My Posesif Desire

My Posesif Desire
Theatrical


__ADS_3

"Rose. Apa kau bahagia?"


Rose terdiam.


"Rose katakan padaku,, apa kau bahagia dengan pernikahanmu dan Lucas?" tanya Maria dengan nada menyelidik yang khas.


"I-iya Maria,, A-aku sangat Bahagia_"


"Benarkah?"


"iya! kenapa kau tiba tiba bertanya seperti itu?"


"Tidak begitu,, entah mengapa terlihat dari raut wajah mu kau tidak bahagia, dan kau mencoba untuk menyembunyikannya.."


Rose terdiam.


"Rose.. kau adalah adik ipar ku,, dan kau juga masih sepupu dari suamiku,, itu artinya kau masih sepupuku.. jika terjadi sesuatu katakan saja padaku,,, siapa tau aku bisa membantumu untuk mencari jalan keluar dari masalahmu..". sambung Maria.


rose masih terdiam.


"Rose.. kau mendengarku?"


"I-iya aku mendengarmu..." ujar rose "Pertama-tama aku sangat berterimakasih atas perhatianmu,, terapi kau salah besar Maria... A-aku sangat bahagia dengan pernikahanku bersama dengan Lucas,,, sungguh.."


Mulut dapat berbohong terapi mata tidak bisa,,,,


Maria tau itu.


"Rose.. kau disini? hei Maria Jake dari tadi memanggilmu,, apa kau tidak dengar?" ujar Aunty cloe yang datang tiba-tiba "Apa yang kalian lakukan disini? apa yang kalian bicarakan? rose? Maria? kenapa serius sekali?"


ah wanita tua itu selalu saja, datang tiba-tiba, banyak bicara dan yah.. selalu ikut campur urusan orang lain. entah mengapa uncel Ken tergila gila dengan Aunty cloe.


Maria memutar matanya jengah.


"T-tidak ada Aunty,, kami hanya sedang mengobrol.." ujar Maria


rose tersenyum "I-ya Aunty.."


"Benar begitu?" cloe menatap rose dan Maria bergantian.. "Baiklah kalau seperti itu,, Maria, Jake memanggilmu.."


Maria mengangguk.


"Rose,, ayo kemari sebentar, bantu aku.." rose menganguk pasti.


.....


kini rose telah kembali, ia berdiri sejajar dengan Lucas, yang Sedang menatap jake dan Maria, menikmati alunan musik yang membentuk melodi, terdengar indah di telinga.


para tamu undangan berpasang-pasangan berdansa dengan sangat romantis, khususnya Jake dan Maria. pasangan itu kini telah tersorot oleh cahaya lampu, mereka bak pasangan raja dan ratu seperti negri dongeng.


Davis dan Delilah pun ikut berdansa dalam acara pertunangannya kali ini. walaupun mereka berdua di jodohkan, bahkan wajah keduanya pun tak terlihat bak pasangan paling bahagia. setidaknya mereka ikut andil di dalamnya.


"kau tidak ingin berdansa?" tanya Rose.


"Tidak." singkat Lucas.


rose hanya memperlihatkan senyum getir.

__ADS_1


"Hei Lucas, rose, kenapa kalian malah berdiri di sini,, berdansa lah seperti yang lain. lihatlah Jake dan Maria,, mereka berdua sangat romantis." ujar cloe.


"Walaupun kau tak menganggapku sebagai istrimu, setidaknya jangan perlihatkan kepada semua orang jika kau tak menginginkan pernikahan ini." jelas Rose.


mendengar perkataan rose, membuat Lucas menghela nafas panjang. lalu entah kerasukan arwah dari mana Lucas pun mengajak rose berdansa seperti yang lain.


"Maukah kau berdansa denganku hm.. istriku?" lirih Lucas.


Rose terkejut setengah mati, dengan sikap lembut Lucas terhadap dirinya, lihatlah wajahnya yang tampan,, tersenyum manis dan menunjukkan sikap hangat untuknya?.


Rose seakan bermimpi. ia pun masih terpaku dengan ungkapan tiba-tiba Lucas.


"Hei rose Kenapa kau diam saja? Lucas sudah mengajakmu berdansa,, apa lagi yang kau tunggu?" sahut Shasha.


"Anak jaman sekarang memang jual mahal.." Justin menimpali.


"Lebih baik jual mahal, lah kau sendiri?Terlalu murah." gerutu Ken.


"Sialan kau Ken!" umpat Justin.


Rose pun menerima ajakan Lucas, menggenggam tangan suaminya dengan lembut, dan berjalan ke depan,


Lucas menyentuh pingang Rose, melihat wajahnya, dan menatap manik mata kecoklatan berbinar indah di bawah cahaya lampu redup-redup yang sedikit berkaca-kaca.


