My Roommate'Class

My Roommate'Class
Siapa Aku Sebenarnya ?


__ADS_3

Langit malam saat itu mau runtuh


Menyaksikan terpecah belah, hatiku


Apalah arti sabar menunggu


Jika tak pernah bisa menghargai waktu


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Kini air matanya kering, yang tumbuh menjadi mati. Tiada lagi cinta di dalam hidupnya. Karena cinta memang tak seindah kata-kata romantis yang tercipta.


Cinta yang baik adalah cinta untuk Sang Pencipta, yang tak pernah bisa membuat luka.


"Akan ku hajar dia !" ucap Tulus, mengepal kuat tangannya bersiap untuk melayangkannya ke Danial.


"Cukup Tulus, aku nggak mau melihatnya lagi !"


"Tolong kamu bawa aku pergi dari sini, kalau perlu sejauh mungkin !" desak Anna.


"Nggak Anna, sebelum pergi kita harus buat pelajaran dengannya !"


"Baiklah, biar aku saja yang membawa mobilnya !" ucap Anna membawa mobil Tulus dengan kecepatan tinggi.


"Anna berhenti !" teriak Tulus menghentikan Anna, sontak mengejutkan Danial dan Hanin yang masih berduaan di taman.


"Aku mendengar seseorang menyebut nama Anna di sini !" ucap Danial gemetaran.


"Kamu ini benar-benar bandel banget, sudah ku bilang jangan sebut namanya saat kita menghabiskan waktu bersama !"


"Maaf Hanin, aku harus pergi !"


"Danial tunggu !" teriak Hanin berlari mengejar Danial.


"Tulus, sedang apa dia di sini?"


"Jangan-jangan dia bersama Anna,"


Anna mengendarai mobil dengan kecepatan 60 kilometer per jam, dalam keadaan emosi.


"Tulus, di mana Anna?" tanya Danial sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.


"Hei, ini semua gara-gara kamu !" ucap Tulus mendorong tubuh Danial sampai terjatuh.


"Kamu sadar nggak sih, Anna pergi setelah melihatmu bersama Hanin. Dia membawa mobil ku dalam keadaan emosi, kalau sampai terjadi sesuatu dengannya kamu orang pertama yang aku cari !" ancam Tulus membuat Danial menundukkan wajahnya, punggung tangannya terus dihantamkan ke aspal.


Cit......Cit....Bruk.....


Tubuh Anna terpental ke setir mobil. Mulai sadar kemudian berusaha mengangkat tubuhnya, dan keluar dari mobil. Namun dirinya malah terjebak, karena merasa lemas.


Melihat mobilnya berhenti dalam keadaan mesin masih menyala, Tulus menghampirinya. Lalu menemukan Anna yang tergelak di kursi mobil.


"Anna, Anna bangunlah !" teriak Tulus.


"Anna sayang, Mas mohon bangunlah !" ucap Danial dari sisi kiri mobil.


"Jangan sentuh dia, karena kamu yang membuatnya seperti ini!" teriak Tulus menjauhkan tubuh Danial dari Anna.


"Tulus tolong, sekarang bukan waktunya kita untuk berdebat. Kita harus segera membawa Anna ke rumah sakit !"

__ADS_1


Di perjalanan menuju rumah sakit. Danial memegang erat tangan istrinya seraya memeluknya.


Sesekali menatap wajahnya yang nyaris mengeluarkan bulir-bulir bening.


"Anna harus kuat ya, Mas ada di sini !" ucap Danial melepaskan genggamannya, membiarkan istrinya bertarung sendiri di ruang ICU.


"Danial, apa yang terjadi dengan Anna, bagaimana keadaannya?" tanya Pak Samsul.


"Dia masih ditangani oleh Dokter Pa,"


"Assalamualaikum Pak, saya ingin menyampaikan bahwa Anna saat ini berada di rumah sakit," ucap Tulus di telepon.


"Waalaikumussalam, innalilahi wa innailaihi rojiuun,"


"Apa yang terjadi dengannya, Tulus?"


"Nanti akan saya ceritakan semuanya Pak, lebih baik sekarang Bapak dan Ibu berangkat ke Jakarta ya !"


Mentari pagi muncul, memberi harapan kepada setiap makhluk hidup untuk bertahan hidup.


Sedang Anna berjuang agar bisa tetap hidup, untuk orang-orang yang tulus memberinya kehidupan.


"Assalamualaikum, Danial apa yang telah terjadi dengan Anna?" tanya Bu Lilis menatap wajah menantunya dengan sayu.


