
Hari ini Abhi mulai kembali bekerja di kantornya. Sevia sedang membantunya bersiap. Ia memakaikan dasi pada kerah leher Abhi. Abhi terus menatapnya sambil menyunggingkan senyumnya.
" Apa sih Yank senyum senyum gitu." Ujar Sevia.
" Ya nggak pa pa donk! Senyum sama istri sendiri masa' nggak boleh, nanti kalau aku senyum sama wanita lain, marah." Sahut Abhi merapikan anak rambut Sevia.
" Kamu semakin hari semakin cantik saja Yank." Ucap Abhi.
" Perutku belum membesar jadi belum ada perubahan dalam bentuk tibuhku, coba nanti kalau perutku udah besar pasti kamu malas menatap aku, aku akan terlihat seperti badut yang ada di pasar malam waktu itu." Ujar Sevia mengerucutkan bibirnya.
Cup....
Abhi mengecup bibir Sevia.
" Kamu mencuri kesempatan dalam kesempitan Yank, udah ah ayo kita sarapan!" Ajak Sevia.
" Kasih vitamin dulu biar sehat Yank." Ujar Abhi.
" Kan tadi udah, dua kali lhoh kamu pelepasan." Ujar Sevia membuat Abhi tersenyum.
" Beda itu mah, ayo donk kasih vitamin B." Ucap Abhi menarik pinggang Sevia.
Sevia mencium bibir Abhi dengan lembut. Abhi menyusupkan tangannya pada tengkuk Sevia. Tidak mau di kuasai oleh istrinya, Abhi mengambil alih perannya. Ia memperdalam ciumannya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka.
Di rasa keduanya kehabisan nafas, Abhi melepas pagutannya. Ia mengusap bibir Sevia dengan jempolnya.
" Manis." Ucap Abhi.
" Kamu lebih manis, apalagi nih lesung pipi membuatmu makin cakep." Ucap Sevia.
" Terima kasih, ayo kita sarapan." Abhi merangkul pundak Sevia.
Keduanya menuju meja makan.
" Suapin aku ya Yank." Ucap Abhi.
Sevia tersenyum menatap Abhi.
" Iya big babby ku." Sahut Sevia mengambilkan makanan untuk Abhi.
" Sini Mommy suapin ya biar Daddy kenyang dan cepat sehat lagi." Sevia menyodorkan sesendok makanan ke mulut Abhi.
" Terima kasih Mommy." Abhi menerima suapan dari Sevia.
" Mommy makan juga donk." Abhi mengambil alih sendok dari tangan Sevia.
Ia menyuapkan sesendok makanan ke mulut Sevia.
" Aku punya bayangan gini Yank! Besok saat anak kita udah di kasih makan, kamu menyuapi anak kita, terus aku menyuapimu." Ujar Abhi.
" Terus yang nyuapin kamu siapa?" Tanya Sevia.
" Setelah kamu selesai menyuapi babby kita, kamu gantian suapin aku." Ujar Abhi tersenyum lebar.
" Hmm masa' udah jadi daddy masih manja." Ujar Sevia.
__ADS_1
" Aku ingin keluarga kita tetap harmonis sampai tua nanti sayang, dulu aku kehilangan mama saat aku masih kecil, dan saat aku kelas tiga SD aku kehilangan papa, pada akhirnya aku di asuh oleh ayah, aku tidak pernah merasakan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuaku." Ucap Abhi sedih.
" Jangan bersedih lagi! Sekarang kamu udah bahagia kan hidup bersama aku dan calon anak kita." Ucap Sevia mengelus perutnya sendiri.
Abhi mengusap perut Sevia.
" Sayangnya Daddy, nanti kalau udah besar jadilah pria yang penyayang dan penuh cinta kepada keluargamu ya." Ucap Abhi.
" Ok Daddy, aku akan menjadi seperti Daddy yang selalu menyayangi Mommy." Sahut Sevia menirukan suara anak kecil.
" Terima kasih sayang atas kebahagiaan ini." Ucap Abhi mencium kening Sevia.
" Sama sama." Sahut Sevia.
Selesai sarapan, Abhi berangkat ke kantor. Sedangkan Sevia masuk kembali ke dalam kamarnya.
Abhi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia mengerutkan keningnya saat melihat mobil di belakangnya terus mengikutinya.
" Kenapa mobil itu mengikutiku?" Gumam Abhi.
Abhi menambah laju kecepatannya, ia berharap mobil itu tidak mengikutinya lagi. Namun tetap saja, mobil itu terus mengejarnya.
Abhi membelokkan mobilnya ke kantor polisi saat ia melewatinya. Ia berhenti sebentar di sana sambil menunggu mobil itu pergi.
