My Posesif Desire

My Posesif Desire
poison


__ADS_3

bara tak kuasa menahan air matanya, saat dia melihat dengan matanya sendiri bagaimana kara berlumuran darah.dengan mulut yang mengeluarkan banyak darah segar. hingga membuat bara khawatir sekaligus takut setengah mati, dan segera membawa kara ke rumah sakit.


Ken dan Sam menepuk bahu bara, mencoba memberikan semangat. bara yang gelisah tengah menunggu kabar dari dokter. bagaimana keadaan istrinya. apakah dia baik-baik saja, dan bagaimana dengan operasinya. semoga saja semua berjalan dengan lancar. dengan keselamatan kara.


sedangkan Sarah yang menangis, di dampingi oleh cloe, Ashley, dan Shasha. Justin, David pun tak kuasa membendung rasa simpati terhadap sahabatnya itu. dengan raut wajah sedih mereka ikut menemani bara yang kini tengah mendapati kemalangan.


bara yang tidak sabar, dan merasa sangat khawatir, dia pun berdiri, melangkah sampai pada akhirnya berhenti di depan pintu ruang operasi, menggedor-gedor pintu dengan keras .


"Aku tidak mau tau!Kalian semua harus menyelamatkan istriku!!" teriak bara."Jika tidak!Maka nyawa kalian sendirilah yang akan menjadi taruhannya!Kalian dengar?!!!" tegas bara.


David dan Justin pun segera menyentuh bahu dan tangan bara, agar bara dapat mengendalikan dirinya.


"Bodoh!!!" umpat bara. "Pengawal!!!" teriaknya.


para anak buahnya pun segera berbaris dengan pandangan mata tertunduk, karena takut dengan kemarahan bara.


"Sam! Cepat cari tau,siapa orang yang sudah berani mengusik ketenangan dari keluargaku!!Cari dia sampai dapat!! Jangan bunuh dia, tapi siksa dia hingga dia menjerit dan memohon untuk mati!!!" titahnya "Dan kalian semua!" teriak bara kepada para pengawalnya "Ikut Sam, ku beri kalian waktu 24 jam untuk mencari tahu, jika kalian tak bisa menemukan sebuah informasi dalam batas waktu yang di tentukan, maka kalian semua yang akan mati!!" tindas bara.


Sam dan para pengawal yang lainnya pun bergegas pergi untuk mencari tahu siapakah orang yang telah membuat kara sekarat di dalam rumah sakit.


tentu itu membuat bara naik pitam. amarahnya meletup letup dan tak bisa menahan diri jika menyangkut istrinya. terlebih sekarang kara tengah berjuang di ruang operasi. antara hidup dan mati.


*


*


Kini Jake pun telah tiba dengan kedua adiknya, di iringi pula dengan para sahabatnya. tak lama setelahnya Lucas datang, sembari menampakkan raut wajahnya yang datar dan mengerikan. seakan menyembunyikan sebuah amarah yang ia coba tutupi oleh raut ketenangan. namun di balik itu semua, Jake tau betul bagaimana karakter adiknya itu. Lucas adalah tipe orang yang memiliki sisi misterius tersendiri.


"Dad." Lucas mendahului.


namun bara tak menggubris, Karena sekarang bara tampak sedang khawatir. raut wajahnya yang gelisah tentu membuat semua orang yang di sana tau bahwa bara tidak sedang baik-baik saja.


Jay menepuk bahu Lucas, sembari memeluknya sekilas.


"Bagaimana kabarmu?" lirih Jay.


"Aku baik." singkat Lucas.

__ADS_1


bahkan Mark pun terlihat tidak tenang. pria muda itu sibuk mondar-mandir kesana kemari. lalu terduduk dengan memijit pelipisnya seakan memikirkan sesuatu.


"Dimana Seth dan yang lain?" tanya Lucas.


"Sedang mencari tau siapakah orang yang sudah berani mencelakai mom." sahut Jay.


"Tak perlu." kata Lucas santai.


bara yang tadinya duduk, kini berdiri, menghampiri Lucas dan menatapnya. "Kenapa tak perlu?Apa kau ingin kita berdiam diri seperti orang-orang tolol, sedangkan mom kalian berjuang melawan kematian di dalam sana?!" tindas bara.


