
Pagi ini Abhi sedang bersiap, sebentar lagi ia harus sampai di kantor untuk persiapan meeting. Saking keburu nya, Sevia lupa menyiapkan baju ganti untuk Abhi. Ia malah sibuk membuat sarapan di dapur.
" Yank.... Bajuku mana?" Teriak Abhi.
Sevia yang mendengar teriakan Abhi langsung berlari menghampirinya.
" Iya Yank, ada apa?" Tanya Sevia.
" Bajuku mana? Kok nggak kamu siapin? Kan aku harus bersiap ke kantor." Ujar Abhi.
" Ah aku lupa Yank, ya udah aku ambilkan dulu." Sahut Sevia.
Dengan sigap Sevia segera mengambil kemeja dan jas untuk Abhi. Tidak lupa celana panjang berbahan kain berwarna hitam.
" Ini." Sevia memberikannya kepada Abhi.
Abhi segera memakainya, ia tidak malu memakai pakaiannya di depan Sevia.
" Dasinya biar aku bantu." Sebia memasangkan dasi ke leher Abhi.
" Selesai, sekarang dah tampan suamiku ini tapi sayang akunya malah masih dekil gini." Ucap Sevia.
" Kamu tetap cantik kok sayang, kamu seperti ini kan karena mengurus aku, ini belum punya babby lhoh, kalau udah punya babby jam segini aja kamu masih bau ompol." Sahut Abhi.
" Yang bener Yank?" Sevia menatap Abhi.
" Benar sayang, kamu bisa mandi pagi aja udah beruntung." Ucap Abhi.
" Kalau begitu aku nggak mau punya babby." Ucap Sevia membuat Abhi melongo.
" Ya jangan gitu donk Yank! Kamu tenang saja! Aku akan mengurus babby kita di pagi hari dan kau menyiapkan sarapan buat kami, kamu nggak usah nyuci, biar aku yang nyuci sepulang dari kantor, gimana?" Tanya Abhi.
" Aku juga nggak mau kamu kecapekan Yank, kalau urusan pekerjaan rumah kita sewa art saja, kamu ngurus babby, aku ngurus keperluan kamu." Ujar Sevia.
" Boleh juga, berarti mulai nanti kita harus rajin buat babby, biar dia cepat hadir di dalam sini." Abhi mengelus perut rata Sevia.
" Amin." Sahut Sevia.
" Ya udah ayo kita sarapan Yank, entar kamu keburu terlambat." Ajak Sevia.
" Baiklah sayang." Abhi mencium kening Sevia.
Keduanya turun ke meja makan. Di sana sudah tersaji nasi goreng ayam sosis di sertai telur ceplok mata sapi.
" Maaf aku sempat nya masak nasi goreng saja, kalau mau masak lauk sama sayur kelamaan." Ucap Sevia.
" Tidak masalah sayang, apapun yang kau masak aku pasti akan memakannya." Sahut Abhi duduk di kursinya.
Keduanya makan dengan khidmat. Setelah selesai, Abhi berpamitan pada Sevia.
" Sayang aku berangkat dulu, kalau ada apa apa segera telepon aku ya." Ujar Abhi mencium kening Sevia.
" Iya Yank, kami juga hati hati." Sahut Sevia menyalami Abhi dengan takzim.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum." Ucap Abhi.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Sevia.
Abhi segera berangkat ke kantor. Sesampainya di sana, ia langsung menghampiri Eka, sang receptionist.
" Eka, kemasi barang barangmu sekarang juga!" Ucapan Abhi membuat Eka melongo.
" Saya kenapa Pak? Kenapa saya harus mengemasi barang barang saya?" Tanya Eka menatap Abhi.
" Kamu di pecat." Ucap Abhi.
" Di pecat pak? Memangnya salah saya apa Pak? Bapak nggak bisa donk begitu saja memecat saya." Ucap Eka berani.
Keduanya menjadi pusat perhatian karyawan lainnya.
" Kamu sudah berani menfitnah saya, siapa yang menyuruhmu mengangkat telepon istriku? Dan apa kamu bilang? Menghabiskan waktu bersama? Apa kamu tidak memandang berapa usia kamu? Kau bahkan jauh lebih tua dariku bagaimana kau bisa mengharapkan aku menjadi kekasihmu, istriku cantik... Bahkan sangat cantik, seribu pelakor sepertimu pun tidak akan ada yang bisa mengalahkan pesonanya, mulai sekarang tinggalkan kantor ini, kantor ini tidak membutuhkan pekerja yang banyak omong nya seperti kamu, saya tidak mau kau merugikan nama baikku ataupun perusahaan ku, aku sudah melihat bagaimana caramu menerima tamu." Abhi masuk ke dalam meninggalkan Eka yang masih mematung.
