Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Di Besuk Teman Teman


__ADS_3

Hari ini Abhi di rawat di rumah sakit. Semalam ia muntah tidak ada hentinya, hal itu membuat Sevia sangat kebingungan, ia menelepon Reno untuk meminta bantuannya.


" Sayang aku mau muntah lagi." Rengek Abhi.


" Iya, ayo aku bantu!" Ucap Semua membantu Abhi berjalan ke kamar mandi.


Huek.... Huek....


Abhi memuntahkan semua isi perutnya yang hanya berisi cairan kuning.


Sevia memijat tengkuk Abhi dengan telaten. Ia iba dengan kondisi Abhi saat ini. Benar benar memprihatinkan.


" Udah mendingan belum Yank?" Tanya Sevia.


Abhi menganggukkan kepalanya. Ia mencuci mulutnya dengan air bersih. Lalu mengusapnya dengan tisu.


" Ayo kembali ke ranjang." Ajak Sevia.


Sevia kembali memapah Abhi menuju ranjang. Ia membantu Abhi duduk bersandar pada tumpukan bantal.


" Sayang aku akan terus muntah kalau nggak di kasih vitamin itu." Ucap Abhi menunjuk dada Sevia.


" Itu karena pikiranmu mesum Yank, masa' di sini mau gituan, nanti kalau ada yang datang kan malu kepergok lagi gitu." Sahut Sevia.


" Tapi Yank." Rengek Abhi.


" Besok kalau udah di rumah ya, lagian kasihan dedeknya kalau setiap pagi dan malam di tengokin terus sama daddynya, dia kan masih sangat kecil Yank, nanti kalau terjadi apa apa padanya gimana?" Ujar Sevia menatap Abhi.


" Baiklah, tapi tidur sambil peluk kamu." Ucap Abhi.


" Baiklah babby besarku." Sevia naik ke atas ranjang, Abhi langsung memeluknya. Ia membenamkan wajahnya di dada Sevia membuat Sevia menggelengkan kepalanya.


Tok tok


" Masuk!" Teriak Sevia.


Cek lek....


Pintu terbuka, nampak teman teman kuliah Abhi masuk ke dalam. Mereka nampak melongo melihat pemandangan di depannya. Dimana posisi Abhi seperti bayi yang minum susu ibunya.


" Yank teman temanmu." Ucap Sevia.


Abhi beranjak bersandar pada tumpukan bantal, sedangkan Sevia turun dari ranjang.


" Gimana kabarmu Bhi?" Tanya salah satu teman pria Abhi.


" Yah seperti yang kalian lihat! Terima kasih sudah repot repot menjenguk ku di sini." Sahut Abhi.


" Sebagai teman memang harus begitu kan?" Ujar teman Abhi.


" Oh ya sayang kenalin, ini Lucas, dia Rudi, dia Lukman, dia Rini, dan dia Santi. Kalau yang itu kamu udah kenal kan, namanya Devi." Abhi menunjuk satu persatu temannya.


" Hai, aku Sevia." Ucap Sevia.


" Hai... Kamu pacarnya Abhi?" Tanya Lucas memastikan.


" Bukan! Dia istriku." Sahut Abhi.


" Apa? Istri?" Pekik teman teman Abhi kaget.

__ADS_1


" Gue nggak nyangka ternyata lo udah nikah Bhi." Ujar Lucas.


" Iya, impianku untuk menikah muda dengan Sevia terwujud sudah, kami bahkan sudah dua tahun menikah." Ucap Abhi.


" Dua tahun? Berarti lo masih SMA donk!" Ujar Rudi.


Abhi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


" Kok bisa gitu Bhi, bukannya kalau masih sekolah nggak boleh menikah ya." Ujar Rini.


" Ya karena saking cintanya gue sama Sevia, gue nggak mau kehilangan dia, jadi pas ada kesempatan gue nikahin aja dia, yang penting Sevia tidak boleh hamil sebelum kami lulus, dan kami menjalankan pernikahan ini dengan baik." Ujar Abhi menggenggam tangan Sevia.


" Iyalah, siapa sih yang nggak mau menikah sama Abhi, pengusaha muda yang sangat sukses." Ujar Devi sinis.


" Perlu kau ketahui Nona Devi, saat aku menikah dengan Abhi, aku bahkan tidak tahu siapa Abhi, yang aku tahu dia orang miskin yang numpang hidup dengan keluargaku." Ucap Sevia.


" Ah iya, kamu tidak tahu siapa aku, kenalkan aku Sevia Steffany, pewaris tunggal perusahaan SS Corporation, aku rasa kamu pasti tahu kan perusahaan besar yang setara dengan perusahaan Abhi, jadi aku sama sekali tidak tertarik dengan uang Abhi ataupun hartanya, yang jelas aku mencintainya karena cinta dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku selama ini." Sambung Sevia membuat semua orang melongo.


Karena malu, Devi pergi meninggalkan ruangan Abhi. Sevia tersenyum sinis melihatnya.


" Sevia, maafkan temanku ya! Dia malah membuat keributan di sini." Ujar Lucas.


