Musuh Tambatan Hatiku

Musuh Tambatan Hatiku
Bukan Papaku Lagi


__ADS_3

Richard menggandeng tangan Nada masuk ke dalam rumah nyonya Rani. Sayup sayup terdengar seperti seseorang sedang bertengkar di dalam sana. Nada dan Richard menghentikan langkahnya.


" Ma, aku mohon! Maafkan kesalahanku selama ini! Aku merasa bodoh karena telah di bohongi oleh dua wanita ular itu, maafkan aku Ma, aku lebih membela mereka daripada kalian, aku menyesal telah menyianyiakan kalian selama ini, maafkan aku!"


Nampak tuan Yoga bersujud di depan nyonya Rani.


" Aku tidak peduli lagi! Pergilah sebelum Nada melihatmu di sini! Aku tidak bisa melihat kemarahan Nada kepadamu, aku mohon pergilah! Aku sudah memaafkanmu tapi aku tidak bisa menerimamu sebagai suamiku lagi, karena bagiku suamiku sudah mati." Sahut nyonya Rani.


" Rani.... " Tuan Yoga berdiri di depan mantan istrinya. Istri yang telah di khianati nya.


" Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kau tega melihat aku terlunta lunta di jalanan karena tidak memiliki apa apa lagi? Apa kamu sudah melupakan kenangan indah kita saat bersama dulu? Apa...


" Aku sudah melupakan semuanya." Bentak nyonya Rani menatap tajam tuan Yoga.


" Aku melupakan semua kenangan indahku bersamamu, yang aku ingat hanya pengkhianatan yang kau lakukan padaku, dan rasa cinta yang dulu menggebu dalam hatiku kini berubah menjadi kebencian Prayoga." Teriak nyonya Rani.


" Ra... " Tuan Yoga hendak menangkup wajah mantan istrinya, namun nyonya Rani menepis tangannya.


" Sekarang pergi dari sini! Kembalilah pada keluarga yang kamu sayangi selama ini! Jangan pernah kembali lagi ke sini ataupun kembali dalam kehidupanku lagi! Aku membencimu! Aku sangat membencimu." Tekan nyonya Rani.


" Rani...


" Pergi!" Teriak nyonya Rani.


Tidak tahan melihat semua itu, Nada menghampiri mamanya.


" Ma."


" Nada." Nyonya Rani mengusap air matanya.


Ia benar benar tidak menyangka jika Nada akan sampai lebih awal. Bukankah Nada bilang akan ke sini malam hari? Lalu kenapa siang hari Nada sudah sampai sini? Pikir nyonya Rani.


Nada menatap tajam ke arah papanya.


" Kenapa anda kemari tuan Prayoga?" Tekan Nada.


" Sayang Papa...


" Bukan! Kau bukan Papaku lagi!" Sahut Nada memotong ucapan papanya.


" Nada kau tidak bisa mengubah takdir, aku Papamu." Ucap tuan Yoga.


" Kau kehilangan hak itu sejak kau tidak lagi memenuhi tanggung jawabmu sebagai seorang ayah, jadi jangan pernah mengaku sebagai papaku jika kau saja sudah tidak menafkahiku, peranmu sudah tergantikan oleh Mas Richard sejak lama, Tuan." Tekan Nada.


" Ah iya... Aku tahu, anda ke sini karena di usir oleh keluarga barumu kan? Kau sudah tidak di butuhkan lagi di sana karena kau sudah miskin tuan... Begitupun di sini, sebenarnya kami sudah tidak membutuhkanmu sejak lama, tapi kami baru menyadarinya." Sambung Nada.

__ADS_1


" Sekarang pergilah! Jangan pernah injakan kakimu di sini lagi! Aku tidak sudi kalau rumahku meninggalkan jejak pengkhianat sepertimu." Ucap Nada menatap papanya dengan penuh kebencian.


" Nada..


" Pergi atau aku akan menelepon polisi ke sini untuk menyeretmu ke dalam penjara karena telah mengusik keluarga kami!" Ancam Nada.


" Baiklah sayang, Papa akan pergi."


Tuan Prayoga berjalan keluar dengan rasa penyesalan yang mendalam.


Nada menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan lesu. Air mata tidak bisa di bendungnya lagi. Bagaimanapun ia sangat menyayangi papanya, tapi amarah lebih mendominasi nya.


" Sayang." Richard menarik Nada ke dalam pelukannya.


" Menangislah sayang! Keluarkan semua kesedihanmu! Tapi setelah ini jangan menangis lagi." Ucap Richard mengelus kepala Nada.