Sepeninggal Abhi, Sevia mengendarai mobilnya menuju super market terdekat. Ia ingin belanja bulanan karena stok bahan bahan makanannya sudah habis.
Sesampainya di supermarket, Sevia turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam. Saat melewati pintu masuk tiba tiba seseorang menabrak Sevia.
" Awh." Pekik Sevia.
" Maaf... Maaf." Ucapnya.
" Kalau jalan pakai mata donk! Biar nggak nabrak orang sembarangan." Kesal Sevia menatap pria yang baru saja menabraknya.
" Bodo' amat." Sevia meninggalkannya.
Pria itu terus menatap Sevia.
" Gadis yang menarik, gue suka yang kasar kasar gini, gue ikutin ah." Pria itu mencoba mengikuti Sevia dari jauh.
Sevia mendorong trolly belanja menuju ke stand minyak goreng, bumbu praktis, lalu banyak lagi yang ia masukkan ke trolly belanjaannya.
Pria itu terus mengikuti Sevia sampai Sevia berhasil menyadarinya. Sevia sembunyi sebentar untuk menangkap pria tadi.
Hap...
Sevia menepuk pundak pria itu membuat pria itu kaget.
" Astaga lo bikin gue kaget aja." Ucapnya.
" Lo mau nyuri atau mau nyulik gue? Kenapa lo ngikutin gue dari tadi? Nggak pernah lihat cewek cantik belanja?" Sevia menatap sinis ke arahnya.
" Kenalin gue Steven, gue mau minta bantuan sama lo." Ucap Steven.
" Kenapa? Lo kehabisan duit karna baru di copet? Lagu lama itu mah, berapa yang lo mau hah? Gue akan kasih tapi setelah itu lo harus pergi dari sini." Ucap Sevia.
" Eh enak aja! Gue nggak butuh uangmu, gue juga punya kali kalau cuma uang, gue minta lo kasih tahu alamat ini." Steven memberikan secarik kertas kepada Sevia.
Sevia pun membacanya. Ia menatap kembali ke arah Steven.
__ADS_1
" Gimana? Lo tahu kan alamat itu?" Tanya Steven.
" Lo mau ngapain ke rumah ini?" Tanya Sevia.
" Gue mau ngelamar anak gadisnya." Ucap Steven asal.
" Sayangnya anak gadisnya udah menikah beberapa tahun yang lalu, lo mau nikahin emaknya?" Tanya Sevia.
" Ya nggak mau lah gue, gue akan paksa anak gadisnya bercerai dari suaminya lalu menikah denganku, gampang kan." Sahut Steven.
" Memangnya lo siapanya yang punya rumah ini?" Tanya Sevia lagi.
" Lo kebanyakan nanya, emangnya kenapa? Lo naksir sama gue terus lo nggak rela gue nikah sama anaknya yang punya rumah itu?" Steven menaik turunkan alisnya.
" Dih amit amit." Cebik Sevia memutar bola matanya malas.
" Buruan antar gue ke sana!" Ucap Steven.
" Ya nanti lah, gue belanja aja belum kelar, gue lanjut belanja dulu, lo tunggu di depan aja." Ucap Sevia.
Setelah belanja, Sevia melajukan mobilnya untuk mengantar Steven ke alamat yang di tuju. Sampai di perempatan lampu merah, Abhi melihatnya bersama dengan seorang pria.
" Bhi, itu Sevia sama siapa? Dan mau kemana mereka? Sepertinya dia bukan mau ke rumahmu." Ucap Reno yang juga melihatnya.
" Entahlah, aku akan menanyakannya lewat telepon." Sahut Abhi.
Abhi menelepon Sevia, Sevia langsung mengangkatnya.
" Halo Yank, gimana?" Tanya Sevia.
" Kamu dimana?" Tanya Abhi?
" Aku lagi perjalanan pulang, kenapa?" Tanya Sevia.
" Tidak apa, ya sudah aku kembali kerja dulu." Ucap Abhi mematikan sambungan teleponnya.
" Ren, coba kita ikuti mereka sebentar, Sevia bilang dia mau pulang, bener apa enggak." Ucap Abhi.
" Baiklah." Sahut Reno.
RenoReno mengikuti mobil Sevia namun sayangnya mobil Sevia tidak pulang ke rumah, dia justru menghentikan mobilnya di sebuah cafe bersama pria yang tidak Abhi kenal.
Abhi merasa kecewa dengan kebohongan yang Sevia lakukan.
Thor suka banget bikin salah paham...
Ha ha ha jiwa jahilnya author lagi mengambang ya...
Jangan lupa untuk tetap like koment dan vote biar author makin semangat ngetiknya...
Miss U All...
TBC......
__ADS_1