
Dua bulan telah berlalu, hubungan Richard dan Nada semakin dekat. Walaupun belum ada kata cinta yang keluar dari bibir Nada namun Richard tetap menunjukkan rasa cintanya.
Pagi ini Nada sedang sibuk di dapur. Ia ingin memasak ayam kecap. Ia mencuci ayam di wastafel, tiba tiba perutnya terasa mual.
Huek..
Nada menahan gejolak di dalam perutnya. Ia segera mencuci tangannya dengan sabun lalu berlari menuju wastafel kamar mandi.
Huek.. Huek...
Nada memuntahkan semua isi perutnya.
Huek... Huek...
Keringat dingin menetes di dahinya, tubuhnya terasa lemas. Ia membasuh mulutnya dengan air bersih dan mengeringkan nya dengan tisu.
" Sayang kamu dimana?"
Terdengar suara Richard memanggilnya. Nada segera keluar dari kamar mandi.
" Sayang kamu kenapa?" Richard menghampirinya.
" Ya Tuhan keringat kamu." Richard mengelap keringat yang menetes dari dahi Nada.
" Mas perutku mual banget, aku nggak tahan bau amis daging ayam." Ujar Nada.
" Ya sudah biarkan aja! Biar bi Emi yang melanjutkannya, kita ke kamar ya!" Richard memapah Nada ke kamarnya.
Sampai di kamar Richard membantu Nada naik ke atas ranjang. Belum juga sampai tiba tiba Nada merasa mual lagi. Ia membekap mulutnya lalu berlari ke kamar mandi.
Huek.... Huek....
Richard segera menyusulnya.
" Astaga sayang kamu kenapa sih?" Richard meminta tengkuk Nada dengan pelan. Ia merasa cemas dengan keadaan sang istri tercinta.
Nada terus memuntahkan cairan kuning dari dalam perutnya. Di rasa agak mendingan, ia membasuh mulutnya.
" Hah Mas.... Rasanya kepalaku pusing sekali." Ucap Nada memegangi kepalanya.
" Kita ke rumah sakit ya, biar kamu dapat obat nanti." Ujar Richard.
" Nggak ah Mas, paling aku cuma masuk angin aja." Sahut Nada.
" Jangan menyepelekan penyakit sayang! Jika terdeteksi sejak dini kita bisa mengobatinya tapi kalau tahu tahu sudah parah, semuanya akan terlambat, Mas tidak mau sampai kamu kenapa napa sayang." Ucap Richard merapikan anak rambut Nada.
" Aku malas kemana mana Mas." Sahut Nada.
" Ya sudah kamu istirahat saja! Mas akan panggilkan dokter untuk kemari." Ujar Richard.
" Nggak perlu Mas! Aku nggak kenapa napa kok di panggilkan dokter, udah ah aku mau rebahan aja di kasur." Sahut Nada.
" Baiklah Mas gendong." Richard menggendong Nada menuju ranjang. Ia merebahkan tubuh Nada di atas kasur.
__ADS_1
" Mas kenapa kepalaku sakit ya? Rasanya seperti berputar." Nada memejamkan matanya.
" Pokoknya kita harus ke dokter! Mas tidak mau kamu kenapa napa sayang." Ujar Richard memijat kepala Nada.
" Mas ini tanggal berapa?" Tanya Nada saat ia mengingat sesuatu.
" Tanggal enam belas, emangnya kenapa?"
" Apa?" Pekik Nada membuat Richard kaget.
" Kamu mengagetkan Mas saja sayang, iya ini tanggal enam belas, ada apa dengan tanggal sekarang? Kenapa kau terkejut begitu?" Tanya Richard menatap Nada.
" Mas aku terlambat dua minggu." Ucap Nada.
" Terlambat? Terlambat apa?" Richard mengerutkan keningnya.
" Aku terlambat datang bulan Mas." Sahut Nada.
" Terus?" Tanya Richard yang masih belum paham.
" Itu tandanya ada kemungkinan kalau aku hamil." Sahut Nada.
" Owh." Gumam Richard.
" Apa? Kamu hamil?" Pekik Richard.
" Ya belum tahu Mas, itu kan baru kemungkinan." Sahut Nada.
" Kita beli alat test kehamilan aja gimana? Atau mau langsung ke rumah sakit?" Tawar Richard.
" Baiklah, Mas akan belikan sekarang juga, kamu di sini saja! Jangan kemana mana! Semoga nanti hasilnya positif ya sayang." Ucap Richard antusias.
" Semoga ya Mas." Sahut Nada.
" Mas pergi dulu sayang, kamu mau makan apa? Biasanya kan kalau wanita hamil pengin makan yang aneh aneh." Ucap Richard.
