My Roommate'Class

My Roommate'Class
Buku Diary Menjadi Saksi


__ADS_3

Senja


Kadang menjelma seperti dirimu


Sekejap bisa ku nikmati keindahannya


Kepergiannya meninggalkan sebuah jejak


Ke Paru-paru lalu berupa sesak


•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


Tangan yang tak sampai menjamah tubuh mu


Bibir yang tak pernah berhenti berucap keluh


Jika merindukanmu itu tidaklah cukup


Lebih baik aku mendoakan dirimu.


Danial harus kembali ke rumahnya karena tidak mau membuat istrinya lama menunggu, setelah memarkirkan mobilnya, dia berjalan perlahan mendekati pintu, sambil menarik napas panjang, mengucap salam.


Duduk di sofa menunggu berbaring di atas pangkuan istrinya. Saat mata mulai terpejam, dirinya tersentak mendengar panggilan dari arah belakangnya.


"Ada apa Mas, kenapa sampai kaget gitu melihat Anna?"


"Anna kapan pulang?"


"Mas rindu ya sama Anna, ya kan?" desak Anna membuat Danial tersenyum tipis.


"Anna yang rindu sama Mas !"


"Sudah ketahuan masih saja gengsi !"


Danial menundukkan wajahnya, lalu mencari-cari wujud istrinya yang tiba-tiba menghilang.


"Anna, Anna di mana?" teriak Danial menuju ke kamarnya.


Semua sudut rumah telah ditelusuri namun tiada juga dia temui.


Ke mana dia pergi, apa hadirnya hanya sebuah ilusi.


"Oh iya, besok adalah jadwal kamu untuk berobat, apa kamu sudah siap?" ucap Pak Hamdan sembari menaruh kopi di meja.


"Anna rasa nggak perlu pergi berobat Pak, Bu !" ucap Anna membuat Pak Hamdan dan Bu Lilis melongo.


"Karena Anna yakin seiring berjalannya waktu ingatan Anna pasti akan kembali lagi !"


"Kamu yakin bisa melakukannya sendirian?"


"Ada Tulus yang siap membantu Anna, Pak, Bu !"


Matahari terbit, langkah kakiku sempit untuk pamit


Mencari puing-puing kenangan yang hilang separuh


Membawanya pulang dengan utuh, tanpa ada perasaan rumit.


"Jaga diri baik-baik ya di sana, jangan telat makan dan istirahat yang cukup !" ucap Bu Lilis merangkul Anna.


"Iya Bu, Ibu dan Bapak juga jaga kesehatan di sini, doakan Anna bisa pulang cepat ya !"

__ADS_1


"Tulus, Ibu titip Anna di sana ya !"


"Iya Bu, Pak, saya janji akan menjaganya sepenuh hati juga segenap jiwa raga !"


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam, hati-hati di jalan ya !" ucap Bu Lilis dan Pak Hamdan melambaikan tangannya.


Sahabat suka mudah didapat namun sahabat dalam duka begitu sukar dicari.


"Berat sekali memang yang kamu jalani saat ini, tapi aku yakin kamu bisa mengatasinya ! ucap Arvin.


"Aku nggak yakin Vin, bisa menyelesaikan semua ini, kamu tahu sendiri kan kesalahan apa yang sudah aku lakukan sama dia?"


"Banyak sekali dan itu sangatlah fatal, apa mungkin dia mau memaafkan aku?"


"Memang sulit untuk mendapatkan kepercayaannya lagi, tapi nggak ada yang mustahil bagi Nya Dan, tolong kamu jangan menyerah ya !"


"Iya Vin, terima kasih karena selama ini sudah menjadi pendengar yang baik untukku !" ucap Danial memeluk erat sahabatnya.


Memikirkan sesuatu yang belum tentu ditakdirkan menjadi milik kita memang membuang waktu.


Bu Sarah memilih untuk memanjakan matanya dengan pergi ke sebuah Mall. Di sana dirinya tidak sengaja melihat Hanin tapi menggandeng pria lain.


Mencoba berpikir positif, malah terus membuat geleng-geleng kepala.


Tanpa berpikir panjang, mengabadikan momen tersebut dan pergi dari sana.


"Halo Ma, Danial mau izin pergi ke Bandung hari ini," ucap Danial di telepon.


"Oh begitu ya, pergi saja ke Bandung !"


Tubuh yang tersiram derasnya ombak pantai.


