucapkan untuk readers tersayang yang udah memberikan suportnya kepada author, semoga sehat selalu....

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2