My Posesif Desire

My Posesif Desire
My Angel


__ADS_3

#Milan Italia~


setibanya Lucas dan rose, mereka di sambut baik oleh Victor, William, Marcus, Seth, Jay dan Mark, di bandara pribadi milik Valent fly.


rose tersenyum manis, saat Jay dan Mark menyapanya dengan raut wajah bersahabat, tak seperti Victor dan Seth yang dingin, sedangkan Marcus memperlihatkan senyum khas serta sikap hangatnya.


"hai rose.." sapa Mark.


"Oh hai Mark. senang bertemu denganmu.." sambung rose.


"Lama tak bertemu,, kau terlihat cantik.." imbuh Jay.


"Terimakasih Jay,, kau bisa saja.." rose mengulas senyum manisnya.


"Selamat datang..." Jay memeluk Lucas sekilas, lalu di sambung Mark. sembari tersenyum manis. rose melihat penampakan Indah di depan matanya, melihat kakak beradik itu,


"Selamat datang Lucas.. senang melihatmu kembali." sahut William.


"Selamat datang kembali Lucas,, bagaimana kabarmu?" tanya Victor.


"Aku baik." singkat Lucas.


"Selamat datang sir.. Sudah lama tidak melihat anda,, omong-omong anda tampak terlihat sedikit kurus,, apakah anda sedang menjalankan diet ketat?" imbuh seth.


"Kurang ajar sekali kau Seth. jika kau bukan sepupuku, sudah ku robek mulutmu itu!!" geram Lucas.


"Ternyata sikap kasar anda masih ada, ku kira akan hilang jika sudah menikah. maafkan saya sir.." ujar Seth tak tau malunya.


Victor, William, Marcus pun terkekeh dengan kelucuan Seth karena tingkah kurang ajarnya kepada Lucas.


"Omong-omong, Dimana Jake?" tanya Lucas.


"Dia sedang sibuk. akhir-akhir ini ia di pusingkan oleh Anaya." sahut Marcus.


"Ya. Wanita itu tak tau malu sekali,," timpal William. "Aku heran dengan Jake, kenapa dulu dia mau menjalin hubungan dengan wanita psikopat itu... Cih, menyedihkan sekali." imbuhnya.


"Ya, dan sekarang, dia harus di pusingkan oleh ancaman yang mulai berdatangan." imbuh Victor.


"Wanita itu adalah ancaman bagi Jake dan Maria." seth ikut angkat bicara.


"Anaya,, dia sangat berbahaya. kau tau Lucas?demi melindungi Maria dari Anaya, Jake rela Tidak pulang ke rumah satu Minggu, karena Anaya selalu mengawasinya,, hingga pada akhirnya, Jake berhasil menemukan sebuah cara untuk mengelabuhi Anaya, yah tentu itu dengan bantuan kita." ujar Mark.


"Aku tau wanita seperti apa Anaya itu." ujar Lucas. "jika dia menginginkan sesuatu, maka dia memiliki ambisi untuk mendapatkannya. dan Jake,, adalah salah satunya, Karena Anaya sangat terobsesi untuk memiliki Jake seutuhnya. dia pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Jake."


"Berarti Maria dan Jake dalam bahaya." ujar William.


"Kita tak perlu mengkhawatirkan Jake, dia pasti bisa menjaga diri, yang ku khawatirkan adalah Maria." ujar Jay.


"Sejak kapan kau mengkhawatirkan Maria? bukannya kau tak peduli dengannya?" Victor tersenyum kecut.


"Hei, walaupun Jay itu sangat acuh, tapi dia memiliki sisi baik yaitu sikap perhatian yang hanya ia tunjukkan kepada keluarga." sahut Mark.


"Ehemm.."


rose berdehem, membuat pria-pria itu hampir melupakan adanya dirinya di sana.


"Ku rasa kau butuh istirahat." ujar Marcus.


"Of course, aku sangat lelah.." ujar rose.

__ADS_1


"Pergilah dulu, aku masih ada urusan dengan mereka." ujar Lucas singkat.


"kau tidak lelah?" tanya rose.


"Tidak." ujar Lucas datar tanpa menatap wajah cantik istrinya itu.


"Aku akan mengantarmu ke mansion." ujar Marcus kepada Rose.


"Tidak perlu Marcus, aku bisa sendiri.. aku tidak mau merepotkanmu.."


"Aku tidak merasa di repot kan." ujar Marcus.


Marcus pun membawa koper rose dan Lucas, di ikuti rose dan mereka berdua pergi ke mansion yang berada di sana.


"Kau tak merasa cemburu?" tanya Jay.


"Tidak. justru aku sangat senang, jika Marcus bersikap seperti itu kepadanya." jawab Lucas.


