
Hari ini Weekend, Nada berencana mengajak Richard ke rumah Abhi. Saat ini mereka sedang sarapan di meja makan.
" Mas ke rumah Kak Abhi ya, aku kangen sama babby Barra." Ucap Nada menatap Richard.
Richard menatap ke arahnya.
" Baiklah, Mas akan mengantarmu!" Sahut Richard melanjutkan makannya.
" Semoga kita juga akan segera mendapatkan babby lucu seperti babby Barra sayang, Mas sudah tidak sabar menantikan waktu itu tiba." Ujar Richard.
" Iya Mas." Sahut Nada.
" Kalau kamu hamil nanti, Mas janji akan menuruti semua kemauan babby kita." Ucap Richard.
" Terima kasih Mas, aku yakin babby kita nanti akan merasa sangat bahagia memiliki ayah sepertimu, tidak seperti papaku." Tiba tiba Nada berubah menjadi murung.
" Papamu sudah kena karmanya sayang, Mas sudah mengguncang kariernya." Sahut Richard.
" Benarkah?" Nada menatap Richard.
" Ya, mungkin Senin ini papamu akan di copot dari jabatannya karena perbuatannya yang membuat malu instansinya, orang Mas bilang juga papamu di tinggal pergi oleh istri dan anaknya karena ternyata anak itu bukan anak kandung papamu." ujar Richard.
" Apa? Berarti selama ini papa hanya di manfaatkan oleh mereka saja Mas?" Pekik Nada.
" Iya sayang." Sahut Richard.
" Aku yakin pasti sebentar lagi papa akan kembali ke rumah mama." Ujar Nada.
" Mas sudah memberitahu mama, dan mama bilang dia tidak akan memberikan kesempatan kepada papa lagi." Ujar Richard.
" Terima kasih Mas, aku harap mama tidak akan luluh dengan ucapan papa." Ucap Nada.
" Sama sama sayang, semoga saja ya." Sahut Richard.
Selesai makan keduanya menuju luar kota untuk mengunjungi Barra. Tidak lupa Richard membeli mainan untuk Barra.
Perbincangan hangat mengiringi perjalanan mereka.
" Sayang bagaimana jika nanti kamu bertemu dengan Reno?"
Nada menatap Richard sambil mengerutkan keningnya.
" Mas tidak mau dia mengganggumu, Mas juga takut kalau kamu akan berlindah haluan ke arahnya." Ucap Richard.
" Kamu menyamakan aku dengan perempuan murahan Mas, aku tidak akan berperilaku seperti itu, aku sadar kalau aku sudah punya suami dan aku akan selalu menjaga hubungan ini." Sahut Nada.
" Maaf sayang Mas sudah membuatmu tersinggung." Ucap Richard.
Nada hanya diam saja.
" Sayang jangan marah donk! Mas minta maaf." Richard menggenggam tangan kanan Nada lalu menciumnya.
" Sayang.... Mas hanya merasa takut saja kamu akan meninggalkan Mas, Mas tidak mau kehilanganmu, maafkan Mas ya!" Ucap Richard membujuk.
" Iya Mas aku nggak marah kok." Sahut Nada.
" Terima kasih sayang." Ucap Richard kembali mencium tangan Nada.
__ADS_1
Perjalanan cukup panjang, setelah sampai di kediaman Abhi mereka turun dari mobil.
" Sini!" Richard menggandeng tangan Nada menuju pintu rumah Abhi.
Ting tong....
Abhi yang menggendong Barra membukakan pintu.
Ceklek....
" Halo Aunti Nada..." Sapa Abhi menirukan suara anak kecil.
" Halo sayang... Sini gendong Aunti!" Nada mengambil alih gendongan Barra.
" Uluh uluh sayangnya Aunti... Udah gedhe sekarang ya." Nada mencubit pelan pipi Barra.
" Jangan di gituin donk sayang! Nanti dia nangis gimana." Ujar Richard.
" Nggak pa pa Mas, kalau nangis kan ada Kak Sevia yang akan menenangkannya." Sahut Nada.
" Ya sudah ayo masuk dulu!" Ucap Abhi.
Mereka masuk ke dalam menuju ruang tamu.
" Dad aku mau... " Sevia menjeda ucapannya saat melihat Nada dan Richard di sana.
" Eh ada tamu toh, maaf tidak tahu." Sevia menghampiri Nada. Mereka cipika cipiki layaknya seorang sahabat.
" Sayang betah ya di gendong sama Aunti." Ucap Sevia menoel pipi putranya.
" Mau kemana Kak? Kok rapi amat!" Ucap Nada.
