
Anna buru-buru menutup teleponnya, dan pamit pulang ke rumah.
"Besok jangan lupa untuk merekapnya ya !" ucap Tulus mengingatkan Anna untuk segera menyelesaikan projek nulis bareng.
"Iya Tulus, aku pulang dulu ya,"
"Bye, hati-hati di jalan !"
Berjalan menuju halte busway, Anna bertemu dengan mantan kekasih sahabatnya, Maira.
Tanpa berpikir panjang ia menghampirinya.
"Kamu mantan kekasihnya Maira ya?"
Fajar membalikkan badannya, dan menatap wajah Anna dengan kebingungan.
"Maaf, kamu siapa?"
"Namaku Anna, sahabat Maira,"
"Oh Anna, iya aku tahu banyak hal tentang kamu dari Maira dulu,"
"Ada masalah apa?"
"Aku minta sama kamu jangan ganggu kehidupan Maira lagi, dia sudah bahagia dengan pilihannya !"
"Harusnya kamu sadar, yang kamu lakukan ini salah !"
"Siapa kamu berani mengaturku?"
Hanin meminta Danial untuk menghentikan laju mobilnya, ia menunjuk ke arah halte busway.
"Kamu lihat di sana ada siapa?"
Danial meringkukkan badannya sambil mengarahkan pandangannya ke halte busway.
Terkejut melihat Anna ada di sana bersama dengan seorang pria.
"Ternyata bukan Tulus saja, tapi masih ada laki-laki yang lainnya," ucap Hanin, membuat Danial menjadi kesal.
Hanin berusaha meredakan amarah Danial, namun sia-sia juga. Danial pergi menghampiri Anna.
Pertunjukan yang menyenangkan !
Hanin sangat senang melihat Danial memarahinya di depan banyak orang.
"Apa yang Anna lakukan di sini, dan siapa laki-laki ini?"
"Mas Danial?"
"Kamu suaminya, tolong ajarkan sopan santun ya karena gara-gara istri anda saya harus buang-buang waktu di sini !"
"Benar Anna mencoba mengganggu dia?"
"Mana mau dia mengaku, untuk apa juga saya terus di sini ya, lebih baik pergi saja," ucap Fajar lalu pergi.
"Anna bilang mau bertemu dengan Tulus, tapi kenapa orang lain yang ditemui?"
Anna tidak berani berkata jujur. Ia memilih untuk pergi meninggalkan Danial di sana.
"Tuh kan, pasti dia sudah menyembunyikan sesuatu dari kamu nih !" ucap Hanin, menghampiri Danial.
Suami Maira sangat memanjakannya, melayani Maira seperti seorang Ratu.
__ADS_1
Maira bersyukur akan hal itu, namun dirinya juga takut orang di masa lalunya menghancurkan kebahagiaannya.
Malam yang begitu terang benderang, mengisi kesempurnaan cinta Maira dan suaminya sedang bersantai di sofa.
"Sayang, apa sebaiknya kita tinggal di rumah Ibu kamu ya?" tanya Maira.
"Kenapa begitu, bukannya kamu lebih senang tinggal di rumah sendiri?"
"Setelah aku pikir-pikir ternyata lebih enak tinggal sama mereka, karena sebentar lagi kan perut aku ini akan semakin membesar, pastinya semakin sulit untuk bergerak leluasa,"
"Kamu nggak perlu khawatir soal itu, biar aku yang mengerjakan semua tugas kamu di rumah !"
"Harus dengan cara apa lagi ya supaya dia mau menuruti kemauan aku. Batinnya. Tapi aku nggak mau kamu kecapekan, please ya sayang !"
Ting...Tong... (bunyi bel rumahnya)
"Kamu ada janji sama orang lain?" tanya Suaminya.
"Nggak deh, aku cek dulu ya sayang," ucap Maira, dan pergi untuk membuka pintu rumahnya.
"Kamu, ngapain datang ke rumahku?" tanya Maira, terkejut mengetahui Fajar yang bertamu ke rumahnya.
"Aku rindu sama kamu,"
"Kamu gila ya, lupa kalau aku sudah punya suami?"
Curiga istrinya belum juga kembali, ia pun menyusulnya ke luar rumah.
"Kamu pergi dari sini, sebelum aku teriak maling !"
"Oke aku akan pergi, tapi besok aku kembali ke sini ya untuk menemani kamu,"
"Terserah, sekarang kamu cepat pergi dari sini !"
"Siapa yang bertamu Sayang?"
"Hmm bukan siapa-siapa kok, kita masuk yuk !"
Danial masih saja terus menanyakan kejadian di halte busway tadi siang pada Anna.