" Aku nggak pengin makan apa apa Mas, kamu hati hati ya." Ujar Nada.
" Ok sayang, Mas akan menyuruh bi Emi membawakan teh hangat ke sini." Richard mengecup kening Nada sebelum meninggalkan kamarnya.
Nada menunggu Richard sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia menyesap teh hangatnya membuat perutnya sedikit lega.
Lima belas menit kemudian Richard kembali dengan membawa tiga tespack di tangannya dengan merk yang berbeda.
" Coba kamu tes sayang!" Richard menyodorkan tespack tersebut.
" Dua aja ya Mas, yang satu buat besok pagi." Ujar Nada.
" Baiklah terserah kau saja, Mas ikut ke dalam ya." Ucap Richard mengikuti Nada ke kamar mandi.
" Mas mau ngapain? Mas di luar saja, aku malu kalau Mas ikut masuk." Ujar Nada.
" Mas ingin lihat proses mengetes nya sayang." Sahut Richard konyol.
__ADS_1
" Nggak! Keluar sekarang atau aku nggak mau nih." Ancam Nada.
" Baiklah Mas keluar." Richard keluar kamar mandi.
Nada mengikuti petunjuk yang ada.
" Sayang kita lihat sama sama hasilnya." Ucap Richard.
Nada membukakan pintu, Richard masuk ke dalam.
" Gimana sayang hasilnya? Apa sudah terlihat?" Tanya Richard tidak sabar.
" Kita tunggu lima menit Mas." Sahut Nada.
Keduanya fokus menatap dua tespack di atas wastafel. Garis merah satu mulai terlihat, tak lama garis dua mulai samar samar.
Dan.....
" Positif sayang." Pekik Richard setelah garis kedua terlihat jelas.
Nada menatap alat tes itu dengan mata berkaca kaca, bahkan ia tidak bisa berkata apa apa. Ia meraba perutnya sendiri, ia tidak menyangka Tuhan memberikan amanah kepadanya secepat ini.
Nada sadar jika ini jalan Tuhan untuk membuatnya membalas cinta Richard.
Tes...
Air mata menetes di pipinya, air mata kebahagiaan. Richard yang melihat, menangkup wajah Nada.
" Sayang kenapa kamu malah menangis? Apa kamu sedih dengan kehadirannya? Apa kau tidak senang dengan semua ini? Kau menolak kehadirannya?" Tanya Richard menatap Nada.
Nada tidak bergeming, lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Richard. Ia menatap haru pada tespack itu. Hal itu membuat Richard menyimpulkan jika Nada memang tidak menginginkan kehadiran calon anaknya.
Richard keluar kamar mandi begitu saja dengan perasaan kesalnya, membuat Nada sadar akan kesalahannya.
" Mas." Panggil Nada.
Richard tidak mempedulikannya, ia keluar kamarnya dengan perasaan hancur. Ia menganggap Nada masih belum bisa menerimanya.
Richard masuk ke dalam ruang kerja lalu menguncinya. Ia membanting tubuhnya di atas sofa. Ia menutup matanya dengan satu lengannya.
" Apa kekuranganku selama ini? Semua waktu, cinta, kasih sayang dan perhatian sudah aku curahkan kepadanya, tapi kenapa Nada belum bisa menerimaku? Apakah aku memang sama sekali tidak berarti di dalam hidupnya? Apakah aku sama sekali tidak berharga untuknya? Apakah selama ini dia menjalani semuanya karena keterpaksaan saja? Ya Tuhan... Aku harus bagaimana?" Batin Richard.
" Jika memang dia tidak menerimaku, setidaknya dia bisa menerima calon anakku kan? Itu darah dagingnya juga, bagaimana bisa Nada setega itu sama aku dan anakku hiks... Rasanya sangat sakit... Sakit sekali melihat air mata penolakannya... Rasanya sangat sesak, anakku yang belum lahir tidak di terima kehadirannya oleh ibunya sendiri, sayang... Malang sekali nasibmu, nasib kita sama sayang... Sama sama tidak di inginkan oleh ibumu hiksss hikss ." Isak Richard tak kuasa menahan kesedihannya.
Tok tok..
" Mas buka pintunya!" Ucap Nada.
Richard tidak bergeming, ia masih kesal dan hatinya masih di liputi oleh amarah. Ia tidak mau mendengar hal menyakitkan dari bibir Nada. Ia tidak mau sampai lepas kendali dan berakhir menyakiti Nada.
Jangan lupa untuk selalu tekan like koment vote dan 🌹yang banyak buat author...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....