
Mencintaimu itu mudah, yang tak mudah adalah mencintai semua orang yang mencintaimu.
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Sebelum Elvira kembali ke London, ia berpesan pada Mamanya.
Duduk bersama di gazebo taman.
"Ma, Elvira nggak sengaja waktu itu mendengar pembicaraan Mama dan Papa soal kak Anna,"
"El merasa kak Anna nggak seperti yang Mama katakan kemarin, dia begitu tulus mencintai kak Danial dan baru pertama kalinya El melihat cinta sebesar itu," ucap Elvira sambil tersenyum, membayangkan kakaknya dan kakak iparnya.
"Kamu tahu apa soal cinta, indah dari sebuah kata-kata atau manisnya sebuah janji?" ucap Mamanya membuat Elvira terdiam.
"Dia memang tampak polos, tapi kita nggak pernah tahu apa yang ada di dalam hatinya itu !"
"Mama nggak ingin kamu ikut campur dalam urusan ini, biar Mama yang akan menanganinya,"
"Tapi El mohon satu hal sama Mama, suatu hari nanti Mama akan menerima apapun keputusan dari kak Danial ya,"
Di ruangan yang minimalis, berwajah estetik.
Penuh dengan beberapa koleksi gitar antik yang terpajang di dinding.
Tulus mempersilakannya duduk sambil memberikan secangkir kopi.
"Kamu masih suka bermain gitar?" tanya Anggun.
"Gitar itu adalah jiwaku, tanpanya aku nggak bernyawa,"
"Well, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
"Aku sudah pikirkan jauh-jauh hari, dan yakin sekali kalau misi ini akan berhasil !"
"Aku suka percaya diri kamu ini, karena kita memang harus selalu yakin dengan apa yang mau dituju,"
Cuaca yang cerah, membuat Maira jadi bersemangat untuk berolahraga di sekitar kompleks rumahnya.
Ia memulainya dengan pemanasan, namun sebuah mobil mewah berhenti di depannya.
"Apa Ibu datang lagi, kenapa sih nggak bisa sehari saja nggak ada yang membuatku stress !" ucap Maira.
Seorang pria paruh baya keluar dari mobil tersebut dan memanggil namanya.
"Bapak, kok Bapak bisa tahu kalau aku tinggal di sini?"
"Walau Bapak nggak menginginkan kamu hidup bersama suamimu itu, apakah Bapak harus memutuskan silaturahmi dengan kamu?"
"Bapak ke sini sendirian?"
"Nggak, untung ada dia yang selalu mau Bapak repotkan,"
Maira melihat sosok seorang yang bersama dengan Bapaknya dari kaca mobil depan. Ia pun keluar dari mobilnya seraya merapikan jasnya.
"Kamu, Pak kenapa harus sama dia sih?"
__ADS_1
"Apa masalahnya, Fajar ini sudah berbesar hati loh untuk mengantar Bapak bertemu dengan kamu, dan masih mau menyambung silaturahmi,"
"Hai Maira, bagaimana kabarmu?"
Maira enggan menjawabnya, dan memilih pergi ke rumahnya.
"Mungkin Maira masih syok melihat kamu, lebih baik kita ke rumahnya ya,"
Maira terus berjalan, hingga Bapaknya menghentikan langkahnya.
"Maira, tolong kamu jangan bersikap seperti ini sama Fajar,"
"Bapak tahu kan hubungan Maira dan Fajar sudah selesai, jadi untuk apa Maira menerimanya kembali?"
"Iya Bapak tahu, tapi setidaknya kamu bersikap baik bukan memperlihatkan kebencian terhadapnya,"
"Fajar duduk dulu ya, karena Maira akan membuatkan minumannya,"
Ini kesempatan Maira untuk menghubungi suaminya, ia begitu risih melihat mantan kekasihnya berada di rumahnya.
"Jangan, kalau aku kasih tahu nanti dia jadi kepikiran lagi,"
"Lebih baik aku telepon Anna, dengan begitu aku bisa beralasan untuk nggak menemuinya,"
Maira sudah siap untuk pergi, namun Bapaknya kembali menghentikannya.
