
Satu tahun berlalu....
Hari ini adalah hari kelulusan Abhi dan Sevia. Sevia tercengang saat nama Abhi dan namanya di sebut oleh pak kepala sekolah sebagai siswa yang mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya.
" Selamat sayang kamu mendapatkan peringkat kedua setelah aku." Ucap Abhi.
Sevia menatap Abhi tidak percaya.
" Abhi aku mendapatkan peringkat kedua? Masa' sih?" Ujar Sevia.
" Iya sayang, selamat ya." Abhi menatap Sevia.
Sevia memperhatikan layar monitor yang menampilkan ranking anak anak, nama Sevia berada di urutan ke dua.
" Aaaaa Abhi aku bahagia banget! Aku tidak menyangka kalau aku bisa mendapatkan ranking dua, ini semua berkat bantuanmu yang selalu mengajariku Abhi, makasih ya." Tiba tiba Sevia memeluk Abhi.
Abhi membalas pelukan Sevia, ia mengelus punggung Sevia dengan lembut. Hatinya merasa bahagia Sevia mau memeluknya.
Sadar dengan apa yang ia lakukan, Sevia melepas pelukannya.
" Maaf." Ucap Sevia.
" Tidak apa, kamu berhak melakukannya." Ujar Abhi.
" Sevia." Teriak Hana berlari menghampirinya.
" Selamat ya Sev, gue nggak nyangka lo ketularan pintarnya Abhi." Ucap Hana.
" Thank you Han." Sahut Sevia.
" Terus lo mau rencana kuliah dimana?" Tanya Hana.
Sevia menatap Abhi yang di balas gelengan kepala.
" Gue nggak nerusin kuliah Han, gue mau fokus ngurus Abhi sama rumah tangga gue aja." Sahut Sevia.
" Lo jadi ibu rumah tangga? Yang benar aja Sev? Lo punya cita cita yang tinggi, kalau kalian nggak kuliah terus mau kerja apa? Nggak mungkin kan lo terus terusan minta sama nyokap lo, pasti lo pengin lah beli apa apa pakai duit sendiri." Ujar Hana.
" Aku harap kamu tidak sedang memprovokasi Sevia, Han." Ujar Abhi.
" Gue nggak berniat apapun Bhi, gue cuma kasihan aja sama Sevia kalau cita citanya hancur karena pernikahan kalian." Ujar Hana.
" Aku sudah mengubah cita citaku Han, saat ini yang aku impikan adalah hidup bahagia bersama Abhi." Sevia mengapit lengan Abhi.
" Ya terserah lo sih, tapi jangan sampai besok kamu nangis nangis curhat ke gue, gue doakan semoga bahagia." Ucap Hana meninggalkan mereka.
" Hana kenapa ya Bhi? Kok sikapnya seperti itu?" Sevia menatap Abhi.
" Aku juga tidak tahu, tidak perlu di pikirkan! Mending kita pulang aja." Ujar Abhi.
" Aku mau pulang ke rumah Mama." Ucap Sevia.
" Baiklah, ayo." Ajak Abhi.
Keduanya menuju mobil ke rumah orang tua Sevia.
Sesampainya di rumah tuan Anton, mereka masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum Ma." Ucap Sevia menghampiri nyonya Nadira ini ruang tamu.
" Wa'alaikumsallam sayang, selamat ya untuk kalian berdua yang telah sukses mendapatkan nilai terbaik, Mama tidak menyangka kamu bisa menjadi siswa berprestasi sayang." Ucap nyonya Nadira.
" Terima kasih Ma." Sahut Sevia dan Abhi bersamaan.
" Istirahat di kamar, Mama akan menyiapkan makan malam untuk kalian." Ucap nyonya Nadira.
" Iya Ma." Sahut Sevia.
Sevia dan Abhi masuk ke kamar Sevia.
" Aku mau ganti dulu." Sevia masuk ke kamar mandi sambil membawa baju ganti.
Setelah ganti, Sevia duduk bersandar di tas ranjang sambil memainkan ponselnya.
Abhi duduk menjejeri Sevia.
" Aku bahagia banget Se, akhirnya kita bisa menjalani hidup seperti pasangan pada umumnya, kita akan mengawali hidup baru kita hari ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana bahagianya ketika kamu menungguku pulang kerja, kamu menyambutku dengan senyuman manis sebelum makan malam." Ucap Abhi membayangkan.
