My Roommate'Class

My Roommate'Class
Masa Lalu Danial


__ADS_3

Anna terus membuntuti Danial sampai pintu rumah. Membuat suaminya jadi risih.


"Anna tolong, jangan dekat-dekat sama Mas !" ucap Danial kesal.


"Tapi Anna maunya terus dekat dengan Mas, supaya cinta kita bertambah lengket," ucap Anna dengan senyum manisnya.


"Anna jangan bicara soal cinta deh ya, karena sampai kapanpun cinta Mas ini hanya untuk Hanin !"


"Anna tahu itu bukan?" tegas Danial.


"Jangan bergerak, Anna tetap di situ !" ucap Danial mengejutkan Anna yang terus membuntutinya.


"Kenapa sih Mas, segitu menjijikkannya ya Anna ini?"


"Iya, sangat menjijikkan !" ucap Danial lalu masuk ke dalam mobilnya.


Anna membuang wajahnya, dan mengejeknya dari belakang.


"Kasihan Anna, harusnya dia ikuti kata-kata aku untuk bercerai dengan suaminya yang nggak punya perasaan itu !" ucap Maira yang memantau Anna dari pinggir jalan.


"Aku harus pastikan Anna baik-baik saja di sana," ucap Maira menghampiri Anna di rumahnya.


Ting ..Tong ... (Bunyi bel rumah Danial)


"Tumben Mas Danial balik lagi, pasti ada yang ketinggalan nih !" ucap Anna pergi untuk melihat siapa yang berada di luar rumahnya.


"Assalamualaikum," ucap salam Maira.


"Waalaikumussalam, Maira kamu kok bisa ada di sini?"


"Ada masalah apa?"


"Kamu ikut aku," ucap Maira menarik tangan Anna ke luar rumah.


Maira mengajak Anna ke taman dekat rumahnya.


"Biasalah Ra namanya juga suami istri kan, pasti ada saja hal yang buat kita jadi bertengkar," ucap Anna menghela napasnya yang panjang.


"Orang seperti Danial itu nggak akan bisa mengerti perasaan seorang perempuan An, contohnya saat masih di sekolah dulu dia sempat buat masalah dengan Anggun,"


"Kamu ingat kan, saat itu Danial menjadi satu-satunya orang yang merusak hubungan anggun dan hilman,"


"Iya aku ingat kejadian itu, tapi maksud Danial baik juga loh,"


"Dia melakukan hal itu demi kebaikan sahabatnya, Hilman,"


"Entahlah An, aku nggak tahu mana yang benar dan salah saat itu,"


Mengetahui Hanin sudah pulang yang katanya pergi ke luar kota, Danial mengajaknya ke luar kantor.


"Hanin, sebenarnya kamu waktu itu pergi ke mana?" tanya Danial mencurigai Hanin.


"Aku kan sudah bilang kalau harus kerja ke luar kota, kenapa sih nggak percaya gitu,"


"Kamu bohong sama aku, kemarin itu libur juga besoknya,"


"Katakan Hanin kenapa harus bohong, apa yang sedang kamu sembunyikan ha?" desak Danial.


"Sebenarnya aku nggak mau menceritakan hal ini, karena pasti akan buat kamu jadi khawatir,"


"Katakan saja Han, kamu jangan khawatirkan aku,"

__ADS_1


"Iya aku bohong soal pergi kerja ke luar kota, padahal aku pergi untuk merawat Ayahku yang sedang sakit parah di sana,"


"Dia sebatang kara, hanya ada Tante ku saja tapi nggak bisa berbuat apapun,"


"Kenapa kamu nggak berterus terang saja,"


"Maaf ya aku jadi menuduh kamu yang bukan-bukan,"


"It's okay Sayang, yang penting sekarang kamu sudah tahu kebenarannya,"


"Lalu bagaimana keadaan Ayah kamu sekarang?"


"Dia masih harus tetap untuk kemoterapi, dan maaf juga karena nantinya aku akan terus meninggalkan kamu di sini,"


"Aku nggak apa-apa kok, justru aku bahagia melihat kamu yang begitu sayang sama keluarga,"


Pagi yang mencekam, terlebih dirinya mengetahui anak laki-laki nya penuh lebam di wajahnya.


"Astaghfirullah, apa yang terjadi dengan kamu, kenapa bisa babak belur seperti ini?" ucap Ibunya terkejut saat melihat wajah Nanda lebam dan berdarah.


"Tahu kenapa, semua gara-gara Ibu yang nggak mau kasih uang sama nanda waktu itu !"


