
Seorang wanita berjalan dengan langkahnya yang anggun, kaki jenjangnya berjalan perlahan-lahan mengarah ke sebuah ruangan.
senyumannya indah, raut wajahnya yang hangat, serta prilaku yang menunjuk kepada kebaikan.
dia adalah Rose, seorang pembunuh bayaran yang kini sedang menjalankan misinya untuk membunuh rekan kerjanya sendiri.
dia tidak tau alasan kenapa dia harus membunuh rekan kerjanya sendiri, itu semua diluar pekerjaannya. karena sebagai seorang pembunuh bayaran dia tidak berhak tau lebih, karena tugasnya hanya membunuh target lalu pulang membawa uang.
Rose menyapa rekan kerjanya, kali ini dia membunuh 2 orang.
seorang wanita dan pria. dengan memperlihatkan wajahnya yang tersenyum lebar, Rose menjatuhkan sebuah gelas dari meja hingga membuat gelas tersebut pecah dengan serpihan kaca yang kini bertaburan dimana-mana. dan tentu saja mengenai rekan kerjanya yang kini menjadi target.
"Maafkan aku,, aku tidak sengaja." lirih rose.
"Tidak masalah, kau tidak perlu meminta maaf." ujar sang target.
"Aku akan membereskannya.." Imbuh rose.
Rose membersihkan serpihan kaca tersebut, dan setelah dirasa semuanya selesai, rose pun memberikan sapu tangan kepada target.
"Kau berdarah, aku akan mengobati lukamu.." lirih rose.
Dengan telaten, rose menyeka darah tersebut menggunakan Sapu tangan beracun yang sudah dia siapkan. tentu saja rose sudah ahli dalam membunuh tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
sapu tangan tersebut tentu saja belum memiliki efek, tetapi setelah 10 menit maka sapu tangan itu memiliki reaksi yang langsung membuat orang tewas seketika. seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Terimakasih Rose, kau sudah mengobati lukaku." ujarnya.
Rose tersenyum sekilas "Sama-sama."
Rose pun pergi meninggalkan sang target, dengan kemampuannya dia bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak, dan tentu saja itu memerlukan waktu yang tidak singkat. butuh waktu 10 menit menunggu racun itu beraksi.
Rose kini berjalan melewati koridor, disana dia mendapati target pria yang sedang bercengkrama dengan seorang gadis.
sang gadis pun meninggalkan target, karena kesibukannya.
tentu saja dengan kemampuannya, dan memiliki wajah cantik, serta sikap hangat langsung membuat Target percaya dengan ucapannya.
"Rose apa yang kau lakukan disini?" tanya sang target.
"Apakah kau bisa membantuku?" ujar rose.
"Tentu saja, apa yang bisa ku bantu?"
"Lampu di gudang tidak bisa menyala, aku tidak bisa melihat sekeliling, karena Daddy memintaku untuk meletakkan barang yang sudah tidak di gunakan." jelas rose. "bisakah kau membantuku untuk memperbaikinya?" imbuh rose.
"Baiklah.. aku akan memperbaikinya.."
"Terimakasih." Rose tersenyum manis.
tanpa berbasa-basi dan berlama-lama, Target pun langsung menuju gudang untuk melihat lihat, apa yang perlu di perbaiki.
Rose pun menendang kursi yang tadinya di jadikan tumpuan untuk sang Target melihat-lihat lampu yang akan di perbaiki. hingga sang target menyentuh kabel lampu dan mengenainya hingga tersetrum oleh listrik yang memiliki tegangan tinggi.
Rose yang tak mau orang lain melihat, dia langsung meninggalkan gudang dan pergi dengan langkah angun, seolah dia tidak tau apa-apa.
rose tersenyum miring, kini misinya usai Sudah.
dia bersumpah setelah ini dia akan berhenti menjadi seorang pembunuh bayaran, dia akan mengabdikan hidupnya untuk menjadi seorang istri yang baik dan berprofesi sebagai sekertaris dan memiliki kehidupan layaknya orang normal pada umumnya.
.......
__ADS_1
Milan Italia~
"Lucas,, ku dengar kau sudah Menikah?" tanya Anaya, yang kini sudah berada di Milan, khususnya club milik Lucas sendiri sembari menunggu kedatangan Jake.
"tanpa ku jawabpun kau sudah tau jawabannya.." ujar Lucas.
Anaya terkekeh pelan.
"Lucas kau sangat berubah.." ujarnya.
"No. I haven't changed, this is what I am. you just don't recognize me deeper." sambung Lucas.
"Omong-omong kenapa Jake lama sekali?" gerutunya.
"Mungkin dia tidak akan datang." timpal Victor, yang sedari tadi jengah melihat Anaya.
"Tidak mungkin dia Tidak datang, aku sudah menghubunginya.."
"Kau menghubungi Jake?!" Victor kembali memastikan.
"Ya. Kenapa wajahmu seperti itu?"