"Anna masih belum sadarkan diri Bu,"


"Ya Allah, Hamba mohon selamatkan dia dari penderitaan ini,"


"Drama apa lagi ini, ujung-ujungnya juga Danial yang susah !" sahut Bu Sarah.


"Ma, Danial mohon jangan menambah masalah lagi ya !"


Bu Lilis dan Pak Hamdan melotot, tega besannya berkata seperti itu.


"Astaghfirullah Ma, kita harus berdoa yang baik-baik. Kasihan Danial !" sahut Pak Samsul.


Di balkon rumah sakit, Pak Hamdan mencurahkan seluruh kekecewaannya pada Danial.


"Saya sudah tahu semuanya, dan saya nggak bisa mempercayai kamu lagi !"


"Saya memang salah Pak, tapi saya mohon izinkan saya untuk bisa memperbaiki diri !"


"Bukannya Bapak memperingatkan kamu waktu itu, untuk jauhi dia dan fokus sama Anna !"


"Tapi kamu masih saja melakukanya, sekarang kamu lihat sendiri akibatnya. Apakah Anna masih bisa mencintaimu setelah semua yang sudah kamu lakukan padanya ?"


"Bapak mohon kamu lepaskan dia, jika itu yang terbaik buat kalian berdua !" tegas Pak Hamdan.


Danial dibuat mematung, membayangkan hidupnya bila jauh dari Anna.


"Eh, kamu mau ke mana?" ucap Arvin menarik lengan Hanin.


"Apaan sih, lepasin nggak !"


"Kamu sadar nggak, ini semua tuh gara-gara kamu yang membuat Anna jadi koma, juga membuat Danial hancur !"


"Aku, siapa suruh naik mobil dengan kecepatan tinggi. Dan sebentar lagi dia pasti akan mati !"


"Lalu aku, bisa menjadi istri Danial satu-satunya !" ucap Hanin tertawa lepas.

__ADS_1


"Kamu ini ya, benar-benar Nenek Sihir !"


"Kamu apa, temen makan temen?"


"Diam semua, ini rumah sakit bukan tempat untuk beradu mulut !" gertak Danial.


"Untuk apa kamu kemari?"


"Aku turut berduka sama kamu, atas kejadian yang menimpa istrimu itu,"


"Sudahlah Dan, lebih baik kamu bawa dia pergi dari sini sebelum keluarga Anna menghabisi mu !"


"Ayo Han, kita pergi dari sini !"


"Sok ngatur hidup orang, awas ya kamu !" ancam Hanin pada Arvin.


Matahari terbenam, langit mulai gelap. Perlahan kedua matanya terbuka, mengarah pada laki-laki di sampingnya sambil bermuka masam.


"Alhamdulillah, Mas lega melihat Anna sudah sadar !" ucap Danial meraih tangan Anna.


"Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan di sini?" teriak Anna, melepaskan genggaman tangannya lalu menjauhkan dirinya dari laki-laki di hadapannya.


"Anna tenang ya, jangan banyak bergerak dulu !"


"Memang apa yang sudah terjadi denganku?"


"Di mana Ibu dan Bapak ku?"


"Ibu dan Bapak ada di rumah, besok giliran mereka ke sini,"


"Anna," lirih Danial mengelus kepala Anna.


"Jangan sentuh aku, kita bukan muhrim !" teriak Anna.


"Anna ini masih belum pulih, jadi nggak usah bercanda dulu ya. Lebih baik sekarang Anna istirahat lagi,"


"Aku mau pulang !"


"Anna tolong jangan ngeyel, tetap di sini !" teriak Danial.


"Tolong, tolong ada orang jahat di sini !" teriak Anna, seketika membuat tubuh Danial tersentak dan gemetar.


"Ada apa Bu, di mana orang jahatnya?" tanya Suster.


"Ini Sus, dia orang jahatnya !" tunjuk ke Danial.


"Bukan Sus, Suster tahu kan siapa saya?"


"Maaf, saya juga nggak tahu siapa Bapak,"


"Sus, saya ini suaminya !"


"Tuh kan Sus, dia ini benar-benar orang jahat buktinya ngaku suami saya !"


"Sudah Sus, bawa dia pergi dari sini sebelum mencelakai saya !" desak Anna.


"Tolong Sus, dengarkan penjelasan saya dulu. Saya ini benar-benar suami dari Ibu Anna !" tegas Danial.


"Bukan Sus, dia berbohong !"

__ADS_1


__ADS_2