
Seorang pria tampan meneguk wine dengan kasar, sorot matanya tajam bak pedang samurai, entah di kuasai amarah dari mana, pria itu melempar gelas dengan keras mengenai tembok, hingga serpihan-serpihan kaca bertaburan dimana-mana.
"Broke Atkinson sudah tewas." jelas Morgan.
"Aku tau!!!" teriakannya menggema, hingga memenuhi isi ruangan, membuat para anak buahnya ketakutan setengah mati. "Aku tidak peduli dengan kematiannya , yang ku inginkan adalah clip itu kembali padaku!!!" imbuhnya.
Morgan hanya menatap James datar,
"Bagaimana kita bisa mendapatkan clip itu? Sedangkan kita tak tau dimana clip itu berada." jelas Morgan.
dengan amarah yang membabi buta, James langsung mencengkram kerah kemeja Morgan dengan kasar.
"Apa kau sebodoh itu?Hingga tak bisa mencari tau??!!!" James pun mengibaskan Morgan, tapi Morgan tak terjatuh, Morgan berhasil menjaga keseimbangan. walaupun James mengibaskan tubuhnya sangat kuat.
"Sial!!!Jika clip itu tak kembali padaku, maka seluruh rekan kita tak akan bisa membantu bisnis ini, mereka pasti akan meminta imbalan dengan adanya perjanjian darah."
"Kau sangat egois James, kau ingin meminta bantuan untuk melancarkan bisnismu, tapi kau sangat licik, hingga tak mau melakukan perjanjian darah sebagai balasannya."
James menatap Morgan Nyalang,
"Tau apa kau mengenai bisnis ini Morgan? tentu kita harus pandai mengambil keuntungan, sebagai pemimpin Mafia Black Tiger, tentu aku tak mau Bisnisku hancur begitu saja".
"Tapi perjanjian darah itu adalah salah satu timbal balik atas apa yang telah mereka lakukan untuk kita. dan kau harus menerimanya." jelas James.
"Damn it!!!Kau terus-terusan mengoceh. lakukan saja apa yang aku minta. temukan clip itu sekarang juga!!!!" titah James.
Morgan tersenyum kecut.
"Clip itu sepertinya ada pada Grace." ujarnya.
James mengerutkan keningnya,
"Bagaimana kau tau jika clip itu ada pada Grace?"
"Grace telah menjadi FBI rahasia yang di tugaskan untuk menangkap para mafia yang berada di pasar gelap, salah satunya adalah kita. karena kita juga berada di sana, saat kau sedang berunding dengan kelompok mafia lain." jelas Morgan. "Dan kematian Broke, mungkin ada kaitannya. karena Broke di bunuh begitu saja." imbuhnya "Coba kau fikirkan, Broke adalah saksi kunci, tidak mungkin mereka membunuh Broke begitu saja,"
"Maksudmu, Broke di bunuh karena Broke telah mengatakan hal yang sebenarnya pada para keparat itu?"ujar James tercengang. tak percaya, karena setahunya broke adalah mata-mata yang paling setia. tak mungkin jika Broke membuka mulutnya dengan sengaja. pasti ada seseorang di balik itu semua.
"Entahlah, aku hanya sebatas menebak," ujar Morgan. "Lalu? Bagaimana dengan uang jutaan dolar yang telah Broke hasilkan??Apa uang itu ada padamu?"
"Uang itu tidak ada padaku," singkat James.
"Broke sempat melarikan diri, saat polisi melakukan penyergapan di pasar gelap milik mafia lain. sepertinya ia menyembunyikan uangnya di gereja." jelas Morgan.
__ADS_1
"Kau tau darimana Broke menyembunyikan uang itu di gereja?"
"Saat Broke menjual kokain kita di pasar gelap, ia pergi bersama dengan salah satu anggota kita, yakni Abraham halled. pada waktu kejadian itu berlangsung, Broke dan Abraham sempat lari menuju gereja untuk menyembunyikan uangnya, menurut kesaksian Abraham, Broke rela menyerahkan diri agar Abraham tidak tertangkap. dan meminta Abraham untuk mengatakannya pada kita." jelas Morgan.
mendengar ucapan itu, membuat James merasa bersalah, karena dirinya tak dapat kembali melihat broke. ia tak menyangka Broke begitu setia padanya, hingga rela menyerahkan dirinya sendiri untuk di eksekusi.
"Panggil Abraham sekarang juga!!"
Morgan mengangguk.
tak lama Abraham pun datang. berhadapan dengan James .
