
Delapan bulan telah berlalu, usia kandungan Sevia memasuki bulan ke sembilan. Kini Sevia menjadi orang yang sedikit pemalas. Jangankan untuk beraktifitas, untuk jalan saja ia merasa kesusahan karena tubuh dan perutnya yang membesar.
" Yank ayo sarapan!" Abhi menghampiri Sevia yang sedang berbaring di ranjang.
" Yank aku malas turun ke bawah, rasanya tubuhku berat banget." Sahut Sevia.
" Sayang kamu tidak boleh malas! Kamu harus olahraga." Ucap Abhi.
" Padahal perutku tidak terlalu besar ya, tapi entah kenapa rasanya begitu malas membawa tubuh ini berjalan." Gerutu Sevia turun dari ranjang.
" Aku gandeng deh! biar nggak jatuh!" Sahut Abhi.
Abhi menuntun Sevia menuruni anak tangga, Abhi sudah menawarkan untuk pindah kamar bawah kepada Sevia, namun Sevia tidak mau dengan alasan kamarnya sempit.
" Duduk sini." Abhi menarik kursi untuk Sevia.
Sevia duduk di sana.
" Sekarang ayo makan, babby kita butuh asupan gizi yang banyak." Ucap Abhi.
Abhi mengambilkan makanan untuk Sevia, semenjak kandungan Sevia menginjak tujuh bulan, semua pekerjaan rumah Abhi yang mengerjakan. Ia tidak mau kalau sampai Sevia kelelahan.
Abhi berencana memakai jasa ART setelah Sevia melahirkan supaya ia bisa ikut andil membesarkan anak mereka.
Keduanya makan dengan khidmat. Tiba tiba...
" Awh Yank!" Ucap Sevia.
Abhi menatap Sevia, ia meletakkan sendoknya lalu mendekati Sevia yang sedang memegangi perutnya.
" Ada apa sayang?" Tanya Abhi.
" Perutku sakit... Rasanya panas, pegal campur mulas gitu Yank, apa aku mau pup kali ya." Ujar Sevia.
" Jangan jangan kamu melahirkan sayang." Ucap Abhi.
" Melahirkan?" Sevia menjeda ucapannya.
Ia membayangkan bagaimana rasanya saat melahirkan nanti.
" Yank pasti ini akan sakit sekali, aku takut Yank!" Sevia memegang lengan Abhi. Ia nampak panik ketakutan.
" Sayang tenangkan dirimu! Jangan panik! Atau tekanan darahmu akan tinggi nanti." Ujar Abhi menyentuh kedua bahu Sevia.
" Tarik nafas dalam dalam, lalu keluarkan lewat mulut sayang." Ucap Abhi memberi instruksi.
Sevia mengikuti apa kata Abhi.
" Jangan berpikiran yang tidak tidak! Berpikirlah positif, kamu bisa melahirkan normal sayang, kamu bisa, kamu pasti bisa! Sevia yang aku kenal selama ini tidak takut pada apapun, apalagi rasa sakit." Ujar Abhi memberikan suport.
" Terima kasih Yank, sudah menguatkan aku." Ucap Sevia.
" Sudah lebih tenang?" Tanya Abhi.
Sevia menganggukkan kepalanya.
" Kalau begitu mari kita ke rumah sakit, ingat! Di sana kamu harus tetap tenang! Jangan panik! Ok." Ucap Abhi.
__ADS_1
" Iya." Sahut Sevia.
" Aku gendong." Ucap Abhi.
Abhi menggendong Sevia ala bridal style menuju mobilnya. Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Abhi menggendong Sevia menuju ruangan UGD.
" Suster tolong! Istri saya mau melahirkan." Ucap Abhi.
" Silahkan tidurkan di sini Tuan!" Sahutnya.
Abhi merebahkan Sevia di atas brankar.
" Kita pindah ke ruangan bersalin ya Nyonya, Tuan silahkan urus administrasi dulu." Ujar Suster.
" Iya Sus." Sahut Abhi.
" Sayang aku ke bagian administrasi dulu ya, kamu harus kuat." Ucap Abhi mencium kening Sevia.
" Iya Yank, jangan lama lama." Sahut Sevia.
Suster mendorong brankar Sevia ke ruangan bersalin sedangkan Abhi menuju bagian administrasi. Di dalam ruang bersalin Sevia di periksa oleh dokter ahli kandungan.
Selesai dengan urusan administrasi, Abhi segera menyusul ke ruang bersalin. Ia masuk ke dalam menatap Sevia yang nampak gelisah.
" Sayang apa yang terjadi hmm?" Abhi menghampiri Sevia. Ia menggenggam tangan Sevia.
" Rasanya semakin sakit Yank." Keluh Sevia.
" Kamu yang sabar ya, sakit itu akan segera tergantikan dengan kebahagiaan untuk kita." Ucap Abhi mengusap keringat yang menetes di dahi Sevia.
