My Roommate'Class

My Roommate'Class
Jangan Bersembunyi


__ADS_3

"Kamu tuh jangan mengada-ada ya, kalau Anna mau menikah pasti orang yang pertama kali tahu itu aku !" ucap Maira sedang berbincang dengan Tulus di sebuah cafe bernama kenangan.


"Sumpah Ra, mana mungkin aku jauh-jauh kemari hanya untuk berbicara dusta?"


Kedua mata Maira mengecil, kepalanya terasa berputar, ia masih belum bisa berpikir kenapa sahabatnya itu enggan mengundang ke pernikahannya.


"Sorry ya Tulus Cyrano Putra, tapi aku masih belum bisa percaya kalau bukan tahu secara langsung dari anna,"


"coba saja kamu telepon dia, supaya hatimu jadi tenang,"


"Iya juga kenapa nggak kepikiran sih, aku akan telepon Anna," ucap Maira lalu mencoba menghubungi Anna untuk memastikan kebenarannya.


Anna sibuk membersihkan meja makan, dan tak mendengar ada telepon dari telepon seluler nya.


"Handphone Anna bunyi tuh," ucap Danial saat melihat telepon genggam Anna berdering di dekatnya.


"Duh kenapa tiba-tiba Maira telepon ya. Batinnya. Dari nomor nggak dikenal kok mas," ucap Anna lalu kembali pergi ke dapur.


Danial merasa sangat terganggu dengan telepon seluler milik Anna yang terus saja bersuara.


"Anna mungkin telepon itu sangat penting, angkat saja," ucap Danial


"Iya Mas," ucap Anna dan pergi ke kamar untuk mengangkat telepon dari Maira.


"Anna pergi ke kamar dulu ya, kalau mas mau sarapan duluan juga nggak apa-apa," ucap Anna lalu pergi ke kamarnya.


Anna mengunci pintu kamarnya, lalu duduk di kursi dekat jendela.


"Halo, apa kabar Ra?" tanya Anna sambil mengatur kembali napasnya yang tak beraturan.


"Kenapa putus-putus gitu ngomongnya, kamu ini ada di mana?"


"Aku lagi ada di kamar,"


"Oh, kirain mau lari dari kenyataan,"


"Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud ini?"


"Hei, langsung ke poin nya dong !" sahut Tulus membuat Maira kesal.


"Hus, bisa diam dulu nggak sih !" ucap Maira sambil menutup speaker telepon seluler nya, agar tak terdengar oleh Anna.


"Ra kenapa jadi diam?"


"Sebenarnya kamu telepon aku ini ada masalah apa sih Ra?"


"Sekarang aku minta kamu untuk jujur aja, apa benar sekarang kamu sudah menikah?"


"Iya aku sudah menikah,"


"Astaghfirullah, jadi benar dong apa yang baru saja aku dengar dari Tulus?"


"Tulus, oh jadi dia yang cerita sama kamu soal pernikahan aku?"


"Iya, tapi kenapa sih tega banget nggak ngasih tahu aku !" ucap Maira dengan kesal.


"Kenapa aku harus tahu soal ini dari orang lain?"


"Panjang Ra ceritanya, aku nggak bisa menceritakan semua di sini,"


"Aku mau kita ketemuan, bisa kan?"

__ADS_1


"Sekarang ya?"


"Iya dong, apa aku harus jemput kamu?"


"Nggak perlu Ra, aku bisa jalan sendiri,"


"Oke aku share lock tempatnya ya, jangan lama-lama !" ucap Maira menutup teleponnya.


"Gimana, Anna setuju kan kamu ajak ketemuan?" tanya Tulus penuh harap.


"Iya, kita tunggu aja,"


Anna turun dari tangga, dengan terbata-bata meminta persetujuan pada Danial.


"Mas, Anna mau izin keluar ya karena ada hal yang penting banget,"


"Boleh, apa perlu Mas antar Anna?"


"Nggak perlu Mas, Anna bisa naik taksi aja,"


"Assalamualaikum," ucap salam Anna yang terburu-buru, sampai lupa ia tidak mencium punggung tangan suaminya itu.


"Waalaikumussalam,"


"Kemana dia pergi sampai terburu-buru seperti itu?" tanya Danial seroang diri.


Menengok ke kanan-kiri tak juga Anna temui.


"Nah itu dia, akhirnya datang juga," ucap Maira sambil melambaikan tangannya ke Anna.


"Anna, sini," ucap Maira melambaikan tangannya ke Anna yang baru saja tiba di cafe.


Anna bertanya-tanya pada dirinya, kenapa Maira menatapnya dengan sinis.


"Aduh kenapa tiba-tiba jadi gerah gini ya, kamu juga kan?"


