Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Rumah Baru


__ADS_3

Hari ini Abhi dan Sevia pindah ke perumahan sederhana yang entah di beli Abhi sendiri atau di belikan tuan Anton, yang jelas Sevia tidak menyukainya.


Karena apa? Karena rumah ini hanya punya satu kamar saja. Entah sengaja atau kebetulan, semua ini membuat penderitaan Sevia semakin lengkap karena ia harus berbagi kamar dengan suaminya.


" Sayang Mama sama Papa pulang dulu, stok kebutuhan makanan udah Mama simpan di kulkas, kalau kurang apa apa kamu tinggal telepon Mama ya." Ucap nyonya Nadira.


" Mama." Sevia memeluk mamanya.


" Ma aku tidak mau tinggal di sini, aku mau tinggal di rumah sama Mama sama Papa aja." Ucap Sevia.


Nyonya Nadira melepas pelukannya, ia menangkup wajah putri tercintanya.


" Sayang, seorang anak perempuan bukan lagi menjadi milik orang tuanya setelah dia menikah, sama sepertimu.... Kamu sekarang sudah menjadi milik Abhi, kamu harus mengikuti kemanapun Abhi membawamu nak, jadilah istri yang baik karena surgamu ada pada ridho suamimu, demi Mama dan Papa... Belajarlah menjadi istri yang solehah, martabat kami ada padamu." Ucap nyonya Nadira.


Sevia menatap papanya, ia menubruk tubuh papanya yang mulai renta.


" Papa... Maafin aku yang selama ini udah nyusahin Papa sama Mama." Ucap Sevia.


" Papa juga minta maaf karena tidak bisa memberikan kebahagiaan kepadamu sayang, tapi berjanjilah kepada Papa kalau kamu akan bahagia hidup bersama Abhi, kami menyayangimu." Ujar tuan Anton.


" Aku juga menyayangi kalian." Sahut Sevia.


Setelah itu orang tua Sevia pergi meninggalkan rumah baru Sevia. Sevia menatap nanar kepergian mereka.


" Sudah jangan bersedih lagi." Ucap Abhi menyentuh pundak Sevia.


" Apa sih." Ketus Sevia menepis tangan Abhi.


Sevia masuk ke dalam kamarnya. Ia membanting tubuhnya di atas kasur dengan posisi tengkurap.


" Aku tidak menyangka hidupku berubah drastis hanya dalam dua hari saja, kalau aku tahu akan begini jadinya, aku tidak akan mengarang cerita untuk menjebaknya, ya Tuhan.... Aku menyesal sekali." Monolog Sevia.


" Se apa kau mau tidur?" Tanya Abhi masuk ke dalam kamarnya.


Sevia tidak bergeming, ia malas sekedar menjawab pertanyaan Abhi yang ia anggap sebagai sumber masalah dalam hidupnya.


Abhi duduk di tepi ranjang menatap punggung Sevia.


" Baiklah kalau kamu mau tidur, aku mau pulang ke rumah dulu untuk mengambil barangku yang tertinggal, atau kau mau ikut? biar kamu tahu dimana rumahku." Ucap Abhi.


" Nggak penting, kalau mau pergi ya tinggal pergi aja sana, gue malah seneng lo nggak ada di rumah, bikin sakit mata aja." Sahut Sevia.


Bukannya marah tapi Abhi malah tersenyum.


" Ya sudah aku pergi dulu, hati hati di rumah jangan sampai ada orang asing masuk, karena di sini sepi dan katanya sering ada orang gila yang suka masuk ke rumah." Ucap Abhi.


" Apa? Orang gila?" Pekik Sevia langsung duduk menatap Abhi.


" Iya... Aku nggak tahu pastinya sih, tapi kata tetangga sebelah gitu." Sahut Abhi menahan tawanya.

__ADS_1


" Jangan pergi!" Sevia memegang lengan Abhi.


Abhi tersenyum menatap tangannya dan tangan Sevia. Sevia refleks menjauhkan tangannya.


" Aku harus mengambil barang yang lupa aku bawa, jadi aku harus pergi." Ujar Abhi.


" Sebenarnya lo menempatkan gue dimana sih? Rumah kecil, kamar sempit, suasana sepi apalagi apa tadi? Sering ada orang gila? Oh ya Tuhan...... Gue tidak menyangka setelah bertemu dengan lo hidup gue menjadi sengsara seperti ini, lo bukannya membuat gue bahagia tapi lo membawa gue ke dalam kesengsaraan yang berkelas." Ucap Sevia turun dari ranjang.


Sevia menyambar kunci mobilnya di atas nakas.


" Mau kemana?" Tanya Abhi menghadang Sevia.


" Mau pulang, buat apa gue di sini kalau nggak nemuin kebahagiaan? Keluar dari rumah gue malah gue jadi sengsara seperti ini, gue nggak seperti cewek cewek lainnya yang rela hidup susah bersama suaminya, mending gue jadi janda dari pada...