"Aku punya Ibu tapi seperti nggak punya, yang nggak pernah ada untuk anaknya !" gertak Nanda.


Plak.......


(suara tamparan keras dari tangan ibunya)


"Cukup Nanda, Ibu sudah cukup sabar dengan sikap kamu seperti ini !"


"Tapi kamu belum bisa belajar untuk mengerti !'"


"Astaghfirullah apa yang sudah aku lakukan?" ucap ibunya bergetar setelah menampar keras wajah Nanda.


"Nanda jangan pergi, maafkan ibu !" teriak ibunya terus menerus hingga bangun dari mimpi buruknya.


"Istighfar bu, mimpi buruk ya?" tanya suami disampingnya.


"Astaghfirullah iya Pak, Ibu mimpi buruk," ucap ibu sambil mengelap keringatnya.


"Bapak tahu nggak Ibu bermimpi Nanda pulang dengan wajah yang memar dan banyak darah,"


"Ibu takut terjadi apa-apa dengannya Pak,"


"Bapak juga nggak habis pikir apa yang membuatnya pergi dari rumah,"


"Apa ada yang Ibu sembunyikan dari Bapak?"


"Sudah malam Pak, Ibu tidur dulu ya," ucap istrinya mengalihkan pembicaraan, dan kembali tidur.


Anna baru saja keluar dari toko buku, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyerempetnya hingga membuatnya jatuh.


"Astaghfirullah, orang itu kenapa bisa mirip dengan Abang ya?"


"Jangan-jangan orang itu memang Abang Nanda !" ucap Anna lalu menyusul rombongan warga yang sedang mengejar orang tersebut.


"Abang, Abang Nanda,"


"Ini Anna Bang, Abang jangan takut ya," ucap Anna di halaman rumah kosong.


"Anna," ucap seorang laki-laki di belakangnya.

__ADS_1


"Abang Nanda," ucap Anna menghampirinya.


"Ya Allah Abang kenapa?"


"Tolong Abang An, Abang takut dipenjara !" ucap Nanda memohon-mohon pada Anna.


Anna membawanya ke pinggiran warung, supaya tak ada yang mengetahui keberadaan Abangnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Abang, kenapa bisa seperti ini?" tanya Anna.


"Abang terlilit hutang yang sangat banyak An, dan sama sekali belum bisa membayarnya,"


"Ibu dan Bapak tahu soal ini?"


"Abang mohon jangan katakan ini sama Ibu dan Bapak ya, Abang sudah buat mereka kecewa,"


"Dan Abang nggak ingin membuat mereka semakin hancur mendengar hal ini,"


"Mungkin jalan satu-satunya Abang harus pergi jauh,"


"Nggak Bang, jangan tinggalkan Anna ya,"


"Cuma Abang satu-satunya saudara yang Anna punya, walau kadang Abang sangat menjengkelkan," ucap Anna dengan tertawa.


"Tapi Anna sayang banget sama Abang,"


Nanda memalingkan wajahnya, ia menyesal sudah sangat membenci Anna.


"Abang juga sayang sama Anna," ucap Abang Nanda memeluk Anna dengan erat.


Hati sekeras batu pun terkikis oleh air mata cinta yang tulus dari Anna untuk Abangnya.


"Anna janji akan bantu Abang sebisa mungkin untuk keluar dari masalah ini,"


"Terima kasih ya Anna, Abang nggak tahu harus dengan cara apa bisa membalasnya,"


"Sekarang, Anna hanya minta abang untuk pulang ke rumah ya,"


"Nggak Anna, Abang nggak bisa pulang,"


"Kenapa, Ibu dan Bapak begitu merindukan Abang,"


"Abang malu, apa yang akan abang katakan sama Ibu dan Bapak nanti?"


"Ibu dan Bapak pasti akan memaafkan abang, karena mereka sangat menyukai orang yang berkata jujur,"


"Percaya deh Bang sama Anna,"


"Iya Anna, Abang akan pulang,"


Hanin berdiam seorang diri di sebuah restoran, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya dan kali ini bukanlah Danial.


"Hai hanin, apa kabar?" ucap seorang wanita menghampiri Hanin yang tengah makan malam di restoran Lentera Hati.


"Kamu ngapain di sini?" ucap Hanin begitu terkejut.


"Aku bosan nih kalau harus mengawasi mu dari jauh, jadi memutuskan untuk ke sini deh !"


"Bukannya kamu sudah percayakan semua sama aku?"


"Iya itu benar, tapi biarkan kali ini aku yang bermain,"

__ADS_1


"Aku ingin melihat penderitaan Danial secara langsung, pasti lebih asyik kan?"


__ADS_2