"Mereka juga terlihat sangat cocok." imbuh seth.


"Apa kita akan terus berada disini?Aku muak harus terus berdiri." Victor menimpali.


"Lucas, Sudah lama bukan setelah pernikahanmu dengan rose, kau tak melihat bagaimana club malam milikmu berkembang semakin maju?"


"Lebih baik kita menuju ke club untuk bersenang-senang." imbuh Mark.


"Ide yang bagus." Seth dan William antusias.


"Dasar brengsek.!" imbuh Jay sembari terkekeh singkat.


Mereka pun menuju club malam milik Lucas yang berada di Milan. ahh sudah lama Lucas merindukan bisnisnya di Milan. ia ingin melihat situasi club yang katanya semakin maju dan ramai pengunjung itu.


#Dominiq,Club.


My Angel, i really fucking Miss you so much...


11.50 pm.


kau sedang apa? Kenapa kau tak menjawab pesanku??


11.55 pm.


Kau tidur?


11.56 pm.


Ataukah kau sedang sibuk?


12.00 pm.


Ayolah my Angel,,, jawab aku..


12.05 pm.


Apa kau marah? Karena seharian aku tak menghubungimu??..


12.10 pm


Katakan sesuatu...

__ADS_1


12.15 pm.


kau benar marah padaku my Angel*?..


Lucas terlihat sibuk mengetik, dan tak lama menempelkan benda pipih itu di telinganya, seakan gelisah akan sesuatu.


bahkan sedari tadi, Lucas sibuk berkutat dengan ponselnya.


"Lucas,, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Jay.


"Kau menghubungi siapa malam-malam begini?" tanya William.


"Bukan urusanmu!"


"Wah-wah, dia terlihat seperti pria yang sedang jatuh cinta kepada seseorang, dan takut kehilangannya.." sahut Seth.


"Bagaimana kau tau?" tanya Mark.


"Lihatlah wajahnya? terlihat dari raut wajah dan sikapnya, dia sedang gelisah. bahkan dia sibuk berkutat dengan ponselnya, beberapa kali aku melihat, dia seperti sedang menghubungi seseorang yang penting. jika tidak, tak mungkin Lucas bertingkah seperti itu." jelas Seth.


"Sepertinya yang di katakan Seth ada benarnya." Victor angkat bicara. "Tapi biarkan saja, itu urusan Lucas, kita tak berhak ikut campur." imbuhnya


"Kali ini aku setuju dengan Victor, kita memang tak berhak ikut campur dalam urusan Lucas. dia memiliki jalan hidupnya sendiri, tugas kita adalah selalu mendukungnya." sambung William.


Lucas terus menerus menelfon Grace, tapi tak ada jawaban.


"Kenapa dia tak mengangkat panggilanku??" lirih Lucas.


Lucas kembali menyentuh tombol hijau untuk memanggil lagi, tapi masih tak ada Jawaban.


"Apa dia sedang marah? Kenapa dia tak menghubungiku, atau hanya sekedar menjawab pesanku?"


Lucas lagi-lagi menelfon Grace. tapi tak ada jawaban sama sekali.


"Jika seperti ini, aku bisa gila..!! Apa dia sengaja melakukan ini? Kenapa dia tak memberiku kabar sama sekali??dia bahkan tak menjawab panggilan telfon dariku." gerutu Lucas.


"Lucas, duduklah..kau belum minum dari tadi, apa kau tidak haus?" tanya Jay.


Lucas tak menghiraukan perkataan Jay.


"Kau terlihat gelisah, minumlah wine ini, kau akan merasa sedikit baik." ujar Victor sembari menyodorkan gelas berisi wine untuk Lucas.


Lucas mengambil gelas tersebut dari tangan Victor, meminumnya dengan kasar, lalu memecahkan gelas kaca tersebut.


"Dia benar-benar sudah tidak waras." ujar William.


*Sebenarnya apa yang kau khawatirkan?" tanya Victor.


"ya Lucas, siapa yang kau khawatirkan!? Wajahmu terlihat kacau. lihatlah,, kau terlihat seperti pria compang camping yang tak terurus." imbuh Mark.


"Grace!!!Aku mengkhawatirkannya,," tindas Lucas.


"Kenapa kau mengkhawatirkannya?"


"Karena ia dalam bahaya, banyak yang mengincar Grace, dan ingin membunuhnya.. aku tak bisa tenang jika dia belum memberiku kabar sama sekali." jelas Lucas


"Apa kau sudah berusaha menghubunginya?" yang William.


"dia belum membalas pesanku."

__ADS_1


"mengapa kau baru mengatakannya sekarang?" Jay menatap Lucas datar.


bersambung~


__ADS_2