My Roommate'Class

My Roommate'Class
Melangkah Lalu Pergi


__ADS_3

Melangkah lalu pergi


Adalah pembunuhan paling sadis


Jiwa yang telah mati


Dipaksa untuk tetap bernapas


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Suara langkah kaki itu menggetarkan hatiku.


Seketika kedua mataku tertuju pada pintu rumah, seakan mengadu rindu yang sudah berbulan-bulan digenggam.


"Ada apa Anna?" tanya Bu Lilis melihat Anna merasa ganjil.


"Ibu juga mengundang orang lain untuk makan bersama kita malam ini?"


"Nggak, emang kenapa?"


"Anna rasa ada tamu di luar Bu," ucap Anna membuat mereka saling menatap satu sama lain.


"Biar Anna saja ya yang melihatnya !"


Anna membuka pintu rumahnya, dan tidak mendapati seseorang pun di sana.


"Ternyata hanya perasaanku saja !" ucap Anna kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamualaikum !" ucap seseorang di belakangnya.


Anna membalikkan badannya, dengan mulut yang siap melahapnya.


"Tulus, jadi kamu !"


"Kenapa sih, emang kamu ngiranya tadi siapa hayo?"


"Kamu pasti mengira Danial yang datang kan?"


"Demi Allah, sama sekali nggak pernah terlintas di pikiranku !"


"Kok kamu bisa ada di sini, katanya tadi mau langsung ke studio musik !"


"Tadinya menang mau ke sana, tapi tiba-tiba di tengah jalan mobilku kempes, apes banget kan?"


"Aku rasa itu gara-gara kamu deh, karena yang paling banyak makan di sana itu kamu !" canda Tulus.


"Mana ada gitu, emang sudah saatnya ban mobil kamu kempes !"


"Loh Tulus, nggak jadi pergi ke studio musiknya?" tanya Pak Hamdan.


"Nggak jadi Pak, soalnya ban mobil kempes tadi di tengah jalan, jadi saya memutuskan untuk putar balik ke sini,"


"Oh gitu, ayo masuk kita makan sama-sama !"


"Iya Pak, terima kasih,"


"Hmm bilang saja kalau nggak mau jauh dari aku !" canda Anna.

__ADS_1


"Enak saja, kamu kali yang nggak mau jauh dari aku !"


Asam lambung Pak Samsul timbul, mendengar berita putranya ingin mengundurkan diri dari perusahaannya.


Mengetahui Papanya ada di rumah sakit, Danial harus menunda rencananya untuk ke Bandung.


"Papa kecewa sama kamu, kenapa harus memutuskan hengkang dari perusahaan ini?" ucap Pak Samsul sesekali menarik napasnya dalam-dalam.


"Papa tahu ini dari mana, Arvin?"


"Bukan, tapi dari seseorang yang sudah bekerja sama dengan kamu waktu itu !"


"Kenapa dia menemui Papa, bukan ke Danial?"


"Orang itu bilang kamu sulit dihubungi, makanya tadi pagi ke kantor mencari kamu, karena kamu juga nggak masuk kantor akhirnya Papa yang menemuinya !"


"Danial minta maaf sudah mengecewakan Papa, jujur saat itu Danial bingung sekali harus berbuat apa !" jelas Danial.


"Jujur Papa nggak habis pikir kamu bisa melakukan itu, seolah-olah menganggap Papa nggak bisa berlaku adil !"


"Perusahaan itu akan Papa berikan sepenuhnya untuk kamu dan Elvira, kalian bisa saling kerja sama mengelola perusahaan yang sudah Papa dirikan itu,"


"Iya Pa, maafkan Danial ya karena terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan !" ucap Danial mencium punggung tangan Pak Samsul.


Misi Anggun belum usai.


Kedua matanya benar-benar ingin melihat Danial hancur tanpa ampun.


"Bagaimana dengan Anna, apa pengobatannya berhasil?" tanya Pak Samsul melepaskan rangkulan Danial.


"Sebenarnya malam ini Danial mau berangkat ke Bandung, karena mendengar kabar Papa sakit akhirnya memutuskan untuk pergi besok,"


"Kalau dia masih saja mengabaikan kamu, ikuti saran Mama untuk meninggalkannya selamanya !"


"Astaghfirullah sudahlah Ma, saat ini Danial butuh doa dan dukungan dari kita, jangan terus menghakiminya !" sahut Pak Samsul.