" Sevia." Bentak Abhi membuat Sevia bungkam.


Abhi maju mendekati Sevia membuat Sevia memundurkan langkahnya, mundur, mundur dan terus mundur sampai...


Brugh...


Tubuh Sevia jatuh di atas kasur. Abhi menindih Sevia sambil terus menatapnya dengan tajam.


" Sudah aku bilang kalau aku tidak akan pernah melepasmu, jadi jangan pernah katakan ucapan perpisahan ataupun sejenisnya, hanya kematian yang akan memisahkan kita." Tekan Abhi.


" Kalau begitu aku akan membunuhmu! Dengan begitu aku bisa terlepas dari pria miskin sepertimu." Ucapan Sevia menohok hati Abhi.


Brak....


Sevia berjingkrak kaget saat Abhi dengan kasar menutup pintunya.


" Apa dia marah ya sama aku? Apa ucapanku sudah keterlaluan? Ah bodo' amat lah, aku tidak peduli." Monolog Sevia.


Hari hampir petang namun Abhi belum juga kembali. Sevia merasa sangat lapar, beruntung tadi ada sisaan makanan jadi ia tinggal menghangatkan nya saja.


Selesai makan Sevia masuk ke kamarnya. Ia nampak berjalan mondar mandir menunggu Abhi.


" Ckk sebenarnya dia kemana sih? Kenapa ajak gue ke sini kalau cuma di tinggal begini, benar benar suami nggak ada akhlak, nyesel gue mau di ajak pindah ke sini." Gerutu Sevia.


" Mana Mama sama Papa ngedukung banget keputusan dia lagi, sok sok an mau mandiri, yang ada gue mati berdiri." Sevia terus mengomel menyalahkan Abhi sampai tiba tiba ada suara...


Brak....


" Suara apa itu? Apa itu orang gila? Ya Tuhan jangan sampai itu orang gila, gue paling takut sama yang namanya orang gila.... Abhi.. Cepat pulang gue takut." Monolog Sevia.


Brak.... Krosak....


" Duh apalagi itu? Apa gue telepon Abhi saja ya? Tapi nggak mau ah, gengsi gue... Dia pikir gue takut di rumah sendiri kan? Akan gue buktiin kalau gue tidak takut sama sekali." Sevia duduk di tepi ranjang.


Srekkkk....

__ADS_1


Lagi lagi ada suara yang membuatnya takut.


" Ya Tuhan.. Bawa orang gila itu pergi dari sini, jangan sampai gue yang jadi gila karena ketakutan." Ujar Sevia.


" Abhi lo kemana sih? Lo mau pulang atau tidak sebenarnya? Tapi awas aja kalau sampai lo nggak pulang, gue bakal kabur dari rumah ini dan nggak mau kembali lagi ke sini." Ucap Sevia kesal.


Srek...


" Astaga." Sevia berjingkrak kaget.


" Ya Tuhan kalau Kau membawa Abhi pulang sekarang, gue tidak akan memarahinya lagi." Ujar Sevia.


Sevia mendengar suara motor gedhe milik Abhi. Ia segera berjalan mendekati pintu lalu membukanya.


Dan benar saja, Abhi turun dari motor lalu membuka helmnya tiba tiba....


Grep....


Sevia memeluknya dengan erat membuatnya terkejut, namun tak lama setelah itu Abhi tersenyum lebar.


" Abhi gue takut." Ucap Sevia tanpa sadar.


Abhi membalas pelukan Sevia. Untuk beberapa saat Abhi menikmati indahnya pelukan sang istri. Ia membayangkan jika ia sudah bekerja nanti, pulang dari kantor di sambut istri dengan pelukan hangat seperti ini.


" Duh romantis sekali Mbak, suaminya baru pulang udah di sambut dengan pelukan." Ucap tetangga yang bersebelahan dengan Abhi.


Sevia mendongak menatap Abhi, lalu Ia segera menjauh dari Abhi.


" Ckk mengganggu saja." Gumam Abhi.


Sevia menjadi salah tingkah, ia masuk ke dalam rumahnya tanpa menyapa tetangganya.


" Mari Bu, saya masuk dulu." Ucap Abhi.


" Iya silahkan." Sahutnya.


Abhi masuk ke dalam langsung menuju kamarnya. Ia melihat Sevia yang menutup tubuhnya dengan selimut seperti kepompong. Abhi menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu Sevia. Ia yakin kalau Sevia merasa malu dengan tindakannya.


" Hari ini kau memelukku tanpa sadar, seiring berjalannya waktu aku akan membuatmu memelukku setiap hari dengan penuh cinta dan kasih sayang." Batin Abhi masuk ke dalam kamar mandi.


Lanjut nggak nih??


Kalau lanjut tekan like koment vote dan 🌹nya dulu buat Abhi dan Sevia.


Terima kasih untuk readers yang sudah mensupport author semoga sehat selalu....


Miss U All....


TBC....

__ADS_1


__ADS_2