
Lucas kembali memasuki kamar Grace, kali ini gadis itu mengunci kamarnya, hingga Lucas tak bisa memasukinya,, terpaksa Lucas pun mencari kunci cadangan yang berada di nakas, tak jauh darinya.
Ceklek, pintu kamar terbuka..
Grace gadis itu tertidur sangat lelap di sofa panjang, dengan memeluk buku tebal.
Untuk sejenak Lucas terpaku dengan kecantikan Grace,
Sungguh, jika di lihat dari dekat seperti ini, dia luar biasa cantik. wajahnya alami tanpa polesan, bibir ranum merah merekah, matanya yang terpejam tertutupi oleh bulu mata lentiknya. hidungnya, lehernya...
membuat Lucas menelan ludah susah payah.
Pria itu mengejamkan matanya, menetralisir gleyar aneh yang mulai menghantam syaraf sadarnya, mencoba menahan diri.
Sh***!!
Lucas tak bisa menghilangkan fantasi liar yang ada di kepalanya,, terlebih jantungnya berpacu dengan cepat. dia hampir tak bisa menahan diri.
dia mencoba berfikir jernih,
tapi Lucas yakin, mungkin suatu saat dirinya tak akan mampu menahan diri jika terus-menerus ada di sisi Grace.
dengan perlahan Lucas berjongkok, dengan seksama melihat wajah cantik yang tertidur pulas itu. entah keberanian dari mana, Lucas menyentuh wajah Grace menggunakan buku-buku jarinya, perlahan-lahan dan dengan hati-hati, Lucas menyusuri setiap inci dari kulit wajah halus milik gadis itu.
Lucas segera menyingkirkan tangannya dan segera berdiri, saat Grace hendak berganti posisi. dia mengerjapkan matanya lalu membulatkan matanya saat melihat Lucas berada tepat di hadapannya.
"Kau?" ujar Grace, dengan suara parau berat khas bangun tidur.
Ahh suara seksi itu terdengar indah di telinga Lucas, seperti alunan musik indah kesukaannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" imbuhnya, sembari berdiri sejajar, dan menghadap Lucas. "Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Grace.
"Aku akan pulang ke Milan besok." lirih Lucas datar, pria itu mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, karena Lucas tak mau hilang kendali, saat menatap mata indah hijau zamrud milik Grace.
"Ya pergilah,, ku harap kau tak kan pernah kembali lagi kesini." tindas Grace.
"Tentu saja aku akan kembali kesini." sambung Lucas "Aku akan kembali besok malam." imbuhnya.
"Aku heran denganmu,, bukankah kau adalah pria yang kaya? Kenapa kau tidak menyewa apartemen lain, atau membeli sebuah Penthouse di las Vegas, kenapa harus di sini?Di apartemenku?" geram Grace.
"jangan lupa, jika apartemen yang kau tempati sekarang adalah milikku. karena aku sudah membelinya." jelas Lucas, dengan nada bicara otoriter yang khas.
"Itu karena kau menggunakan cara licik untuk mendapatkan apartemen ini." gerutu Grace.
Lucas tersenyum miring.
"Aku bahkan bisa mendapatkan apartemen ini dengan cara licik, tentu saja aku dapat memisahkan hubunganmu dengan caraku juga.."
Grace menatap Lucas dengan sorot mata permusuhan.
"Kenapa kau ingin sekali memisahkanku dan James?!"
"Karena pria itu bukanlah pria yang baik. dia..!!" Lucas menghentikan ucapannya.
Astaga, dia hampir hilang kendali,,,
"Dia??" tanya Grace "Dia?? kenapa??!!Ada apa dengannya?!!" Grace mencoba untuk membuat Lucas kembali meneruskan ucapannya.
"Kau sungguh ingin tau hm?Kau ingin tau seberapa bajingan kekasihmu itu?"
"Aku tidak mengerti."
"Kau akan mengetahuinya." ujar Lucas. pria itu meninggalkan Grace dengan langkahnya.
Lucas berhenti sejenak, "Kode apartemennya 19**94" imbuhnya. Lucas pun langsung meninggalkan Grace di dalam.
.....
pagi harinya,, Grace bangun dari tidurnya, menuruni anak tangga demi anak tangga dengan perlahan. mencari keberadaan Lucas.
Grace menghembuskan nafas lega, karena kepergian Lucas.
untuk sementara Grace bisa menikmati indahnya pemandangan tanpa ada pria menyebalkan itu.
Grace membuka jendela, berjalan ke arah balkon sembari meminum susu dan melihat pemandangan dari atas balkon, banyak orang berlalu lalang sedang berjalan kaki melakukan aktifitasnya masing-masing. dan banyak pula segerombolan anak muda yang berlarian mengejar temannya. ada pula segerombolan orang yang berjalan dengan tergesa-gesa untuk bekerja, dan menunggu bus menjemput.