"Aku yang kepanasan karena mendengar kamu sudah menikah,"


"Kenapa begitu?"


"Karena selama ini kamu nggak pernah jalan sama cowok, punya pacar juga nggak,"


"Bisa-bisanya kamu yang nikah duluan,"


"Ya ampun Ra namanya juga takdir, kita nggak tahu juga kapan akan menikah, dan meninggal juga,"


"Hai kalian, santai dong jangan pada emosi seperti itu," ucap Tulus tiba-tiba datang mengejutkan Anna.


"Kamu ada di sini juga?"


"Sebenarnya ini itu idenya Tulus, katanya biar bisa ketemuan lagi sama kamu,"


Anna tersenyum manis, Tulus jadi tersipu malu.


"Jangan percaya dia, mungkin memang sudah waktunya kita untuk bertemu lagi kan An?"


"Oh iya An kamu ke sini sendirian nih, Danial mana?" tanya Tulus membuat Maira semakin bertanya-tanya.


"Tunggu, kenapa harus Danial?" tanya Maira.


"Jawab dong Anna !" desak Tulus.

__ADS_1


"Iya jawab dong, kamu sendiri tadi yang bilang mau menceritakan semuanya sama aku,"


"Begini Ra, aku dan Danial adalah suami istri,"


"What, are you crazy?" tanya Maira mengejutkan Anna.


"Kenapa, apanya yang salah?" tanya Anna bingung.


"Sekarang aku tanya, kenapa harus memilih Danial sih An?"


"Kaya nggak ada cowok lain,"


"Ya mungkin karena kita berjodoh,"


"Aku dan Danial dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing, lantas apa namanya kalau bukan jodoh?"


"Yang sudah pacaran selama bertahun-tahun belum tentu bisa sampai ke pelaminan, kadang juga ada yang harus kandas di tengah jalan,"


"Apalagi kamu yang dijodohkan An !" imbuh Maira.


"Maksud kamu aku dan Danial nggak akan bisa lama gitu?"


"Bukannya kalian sama-sama terpaksa?" sahut Tulus.


"Kita memang sama-sama terpaksa, mana mungkin bisa melawan keinginan orang tua?"


"Iya sih, tapi kamu bisa kan untuk buat alasan apa gitu biar pernikahan ini nggak terjadi !"


"Aku nggak habis pikir loh An, kamu bisa mencintai pria seperti Danial yang notabenenya itu super playboy !" ucap Maira.


"Maaf Anna bukannya kita ini nggak suka kamu dengan Danial, cuma nggak mau kalau kamu nanti kecewa," ucap Tulus.


"Iya An, dan aku sebagai sahabat nggak akan biarkan siapapun melukai hati sahabatku ini !"


"Aku bahagia melihat kamu baik-baik saja An selama hidup bersama Danial, dan nggak menyangka ternyata dia bisa berubah," ucap Tulus dengan tersenyum manis.


"Andai mereka tahu kalau Danial masih sama seperti dulu, pasti mereka akan kecewa. Batinnya. Maaf ya teman-teman aku nggak bisa berlama-lama di sini," ucap Anna.


"Ya ampun baru saja kita bisa ketemu setelah sekian lamanya, ternyata malah nggak bisa ngobrol lama sama kamu," ucap Maira begitu sedih saat Anna ingin pergi.


"Tenang masih ada hari esok lagi, kamu tahu kan aku sekarang sudah menjadi seorang ibu rumah tangga yang nggak bisa nongkrong sana-sini berjam-jam pula," ucap Anna membuat semua tertawa.


"Pokoknya kalau ada apa-apa kamu jangan sungkan ya An untuk kabari aku," ucap Maira.


"Iya Anna, aku siap untuk kamu butuhkan kapanpun itu," imbuh Tulus.


"Terima kasih ya, kalian sudah begitu baik sama aku,"


"Kalau begitu aku pulang dulu ya, sampai ketemu lagi," ucap Anna lalu pergi meninggalkan cafe.


"Aku rasa ada yang Anna sembunyikan deh, kamu ngerasain juga nggak?" tanya Maira pada Tulus.


"Aku merasa juga gitu, tapi mungkin itu privasi dia jadi buat apa kita cari tahu,"


"Nggak, kita harus bisa bongkar rahasianya Tulus !"


"Ingat ya terlalu kepo itu nggak baik Maira !"


"Tapi dia sahabatku, dan masalahnya adalah masalahku juga !"


"Oke, menurut kamu apa langkah kita selanjutnya?

__ADS_1


"Aku sudah tahu kepada siapa kita akan tahu segalanya,"


"Oh iya, coba sini bisikkan ke telingaku siapa orangnya,"


__ADS_2