
Sevia dan Steven masuk ke cafe sekedar mencari kopi untuk Steven. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Sevia kembali melakukan mobilnya mengantar Steven.
Mobil berhenti tepat di depan rumah orang tua Sevia. Ya.. Steven hendak bertamu ke rumah orang tua Sevia.
" Ayo turun!" Sevia dari mobil lalu masuk ke dalam rumahnya.
" Eh nggak sopan main nyelonong aja masuk rumah orang." Steven mencekal tangan Sevia.
" Apaan sih! Ini bukan rumah orang tapi rumah orang tua gue." Ucapan Sevia berhasil membuat Steven melongo.
" Be... Benarkah?" Tanya Steven memastikan.
" Terserah lo mau percaya apa tidak." Sevia melanjutkan langkahnya di ikuti Steven dari belakang.
" Berarti yang di jodohin sama gue, elu donk." Ucap Steven tersenyum senang.
" Gue udah nikah." Sahut Sevia membuat senyum Steven hilang seketika.
" Mama." Panggil Sevia menuju dapur.
Biasanya di jam jam seperti sekarang ini, mamanya ada di dapur sedang menyiapkan makan siang.
" Halo sayang, kenapa teriak teriak? Kabur lagi dari si Abhi?" Nyonya Nadira menatap Sevia.
" Ada tamu yang nyariin Mama." Sahut Sevia.
" Siapa?" Tanya nyonya Nadira.
" Namanya Steven." Sahut Sevia.
Sevia memanggil Steven untuk masuk ke dalam.
" Siang Tante." Sapa Steven.
Nyonya Nadira memperhatikan Steven sambil mengingat ingatnya.
" Aku Steven Tante, anaknya Mami Claudia." Ucap Steven.
" Ya ampun kamu anaknya Jeng Claudia... Tante nggak nyangka kamu setampan ini setelah dewasa... Mamimu pernah bilang kalau kamu mau ke sini, tapi Tante pikir itu tidak mungkin, secara kan waktu itu kamu sangat marah mendengar Tante membatalkan perjodohanmu dengan Sevia, Tante tidak menyangka kalau ini kamu." Ucap nyonya Nadira.
" Aku merasa sangat kecewa waktu itu Tante, aku sudah menjaga hatiku dari wanita lain, malah Tante membatalkan perjodohan secara sepihak, maafkan aku Tante." Ucap Steven.
" Tidak masalah, mungkin memang kalian tidak berjodoh, oh ya gimana kabar mamimu?" Tanya nyonya Nadira.
" Alhamdulillah baik Tante, tapi sebenarnya kurang baik Tante." Sahut Steven.
" Memangnya Mamimu kenapa?" Tanya nyonya Nadira.
" Mami sakit Tante, mami terkena kanker pada rahimnya, saat ini mami sedang berobat ke luar negeri untuk enam bulan lamanya, itulah sebabnya mami mengirim ku ke sini, aku mau numpang hidup sama Tante." Ucap Steven sambil nyengir.
" Astaga kasihan sekali Claudia, tapi tidak masalah semoga Mamimu cepat sembuh, dan kamu di sini saja selama Mamimu pergi." Ucap nyonya Nadira.
" Terima kasih Tante." Ucap Steven.
" Biar nggak jadi menantu Tante, tapi jangan putus ya silaturahminya." Ujar nyonya Nadira.
" InsyaAllah Tante." Sahut Steven.
" Sevia, temani Steven ngobrol di depan! Mama akan menyelesaikan masakan Mama dulu." Ucap nyonya Nadira.
" Iya Ma." Sahut Sevia.
" Oh ya sekalian tunjukkan kamarnya." Ucap nyonya Nadira.
" Hmm." Gumam Sevia.
Sevia berjalan menuju ruang tamu di ikuti Steven. Keduanya duduk di sofa saling berhadapan.
__ADS_1
" Oh namamu Sevia ya, nama yang bagus." Ucap Steven.
" Hmm.. Kamarmu tuh ada di sana tinggal milih mau makai yang mana." Sevia menunjuk kamar tamu tak jauh dari sana.
" OK thank you." Sahut Steven.
" Eh sebenarnya nama kita udah terpaut lho, Sevia dan Steven nanti kalau punya anak namanya Stevano atau Stevany." Ujar Steven.
" Nama gue aja Steffany." Sahut Sevia.
" Nah memang sebenarnya kita itu di jodohin dari sebelum lahir kali Stef." Ucap Steven.
" Stef?" Sevia mengerutkan keningnya.
" Ya.. Jodohnya Steven namanya Stef fany, biar kita sama sama di panggil Stev." Ucap Steven.
Sevia memutar bola matanya malas. Ia menemani Steven sambil memainkan ponselnya. Ia tidak peduli Steven ngoceh apa, mendingan ia baca novel online karya Swetti saja, karya yang konfliknya ringan nggak bikin pusing kepala hhhh.
...****************...
Sore hari Sevia pulang ke rumahnya. Ia masuk ke dalam dengan beberapa kardus di tangannya. Ia menata barang belanjaannya di dalam kulkas setelah itu ia menuju kamarnya.
Ceklek.....
Sevia mengerutkan keningnya saat melihat Abhi yang sedang duduk bersandar pada head board sambil memainkan ponselnya.
" Udah pulang Yank, kok nggak telepon aku sih." Ujar Sevia menghampiri Abhi.
" Takut ganggu kamu." Sahut Abhi.
