
Seperti benda mati yang harus hidup dalam imajinasi diri mereka yang butuh hibur.
Aku makhluk hidup yang tak berarti, tanpa ada dirimu di sisi.
Danial harus mundur seribu langkah.
Setelah mendengar pernyataan dari Dokter yang menangani istrinya.
"Di usia 20 an, penyebab gangguan dan fungsi otak yang tersering bukanlah alzheimer, Penyebab yang paling umum adalah Functional Cognitive Impairment (FCI), dan FCI sering terjadi pada orang usia produktif dengan pekerjaan yang menantang, akumulasi dari berbagai stres menurunkan kapasitas fungsi otak,"
"Gejala demensia sendiri meliputi perubahan kognitif seperti kehilangan memori yang dapat disadari oleh pasangan atau orang terdekat." Dokter menatap wajah Danial yang kuyu namun tetap memberikan harapan untuknya, karena semua itu bisa disembuhkan.
"Apa itu artinya istri saya bisa mengingat saya kembali, Dok?"
"Bisa Pak, dengan melakukan terapi kognitif untuk menstimulasi daya ingat, kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan bahasa," jelas Dokter pada Danial yang menampakkan sorot kekecewaan.
Setelah Danial keluar dari ruangan Dokter, Pak Hamdan dan Bu Lilis menghampirinya.
"Danial bagaimana keadaan Anna sekarang, sudah siuman kah?" tanya Pak Hamdan.
"Alhamdulillah Anna sudah sadar Pak, Bu,"
"Alhamdulillah, lalu apa yang dokter sampaikan sama kamu?"
"Anna mengalami FCI Pak, Bu yaitu gangguan fungsi otak yang menyebabkannya kehilangan memori dalam hidupnya," jelas Danial menundukkan kepala mengusir bulir-bulir bening yang mau jatuh.
"Astaghfirullah, Ibu mau melihat keadaannya sekarang Pak !" ajak Bu Lilis terguncang jiwanya.
"Danial, kamu nggak ikut melihatnya?"
__ADS_1
"Maaf Pak, Danial harus pergi karena sekarang ini Anna lebih membutuhkan Ibu dan Bapak !"
"Pak, ayo kita menemuinya !"
Bruk ....
(suara pintu mobil)
"Ya ampun, sekarang gimana keadaannya apa belum sadar juga?" tanya Maira di telepon.
Brak....brak....brak...
(suara ketukan kaca mobilnya dari luar)
"Ih, apaan sih berisik banget !"
"Loh, Sayang aku di mana?"
"Sayang, buka pintu mobilnya !" teriak suami Maira.
"Astaga, kamu ngapain sih di luar. Bukannya tadi aku suruh kamu untuk masuk ke mobil !"
"Kamu sih, main tutup pintu mobilnya !"
"Masa sih, kamu kali yang lupa !"
Suaminya hanya mengelus dada.
Suara langkah surganya terdengar membuat dirinya bangkit dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Pintu pun terbuka, senyumnya merekah.
"Ibu, Bapak !" teriak Anna berlari memeluk kedua orang tuanya.
"Kenapa lama sekali, Anna sendirian di sini !" lirih Anna memeluk erat pinggul Ibu dan Bapaknya.
"Anna ingat sama Ibu dan Bapak?"
"Ingat dong, kenapa Ibu tanya seperti itu?"
"Pak, Ibu baik-baik saja kan?"
"Anna sudah makan?"
"Belum Bu, apa Ibu bawa makanan untuk Anna?"
"Iya Ibu bawakan makanan kesukaan kamu, dimakan sampai habis ya !"
"Asyik, terima kasih ya Bu !"
Bu Lilis menarik tangan Pak Hamdan, dan meninggalkan Anna sendiri di sana.
"Ada apa Bu?"
"Ibu lihat Anna nggak seperti orang sakit ya Pak, dia terlihat baik-baik saja,"
"Itu yang Bapak takutkan Bu, di luar tampak baik-baik saja tapi ternyata di dalam dirinya merasakan sakit yang luar biasa !" jelas Pak Hamdan menggigit bibirnya.
"Semoga apa yang kita takutkan nggak terjadi ya Pak, Ibu takut Anna kembali ke masa gelapnya !"
__ADS_1