
Nada duduk bersandar pada head board sambil memainkan ponselnya. Richard menghampirinya, ia duduk di tepi ranjang menatap Nada.
" Sayang Mas minta maaf, percayalah Mas tidak melakukan apapun dengan Rida, kami tidak hanya berdua saja sayang, kami bertiga dengan Juna, dan kami tidak melakukan apapun, kalau kamu tidak percaya tanyakan saja pada Juna." Ujar Richard.
" Diamlah Mas! Aku tidak mau mendengar apapun darimu, aku tidak peduli apa yang kau lakukan, tidak ada perasaan apa apa di dalam hatiku, jadi aku sama sekali tidak terpengaruh." Sahut Nada.
" Baiklah jika kau tidak terpengaruh." Ucap Richard kesal meninggalkan kamar Nada.
Nada tidak peduli Richard mau kemana. Ia malah bersiap untuk pergi ke sekolahnya menemui teman temannya.
" Ma aku pergi dulu ya." Nada menyalami mamanya dengan takzim.
" Kamu mau pergi kemana? Baru saja suamimu pergi sekarang giliran kamu yang pergi." Ujar nyonya Nadira.
" Aku mau ke sekolahan Ma, teman temanku menungguku di sana, bye bye." Sahut Nada keluar rumah.
Nyonya Nadira menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.
Nada melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sekolahnya. Mereka sedang mempersiapkan ujian yang akan di laksanakan sebentar lagi.
Drt..... Drt....
Ponsel Nada berdering tanda panggilan masuk, ia segera menepikan mobilnya lalu mengangkat teleponnya.
" Halo." Sapa Nada.
" No.. Nona Nada tolong kami." Terdengar suara perempuan di sebrang sana yang sedang ketakutan.
Nada mengerutkan keningnya.
" Menolongmu?" Tanya Nada.
" Tuan Richard begitu marah, dia hendak membunuh kami Nona, tolong segera ke kantor, kalau tidak Juna akan mati di tangan tuan Richard, Nona."
Tut...
Sambungan terputus.
" Apa yang di lakukan Mas Richard? Apa dia menghukum Juna dan Rida? Oh astaga... Dia pasti melakukannya." Monolog Nada.
Nada segera melajukan mobilnya ke kantor Richard dengan kecepatan kencang. Sesampainya di sana ia segera masuk lobby menuju ruangan Richard.
Bugh... Bugh....
" Ampun Chard! Jangan pukuli aku lagi!" Terdengar suara Juna.
" Tuan saya minta maaf, saya tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi." Ucap Rida.
Plak...
Terdengar suara tampan di telinga Nada.
" Astaga! Apa yang Mas Richard lakukan?" Monolog Nada.
Ceklek.....
Nada membuka pintunya, ketiga orang di dalam menoleh ke arahnya.
Nada menutup mulutnya saat melihat penampilan Juna yang sudah tidak rapi lagi, kemeja acak acakan, darah menetes di sudut bibirnya, wajahnya penuh dengan luka lebam.
" Sayang." Richard mendekati Nada.
__ADS_1
" Mas sudah menghukum mereka yang membuat Mas tidak bisa pulang tadi malam, mereka lah biang keladinya, mereka yang mengajak Mas minum." Ucap Richard menunjuk Juna dan Rida bergantian.
Perbuatan Richard membuat Nada jengah, Richard selalu menyalahkan orang lain dalam setiap hal. Ia akan menghukum orang yang terlibat dalam kesalahan yang menyudutkanya.
" Kalau kau menghukum mereka, lalu siapa yang akan menghukummu?" Tanya Nada.
Richard mengerutkan keningnya.
" Kau sama bersalahnya dengan mereka Mas, kalau mereka di hukum maka kau juga harus di hukum, aku tidak menyangka kalau kau akan menyalahkan orang lain dalam masalahmu." Ujar Nada.
" Sayang aku...
" Sudahlah! Sekarang kita pulang! Aku memaafkanmu!" Ucap Nada.
" Benarkah kau memaafkanku? Kau tidak akan marah lagi padaku?" Tanya Richard memastikan.
" Iya." Sahut Nada.
" Terima kasih sayang." Richard memeluk Nada.
" Ya sudah ayo kita pulang!" Ajak Nada.
" Mbak tolong obati lukanya ya, kalau tidak kalian pergilah ke rumah sakit, periksakan luka kalian nanti aku yang akan membayar tagihannya." Ucap Nada menatap Rida.
" Iya Nona terima kasih." Sahut Rida.
Richard menggandeng tangan Nada keluar dari ruangannya. Sedangkan Rida membantu Juna mengobati lukanya.
Di dalam mobil hanya ada keheningan, Nada tidak mau membahas perbuatan Richard kepada kedua bawahannya, ia takut Richard akan tersinggung. Hal itu akan membuat Juna dan Rida dalam bahaya.
Sesampainya di rumah Richard, Richard menggandeng tangan Nada masuk ke dalam. Nada mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah.
" Mas ini bukan rumahmu yang waktu itu kau mengajakku kan?" Tanya Nada memastikan.
Nada menghentikan langkahnya membuat Richard menoleh ke arahnya.
" Kenapa sayang?" Tanya Richard menatap Nada.
" Kau menyiapkan rumah ini untukku?" Tanya Nada memastikan.