" Iya sayang, tarik nafas yang panjang lalu hembuskan lewat mulut." Ujar Abhi.
Sevia mengikuti instruksi Abhi.
" Kapan anak saya akan lahir Dok? Sampai kapan istri saya harus menahan rasa sakitnya?" Tanya Abhi.
" Sekarang masih pembukaan empat Tuan, masih ada enam pembukaan lagi, persalinannya bisa siang hingga sore hari, apalagi ini persalinan pertama." Sahut dokter Mila.
" Yank sakit banget shhh." Abhi menoleh ke arah Sevia yang nampak kesakitan.
" Sayang." Abhi kembali mencium kening Sevia.
" Sakit Yank." Keluh Sevia meneteskan air matanya.
" Sabar sayang! Aku harus gimana?" Abhi turut meneteskan air mata. Ia tidak tega melihat Sevia seperti ini.
" Di bawa jalan jalan dulu aja Nona, itu akan mempercepat proses pembukaan." Saran dokter Mila.
" Gimana mau jalan jalan Dok, rasanya sakit banget." Sahut Sevia ketus.
" Kita coba pelan pelan sayang! Ayo aku bantu." Ucap Abhi lembut.
Sevia turun dari ranjang, ia berjalan mondar mandir dengan di tuntun Abhi.
" Maafkan istri saya Dok." Ucap Abhi.
__ADS_1
" Tidak masalah Tuan, ini biasa terjadi,kalau begitu saya permisi dulu, nanti kalau sudah pembukaan sempurna, saya kemari lagi, suster Eni akan menemani kalian di sini." Sahut dokter Mila.
" Silahkan Dok! Terima kasih." Sahut Abhi.
" Shhhhh." Desis Sevia sambil jongkok.
" Sakit banget ya Yank." Abhi mengelus punggung Sevia. Sevia menganggukkan kepalanya.
" Maafkan aku Yank! Gara gara aku kamu jadi kesakitan seperti ini." Ucap Abhi.
" Ini sudah qodratku sebagai wanita Yank, tapi aku tidak menyangka kalau rasanya sesakit ini, aku jadi teringat mama... Selama ini aku jadi anak bandel, aku sering melawan mama hanya karena beda pendapat saja, kalau nanti mama ke sini aku ingin meminta maaf padanya." Ujar Sevia.
Abhi tersenyum mendengar ucapan Sevia.
" Kau wanita hebat Sevia, selama ini kau tidak pernah mengeluh sakit, tapi hari ini kau bahkan menangis karena kesakitan, semoga rasa sakit dan air matamu ini mendapat balasan surga dari yang Maha Kuasa sayang." Ucap Abhi mengusap air mata Sevia.
" Amin." Ucap Sevia.
Sevia kembali berjalan ke sana kemari, jika rasa sakit menyerang, ia berjongkok atau menungging. Begitu nikmatnya menjadi seorang perempuan yang hendak melahirkan buah hati mereka. Penuh perjuangan demi memberikan kehidupan kepada sang buah hati tercinta.
Sungguh mulia derajat kaum ibu, semoga kita semua bisa bertemu di dalam surga-Nya.
Setelah menunggu dua jam lamanya. Akhirnya Sevia mengalami pembukaan sempurna. Dokter Mila dan dua orang suster segera membantu persalinan nya. Abhi setia menemani Sevia di sampingnya.
" Ayo dorong Nona! Kepala dedeknya udah terlihat." Ucap dokter Mila.
Sevia mengejan dengan sekuat tenaga. Tangan Abhi terus menggenggam tangannya, seolah menyalurkan kekuatan dari sana.
" Sekali lagi Nona!" Ucap dokter Mila.
Sevia kembali mengejan lalu....
Oek... Oek....
Suara tangisan bayi membuat Sevia dan Abhi merasa lega.
" Selamat Nona, Tuan, bayi anda laki laki. Dia sehat, normal, dan sangat tampan." Ucap dokter Mila.
" Alhamdulillah." Ucap Sevia dan Abhi bersamaan.
Cup... Cup... Cup....
Abhi mengecup kening dan kedua pipi Sevia berkali kali meluapkan rasa bahagia dalam hatinya.
" Terima kasih sayang, Terima kasih telah memberikanku hadiah terindah dalam hidup ini, aku semakin mencintaimu." Ucap Abhi.
" Aku juga mencintaimu." Sahut Sevia.
Keduanya tersenyum bahagia dengan kelahiran buah hati mereka. Mereka berharap sang putra akan menjadi anak yang sholeh, berbakti kepada kedua orang tua, dan berguna bagi nusa dan bangsa.
Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹nya buat babby nya Abhi dan Sevia.
Dukungan kalian sangat berarti bagi author, siapalah author tanpa kalian semua...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....