" Tidak masalah!" Sahut Sevia.


" Oh ya Abhi sakit apa?" Tanya Rudi menatap Abhi.


" Kehamilan simpatik." Sahut Abhi.


Lagi lagi teman teman Abhi di buat melongo olehnya.


" Jadi saat ini Sevia sedang hamil?" Tanya Santi memastikan.


Sevia tersenyum menganggukkan kepalanya.


" Berarti lo harus cari suami yang sangat mencintai lo." Sahut Rini.


" Iya lo bener Rin, Sevia ada nggak yang seperti Abhi, sisain satu buat aku donk." Ucap Santi asal menatap Sevia.


" Nggak ada! Karena Abhi tidak ada duanya." Sahut Sevia.


" Yah." Ucap Santi lesu.


Mereka menghibur Abhi dengan obrolan obrolan unfaedah. Mereka kagum dengan hubungan Abhi dan Sevia saat mereka melihat Sevia merawat Abhi dengan baik. Dari menyuapi nya makan sampai meminum obatnya. Keduanya nampak menjadi keluarga yang sangat romantis walaupun nikah muda.


Setelah hari menjelang siang, mereka pamit pulang.


" Cepat sembuh ya Bhi, kami pulang dulu." Ucap Lucas.


" Terima kasih, terima kasih semuanya." Ucap Sevia menatap kepergian mereka semua.


Sevia kembali masuk ke dalam.


" Yank kelonin! Aku mau bobok." Ucap Abhi manja.


" Iya." Sahut Sevia naik ke atas ranjang.


Abhi terlelap dalam buaian Sevia.


...****************...

__ADS_1


Di dalam ruangan Reno, saat ini Reno sedang mencuri pandang kepada Nada. Ia menatap Nada yang sedang mengerjakan pekerjaannya. Sesaat Nada menoleh ke arahnya membuat tatapan mereka bertemu.


" Kenapa menatapku seperti itu Mas?" Tanya Nada menatap Reno.


" Ah tidak, siapa yang menatapmu? Geer kamu." Kilah Reno membuang pandangannya.


" Halah ngeles mulu', tinggal ngaku aja apa susahnya, gengsian amat jadi orang." Sahut Nada kembali fokus pada pekerjaannya.


" Kamu mau nggak menemani aku jenguk si bos?" Entah mengapa justru kalimat itu yang keluar dari mulut Reno.


" Memangnya bos kenapa Mas?" Tanya Nada.


" Kehamilan simpatik, dia muntah terus dan saat ini di rawat di rumah sakit." Ucap Reno.


" Emang boleh ya aku jenguk si bos? Secara kan aku hanya pegawai rendahan yang sangat sulit untuk sampai ke lingkungan bos, nanti kalau bos marah gimana?" Tanya Nada memastikan. Ia cukup tahu diri siapa dirinya.


" Kenapa tidak? Bos pasti senang kalau ada pegawainya yang mau menjenguknya, dia orang baik kok, apalagi istrinya, dia tidak memandang orang lewat statusnya." Ujar Reno.


" Masih ada ya orang kaya yang seperti itu, semoga hidup mereka selalu hidup bahagia." Ucap Nada.


" Amin." Sahut Reno tersenyum manis melihat kebaikan Nada.


" Lagian aku dan si bos itu berteman baik, jadi kau tidak perlu khawatir di usir dari sana." Ujar Reno.


" Benarkah? Aku berteman dengan temannya si bos? Ah mimpi apa aku semalam?" Ujar Nada membuat Reno terkekeh.


" Kapan kita akan menjenguk bos, Mas Reno?" Tanya Nada.


" Nanti sepulang dari sini gimana?" Reno menatap Nada.


" Ok baiklah, tapi aku nebeng ya karena aku nggak bawa motor hari ini, motor aku sedang ada di bengkel." Ujar Nada.


" Iya lah, kan aku yang ngajak kamu." Sahut Reno.


" Terima kasih." Sahut Nada kembali mengerjakan pekerjaannya.


Reno terus menatap Nada tanpa berkedip. Ada sesuatu yang berdesir di dalam hatinya.


" Entah mengapa hatiku terasa damai saat melihat wajah dan senyumanmu, apakah aku jatuh cinta padamu? Hanya Tuhan yang tahu apa yang telah aku rasakan kepadamu." Ujar Reno dalam hati.


Sepulang dari kantor, Reno dan Nada menuju rumah sakit dimana Abhi di rawat. Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di lobby rumah sakit. Keduanya berjalan menuju ruangan Abhi.


Cek lek.....


Reno membuka pintunya, ia masuk ke dalam di ikuti Nada dari belakang. Abhi dan Sevia menatap Reno dan Nada secara bergantian. Nada menatap Abhi dengan tatapan intens.


" Kak Abhi." Ucap Nada.


Abhi mengerutkan keningnya menatap Nada. Tiba tiba Nada berlari menghampirinya lalu...


Grep.....


Nada memeluk Abhi membuat Sevia membulatkan matanya.


Hayooo siapa ya si Nada ini?


Penasaran? Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author biar author kasih double up....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All....


TBC.....


__ADS_2