"Tenanglah Victor.." lirih Jay yang langsung datang menghampiri Victor.
Anaya mengerutkan keningnya tak paham.
"Ada apa sebenarnya?"
"Tidak ada. hanya saja Jake sedang sibuk mengurus perusahaannya.. karena itu mungkin saja dia tak bisa datang malam ini." jelas Jay.
"Dia akan datang." Lucas angkat bicara. "Jika dia tak datang,maka dia tak bisa menemuiku.. karena aku hanya berada di Milan satu hari. besok aku harus sudah kembali. " jelas Lucas.
"Kau akan meninggalkanku Lucas?"
"Kesibukan apa?"
"Itu adalah urusan pribadi. dan kau tak berhak mengetahuinya." tindas Lucas.
tibalah saat Jake berada di depan pintu. para pengawal dengan hormat menundukkan kepalanya, dan membuka pintu ruangan.
terlihatlah Anaya Dawson dan Lucas yang sibuk berbincang dengan rekan sesama pembunuh. Jay, Mark, Victor dan Marcus sedang bermain judi. sedangkan Seth dan William sedang menggoda beberapa wanita malam dengan menyentuh bokongnya.
Anaya melihat kedatangan Jake..
gadis itu langsung berlari dan memeluk Jake sangat erat.
bukannya terkejut, Jake hanya diam dan menunjukkan ekspresi wajah datar. bahkan Jake tidak mempunyai niatan untuk membalas pelukan tersebut.
Anaya melepaskan pelukannya.
"I Miss you.." lirihnya.
Jake bahkan tidak melirik Anaya.
dia terdiam.
"hei jake,, selamat datang.." ujar William dan Seth bersamaan.
"Kemarilah dan duduklah,, kita sudah lama tidak bersenang-senang bung..." sambung William.
Jake melangkah, pria itu melewati Anaya tanpa melihat wajahnya sama sekali.
__ADS_1
Jake duduk di samping Lucas.
"Kau disini?" tanya Jake.
"ya seperti yang kau lihat."
"Dimana Istrimu?"
"Maksudmu Rose?"
"Hei Lucas, lalu istrimu siapa jika bukan Rose?" timpal William.
Victor dan yang lainnya tertawa.
"dia di Los Angeles." jawab Lucas singkat.
"Apa kau sudah melakukan rencana yang pertama?" tanya Jake
"Tentu. aku sudah mengurungnya di Las Vegas." jawab Lucas santai.
"Siapa yang kalian maksud?" tanya Anaya.
gadis itu bahkan tidak tahu malu, tiba tiba duduk di samping Jake dengan menggandeng tangan Jake. bergelayut manja.
"Tidak ada." jawab Lucas.
"Oh ayolah Lucas.. kau menyembunyikan sesuatu dariku? sebelumnya kita belum pernah saling menutupi satu sama lain bukan?" ujar Anaya
"bukan begitu.. hanya saja Sekarang aku tidak ingin jika urusanku di ketahui orang lain termasuk temanku sendiri."
"Jake bagaimana kabarmu?Aku sangat merindukanmu,, apa kau tidak merindukanku?" sambung Anaya Dengan bergelayut manja di tangan kekar Jake.
Lucas tersenyum kecut.
Jake hanya menampilkan ekspresi wajah sulit di artikan.
"Aku baik." kata Jake singkat.
nada suara beratnya yang khas mampu membuat Anaya terpesona.
Anaya sangat mencintai Jake. gadis itu bahkan tidak mau hubungannya dan Jake berakhir, tapi Jake bersikeras untuk memutuskan hubungannya dulu, itu membuat Anaya frustasi hingga nyaris gila waktu itu.
tetapi dia malah kembali. entah apa yang membuat gadis ini kembali lagi. yang jelas Jake sangat muak!
"Jake aku ingin berbicara empat mata denganmu."
"Aku tidak memiliki waktu Ana.. jika kau ingin mengatakan sesuatu,, katakan saja disini."
Anaya sibuk berbincang dengan Jake..
Marcus, Victor, Jay dan Mark hanya mendengar tanpa memiliki niat ikut campur urusan keduanya.
William dan Seth pun tidak memperdulikannya, pria bajingan itu sibuk bercinta dengan para wanita malam di dalam ruangan dengan tidak tahu malunya.
Dan Lucas?
apalagi yang pria kasar itu lakukan? Lucas, pria itu sedang sibuk memandangi layar ponselnya dan berkutat dengan urusannya sendiri.
sebenarnya Lucas dan yang lainnya tau alasan Jake. kenapa Jake tidak mengatakan hal yang sebenarnya terkait pernikahannya dengan Maria.
mereka tau jika Anaya adalah gadis yang sangat berbahaya.
__ADS_1
tentu saja Jake melakukan itu semua karena ingin melindungi istrinya dari ancaman mantan kekasihnya yang begitu terobsesi kepadanya.
Bersambung~