
" Ya sudah sekarang kita turun, mereka sudah menunggu kita." Ucap Richard.
Nada menatap Richard begitupun sebaliknya.
" Apa kamu bisa menatap papa kamu? Kalau tidak kamu di sini saja! Biar Mas yang turun." Ucap Richard.
" Oh ya sayang, apa kamu punya keinginan mau di laksanakan kapan pernikahan kita?" Tanya Richard.
" Aku akan turun Mas! Aku sendiri yang akan bilang pada mereka." Ujar Nada.
" Baiklah, mau Mas gandeng?" Richard bertanya lagi.
" Terserah." Sahut Nada pasrah.
" Mau Mas gendong?" Tawar Richard.
" Terse... Eh enggak!" Sahut Nada membuat Richard terkekeh.
" Ya udah Mas gandeng aja!" Ucap Richard menggandeng tangan Nada.
Mereka turun ke bawah bergabung dengan para orang tua.
" Duduk Da, Richard." Ucap pak Yoga menatap Nada dan Richard.
" Iya Om." Sahut Richard.
Keduanya duduk bersanding di depan pak Yoga.
" Apa kalian sudah berunding kapan pernikahan kalian akan di laksanakan?" Tanya pak Yoga menatap keduanya.
" Kalau aku sih terserah Nada saja Om maunya kapan." Sahut Richard.
" Bagaimana sayang? Kapan pernikahan kita akan di laksanakan?" Tanya Richard menatap Nada.
" Besok." Sahut Nada singkat membuat semua orang menatapnya tidak percaya.
Richard menatap Nada, ia menggenggam tangan Nada.
" Sayang apa kau serius mau menikah denganku besok?" Tanya Richard.
" Iya Mas, aku ingin segera keluar dari rumah ini." Sahut Nada melirik papanya.
" Baiklah sayang, sesuai keinginanmu! Apa kalian dengar kalau Nada mau menikah denganku besok?" Richard menatap kedua orang tua dan calon mertuanya. Mereka menganggukkan kepala.
" Mas akan mempersiapkan pernikahan kita dengan megah sayang." Sahut Richard.
" Lakukan apa yang terbaik menurutmu Mas." Sahut Nada.
" Baiklah sayang." Sahut Richard merangkul pundak Nada.
Hati Richard begitu berbunga bunga, ia tidak menyangka jika Nada akan mempercepat pernikahannya secepat ini.
" Baiklah Papa setuju, semakin cepat semakin baik." Ucap pak Yoga.
" Pantas saja Papa selalu melarang ku dekat dengan pria lain, karena Papa sudah menjual ku pada Mas Richard,tega kamu pa, aku akan membuat perhitungan kepadamu dan kepada keluarga barumu itu, kalian semua harus menderita seperti aku dan mama karena selama ini di bohongi olehmu pa." Batin Nada.
" Selamat Besan, semoga acaranya lancar sampai selesai nanti." Ucap pak Roni, papanya Richard.
__ADS_1
" Terima kasih Pak Roni, selamat juga untukmu." Sahut pak Yoga.
Nyonya Weni melirik sinis ke arah Nada. Nada dapat merasakan hal itu. Nada cukup tahu diri, siapapun pasti akan marah jika putranya hanya di manfaatkan oleh orang lain.
" Richard, dimana rencananya kau akan melaksanakan acara pernikahanmu?" Tanya pak Yoga menatap Richard.
Richard kembali menatap Nada, Nada hanya membalasnya dengan senyuman terpaksanya.
" Di hotelku Om, RN hotel." Sahut Richard membuat Nada terkejut.
" Jadi RN hotel itu milikmu Mas?" Tanya Nada tidak percaya, pasalnya Richard bekerja di perusahaan.
" Milikmu." Sahut Richard.
" Milikku? Bagaimana bisa milikku? Aku saja tidak mengenal yang punya." Sahut Nada.
" Mas membangun hotel itu untukmu sebagai mas kawin kita sayang, RN adalah inisial dari nama kita, Richard dan Nada." Sahut Richard.
Nada menutup mulutnya tidak percaya. Ia terharu dengan apa yang Richard berikan untuknya selama ini.
" Tetaplah bersamaku maka apapun kemauanmu akan aku berikan sayang, semua yang aku punya adalah milikmu." Ucap Richard.
" Terima kasih Mas, tapi aku tidak menginginkan apapun lagi, yang aku inginkan tetaplah mencintai dan menyayangiku seperti selama ini, aku tidak mau kamu berubah." Sahut Nada.
" Tentu sayang, lalu bagaimana jika pernyataan itu di balik, bagaimana jika Mas yang menginginkan semua itu darimu?" Tanya Richard menatap Nada.
" Aku akan berusaha memberikannya untukmu Mas." Sahut Nada.
" Mas menunggunya sayang." Ujar Richard.