" Iya, Mas mempunyai impian kalau kita tinggal di rumah ini dengan anak anak kita nanti, mereka akan leluasa bermain ataupun berlari lari di dalam rumah ini, Mas juga sudah menyiapkan tiga kamar untuk mereka, kalau anak kita lebih dari tiga, besok Mas akan membuatkan kamar lagi, tapi tidak kurang dari tiga." Ujar Richard.
Rasa bersalah muncul di hati Nada. Bagaimana ia berpikir kalau Richard akan selingkuh jika Richard saja terlihat bucin dengannya. Nada juga merasa bersalah karena telah menolak memberikan hak kepada Richard. Ia merasa telah mematahkan impian Richard di hari pertama pernikahan mereka.
Nada tidak pernah tahu jika ternyata Richard adalah orang yang sangat baik, sangat mencintai dan menyayanginya.
" Sayang kamu kenapa? Apa ucapan Mas membuatmu tidak nyaman?" Richard menangkup wajah Nada.
" Hiks... Hiks... Hiks... " Nada justru terisak.
" Sayang kenapa kamu menangis? Mas minta maaf jika Mas menyinggung perasaanmu." Richard menarik Nada dalam pelukannya.
" Mas mohon jangan menangis! Mas tidak tahan melihat air matamu." Ucap Richard.
Nada mengusap air matanya. Ia menatap Richard dengan sendu.
" Aku siap memberikan hakmu malam ini Mas." Ucap Nada.
Richard menatapnya tidak percaya.
" Kau akan memberikan hakku?" Tanya Richard memastikan.
__ADS_1
" Iya Mas." Sahut Nada.
" Kau tidak perlu melakukannya kalau terpaksa sayang, Mas tidak mau memaksamu, maafkan Mas! Lupakan saja hal itu!" Ucap Richard kembali memeluk Nada.
" Tidak Mas, aku sudah siap lahir batin, mungkin jika ada anak di antara kita, itu akan menguatkan hubungan kita, dan tentunya akan membuatku mencintaimu." Ujar Nada.
" Terima kasih sayang." Ucap Richard.
" Sama sama Mas." Sahut Nada.
" Ya sudah, sekarang ayo ke kamar kita!" Richard kembali menggandeng Nada menuju kamar mereka.
Ceklek....
Richard membuka pintunya, mereka masuk ke dalam. Nada memperhatikan kamarnya yang nampak rapi, ia suka dengan susunan kamarnya. Sama seperti kamar impiannya.
" Kamu suka kan tatanan kamar ini? Ini sesuai keinginanmu." Ucap Richard.
Sekali lagi Nada terharu mendapat perhatian Richard.
" Gimana? Kamu suka? Kalau tidak Mas akan menyuruh pelayan rumah untuk mengubahnya." Richard kembali bertanya.
" Tidak Mas! Aku suka kok, terima kasih sudah menjadikan aku wanita istimewa untukmu." Ucap Nada.
" Sama sama sayang, Mas juga berterima kasih karena kamu mau menerima Mas menjadi suamimu, tetaplah bersama Mas apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan Mas dalam keadaan apapun, Mas tidak akan sanggup hidup tanpamu, apa kau mau memenuhi permintaan Mas ini?" Richard merapikan akan rambut Nada.
" Iya Mas." Sahut Nada.
" Sekarang istirahatlah! Kita akan turun saat makan malam nanti." Ucap Richard.
" Aku ingin melihat seluruh isi rumah ini Mas, apa kamu mau menemaniku berkeliling?" Nada menatap Richard.
" Siap sayang, kalau begitu ayo!" Sahut Richard.
Keduanya berjalan mengelilingi rumah megah yang Richard persembahkan untuk Nada.
Di lantai tiga adalah tempat gym Richard dan roftoop yang luas. Di lantai dua ada empat kamar tidur, kamar bermain untuk anak mereka kelak, ruang kerja Richard, ruang khusus nonton film seperti bioskop mini.
Lantai satu ada ruang tamu, ruang keluarga, empat kamar tamu, dapur yang terhubung dengan ruang makan, tempat laundry, kolam renang dan gudang. Jika kamar pelayan ada di sebelah belakang rumahnya.
" Capek Mas." Nada duduk di gazebo yang terletak di belakang rumahnya.
" Istirahat dulu!" Ujar Richard duduk di sebelah Nada.
" Kenapa kau membuat rumah sebesar ini? Aku rasa aku tidak akan sanggup membersihkannya sendirian." Ujar Nada.
" Siapa yang menyuruhmu membersihkan rumah?" Richard menatap Nada.
" Kamu istriku, bukan pelayan! Mas tidak akan membiarkanmu melakukan pekerjaan rumah sedikitpun, tugasmu hanya melayani Mas saja! Terutama saat malam hari di atas ranjang." Richard mengerlingkan matanya.
Nada tersenyum melihatnya.
" Semoga keputusanku membawa kebahagiaan untukku, aku harus bahagia mendapat suami yang sangat menyayangiku, banyak di luar sana yang ingin memiliki suami seperti Mas Richard, Terima kasih Tuhan." Ucap Nada bersyukur dalam hati.
Budayakan like setelah membaca ya....
Jika berekan beri author 🌹yang banyak ya..
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....
__ADS_1
TBC....