Namun Anna bersikeras untuk tidak menjawabnya.
Biarkan suaminya berasumsi bahwa dirinya mendekati laki-laki lain. Karena jika dijelaskan pun, tidak mau peduli.
"Jadi benar, Anna menjalin hubungan dengan laki-laki di halte tadi?"
"Sekarang kita sama, sama-sama pandai mengambil hati orang !"
"Sudahlah Mas, kita jangan meributkan masalah ini,"
"Sekarang ini apa yang harus Mas jaga, bila Anna saja nggak bisa menjaga hati?"
Anna dibuat geleng-geleng kepala mendengar ucapan suaminya.
"Anna yang nggak bisa menjaga hati atau Mas?"
Handphone Anna berbunyi, mendapat panggilan dari Maira. ia memutuskan untuk pergi ke kamar untuk menjawabnya.
Namun Danial mengehentikan langkahnya, memintanya untuk menjawab dihadapannya.
"Kalau benar Anna nggak ada hubungan sama laki-laki itu, jawab saja di sini !"
"Baiklah, kalau Mas memaksa ingin tahu kebenarannya,"
__ADS_1
Anna menjawab telepon sambil mengeraskan suara dari Maira.
"Anna aku takut, dia datang lagi ke rumah !"
"Lalu apa yang dia katakan sama kamu?"
"Dia bilang nggak akan mau melepaskan aku, aku harus bagaimana?"
"Kamu harus tetap tenang ya, kasihan anak yang ada di dalam kandungan kamu jika terus stress seperti ini,"
"Iya Anna, tapi aku bingung harus berbuat apa lagi supaya dia mau menjauh dariku !"
"Insyaallah kita bisa keluar dari masalah ini, lebih baik sekarang kamu istirahat ya,"
"Mas sudah tahu kan, kalau Anna sama sekali nggak ada hubungan dengan laki-laki itu !"
"Anna bertemu dengannya karena dia selalu menganggu hidup Maira, dan Anna bisa bertindak tegas terhadapnya kalau masih saja mengusik ketenangan Maira dan keluarganya !"
Danial lega setelah mengetahui kebenarannya. Namun ia juga takut, Anna mendapati masalah.
Keesokan harinya, Hanin kembali berulah.
Ia bertemu Bu Sarah untuk menjelekkan citra Anna.
Belum usai amarahnya soal Anna yang bersama dengan Tulus, kini harus menghadapi masalah baru.
"Kamu jangan main-main ya sama saya, gara-gara kamu bilang Anna ada hubungan gelap dengan Tulus, Danial jadi marah besar !"
"Ia menolak percaya dengan apa yang saya katakan, dan saya sudah nggak mau lagi ikut campur masalah Anna dengan siapapun itu !"
"Tapi Tante, kali ini benar-benar valid !"
"Hanin dan Danial melihatnya bersama laki-laki lain di halte busway, yang lebih parahnya lagi nih Tan saat Danial memintanya untuk mengaku eh pilih pergi begitu saja,"
"Keterlaluan nggak sih itu Tan, dan itu membuktikan kalau dia benar-benar nggak mau setia sama Danial !"
"Itu yang buat Tante bingung, kenapa Danial lebih memilih percaya sama dia ketimbang saya, Mamanya ?"
"Saya jadi menyesal sudah menikahkan Danial dengan Anna, dan mengabaikan kamu,"
"It's okay Tan, semua masih bisa kok diperbaiki,"
"Setelah mereka berpisah, Hanin dan Danial bisa bersatu kan?"
"Itu pasti, karena saya juga sudah muak dengan Anna yang ternyata bukanlah wanita baik !"
"Iya Tante, saya juga nggak menyangka dia bisa melakukan hal memalukan ini,"
Tok...tok...tok...
"Buka pintunya !" teriak Ibu Pratiwi, di luar rumah mantan suaminya.
Kupingnya terasa pecah mendengar teriakan dan suara pintu rumahnya yang mau roboh.
"Mau apa kamu ke sini lagi, pakai teriak segala !"
"Kamu benar-benar bapak yang biadab ya, bisa-bisanya kamu menjual anakmu sendiri !"
"Kamu sendiri bagaimana, apa sudah berhasil menjadi seorang ibu yang baik untuknya?"
"Jangan kamu bawa-bawa aku dalam hal ini ya, karena aku ke sini, mau kamu berhenti untuk menyakiti anakku !"
"Siapa yang menyakitinya, justru aku mau dia hidup bahagia !"
__ADS_1
"Kebahagian itu tercipta dari dirinya sendiri, bukan hati yang terpaksa menuruti kemauan orang lain !" ucap Anna, tiba-tiba datang mengentikan pertikaian mereka.