Akhirnya setelah sekian lama, Lucas menatap wajahnya bahkan tak mengalihkan wajahnya ke arah lain. itu membuat rose bahagia.


bahkan sorot lampunya mengarah kepada rose dan Lucas, Jake dan Maria. ahh kedua pasangan itu terlihat sangat menawan dan romantis.


Victor dan William pun tak mengalihkan perhatiannya dari kedua pasangan tersebut. bahkan Mark sempat terkejut melihat sikap hangat Lucas kepada rose secara tiba-tiba.


"Aku baru saja akan mengatakan hal yang sama." sahut Seth.


"Apa Lucas sudah mulai membuka hatinya untuk rose?" tanya Victor.


"Omong kosong!" Marcus menimpali.


"Oh hei sepertinya ada yang tak suka dengan adegan romantis Lucas dan rose." sahut Jay.


"Jika Lucas tidak mencintainya, lalu Kenapa dia seakan-akan telah memberinya kesempatan, dengan sikap manis yang dia lakukan kepada rose?" Marcus meneguk wine kasar setelah mengatakannya.


"Ada apa ini Marcus?Kenapa kau seperti tak terima jika hubungan Lucas dan rose membaik?" tanya Mark.


"Aku hanya tak suka, jika Lucas mempermainkan rose." kata Marcus.


William tertawa,


"Kau tertarik pada rose?" tanya William sembari terkekeh.


Marcus tak memiliki niatan untuk menimpali.


sedangkan Victor, Jay Mark dan Seth menatap Marcus menyelidik.


"Kau menyukai Rose, Marcus?" imbuh William.


"Tidak ada urusannya denganmu!Itu adalah masalah pribadiku, jadi kau tak berhak untuk mengetahuinya!." tindas Marcus.


Victor menepuk bahu Marcus sekilas.

__ADS_1


"Aku tak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya." ujar Victor. "Apa kau benar-benar menyukai rose?" tanya Victor.


Marcus terdiam.


"Aku akan mendukungmu.." Victor tersenyum sekilas sembari menyodorkan botol wine kepadanya.


"Marcus, ternyata kau bukan pria impoten.." Mark terkekeh.


"bukan aku yang impoten, tapi kau Mark." timpal Marcus, sembari terkekeh Singkat.


"hei Mark, apa kau sudah mengakhiri hubunganmu dengan wanitamu yang kemarin?" William tertawa. mengingat bagaimana bingungnya Mark, saat kekasih sialannya itu terus menganggunya, bahkan mengancam untuk bunuh diri jika Mark memutuskan hubungan dengannya.


Dasar wanita bodoh!.


"Keparat kau William! kenapa kau terus mengingatkanku kepadanya.." geram Mark.


tiba-tiba dering ponsel Mark berbunyi.


"sepertinya dia sedang menelfonmu." ujar Jay.


"Astaga.. sial sekali." Mark pun mematikan ponselnya. karena tak mau mendengar ocehan dari kekasih gilanya itu.


"Kenapa kau tidak mengangkatnya?" Sahut Seth.


"Diamlah kau Seth," tindas Mark.


mereka pun di kejutkan dengan kehadiran Anaya yang tiba-tiba datang memecahkan suasana yang tadinya Romantis, kini mulai mencekam.


mereka melihat Anaya yang terlihat sedang membisikkan sesuatu kepada Jake. sedangkan Maria hanya menatap datar seolah meminta penjelasan.


"Kenapa wanita gila itu kemari?" Victor yang geram pun hendak untuk mengusir Anaya, tapi tangannya di cekal oleh Marcus. Victor sempat menatap Marcus, tapi Marcus menggelengkan kepalanya sekilas, seakan memberikan isyarat untuk tidak melakukannya.


hingga Victor mengurungkan niatnya.


"Apa yang sedang dia bicarakan dengan Jake? hingga membuat ekspresi wajah Jake berubah seketika." imbuh Jay.


"Anaya benar-benar wanita gila!" gerutu Seth.


"Dia sudah pergi." sahut William yang melihat Anaya yang pergi, setelah membisikkan kata-kata hingga membuat wajah Jake berubah hingga mengepalkan tangannya.


Mereka pun melihat kepergian Maria yang di susul oleh Jake di belakangnya. sepertinya Maria merajuk. terlihat dari wajahnya, bahkan langkah kaki Maria pun tergesa-gesa.


hingga Maria melewati mereka semua , tanpa berpamitan terlebih dulu.


"Maria..." panggil Jake.


"Ada apa ini Jake?" tanya Jay.


Jake pun tak menimpali, pria itu sedang sibuk mengejar istrinya yang sedang marah.


sedangkan Lucas dan rose, mereka tak menimpali, hanya berdiri melihat kegaduhan yang di sebabkan oleh Anaya.


"Kita sudahi Sandiwara ini. kita pulang sekarang!." ujar Lucas datar.


lalu pergi meninggalkan rose yang masih berdiri di bawah cahaya lampu yang menyinari.


bersambung~

__ADS_1


__ADS_2