"Ya Lucas. Kenapa kau menyuruh kami untuk diam saja?Dan wajahmu juga tidak terlihat khawatir. apa kau tidak peduli dengan mom?!" timpal Mark.


"Apa aku terlihat tidak gelisah?Atau khawatir dengan kondisi mom di dalam sana?!" Lucas angkat bicara. "Jake. kau yang paling mengenalku.!"


"Aku tau dibalik sikapmu yang tenang, kau seperti sedang merencanakan sesuatu." ujar Jake.


"Karena itu aku datang." jelas Lucas.


Mark, Jay, dan semua orang di sana mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan maksud dari ucapan Lucas.


"Tak akan ada yang bisa menyelamatkan mom. sekalipun operasi berjalan dengan baik. dan para dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh. tak ada yang bisa menyelamatkan mom dari racun yang kini sudah menggerogoti tubuhnya.


"Apa yang kau katakan Lucas?!" bara hendak memberikan pukulan keras kepada putranya itu, tetapi Jake mencekal tangannya dengan kuat. hingga kini bara menatap kedua putranya itu dengan sorot mematikan.


"Dengarkan penjelasan Lucas dulu dad, sebelum kau memberikannya sebuah pukulan keras yang akan kau sesali nantinya." ujar Jake.


"Katakan Lucas.." imbuh Jake.


sedangkan William, Victor, Seth dan yang lainnya seakan mendengar dengan seksama Dengan apa yang akan Lucas katakan.


"Xavier Morrone yang sudah menyewa pembunuh bayaran untuk menebak mom kara." jelas Lucas. "Untuk apa dad meminta Seth mencari pembunuh bayaran? Sedangkan dia sudah mati, setelah menyelesaikan misi untuk mencelakai mom." imbuh Lucas. "Xavier telah membunuhnya, pria tua bajingan itu bahkan tak mau mengatakan apapun."


"Sebenar sebentar.. bagaimana kau bisa tau jika Xavier adalah pelakunya?" sahut William.


"Karena Xavier berencana untuk membunuh Grace dengan menyewa semua pembunuhan bayaran. namun usahanya gagal. karena itulah dia menjadikan mom kara sebagai sasaran. karena sebenarnya musuh utama dari James adalah mom kara bukan Grace." jelas Lucas "Grace hanya sebagai jembatan jamesa untuk menghancurkan kita."


"FU*K!!!" teriak bara. wajahnya di penuhi oleh amarah yang meletup-letup kini.

__ADS_1


"Dan Xavier?Dimana dia?! Brengsek itu harus di beri pelajaran!!" tegas Jay.


"Akan ku cabik-cabik tua Bangka itu sampai tak tersisa!" geram bara.


"Kau tak bisa melakukannya sekarang dad. karena Xavier ada padaku." ujar Lucas.


Mark mengerutkan keningnya "Apa kau berniat melindunginya?!"


"Tidak. tentu tidak! bahkan aku berniat untuk menghancurkan tubuhnya menggunakan mesin baja, tapi.. kita masih membutuhkannya. karena hanya dia seorang lah yang tau, penawar dari racun tersebut." jelas Lucas datar. "Bahkan dia pun enggan untuk membuka mulut."


"Lalu? Dimana kau sembunyikan Pria tua itu?" tanya Victor yang kini mulai angkat bicara.


"Ada di penjara bawah tanah." kata Lucas.


"Kita harus segera membuat keparat itu buka mulut. jika tidak?Maka mom pasti akan mati." imbuh Jay.


"Kita hanya memiliki waktu 36 jam. atau mom akan mati."


tentu hal tersebut membuat bara berkali-kali lipat frustasi. pasalnya dia sangat takut kehilangan kara. dia sangat mencintainya.


36 jam?


hanya 36 jam? Bagaimana bisa mereka dapat membuat Xavier buka mulut? Sedangkan pria tua itu masih enggan untuk membuka mulutnya.


bara benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana dia menjalani kehidupan tanpa istrinya.


"ikuti aku!" ujar Lucas.


"Kemana?" tanya William.


"Kita harus bergegas untuk menyelamatkan mom bukan?"


Mereka pun mematung.dan saling berpandangan.


"Kalau begitu ikuti aku. kita akan menemui Xavier. lalu kita siksa dia, sampai keparat itu buka mulut." tindas Lucas.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2