" Memangnya kamu mau kerja dimana Bhi? Apa kamu tidak melanjutkan kuliah?" Sevia menatap Abhi.
" Aku masih cari cari lowongan, aku mau langsung kerja aja biar langsung dapat uang buat menghidupi kamu dan anak anak kita nanti." Ujar Abhi.
" Baiklah terserah kamu saja." Sahut Sevia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah makan malam, Abhi dan Sevia kembali ke kamar. Sevia masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur.
Ceklek...
" Ya sudah kamu tunggu di sana, aku akan ke sana sekarang." Ucap Abhi mematikan sambungan ponselnya.
" Eh sayang, kamu di sini." Ucap Abhi menatap Sevia.
" Siapa Bhi?" Tanya Sevia.
" Ini ayah." Sahut Abhi.
" Ayah kenapa?" Sevia bertanya lagi.
" Tidak enak badan, aku harus ke sana sekarang, kamu tidak perlu menungguku karena aku akan pulang larut." Abhi keluar dari kamar.
Tak mau ambil pusing, Sevia naik ke ranjang merajut alam mimpi.
Drt.... Drt...
Sevia membuka matanya, jam sembilan malam.
" Siapa sih yang telepon?" Gumam Sevia.
" Hana." Ujar Sevia menatap kontak Hana.
" Halo Han, ada apa telepon malam malam gini." Ujar Sevia setelah mengangkat panggilannya.
" Abhi kemana Sev?" Tanya Hana.
__ADS_1
" Kenapa kamu nanyain Abhi? Memangnya ada apa?" Sevia mengerutkan keningnya.
" Cuma mau mastiin aja, soalnya gue lihat Abhi di resto xx bersama seorang wanita." Ujar Hana.
" Kamu salah lihat kali, Abhi ke rumah ayahnya kok." Sahut Sevia.
" Lo bisa mastiin sendiri kalau lo nggak percaya, segera kesini mumpung Abhi baru pesan makanan." Ujar Hana.
" Baiklah gue ke sana sekarang." Sahut Sevia.
Sevia memakai jaketnya lalu menyambar kunci mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju resto xx yang berjarak lima belas menit perjalanan.
Sesampainya di resto itu, Sevia segera turun lalu masuk kedalam. Ia mengedarkan pandangannya sampai pandangannya tertuju pada Abhi yang sedang makan bersama seorang wanita sambil tertawa tawa.
Sevia menghampiri keduanya.
" Aku nggak nyangka kalau kau mengasyikkan." Ucap wanita itu.
" Ehm ehm." Dehem Sevia.
Abhi dan wanita itu menoleh ke arahnya.
" Se.... Sevia." Ucapan Abhi membuat hati Sevia mencelos, pasalnya ia tidak memanggilnya sayang di depan wanita itu.
" Apa ayah sudah baikan Bhi? Atau ayah malah semakin parah? Atau kau tidak tahu karena kau tidak ke rumah ayah?" Sevia menatap tajam ke arahnya.
" A.... Aku.... " Abhi menjeda ucapannya.
" Ya sudah kalian teruskan saja, aku di sini bukan untuk menemui kalian kok, aku ada janji sama Ezzar." Sevia pergi meninggalkan Abhi dan wanita yang Sevia tidak tahu namanya.
Beruntung sebelum masuk ke dalam Sevia sempat menelepon Ezzar, jadi ia tidak ketahuan kalau sengaja ingin memergoki Abhi.
Sevia duduk tak jauh dari meja Abhi. Abhi terus menatapnya sampai Ezzar datang menghampiri Sevia.
" Hai udah lama?" Tanya Ezzar.
" Belum, kamu cepet banget sampai sini nya, ngebut pasti ya." Ujar Sevia.
" Dikit, gue takut lo kelamaan nunggunya." Sahut Ezzar.
" Lagian ngapain sih malam malam ngajak ketemu di sini?" Tanya Ezzar.
" Buat merayakan keberhasilan gue." Sahut Sevia.
" Eh iya, gue tadi belum sempat ngucapin selamat buat lo, selamat ya." Ucap Ezzar.
" Thank you." Sahut Sevia.
Keduanya memesan makanan lalu menyantapnya dengan di selingi obrolan.
" Eh tunggu deh! Itukan Abhi, siapa wanita itu Sev?"
Siapa hayoooo
Tekan like koment vote dan 🌹nya buat author...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu..
__ADS_1
Miss U All....
TBC....