"Kau tau apa yang kau lakukan?" lirih James, rendah namun terselip nada ketajaman.
"James,, apa yang kau lakukan padanya??!!! Lepaskan dia..!!!" teriak Morgan. yang berusaha melepaskan Abraham dari kemarahan James. yang berusaha untuk mengakhiri hidup Abraham dengan mencekik lehernya kuat.
"Kenapa tidak kau saja yang mati???!!!"
"J-james..." lirih Abraham terbata-bata.
"Kenapa tidak kau yang menyerahkan diri ha??!!!"
"James,, lepaskan dia!!!" teriak Morgan sebagai penengah.
"L-lepaskan aku...." Abraham hampir tak bisa bernafas.
James mencekik leher Abraham kuat, hingga membuat Abraham kejang-kejang tak bisa bernafas, dan akhirnya tewas.
"Kau puas Sekarang??!!Kau sudah membunuhnya..." Morgan tak habis pikir dengan tingkah James. pria itu sangat tempramental. dan kasar, tak bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. James selalu mudah marah.
Sangat berbeda 180⁰ bertolak belakang dengan sikap yang di tunjukkan kepada Grace. yang terkesan hangat dan baik.
"Cari uang itu Morgan!!Temukan uang itu dan bawa kembali uang itu padaku." titahnya.
Morgan pun tak mampu menolak perintah dari James, ia hanya bisa menuruti perintah, walaupun ia terkadang tak senang dengan sikap James.
"Grace!! Aku begitu mencintaimu, tapi inikah balasannya?? Ternyata kau tak lebih dan tak kurang dari keluargamu, kau sama sepertinya,, bajingan!!" lirih James "Tunggu pembalasanku!!!"
.....
Los Angeles California~
Lucas telah kembali, Rose terlihat sangat senang dengan kembalinya Lucas, walaupun waktu Lucas begitu singkat, hanya 2 hari. tetapi Rose begitu senang karena dirinya bisa memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama dengan suaminya.
__ADS_1
"Kemasi barang-barangmu, kita harus terbang ke Milan sekarang juga." ujar Lucas datar.
"Tunggulah sebentar lagi, kau baru saja sampai di los Angeles, perjalanan yang kau tempuh lumayan jauh. beristirahatlah.. sejenak hm." lirih Rose.
Lucas hanya diam sebagai jawaban.
"mau ku buatkan kopi?"
"Tidak perlu. aku baru saja minum."
"Sesekali biarkan aku mengurusmu, walaupun kau tak pernah memberiku hak menjadi istrimu seutuhnya, setidaknya hargai aku..." ucapan rose Terdengar rendah.
"Terserah kau saja."
seketika wajah rose berbinar senang, rose pun segera membuatkan kopi untuk Lucas, dan tentu saja Rose membuatkan kopi tersebut penuh dengan cinta. agar rasa dari kopi tersebut dapat menembus hingga ke hati Lucas.
tak lama, rose membawa nampan berisi 2 kopi hangat untuk dirinya dan Lucas. tanpa menghilangkan senyum manisnya, rose berjalan perlahan-lahan menghampiri Lucas dan menyodorkan gelas berisikan kopi tersebut.
"Minumlah.." singkat Rose.
"Terimakasih."
Lucas menyeruput kopi tersebut, wajahnya berubah. Lucas tak dapat membohongi dirinya sendiri jika kopi buatan rose menang rasanya sangat nikmat.
"Bagaimana rasanya?"
"Tidak buruk."
"Omong-omong bagaimana dengan bisnismu?Ku dengar kau membeli kasino megah di las Vegas." rose angkat bicara.
"Ya. setelah kupikir-pikir, membuat usaha berkembang maju juga di perlukan." sahut Lucas sembari meneguk kopi tersebut.
"Lalu bagaimana dengan bisnismu yang berada di Milan?"
"Aku sudah memberikan tanggung jawab itu sepenuhnya kepada Jay dan Mark. biarlah mereka berdua yang mengurus."
Rose terdiam sejenak, tak mampu berfikir untuk kembali mengajak Lucas berbicara.
"Ku dengar kau sudah pensiun dari pekerjaanmu." tanya Lucas.
"Aku masih bekerja sebagai sekertaris di perusahaan Daddy."
"I know." singkat Lucas. "Mengapa kau pensiun dari pekerjaanmu? sebagai pembunuh bayaran?".
__ADS_1
"Aku...."
bersambung~