Membuka mata hatinya, bahwa keindahan bukan ada pada manusia saja, tapi panorama alam indah seperti pantai, gunung, membuatku takjub.


"Bagaimana perasaan kamu sekarang?"


"Jauh lebih baik, karena di sini aku bisa merasakan ketenangan !"


"Aku juga ikut tenang, melihat kamu kembali melepas senyum manis itu !"


"Senyumku ini tercipta karena kamu, terima kasih ya Tulus sudah membawaku kemari !"


"Jogja adalah kota ke dua yang aku impikan setelah Bali, dan kamulah orang yang berhasil mewujudkan mimpiku !"


"Bukan aku saja An yang berhasil mewujudkan mimpimu, tapi Danial juga !"


"Kita baru saja sampai, kenapa harus membicarakannya di sini?"


"Wow, keindahan alam Jogja seketika membuat kamu lupa ya !"


"Ingatkan tujuan utama kita di sini untuk apa?"


"Tentu aku masih ingat, tapi entah kenapa aku lebih senang membicarakan soal dirimu !"


"Nggak Anna, jangan lakukan itu, kamu nggak pantas jadi seorang penggoda ya !"


"Kenapa, kamu saja bisa masa aku nggak sih?" canda Anna.


Pilihanku tidak keliru memilihmu menjadi teman hidupku.

__ADS_1


Sikap ku yang tak patut untuk ditiru


Mengabaikan cinta yang tulus demi yang bulus.


Akhirnya dia bisa menginjakkan kakinya di tanah Pasundan lagi. Setelah mengurung rindu berhari-hari.


"Assalamualaikum," ucap salam Danial mengetuk pintu rumah mertuanya.


"Waalaikumussalam, Danial?"


"Maafkan Danial Bu, karena baru bisa menjenguknya lagi,"


"Anna ada di dalam kan Bu?"


"Sayangnya Anna sudah pergi," sahut Pak Hamdan.


"Pergi, pergi ke mana maksudnya Pak?"


"Pergi untuk berobat, tadi pagi dia berangkat,"


"Kalau boleh Danial tahu, ke mana Anna perginya?"


"Kamu jangan berharap bisa menyusulnya karena Anna nggak ingin ada yang mengganggunya, Bapak harap kamu bisa mengerti hal itu !" jelas Pak Hamdan.


"Saya ini masih suaminya Pak, dan saya nggak bisa melihatnya pergi sendirian !"


"Dia nggak sendirian Danial, ada Tulus yang menemaninya di sana !"


"Tulus, dia bukan siapa-siapa Anna tapi kenapa harus dia yang menemani istri saya?"


"Karena dia jauh lebih mengerti Anna, ketimbang suaminya yang nggak pernah bisa menghargainya !"


"Istighfar Pak, kita bisa bicarakan semuanya baik-baik !" ucap Bu Lilis menepuk pundak suaminya yang naik pitam.


"Danial minta maaf Pak, semua ini memang salah Danial, dan sama sekali nggak bermaksud menyakiti hati kalian semua !"


"Tolong Pak, Bu, beri Danial kesempatan untuk bisa memperbaiki semuanya !" pinta Danial yang tersedu bersimpuh di hadapan Pak Hamdan dan Bu Lilis.


"Berdirilah Danial, Bapak mohon kamu bersabar untuk Anna ya !" ucap Pak Hamdan memegang erat kedua pundak Danial.


Malam ini, Danial tidur di kamar Anna.


Menghabiskan waktu sambil membaca isi buku diary milik istrinya.


Dibukanya, halaman selanjutnya kosong.


"Danial, halaman selanjutnya ada di sini !" ucap Bu Lilis memperlihatkan sebuah buku diary di tangannya.


"Maaf ya Ibu main masuk kamar saja, karena Ibu pikir kamu belum tidur dan mungkin ini saatnya yang tepat untuk kamu mengetahuinya !"


"Iya Bu, Danial belum bisa tidur karena terus memikirkan Anna, dan iseng-iseng baca buku diary nya,"


"Anna memang sulit bercerita, dia lebih memilih menceritakan segala isi hatinya di dalam buku diary, termasuk cinta pertamanya !"


"Ibu baru tahu kalau Anna sangat mencintainya, kalau kamu ingin tahu siapa cinta pertamanya, baca !"


"Iya Bu, terima kasih,"


"Ibu pergi dulu ya, jangan lupa ditutup pintunya !"


Setelah Ibu mertuanya pergi, Danial menutup pintu kamar rapat-rapat.

__ADS_1


__ADS_2