Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Memperbaiki Hubungan


__ADS_3

Pagi ini Sevia membuka matanya. Ia merasakan berat pada perutnya. Ia menghela nafasnya pelan saat melihat sebuah tangan yang melingkar di sana. Siapa lagi kalau bukan tangan Abhishek Rodeo, pria tampan yang selalu membuat para wanita tergila gila.


" Dia masuk darimana? Perasaan semalam aku udah mengunci pintunya, dan kuncinya pun tidak aku cabut dari tempatnya, apa dia lewat jendela ya? Masa' sampai segitunya dia lakuin itu cuma buat tidur sama aku." Batin Sevia.


Sevia hendak memindahkan tangan Abhi, namun Abhi justru semakin mengeratkan pelukannya.


" Lepas ih!" Ucap Sevia.


" Biarkan seperti ini! Dua malam aku tidak bisa tidur se nyenyak ini, dan kau yang bertanggung jawab atas semua itu." Lirih Abhi.


" Jangan menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang kau lakukan sendiri, orang asing." Ucap Sevia.


" Bukankah ini yang selalu kau lakukan saat melakukan kesalahan? Aku hanya mencontohmu saja." Sahut Abhi.


Sevia memutar bola matanya malas.


" Kenapa kau ke sini? Dan kenapa kau tidur di sini? Apa di rumahmu tidak ada tempat nyaman untuk tidur?" Tanya Sevia.


" Karena kamu istriku, tidak ada tempat ternyaman kecuali tidur sambil memeluk istriku, begitupun denganmu, tidak ada tempat ternyaman kecuali pelukanku." Sahut Abhi.


" Si.. Siapa bilang? Nyatanya aku tidur nyenyak selama di sini." Ujar Sevia.


" Tidak perlu berbohong, aku tahu apa yang kau rasakan saat ini." Sahut Abhi.


" Bodo' ah! Sekarang minggir! Aku mau mandi." Ucap Sevia.


" Jika kau sudah puas numpang tidur, segera tinggalkan kamarku." Sambung Sevia.


" Jangan bersikap kekanakan sayang! Aku sudah minta maaf padamu, jangan membesar besarkan masalah kecil! Nanti...


" Dan aku sudah memaafkanmu, seharusnya kau menerapkan itu pada dirimu sendiri sebelum menuduhku dan sok sokan tidak mengenal aku, nyatanya kau datang mengemis kata maaf dariku dan kau bilang apa kemarin? Kau memintaku pulang ke rumah setelah kau menyakiti aku, sorry aku nggak sebaik yang kau kira tuan Abhisek Rodeo." Tekan Sevia.


Mendengar ucapan Sevia membuat Abhi merasa kesal.


Brugh...


Abhi menindih tubuh Sevia, ia menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Mau apa kamu? Apa kau tergila gila dengan wanita asing ini?" Sevia menatap Abhi tanpa takut.


" Jangan menguji kesabaranku Sevia, atau kau akan menanggung akibatnya." Tekan Abhi.


" Aku tidak takut, lakukan apa yang kau mau dan aku juga akan melakukan apa yang aku mau." Tantang Sevia.


" Benarkah?" Tanya Abhi.


Sevia menganggukkan kepalanya tanpa ragu.


Abhi memajukan wajahnya membuat Sevia memalingkan wajahnya.


" Kenapa tidak berani menatapku hmm? Kau takut aku akan menciummu?" Lirih Abhi.


Merasa di tantang, Sevia kembali menatap Abhi. Wajah mereka sangat dekat bahkan hidung mereka saling menempel.

__ADS_1


Cup...


Abhi mengecup bibir Sevia sambil menatapnya. Sevia tidak bergeming, ia juga tidak menolak.


Abhi menggigit pelan bibir bawah Sevia membuat Sevia membuka sedikit mulutnya. Abhi menyusup lidahnya ke dalam. Ia mengekspos setiap inchi nya. Abhi mengecup bibir Sevia sampai...


" Awh, sakit sayang." Pekik Abhi saat Sevia menggigit keras bibir bawahnya.


Abhi mengusap darah yang mengalir dari sana, sedangkan Sevia hanya tersenyum smirk menatapnya.


" Kenapa kau jahat sekali sayang, kau menggigit ku sampai berdarah gini." Gerutu Abhi.


" Aku sudah bilang padamu kan, lakukan apa yang kau mau maka aku juga akan melakukan apa yang aku mau." Sahut Sevia.


Abhi turun dari tubuh Sevia. Ia membaringkan tubuhnya di tempatnya tadi. Sevia turun dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi.


" Benar benar macan buas." Umpat Abhi.


Selesai mandi mereka turun untuk sarapan.


" Pagi Ma, Pa." Sapa Sevia.


" Pagi sayang." Sahut nyonya Nadira.


Sevia dan Abhi duduk di kursinya.