" Iya nggak pa pa Kak, kan ada Kak Abhi di rumah." Sahut Nada.
" Dad aku pergi dulu ya." Pamit Sevia mencium tangan Abhi.
" Hati hati sayang, nggak usah ngebut nyetirnya! Santai aja!" Ucap Abhi.
" Ok Dad." Sahut Sevia.
Sevia mencium pipi Barra.
" Mom pergi dulu sayang." Ucap Sevia.
" Dada Mommy." Nada menggerakkan tangan Barra dengan pelan.
Sevia keluar meninggalkan rumahnya.
" Kakak buatkan minum dulu ya!" Abhi berjalan menuju dapur.
Nada bermain main dengan Barra. Richard menatapnya dengan perasaan haru. Tak sengaja Nada melihat raut wajah Richard.
" Kamu kenapa Mas?" Tanya Nada.
" Mas hanya terharu saja sayang melihatmu dengan Barra sedekat itu, Mas membayangkan kalau yang kamu gendong adalah anak kita sendiri, Mas pasti akan sangat bahagia." Ujar Richard.
" Sabar Mas! Suatu saat nanti pasti kita akan menggendongnya, lagian kita baru kemarin melakukannya masa' langsung jadi kan nggak mungkin, dulu Kak Sevia sama Kak Abhi aja pasti menunggu dulu." Ujar Sevia.
__ADS_1
" Iya kau benar, Mas akan selalu sabar menanti." Sahut Richard.
" Mau gendong nggak Mas? Hitung hitung latihan." Ucap Nada.
" Nggak berani sayang, dia anak orang! Kalau anak Mas sendiri pasti Mas berani." Sahut Richard.
Abhi kembali dengan membawa nampan berisi jus jeruk dan camilan di tangannya.
" Silahkan di minum Da, tuan Richard." Ucap Abhi.
" Richard saja lah nggak usah pakai tuan, di sini kita sebagai kawan kan bukan sebagai rekan bisnis." Ucap Richard.
" Baiklah, Richard." Sahut Abhi.
Mereka mengobrol membahas seputar kehidupan mereka. Tak lama Sevia pun kembali dari rumah temannya. Ia ikut bergabung bersama mereka.
" Sini Barra sama Mommy, kasihan Aunti Nada entar capek." Ucap Sevia hendak mengambil Barra dari pangkuan Nada namun Barra berpaling menncengkeram erat lengan Nada.
" Eh dia nggak mau!" Ucap Sevia.
" Udah enak gendong Aunti ya sayang." Ucap Nada.
" Iya sepertinya dia betah sama kamu Da." Ujar Sevia.
" Kalau gitu aku bawa pulang aja ya Kak." Canda Nada.
" Eh jangan donk! Bikinnya gampang Da, tapi ngelahirin nya beh... Susah! Kakak aja sampai nangis nangis." Sahut Abhi.
" Masa' sih Kak?" Tanya Nada tidak percaya.
" Tanya aja sendiri sama Sevia, dia merasakan sakitnya tapi Kakak yang menangis, Kakak melihatnya kesakitan nggak tega Da... Rasanya gimana gitu.... Kalau bisa aja biar Kakak yang merasakan sakitnya jangan Sevia." Ujar Abhi.
" Benarkah begitu? Nanti kalau Nada melahirkan aku harus gimana?" Tanya Richard menatap Abhi.
" Ya nggak gimana gimana, kamu harus tetap berada di samping Nada, jangan kemana mana! Kamu siap siap aja mendapatkan jambakan, cubitan dan cengkeraman dari Nada nanti." Sahut Abhi.
" Tidak pa pa kalau cuma di jambak, di cubit aku rela, yang penting rasa sakit Nada bisa berkurang." Sahut Richard.
" Aku jadi takut buat melahirkan Kak."
Semua orang menatap ke arah Nada.
" Aku mau punya babby mungil seperti Barra, tapi aku nggak mau kalau merasakan sakitnya, pasti sakit banget ya Kak." Ujar Nada.
" Itu proses alamiah Nada, semua wanita yang melahirkan pasti akan merasakannya, nggak perlu takut karena sakitnya cuma sebentar kok, percayalah!" Ujar Sevia.
" Baiklah Kak, semoga nanti saat aku mau melahirkan aku tidak merasakan sakit, biarkan Mas Richard yang merasakannya." Ucap Nada.
" Mas siap menggantikanmu sayang." Sahut Richard.
Nada tersenyum bahagia. Setidaknya ia punya suami yang sangat mencintainya.
TBC....
Jangan lupa untuk selalu tekan like koment vote dan 🌹yang banyak buat author ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All...