" Ganggu aku? Emangnya aku ngapain?" Sevia duduk di samping Abhi sambil menatapnya.
" Ya barang kali kamu lagi sedang sama mantan kamu atau pacar kamu, mungkin." Sahut Abhi.
" Apa maksud ucapanmu? Kau menuduhku?" Selidik Sevia.
" Enggak cuma asal ngomong aja sayang." Sahut Abhi takut Sevia marah.
" Lalu?" Abhi menatap Sevia. Ia merasa senang karena Sevia mau terbuka dengannya.
" Apa kamu tahu alamat yang di tuju pria itu dimana?" Abhi menggelengkan kepalanya.
" Di rumah Mama." Sahut Sevia.
" Di rumah Mama? Jadi dia tamu Mama kamu?" Tanya Abhi memastikan.
" Iya, namanya Steven anak dari teman mama yang sebenarnya sudah di jodohkan denganku sejak kecil." Ucap Sevia.
Abhi menatap Sevia yang terlihat sedikit murung.
" Ada apa sayang? Kenapa kamu jadi murung gitu?" Abhi menangkup wajah Sevia.
" Mamanya sedang sakit keras Yank, beliau terkena kanker rahim, mamanya Steven ingin menagih janji mama dengan melanjutkan perjodohan ku dengan putranya." Ujar Sevia.
Deg....
Jantung Abhi berdetak sangat kencang. Ia menatap Sevia dengan tatapan takut akan kehilangan.
" Apa maksudmu sayang?" Tanya Abhi masih terus menatap Sevia.
" Dia tidak peduli walaupun aku sudah menikah, dia memintaku untuk meninggalkan suamiku dan menikah dengan putranya, itulah permintaan terakhirnya." Ucap Sevia.
" Lalu apa kau akan meninggalkan aku, lalu menikah dengan Steven?" Selidik Abhi.
" Iya." Sahut Sevia.
" Apa? Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu Sevia, aku suamimu, aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku kan? Lalu kenapa kau ingin meninggalkan aku demi pria lain yang baru datang dalam hidupmu, apa kau gila Sevia." Ucap Abhi dengan nada tinggi.
__ADS_1
" Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi, apapun alasannya dan apapun yang akan terjadi aku tidak akan pernah melepaskanmu, bukankah aku pernah bilang sebelumnya kepadamu? Sekali kau terikat denganku maka selamanya kau akan tetap terikat denganku Sevia, jadi buang jauh jauh pikiran konyol mu itu." Ucap Abhi meninju udara di atas kepalanya. Ia merasakan kesal dengan ucapan Sevia.
Sevia menahan tawanya, membuat Abhi menatapnya sambil mengerutkan keningnya.
" Kenapa kau tertawa hah?" Tanya Abhi.
" Aku merasa lucu saat melihat kau marah marah begitu, padahal aku cuma bercanda." Sahut Sevia terkekeh geli.
" Apa? Kau mengerjaiku?" Selidik Abhi menatap Sevia.
" Hmm." Gumam Sevia menganggukkan kepala.
" Kau benar benar jahat, harus di kasih pelajaran." Ucap Abhi.
Abhi menindih tubuh Sevia lalu menggelitik perutnya membuat Sevia tertawa terpingkal pingkal.
" Ampun Yank! Aha ha ha ha." Sevia terus tertawa.
" Nggak ada ampun, salah sendiri jadi istri suka banget jailin suami sendiri." Ucap Abhi.
" Udah ah nanti aku nggak doyan makan Yank." Ucap Sevia.
" Enggak bisa." Abhi terus menggelitik Sevia sampai...
Huek...
Sevia memuntahkan isi perutnya. Beruntung ia muntah di lantai. Badannya tengkurap di atas ranjang.
Huek....
" Sayang kamu tidak pa pa? Jangan bercanda lagi! Aku tidak suka." Ucap Abhi.
Sevia berlari ke kamar mandi.
Huek... huek....
Sevia memuntahkan semua isi perutnya ke wastafel kamar mandi. Abhi segera menyusulnya lalu memijat tengkuk Sevia.
" Sayang kamu kenapa? Jangan membuat aku cemas donk! Ujar Abhi.
Huek...
Rasanya sudah tidak ada lagi yang bisa di keluarkan dari perutnya. Tapi rasanya masih mual, dan mau muntah.
Sevia membersihkan mulutnya lalu mengusapnya dengan tisu.
" Sayang kamu kenapa? Maafin aku ya! Gara gara aku kamu jadi begini." Ujar Abhi merapikan anak rambut Sevia.
" Aku tidak apa." Lirih Sevia.
Abhi membantu Sevia kembali ke kamarnya. Ia merebahkan tubuh Sevia di atas ranjang.
" Istirahatlah! Aku akan membersihkan lantainya dulu." Ucap Abhi.
Abhi mengambil kain pel di bawah. Dengan telaten ia mengelap bekas muntahan Sevia tanpa jijik. Padahal Sevia sendiri merasa jijik melihatnya.
" Seneng banget punya suami perhatian dan pengertian seperti dirimu Bhi, hanya kamu yang ada di hatiku dan tidak akan tergantikan oleh siapapun." Gumam Sevia tersenyum bahagia.
" Sh... Kepalaku kok jadi sakit gini ya? Sebenarnya aku ini kenapa?"
Ada yang tahu apa yang terjadi dengan Sevia?
Tunggu di bab selanjutnya ya....
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya ya..
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author... Semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All....
TBC.....