Setelah semuanya jelas, kedua orang tua Richard pamit pulang. Sedangkan Richard masih di sana. Richard tidak tega meninggalkan Nada dalam keadaan seperti sekarang ini. Richard tahu jika keadaan hati Nada saat ini sedang kacau.
" Ini sudah malam Mas." Ujar Nada.
" Tidak pa pa sayang, pergilah bersama Richard, Papa sedang ada urusan dengan Mamamu, jadi kami juga akan pergi." Ucap pak Yoga.
Nada menatap sang mama tercinta yang menganggukkan kepala.
" Baiklah." Sahut Nada.
Richard menggenggam tangan Nada. Mereka berjalan menuju mobil sambil bergandengan tangan.
" Masuklah!" Richard membukakan pintu mobil untuk Nada.
" Terima kasih." Sahut Nada masuk ke dalam.
Richard melajukan mobilnya menuju suatu tempat. Richard menghentikan mobilnya di sebuah pasar malam yang ada di sebuah lapangan.
Nada memperhatikan sekitar, lalu ia menatap Richard.
" Pasar malam? Kamu mengajakku ke sini Mas?" Tanya Nada.
" Iya, biar kamu have fun kita akan menaiki semua wahana yang ada di sini, ayo turun." Ucap Richard turun dari mobil.
Lagi lagi Richard menggenggam tangan Nada. Mereka memasuki pasar malam setelah membeli tiketnya.
" Kamu mau naik itu?" Richard menunjuk sebuah wahana yang mirip dengan sangkar burung.
__ADS_1
" Boleh." Sahut Nada.
Keduanya menuju wahana itu. Setelah memberikan tiket kepada penjaga, mereka masuk ke dalam sangkar burung besar itu.
Mereka duduk bersebelahan. Wahana mulai bergerak naik, di dalam sana terasa goyang goyang. Nada menggenggam erat tangan Richard.
" Kamu takut sayang?" Tanya Richard.
" Sedikit, rasanya seperti mau jatuh ke bawah." Sahut Nada.
" Ini belum bergerak kencang lhoh, nanti kalau sudah berputar dengan kencang kamu gimana? Kalau kamu takut mending kita turun aja ya." Ucap Richard.
" Nggak usah Mas, masa' baru naik udah turun, aku nggak pa pa kok." Sahut Nada.
Dan benar saja, wahana itu berputar semakin kencang membuat perut Nada serasa di aduk aduk. Saat wahana akan turun tiba tiba Badan berteriak.
" Aaaa." Teriak Nada memeluk lengan Richard.
" Sayang kamu takut!" Richard duduk sering menghadap Nada.
" Sini biar nggak takut lagi." Richard membuka lebar bahunya. Tanpa berpikir panjang, Nada masuk ke dalam pelukan Richard.
Richard tersenyum sambil mengelus elus kepala Nada.
" Ya Tuhan rasanya sangat nyaman berada dalam pelukan Mas Richard di saat seperti ini, Mas Richard benar benar baik dan menyayangiku, aku tidak boleh membuatnya kecewa setelah apa yang dia berikan padaku selama ini, bantu aku mencintainya ya Rob, bantu aku menjadi istri terbaik untuknya." Doa Nada dalam hatinya.
Permainan masih berputar. Nada masih salam pelukan Richard.
" Mas akan selalu menyayangimu dan mencintaimu sayang, tidak akan Mas biarkan bahaya menghampirimu, apalagi bahaya dari papamu, Mas akan selalu melindungimu apapun yang terjadi, setelah pernikahan lita aku berjanji akan membalas semua perbuatan papamu kepadamu dan mamamu." Batin Richard.
Permainan berhenti, Nada dan Richard keluar dari sangkar itu.
" Apa masih takut? Atau mungkin kamu mendadak jadi pusing?" Tanya Richard menatap Nada.
" Enggak Mas." Nada menggelengkan kepalanya.
" Mau naik apalagi?" Tawar Richard.
" Aku mau gula kapas." Sahut Nada menunjuk penjual gula kapas berwarna warni.
" Baiklah, ayo kita beli." Ucap Richard.
Keduanya menuju penjual itu, Richard membeli dua buah gula kapas dengan uang seratus ribuan, seharusnya kembaliannya banyak namun Richard memberikannya pada penjualnya.
" Terima kasih banyak Mas, semoga hubungan kalian langgeng selamanya." Ucap penjual tersebut.
" Amin... Terima kasih Pak." Sahut Richard.
Nada tersenyum menatap Richard. Ia tidak menyangka di balik sikap tegas Richard ternyata tersimpan hati yang baik kepada sesama.
Tapi jangan tanyakan kemarahan Richard kalau ada pria yang berani mengganggu Nada. Karena baginya, Nada miliknya dan tidak boleh tersentuh oleh siapapun.
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC...