
Pagi ini Richard dan Nada pergi ke rumah Abhi. Richard melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia ingin menghabiskan waktu dengan Nada. Jarang jarang mereka bisa berdua pergi jauh selama ini.
Richard menggenggam tangan Nada dengan tangan kirinya. Ia nampak bahagia, wajahnya nampak berseri seri. Sesekali ia bersiul membuat Nada heran.
" Mas kamu kenapa sih? Dari tadi senyam senyum sama bersiul gitu?" Tanya Nada menatap Richard.
Richard menoleh sekilas ke arah Nada lalu kembali fokus ke depan.
" Mas merasa sangat bahagia sayang, sebentar lagi kau akan menjadi milikku, hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi." Sahut Richard mencium punggung tangan Nada.
" Aku tidak menyangka kalau kamu akan sebahagia itu Mas, aku merasa menjadi wanita yang sangat beruntung karena kau menganggapku istimewa." Ujar Nada.
" Kau memang istimewa di mataku, dari dulu, sekarang ataupun nanti, Mas hanya berharap kau tidak akan meninggalkan Mas dan membuat Mas kecewa." Ucap Richard.
" Aku akan berusaha Mas, maafkan aku! Untuk saat ini aku belum bisa membalas cintamu." Ucap Nada jujur.
" Cintaku cukup untuk kita berdua sayang, tapi akan lebih bahagia kalau kau juga mencurahkan cintamu untukku, dan cinta itu akan kita limpahkan kepada anak anak kita nanti." Sahut Richard.
" Apa kau berharap kita akan segera punya anak setelah menikah nanti?" Tanya Nada membuat Richard menoleh ke arahnya.
" Apa kau tidak mau mengandung anakku?" Selidik Richard.
" Bukan begitu Mas, tapi rasanya tidak akan sebahagia jika kita saling mencintai." Ujar Nada.
" Kita akan bahas itu nanti, yang jelas Mas sangat ingin memiliki momongan setelah kita menikah nanti." Ucap Richard sedikit kesal.
Nada memilih diam. Ia tidak mau membuat Richard marah atau tempramental nya akan kumat. Apalagi saat ini Richard sedang menyetir.
Dua jam lebih perjalanan ke rumah Abhi, akhirnya mereka sampai di kediaman Abhi dan Sevia. Keduanya turun dari mobil lalu memencet bel rumah Abhi.
Ting tong....
Tak lama pintu pun terbuka. Sevia berdiri menatap Nada dan Richard.
" Pagi menjelang siang Kak." Sapa Nada.
" Pagi, silahkan masuk!" Ucap Sevia.
Keduanya masuk ke dalam menuju ruang tamu.
" Kamu kok nggak ngabarin dulu kalau mau ke sini? Abhi masih di kantor kalau jam segini." Ujar Sevia.
" Tidak apa Kak, aku hanya pengin main saja." Sahut Nada.
Mereka duduk di sofa.
" Mbak.... Tolong buatkan minuman untuk tamu kita." Teriak Sevia.
" Iya Non."
" Aku telepon Abhi dulu ya." Ucap Sevia.
Sevia segera menelepon Abhi dan memintanya untuk segera pulang. Mbak Indah menyajikan minuman untuk mereka.
" Terima kasih Mbak." Ucap Nada.
__ADS_1
" Sama sama Non." Sahut Mbak Indah.
" Sev, Barra nangis nih."
Richard dan Nada menoleh ke asal suara.
Deg....
Tatapan Nada dan Reno bertemu. Richard menatap Nada, ia ingin tahu bagaimana reaksi Nada. Nada segera memutus pandangannya.
" Eh ada tamu, maaf aku tidak tahu." Ucap Reno menghampiri Sevia sambil menggendong babby Barra.
" Sini duduk Ren." Ucap Sevia.
Akhirnya mau tidak mau Reno ikut bergabung dengan mereka. Reno memberikan Barra pada Sevia.
" Ih imut sekali babby nya Kak, siapa namanya?" Tanya Nada menatap babby tampan berkulit putih itu.
" Namaku Barra Aunti." Sahut Sevia menirukan suara anak kecil.
" Wah nama yang keren, sekeren orangnya." Ujar Nada.
" Boleh aku menggendongnya Kak?" Tanya Nada.
" Iya boleh." Sahut Sevia.
Nada mengambil alih gendongan babby Barra dari Sevia. Ia memangku nya dengan hati hati.
Richard terpesona dengan tampilan Nada yang memangku Barra. Ia membayangkan jika mereka punya babby sendiri.
" Mas lihat deh! Imut ya." Ucap Nada.
Nada menatap Richard sekilas lalu kembali menatap babby Barra.
" Kamu tampan sekali... Andai saja aku belum punya Mas Richard, aku pasti mau jadi pacar kamu." Ucap Nada asal.
Richard merasa ucapan itu Nada lontarkan untuk Reno yang duduk di depannya. Ada perasaan tidak suka di dalam hatinya.
" Tidak boleh! Kamu tidak boleh menjadi milik siapapun karena kamu hanya milikku, ingat itu sayang." Ucap Richard penuh penekanan.
" Iya Mas maaf." Sahut Nada.
Tap tap tap...
Abhi menghampiri mereka semua.
" Nada, ada perlu apa kau jauh jauh kemari?" Abhi duduk di samping Sevia berhadapan dengan Richard.
" Emangnya nggak boleh seorang adik main ke rumah kakaknya? Nada balik bertanya.
" Ya boleh sih, tapi kan nggak biasanya kamu main ke sini, apalagi jarak rumahmu ke sini sangatlah jauh." Sahut Abhi.
" Begini tuan Abhi, Nona Sevia dan... Reno." Ucap Richard malas menyebut nama Reno.
" Kedatangan kami ke sini karena ingin memberitahu kalian soal pernikahan kami." Ucap Richard.
__ADS_1
Abhi dan Sevia menoleh ke arah Reno. Sebisa mungkin Reno bersikap biasa saja. Keduanya kembali menatap Richard.
" Pernikahan kalian? Kapan?" Tanya Abhi.
" Nanti malam."
Jeduar.....
Jawaban Richard seperti petir menyambar bagi Reno. Sudah tidak ada kesempatan bagi Reno untuk memperjuangkan Nada.
" Nanti malam? Kenapa secepat ini? Bukankah Nada masih menunggu ujian sekolahnya? Apa Nada......" Tanya Abhi menjeda ucapannya.
" Itu permintaanku Kak, aku tidak seperti apa yang Kakak pikirkan, aku ingin merasakan bagaimana pernikahan dini saat aku masih sekolah, seperti Kakak." Sahut Nada memamerkan deretan giginya.
" Tapi kalian baik baik saja kan? Maksud Kakak kalian tidak ada masalah? Atau dengan tante dan om Yoga misalnya." Ucap Abhi.
" Kami baik baik saja Kak, rencana pernikahanku setelah ujian tapi papa mau pindah ke luar kota satu minggu lagi, jadi dari pada aku di rumah sendirian mending aku ajukan pernikahannya, dengan begitu aku tidak akan kesepian di rumah sendiri, lagian saat ujian nanti akan ada yang membantuku belajar, ya nggak Mas?" Nada menatap Richard.
" Iya sayang, jangan khawatir!" Sahut Richard.
" Baiklah, Kakak doakan semoga pernikahan kalian lancar, kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah, akan kakak usahakan untuk datang ke pernikahan kalian nanti." Ucap Abhi.
" Terima kasih doanya Kak, bukannya aku tidak mau mengundang Kak Abhi, Kak Sevia dan Mas Reno, tapi mengingat perjalanan yang sangat jauh, kalian semua tidak perlu datang, cukup doakan saja dari sini semoga kami selalu hidup bahagia." Ujar Nada.
" Baiklah jika itu maumu, kami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Sahut Abhi.
" Mau kado apa dari Kakak?" Tanya Abhi.
" Emangnya Kakak mau memberikan kado apa?" Nada balik bertanya.
" Apapun." Sahut Abhi.
" Apapun? Beneran?" Tanya Nada memastikan.
" Iya." Sahut Abhi.
" Kalau begitu berikan Barra sebagai kadonya." Ucap Nada.
" Apa?" Pekik Abhi dan Sevia bersamaan.
" Sayang kamu jangan bercanda ah! Kasihan mereka." Ujar Richard.
" He he maaf Kak, aku hanya bercanda saja." Ucap Nada terkekeh.
" Kamu sama kaya' Reno, Reno juga bilang gitu, dia sok sok an mau bawa pulang Barra ke rumahnya, kaya' ada yang mau ngurusin Barra aja, mencintai seorang gadis saja lepas dari tangan." Ucap Sevia melirik sinis ke arah Reno.
Nada menatap Reno begitupun sebaliknya.
" Kenapa kau lakukan ini padaku Nada? Kau membuat hatiku terluka dengan menikahi Richard, rasanya sangat berat melepaskanmu dengannya, tapi aku selalu berdoa semoga kau bahagia." Batin Reno.
" Maafkan aku Mas Reno, aku harus melakukan ini demi membalas semua kebaikan Mas Richard padaku, aku tidak mungkin tega membuatnya kecewa, aku harpa kau bisa mengerti keadaanku saat ini, biarkan rasa ini menjadi cinta sesaat saja, aku harus melupakanmu dan mengganti namamu dengan nama Mas Richard. Maafkan aku! Aku berharap suatu hari nanti kau akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku." Ujar Nada dalam hatinya.
Yuk budayakan Like setelah membaca...
Terima kasih untuk readers yang telah mensupport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All....
TBC....