"Kalau itu memang yang terbaik buat Danial ya Mama dukung kok, sebaliknya kalau buruk lebih baik tinggalkan saja !" jelas Bu Sarah.


"Danial, kamu harus bisa meyakinkan Anna untuk hidup bersama-sama lagi ya !" ucap Pak Samsul.


"Semoga berhasil ya !" ucap Bu Sarah tersenyum simpul.


Matahari pagi tertutup awan.


Padahal seseorang sudah berjanji menjemputnya, mengajak pergi jalan-jalan.


"Halo Tulus, aku rasa kita harus tunda dulu pergi ke toko bukunya ya !"


"Kamu lihat sendiri deh, langit pagi ini mau runtuh !"


"Kenapa kamu khawatir dengan hujan, aku malah khawatir Danial datang dan memisahkan kita berdua !"


"Apaan sih, dia sendiri nggak tahu aku ada di sini jadi kamu nggak perlu khawatir soal itu ya !"


"Baiklah Tuan Putri, besok ya kita pergi jalan-jalan !"


"Aku nggak mau berjanji, biar cuaca yang menjawabnya besok !" canda Anna menutup teleponnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum !" ucap salam seorang wanita berdiri di depan pintu rumah Anna.


"Waalaikumussalam, Hanin?" sahut Bu Lilis.


"Pagi Tan, bagaimana kabar Tante dan Om?"


"Seperti yang kamu lihat sekarang, ada maksud apa kamu datang ke sini?" ucap Bu Lilis menatap tajam Hanin.


"Hanin kemari ingin membicarakan sesuatu dengan Om, dan Tante !" ucap Hanin menundukkan wajahnya.


"Duduklah, mau bicara soal apa?"


"Saya dengar, Anna sakit ya Tan?"


"Saya menyesal mengetahui hal itu, tapi saya lebih menyesal lagi jika nggak pernah memberitahu soal ini !"


"Jangan bertele-tele lagi, katakan dengan cepat !"


"Saya dan Danial sudah lama saling mencintai, dan kami ingin segera melangsungkan pernikahan ini, untuk itu Hanin minta sama Anna agar mau melepaskan Danial !"


"Kamu benar-benar perempuan yang nggak tahu malu ya, sahabat macam apa kamu ini yang tega merebut suami sahabatnya sendiri !" teriak Bu Lilis membuat Anna beranjak dari tempat tidurnya.


"Ibu kenapa teriak-teriak gitu ya, aku harus tahu apa yang terjadi !" ucap Anna menghampiri Ibunya.


"Astaghfirullah, kunci kamar aku taruh di mana ya?"


"Dengar ya, perempuan seperti kamu nggak pantas mendapatkan belas kasihan dari Anna !"


"Sabar Bu, istighfar !" ucap Pak Hamdan.


"Lebih baik kamu pergi dari sini, saya nggak mau kesehatan Anna jadi terganggu !" imbuh Pak Hamdan meminta Hanin pergi dari rumahnya.


"Akhirnya ketemu juga kuncinya !" ucap Anna, berhasil membuka pintu kamarnya.


"Pak, Bu, apa yang terjadi di sini?"


"Siapa yang datang tadi?" tanya Anna.


"Nggak ada Anna, Ibu cuma kesal saja sama Bapak !" ucap Bu Lilis memalingkan wajahnya.


Kedua tangannya diborgol, sedang rindunya belum terlepas.


Dua orang laki-laki berseragam polisi membawanya ke kantor polisi.


Berada di dalam ruang interogasi, membuatnya sesak napas. Bergerak saja tidak mampu, apalagi berteriak.


"Katakan dengan jujur, apa motif anda melakukan perbuatan pencemaran nama baik ini?" tanya Pak Polisi.


"Maaf Pak, Saya benar-benar nggak tahu maksud Bapak apa?"


"Saya melakukan perbuatan pencemaran nama baik, pada siapa?"


"Pada sebuah perusahaan yang sudah anda setujui waktu itu bersama korban !"


"Saya nggak tahu sama sekali Pak !"


"Tapi di dalam surat persetujuan ini tercantum nama dan tanda tangan dari saudara Danial Syahreza, apa benar itu nama Bapak?"

__ADS_1


"Iya itu nama saya Pak, tapi saya nggak tahu letak salah saya di mana dalam hal ini?"


__ADS_2