__ADS_1
Grace menghirup udara segar di pagi hari, dengan sunrise yang sudah menampakkan sinarnya sedari tadi, hembusan angin mengenai rambutnya yang tergerai panjang. ia dapat merasakan angin yang menusuk-nusuk di pori-pori tubuh dan wajahnya.
"Segarnya..." lirih Grace yang sedang mengejamkan matanya, dengan menghirup udara segar di sekitar.
"Cuti kuliah masih beberapa hari lagi, lebih baik aku menelfonku Stella untuk berjalan-jalan dan bersenang-senang." imbuh Grace.
setelah mengatakan itu, Grace pun bersiap.
.....
Lucas kini telah sampai di Milan~
disana dia langsung di sambut oleh Victor, Marcus, Jay, Mark, William dan si kacung kurang ajar seth.
"Selamat datang brother.." Jay langsung memeluk Lucas sekilas.
Lucas tersenyum sekilas.
"Lama tidak bertemu.." giliran Victor yang memeluk Lucas sekilas.
"Kau Datang sendiri?Dimana Rose?" tanya William.
"Dia tak datang." singkat Lucas datar.
"Kenapa?" timpal Seth
"Kau tak perlu tau. itu bukan urusanmu.!"
"Santai Lucas, kenapa sifat kasarmu tak hilang juga?" Marcus terkekeh singkat.
"You know me."
"Ayo kita bersenang-senang, club sudah ramai. tak hanya malam. pagi pun para bajingan sudah berkumpul untuk bersenang-senang disana." ujar William.
"Dominiq club buka 24 jam." timpal Mark.
"Thankyou brother.." ujar Lucas sembari memeluk singkat kedua adiknya itu.
"Back." lirih Mark.
"Let's go." ajak Victor.
Jay, William, Mark dan Seth sedang bermain judi, karena judi adalah hobi sekaligus permainan kesukaan mereka.
sedangkan Lucas, pria itu duduk di kursi kebesarannya, menyilangkan kaki, dan meminum wine.
"Ku dengar Anaya menghubungimu." Victor angkat bicara.
"Ya. dia menghubungiku, dia mengatakan jika dia akan datang. awalnya aku sangat muak. mau tidak mau aku harus menurutinya. kalau tidak, dia pasti akan Curiga." jelas Lucas, sembari meletakkan serbuk rokok ke dalam asbak.
"Dia masih belum mengetahui jika Jake sebenarnya sudah menikah dengan Maria?" timpal Marcus.
"Kau tau Anaya adalah wanita berbahaya, dia rekan kerjaku. Aku melihat sendiri bagaimana caranya saat mengendap-endap bak pencuri, dan membunuh menggunakan pisau." jelas Lucas
"Dia juga pandai bela diri." imbuh Victor.
__ADS_1
"Aku yakin, Anaya pasti sudah menghubungi Jake." timpal Marcus.
"Omong-omong, kau tidak mengajak Arthur ?" tanya Victor.
"Tidak. aku memintanya untuk menjaga dan mengawasi Grace di las Vegas." jelas Lucas.
"Dia bisa di andalkan." imbuh Lucas.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan kacung seperti itu?" tanya Marcus.
"Uncel Daniel yang sudah mengirim Arthur untukku." singkat Lucas.
"Uncel Daniel?"
"Ya. Arthur adalah putra angkatnya, uncel Daniel meminta Arthur untuk menjadi kacungku Karena dia sangat setia. selain itu dia juga cerdik." jelas Lucas.
"Kau sudah melakukan rencana pertama dalam mengurungnya?" tanya Victor.
"Hm.."
"Berhati-hatilah Lucas, dengan permainan yang kau ciptakan sendiri, jika tidak kau akan terjebak dalam pesonanya." ujar Marcus.
"Aku sudah terjebak dalam pesonanya, sebelum aku memulai permainan." imbuh Lucas.
"Sudah kuduga, siapa yang tidak terjebak dalam pesona, dan kecantikannya?" timpal Victor.
"Kau melupakan rencana awal untuk mengurung dan menyiksanya.." ujar Marcus.
"Aku tidak akan menyiksanya, aku memilih rencana sendiri untuk memisahkan mereka berdua. tanpa harus melukainya. tapi kan ku buat gadis itu mencintaiku dan meninggalkan pria itu dengan kekecewaan yang tak bisa di maafkan." ujar Lucas datar.
"Kau bisa meminta bantuan kami, jika itu di perlukan." ujar Victor.
"tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. lagipula aku sudah di bantu oleh seseorang yang memiliki posisi penting." Lucas tersenyum miring.
Marcus dan Victor mengerutkan keningnya.
"Siapa?" tanya Marcus.
"Kau akan mengetahuinya.." Lucas tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Bersambung~