"Kamu ini gimana sih, sudah tahu ada tamu yang harus ditemui eh malah mau pergi,"
"Maaf Pak tapi ini juga penting karena harus selalu cek kesehatan kandungan Maira, kalau Bapak nggak keberatan juga nggak apa-apa istirahat di rumah Maira dulu,"
"Tapi kapan-kapan Bapak akan jenguk kamu lagi ya,"
Maira bisa bernapas lega, karena nggak perlu bersusah payah untuk mengusir mantan kekasihnya itu dari rumahnya.
Anna duduk sendiri di sebuah cafe, terlihat begitu lelah menunggunya.
"Anna, sorry ya harus buat kamu nunggu lama di sini,"
"Nggak apa-apa kok Ra, memang ada apa sih kamu ajak aku ketemuan di sini?"
"Aku bingung harus memulai cerita dari mana?"
"Oke, coba kamu tarik napas dulu kemudian hembuskan perlahan,"
"Sekarang aku siap mendengarkan cerita kamu,"
Maira mencoba untuk tetap tenang, namun dirinya masih was-was karena takut akan membuat Anna kepikiran.
"Nggak ada apa-apa kok An,"
"Ayolah, kamu nggak perlu khawatirkan aku,"
"Kita pasti bisa melewati semua masalah bersama-sama, jangan kamu takut untuk berbicara karena kita ini adalah makhluk sosial, yang artinya sesama manusia akan saling membutuhkan satu sama lain,"
"Aku nggak sanggup menjalani hidup seperti ini An, kenapa harus aku yang merasakannya?" ucap Maira sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Hei, apa aku ini nggak salah melihatnya?"
"Maira, wanita yang selalu ceria ternyata juga bisa menangis?"
Maira menutup kedua matanya, dan semakin menangis.
Anna menghampirinya, mencoba untuk menenangkannya.
"Menangis lah jika itu membuat perasaan kamu menjadi lebih baik, tapi jangan terlalu bersedih ya karena kasihan nanti adik bayinya ikutan sedih," ucap Anna sambil merangkulnya.
Maira mengusap air matanya, ia menggenggam erat kedua tangan Anna.
"Aku bersyukur sekali karena di dunia ini mempunyai sahabat seperti kamu, dan aku meminta sama Tuhan untuk jangan pernah memisahkan ku dari kamu,"
"Aku juga, kita nggak cuma jadi sahabat di dunia saja tapi insyaallah bisa sampai surga,"
Setelah Maira menenangkan dirinya, ia mulai membuka suara.
Perasaan Anna teriris saat mendengar kisah hidup dari sahabatnya itu.
Sadar bahwa bukan dirinya saja yang mengalami pahitnya kehidupan namun masih banyak lagi yang lebih menderita.
"Ini yang aku sesalkan dari kamu, selalu enggan bercerita dan merasakannya sendirian,"
"Maafkan aku Anna, aku cuma nggak mau kamu ikutan susah,"
"Janji ya sama aku, setelah ini nggak akan ada lagi yang harus sembunyikan !"
Air dalam cangkir teh sampai terisi penuh. Terbuang sia-sia.
Danial meraih teko air dan menjauhkannya dari tubuh Anna.
"Apa yang Anna lakukan?" teriak Danial membuat Anna tersadar.
"Astaghfirullah, kenapa bisa becek begini?"
"Cobalah Anna untuk fokus sedikit, pasti ini nggak akan terjadi !"
"Maaf Mas, Anna bersihkan dulu ya,"
"Sebenarnya apa yang sedang Anna pikirkan, sedari tadi Mas lihat Anna melamun,"
"Anna memikirkan soal Maira, Mas,"
"Kenapa dengan Maira, bukankah dia sudah hidup bahagia bersama suaminya?"
"Sudahlah Anna, nggak perlu kita iku campur masalah rumah tangga orang lain, biar itu jadi urusan mereka dan kita fokus sama diri kita sendiri !"
"Tapi Maira adalah sahabat Anna, Mas, dan nggak akan bisa tenang kalau harus berdiam diri ditengah kesulitannya,"
"Mas tahu itu, tapi kita juga jangan sampai melupakan diri kita seperti apa yang telah Anna lakukan tadi,"
"Kalau air panas itu mengenai Anna, apa yang akan terjadi?"
"Masalah baru, dan pastinya akan membuat semua orang menyalahkan Mas, termasuk Maira !"
__ADS_1