" Sepertinya udah baikan nih." Ujar tuan Alex.


" Tapi belum benar benar baikan Pa, anak Papa susah banget di ajak damai." Sahut Abhi.


" Ya begitulah Sevia, makanya kamu jangan sampai membuat kesalahan lagi." Ujar tuan Anton.


" Iya Pa." Sahut Abhi.


" Abhi, bibir kamu kenapa Nak? Kok kelihatannya sedikit bengkak." Ucap nyonya Nadira yang sedari tadi memperhatikan Abhi.


" Di gigit serangga Ma." Sahut Abhi.


Sevia menatap sinis ke arahnya.


" Oh... Lihat Pa! Serangga nya jahat banget sampai bikin bibir Abhi bengkak gitu, sepertinya Mama harus menambah dosis semprotan serangga nya deh Pa." Ujar nyonya Nadira.


" Iya Ma, kalau perlu beli yang sekali semprot langsung mati." Sahut tuan Anton.


Sevia mulai makan tanpa menghiraukan candaan mereka bertiga. Ia tidak tertarik terlibat di dalamnya. Setelah selesai ia kembali ke kamarnya.


Drt... drt...


Ponsel Sevia berdering tanda panggilan masuk.


" Halo Zar, ada apa?" Tanya Sevia setelah mengangkat panggilannya.


" Hai Sev, kak Novi memintamu bermain ke rumahku, lagian mumpung kamu ada di sini katanya." Ucap Ezzar.

__ADS_1


" Ya nanti aku akan main ke sana." Sahut Sevia.


Keduanya melanjutkan mengobrol sambil bercanda. Sesekali Sevia tertawa mendengar candaan Ezzar.


Abhi yang baru masuk, mengepalkan erat tangannya. Ia menghampiri Sevia lalu merebut ponselnya dan mematikan sambungan teleponnya.


" Apa apaan sih kamu! Nggak sopan namanya main rebut ponsel orang." Ketus Sevia merebut kembali ponselnya.


" Kamu di biarkan malah tambah ngelunjak ya, sama suami sendiri bicaranya dari kemarin ketus terus, sama yang lainnya bisa manis sambil ketawa tawa lahi." Ujar Abhi.


" Siapa yang membuat aku seperti hah?" Sevia berdiri di depan Abhi.


" Selama ini aku sudah bersikap menjadi istri yang baik, tapi apa? Kau menuduhku tanpa mendengar penjelasanku, kau mengabaikan aku, lalu kenapa sekarang kau protes atas sikapku? Aku malas berdebat denganmu Bhi, kalau kau merasa menjadi orang yang paling benar, maafkan aku! Aku yang salah karena aku keras kepala selama ini." Sevia pergi meninggalkan Abhi sendiri.


" Ya Tuhan... Kenapa jadi seperti ini sih." Abhi menarik kasar rambutnya.


Sevia bermain ke rumah Ezzar yang berada di samping rumahnya. Di sana ada Novi, kakak sepupu dari Ezzar.


" Pagi Kak." Sapa Sevia menghampiri Novi yang sedang menata bunga di teras rumah.


" Eh Sevia, pagi sayang." Sahut Novi.


" Kak Novi suka bunga juga?" Tanya Sevia.


" Iya, buat kegiatan aja di rumah kalau pas di tinggal suami." Sahut Novi.


Sevia duduk di kursi begitupun dengan Novi.


" Kak Novi udah berapa lama menikah?" Sevia menatap Novi.


" Baru tiga bulan." Sevia melongo mendengar jawaban Novi.


" Baru tiga bulan? Lalu kenapa Kak Novi membeli pil penunda kehamilan? Biasanya kan kalau pengantin baru penginnya cepat punya momongan gitu." Ujar Sevia ingin tahu.


" Itu kalau pernikahan atas dasar cinta Sev, aku menikah karena di jodohkan oleh orang tuaku, aku tidak mencintainya itu sebabnya aku belum mau mengandung anaknya." Ucap Novi.


" Tapi dia mencintaimu?" Tanya Sevia.


" Tidak! Dia hanya membutuhkan tubuhku untuk memuaskan nafsunya, kamu beruntung Sev memiliki suami yang sangat mencintaimu, apapun ia lakukan untuk kebahagiaanmu, pertahankan dan jagalah hubungan yang seperti itu, karena sangat sulit mencari suami yang seperti suamimu, aku tahu tentangmu dan suamimu karena Ezzar yang menceritakannya padaku, dia bilang kalau suamimu sangat mencintaimu, satu pesanku jangan sia siakan suami sepertinya." Ucap Novi.


Tiba tiba Sevia berlari kembali ke rumahnya.


Kira kira kenapa ya Sevia lari lari?


Penasaran?


Yuk ramein like, koment dan hadiah di bawah ini... Biar authornya makin semangat...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2