My Roommate'Class

My Roommate'Class
Hati Yang Letih


__ADS_3

Masuk ke kantor memasang wajah manisnya, ia menyapa orang-orang dengan ramah.


"Hai Sayang, apa kabar?"


"Pasti kamu kangen ya sama aku, iya aku tahu itu," ucap Hanin sambil menata rambutnya.


"Ke mana saja kamu selama ini, kamu nggak tahu begitu banyak pekerjaan di kantor yang harus segera diselesaikan tapi kamu jadi lari dari tanggung jawab itu,"


"Sayang, aku ini baru masuk lagi ke kantor kok jadi dimarahin gitu sih !"


"Aku capek tahu nggak sudah beberapa kali kasih kamu kesempatan untuk bisa berubah tapi tetap saja nggak bisa !" ucap Danial lalu pergi meninggalkannya.


"Oke tenang Hanin, kamu nggak boleh gegabah lagi !"


Bruaak.....


(suara dari pintu rumah Maira)


"Maira mohon sama Ibu untuk pergi dari sini !" teriak Maira dari dalam rumah.


"Tolong Maira sekali saja kamu mau dengarkan Ibu !"


"Mau bicara apa lagi sih Bu, soal Maira harus menerima laki-laki itu sebagai seorang Bapak?"


"Bukan Maira, ini tentang kejahatan Bapak kamu !"


Mendengar hal itu, Maira langsung membuka pintu rumahnya, dan membiarkan Ibunya untuk masuk.


"Maira, kamu harus dengarkan Ibu ya !"


"Kamu harus berhati-hati dengan Bapak, karena Ibu kemarin nggak sengaja mendengar ucapannya bersama Fajar yang mau merusak hubungan kamu dan suamimu,".


"Maira tahu Ibu sangat membenci Bapak, tapi kenapa harus memfitnahnya seperti ini!"

__ADS_1


"Sayang, coba kali ini saja kamu berpikir yang jernih !"


"Ibu melakukan ini supaya kamu tetap bahagia bersama dengan suami kamu, kamu harus percaya sama ibu ya !"


Maira terus mengelaknya, lalu berbalik menyalahkan Ibunya.


"Ibu sengaja kan melakukan ini supaya Maira membenci Bapak, setelah itu Maira harus menerima laki-laki itu,"


"Kamu benar-benar anak yang nggak tahu cara berterima kasih ya, Ibu datang kemari untuk menyelamatkan kamu tapi kamu jadi menyalahkan Ibu !


Maira terdiam sesaat, setelah Ibunya memilih pergi.


Es batu yang padat mulai mencair dalam gelas berisi biji selasih berpadu perasa leci.


"Anna, kamu baik-baik saja kan?" tanya Tulus, saat mengetahui Anna sedang melamun.


"Nggak Tulus, aku sedang memikirkan Maira,"


"Oh iya, gimana ya kabar dia sekarang?"


"Apa ini berkaitan dengan suaminya?"


"Dari dulu bapaknya nggak pernah setuju dengan suaminya, Maira takut jika harus berpisah dengannya,"


"Ditambah soal Ibunya yang harus menikah lagi,"


"Aku turut prihatin mendengarnya, nggak menyangka melihat Maira bisa bertahan dalam situasi itu,"


"Lalu apa yang ingin kamu lakukan untuk Maira?"


"Aku nggak tahu harus berbuat apa, berharap secepatnya bisa menyelesaikan masalahnya,"


"Kamu nggak sendirian, ada aku yang siap untuk membantumu"

__ADS_1


"Terima kasih Tulus, tapi untuk kali ini aku ingin menyelesaikannya sendiri karena aku nggak mau kamu terlibat dalam masalah lagi,"


Tulus bahagia mendengar perkataan dari Anna. Ia merasa dirinya begitu diperhatikan olehnya.


"Oke, kalau begitu biarkan aku membantumu dalam bentuk doa saja ya,"


Rindu memang hening


Dibuat pusing aku memikirkannya


Mengingat rupa dan tawanya di awang-awang


Jika sudah bertemu, sulit melepasnya pergi kembali.


"Assalamualaikum, bagaimana kabar Anna?"


"Kapan Anna akan ke Bandung lagi?" imbuh Ibunya yang sangat merindukan putrinya.


"Waalaikumussalam, kabar Anna baik Ibu,"


"Ibu dan Bapak bagaimana, sehat-sehat kan di sana?"


"Alhamdulillah, kami semua sehat di sini,"


"Anna, cepat pulang ya nanti Abang ajak main layang-layang !" teriak Abangnya.


"Abang ada di rumah Bu, Anna rindu sekali sama Abang,"


"Bagaimana dengan Danial, apa dia masih berhubungan dengan Hanin?"


Ketika Anna ingin mengatakan Danial yang tidak lagi terlihat bersama dengan Hanin, tiba-tiba saja ia melihat suaminya jalan bersama Hanin menuju sebuah restoran.


Hal itu membuat hatinya kembali merasa letih.

__ADS_1


"Iya Bu, Mas Danial sudah banyak berubah,"


__ADS_2