" Hiks... Papa Mas... Aku tidak tega melihat papa seperti ini, tapi aku juga tidak bisa mengendalikan amarah dan rasa benci ini hiks.. Aku tidak mau melihatnya lagi, aku ingin dia pergi selamanya dari kehidupan kami." Isak Nada membuat nyonya Rani tergugu.


" Dia akan pergi sayang! Mas janji tidak akan membiarkannya menampakkan wajahnya di depanmu lagi." Sahut Richard.


Richard terus menenangkan Nada. Hal ini membuat nyonya Rani kagum padanya.


" Mama bahagia sayang melihat cinta yang Richard berikan kepadamu, mama tidak menyesal telah melepasmu untuk Richard." Batin nyonya Rani masuk ke dalam kamarnya.


Setelah Nada merasa tenang, Richard membawanya ke kamarnya.


Setelah Nada duduk dengan baik, Richard menuju dapur membuatkan jus mangga untuknya.


" Ini sayang di minum dulu!" Richard memberikan segelas jus mangga dengan beberapa potongan es batu.


" Terima kasih Mas." Ucap Nada meminum jus nya.


" Mau menginap di sini atau mau pulang aja?" Tanya Richard.


" Aku ingin menginap di sini Mas, dan malam ini aku ingin tidur bersama mama, bolehkan?" Nada menatap Richard.


" Tentu sayang, apapun untukmu." Richard mengelus kepala Nada.


" Jangan bersedih lagi! Kasihan anak kita, dia pasti akan sedih melihatmu seperti ini, biarkan anak kita hanya merasakan kebahagiaan sayang." Ucap Richard.


" Iya Mas, aku bahagia kok." Sahut Nada.


Keduanya saling tatap.


" Aku bahagia karena aku memilikimu sebagai suamiku Mas, aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpamu, aku mencintaimu." Nada mengecup punggung tangan Richard.

__ADS_1


" Mas lebih mencintaimu sayang, apapun akan Mas lakukan untukmu dan anak kita." Sahut Richard.


Richard naik ke atas ranjang, ia melingkarkan tangannya ke perut Nada.


" Anak papi sedang apa di sini ya?" Richard mengelus perut Nada.


" Aku sedang tidur pi, jangan ganggu aku!" Sahut Nada menirukan suara anak kecil.


" Oh lagi bobok ya... Kalau lagi bobok kenapa bisa jawab papi." Ujar Richard.


" Ini aku sedang mengigau pi, lihatlah! Aku memejamkan mata kan."


" Mana? Kok papi tidak lihat?" Ujar Richard.


" Papi lihat mami aja! Jangan lihat yang lainnya! Takutnya papi kecantol sama yang lainnya kan jadi sedih aku nya, kasihan mami kalau harus merasakan hal yang sama seperti oma."


Richard menatap Nada yang saat ini sedang menatap ke arahnya juga.


" Tidak akan sayang! Mas tidak akan tergoda dengan wanita lainnya, hanya kamu, untuk kamu dan demi kamu. Mas sangat mencintaitaimu." Richard mengecup kening Nada.


" Nikmat mana yang kau dustakan Nada? Kau benar benar beruntung memiliki suami berhati malaikat, penyayang dan terlebih lagi dia sangat mencintaimu, dan sebagai bonusnya dia sangat tampan." Batin Nada.


" Sekarang istirahatlah! Tenangkan pikiranmu! Lupakan kejadian tadi! Bangun tidur kau harus happy sayang." Ujar Nada.


" Iya Mas." Sahut Nada.


Nada berbaring miring memeluk perut Richard membenamkan wajahnya ke bawah ketiak Richard. Entah mengapa ia merasa nyaman berada di sana.


Richard mengelus kepala Nada membuat Nada memejamkan matanya.


Cup....


Richard mengecup kening Nada dengan lama. Setelah itu ia merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya.


" Kasihan sekali kamu sayang, Mas akan selalu melindungimu dari pria tua itu, Mas akan memberikan pelajaran kepada pria itu sekarang juga, dia harus membayar setiap tetes air matamu ini." Ucap Richard.


Richard turun dari ranjang dengan pelan. Ia menelepon seseorang untuk menjalankan perintahnya.


Setelah selesai, ia berbaring di ranjang memeluk Nada. Keduanya terlelap dengan tenang.


Tekan like untuk mendukung karya author...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport author semoga sehat selalu...


Miss U All...

__ADS_1


TBC....


__ADS_2