Setelah mobil itu pergi, Abhi segera melanjutkan perjalanannya menuju kantornya. Sesampainya di kantor, Abhi langsung masuk ke ruangannya.
" Pak Sandi, tolong panggilkan Reno untuk segera kemari." Ucap Abhi.
" Baik Tuan." Sahut pak Sandi.
Sepuluh menit pak Sandi kembali bersama Reno.
" Barusan gue di ikuti mobil hitam." Ucap Abhi.
Pak Sandi dan Reno langsung menatap tajam ke arahnya.
" Siapa yang mengikuti anda tuan?" Tanya pak Sandi.
" Aku juga tidak tahu Pak, aku sempat berhenti di kantor polisi, dan mobil itu langsung pergi." Sahut Abhi.
" Saya takut kalau itu paman anda yang hendak mencelakai anda tuan, dia pasti sudah tahu tentang kemunculan anda di perusahaan ini." Ucap pak Sandi.
" Memangnya dia mau apa Pak? Bukankah jika dia mau menemuiku seharusnya dia datang baik baik kepadaku?" Tanya Abhi.
" Ada sesuatu yang membuatnya tidak berani menemui anda langsung tuan." Sahut pak Sandi.
Ya pak Sandi bekerja sejak kepemimpinan ayahnya Abhi. Ia tahu banyak tentang silsilah keluarga Abhi.
" Apa yang membuatnya tidak berani menemuiku pak?" Selidik Abhi.
" Di... Dia yang menyebabkan ibu anda meninggal tuan." Sahut pak Sandi.
" Apa?" Pekik Abhi tak percaya.
" Iya tuan, dulu dia berniat membunuh ayah anda karena dia suka dengan ibu anda, tapi dia salah sasaran, mobil yang seharusnya di pakai oleh tuan besar justru di pakai oleh nyonya besar tuan, sejak saat itu dia pergi entah kemana, bagaikan di telan bumi dia tidak ada kabarnya sama sekali, padahal ayah anda sudah mencarinya namun sampai sekarang dia tidak di temukan." Terang pak Sandi membuat Abhi terpuruk.
__ADS_1
" Sabar Bhi!" Reno menepuk pundak Abhi.
" Gue cuma tidak menyangka kalau pamanku sendiri bisa sekejam itu Ren, apa yang akan aku lakukan jika aku bertemu dengannya?" Ujar Abhi.
" Jika dia berniat baik, maka terimalah tuan, tapi jika berniat buruk maka tuan harus melawannya." Ujar pak Sandi.
" Anda benar pak, bagaimanapun dia keluargaku satu satunya." Sahut Abhi.
" Minta nona Sevia untuk berhati hati tuan." Ucap pak Sandi mengingatkan.
" Ah iya kau benar Pak, aku akan menelepon Sevia." Ujar Abhi.
Abhi mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya. Ia mendial nomer Sevia. Panggilan terhubung namun Sevia belum menjawabnya.
" Sevia kemana sih, kenapa tidak di angkat coba, membuat aku khawatir saja." Gerutu Abhi.
Tut... tut....
Di rumah, saat ini Sevia sedang ketakutan. Ada seorang pria yang menggedor gedor rumahnya.
" Ya Tuhan... Siapa pria tua itu? Aku takut ya Tuhan, tolong selamatkan aku dan anakku." Ucap Sevia bersembunyi di balik pintu.
Drt... drt....
Sevia mendengar ponselnya bergetar. Ia segera mengangkatnya.
" Sayang di luar ada seorang pria tua yang menggedor pintu, aku tidak mengenalnya, aku takut sayang." Ucap Sevia setelah mengangkat panggilannya.
" Apa?" Pekik Abhi di seberang sana.
" Cepat pulang sayang, aku takut." Ucap Sevia.
" Baiklah aku akan segera pulang! Kamu di dalam saja jangan kemana mana." Ucap Abhi cemas.
Abhi mematikan sambungan teleponnya.
" Ada apa Bhi? Sevia kenapa?" Tanya Reno.
" Di rumah ada pria tua yang menggedor gedor pintu, Sevia sangat ketakutan Ren, aku akan pulang." Sahut Abhi.
" Aku ikut." Ujar Reno.
" Saya juga tuan." Ucap pak Sandi.
Ketiganya menuju mobil Abhi. Reno melajukan mobil Abhi dengan kecepatan kencang.
" Ya Tuhan lindungi istri dan anakku." Ucap Abhi.
Siapa hayoooo pria tua itu?
Penasaran kan?
Ramein like vote koment dan 🌹nya ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....