
"Hanin, aku nggak menyangka kamu masih mau menemui ku lagi," ucap Anna begitu bahagia melihat sahabatnya mau menemuinya setelah kesalahpahaman terjadi.
"Kamu sendirian ya, nggak ajak Maira atau Livia gitu?" tanya Anna.
"Kamu tahu kan aku kemari bersama Danial, suamimu itu?"
"Oh iya?"
Anna menyiapkan makanan dan minuman untuk Hanin. Melihat itu Danial merasa sangat bersalah, istrinya begitu baik memperlakukan Hanin.
"Ayo dimakan Han, sengaja aku malam ini buat masakan ini karena Hanin sangat menyukainya,"
"Terima kasih untuk makanannya ya,"
"Sayang, kamu mau ini nggak?" tanya Hanin pada Danial membuat Anna bertanya-tanya.
"Aku nggak salah dengar nih, kamu panggil suamiku dengan sebutan sayang?" tanya Anna pada Hanin.
"Ups, aku keceplosan ya,"
"Mbak Anna ku sayang, Danial ini selain suamimu dia juga pacarku !"
Seketika raut wajah Anna yang sumringah berubah menjadi masam. Suasana menjadi tegang.
"Bukan pacar, tapi kamu adalah perebut suami orang !" ucap Anna dengan tegas.
"Perebut, kamu yang sudah merebutnya dariku,"
"Danial sama sekali nggak cinta sama kamu, cintanya itu hanya untukku saja, ya kan Sayang?" ucap Hanin menatap wajah Danial yang hanya terdiam tanpa sepatah katapun dari mulutnya.
"Baiklah, tapi kenyataannya aku yang saat ini hidup bersama Mas Danial dan bukan kamu?" ucap Anna lalu pergi ke kamarnya.
"Kamu lihat sendiri kan kelakuannya, dia sama sekali nggak berubah !" ucap Hanin begitu kesal.
Anna menahan air matanya yang terus memaksa untuk jatuh. Ia telah membuat keputusan yang salah.
"Mengapa harus dia yang kamu cintai?" ucap Anna menahan tangisannya.
"Dia adalah sahabatku, tapi ternyata dia juga yang menghancurkan rumah tangga ku,"
"Nggak anna, kamu nggak boleh lemah, kamu pasti kuat !"
Tiba-tiba telinga Anna berdengung hebat, kepalanya terasa dipukul oleh benda yang teramat berat, jantungnya pun berdegup kencang.
"Tenanglah anna, jangan sampai stress !" ucap Anna lalu membaringkan tubuhnya di atas dipan.
Hanin telah pulang, Danial menuju ke kamarnya untuk menengok istrinya itu.
Ternyata Anna sedang tertidur pulas.
Anna sedang mencuci piring, dan gelas setelah mereka selesai sarapan pagi. Namun tiba-tiba Danial menghampirinya dengan raut wajah yang begitu kesal, yang tertahan dari semalam.
"Mas nggak suka ya dengan sikap Anna semalam terhadap Hanin !"
"Apa Mas, justru Anna yang nggak suka dengan dia yang sudah berani merebut suami Anna !"
"Ini semua Anna yang salah, kalau saja pernikahan ini nggak terjadi pasti sekarang Mas sudah bahagia hidup bersama Hanin !"
"Anna yang salah, semua ini sudah menjadi suratan Mas !"
"Dan ini bukanlah sebuah kebetulan, tapi memang Allah lah yang mengaturnya untuk kita !"
"Sekarang dia sudah tahu, kalau Anna adalah istri Mas, tapi masih saja kan berhubungan dengan Mas?"
"Jangan pernah salahkan Hanin, atau nggak Mas akan buat Anna menyesal !"
"Anna nggak ngerti bagaimana jalan pikir Mas,"
__ADS_1
"Harusnya dia berpikir bahwa apa yang dilakukannya ini salah, aku adalah sahabatnya, apakah pantas berbuat demikian?"
"Ini bukan soal dia teman, sahabat, tapi soal cinta, dan Anna nggak berhak untuk menghakiminya,"
"Iya Anna tahu, tapi cinta kalian itu salah !"
"Kalian bercinta tapi yang dilarang oleh agama, ingat Mas kamu ini sudah punya istri yang perlu diberikan kebahagiaan, bukan penderitaan !" ucap Anna lalu pergi meninggalkan Danial.
Danial benci harus mengawali paginya dengan hati yang kacau.
"Maaf Vin, hari ini kepalaku pusing sekali,"
"Ada apa, masalah istrimu lagi?"
"Iya, dia memang selalu membuat masalah denganku !"
"Semalam dia berani mengatai Hanin di depan aku, sedangkan ini semua adalah salahnya !"
"Anna dan Hanin sudah bertemu, maksudnya Anna tahu kalau kalian menjalin hubungan?"
"Iya, semalam Hanin di rumah ku,"
"Jelas ini salahmu, nggak punya hati kamu ya sampai harus membawa hanin ke rumahmu dan bertemu dengan istrimu,"
"Pantas saja Anna begitu marah,"
"Hanin yang memaksaku untuk bertemu dengan anna, dan aku nggak bisa berbuat apapun,"
"Itulah akibatnya kalau kamu nggak mau mendengarkan aku,"
Untuk merilekskan pikiran dan hatinya, Anna memutuskan untuk pergi ke Mall seorang diri.
"Anna...," teriak seorang wanita dari jauh memanggil nama Anna.
"Maira, kamu kok bisa ada di sini dengan siapa?"
"Nggak dong, aku sendirian di sini,"
"Kamu lagi belanja ya, sendirian pasti kan?"
"Iya, kenapa?"
"Aku mau ajak kamu untuk ngobrol sebentar saja ya,"
"Kamu ini kenapa sih An, dari saat kita ketemu waktu itu aku lihat kamu seperti ada masalah?"
"Nggak ada kok, cuma perasaan kamu saja kali Ra,"
"Yakin nih kamu nggak mau cerita sama aku?"
"Sebenarnya aku ingin menceritakan semua ini Ra, tapi aku nggak mau jadi beban untukmu. Batinnya. Aku cuma mau bilang kalau aku baik-baik saja," ucap Anna.
"Aku sudah yakin kalau kamu nggak akan pernah mau cerita, tapi nggak masalah kok karena nantinya kamu akan cerita juga,"
Anna mengalihkan perhatiannya. Ia takut Maira terus menduga-duga.
Nanda berteriak dan memberontak pada Ibunya.
"Cepat Bu berikan uangnya sama Nanda, kalau nggak," ucap Nanda di depan kamar ibunya.
"Kalau nggak kamu mau apa, ayo katakan !"
"Kenapa sih Ibu itu pilih kasih sama Nanda, giliran Anna disayang-sayang !"
"Apa kamu bilang, kamu tahu kan Anna itu adikmu !"
"Tidak sepantasnya kamu bicara seperti itu !"
__ADS_1
"Tapi ibu lebih menyayangi dia daripada Nanda, sejak kecil dia selalu dimanja bahkan sampai dewasa !"
"Nanda, hanya dijadikan tumbal untuk menuruti semua kemauan Ibu !"
"Cukup nanda, sekali lagi kamu bicara Ibu nggak akan segan-segan mengusir kamu dari rumah ini !"
"Nanda nggak perlu diusir, karena Nanda akan pergi dari rumah ini !"
"Astaghfirullah apa salahku ya Allah, kenapa Nanda bisa menjadi orang yang keras hatinya seperti ini?" ucap Ibunya sambil mengelus dada.
Danial pulang dengan hati yang jauh lebih tenang. Mungkin sekali-kali dia harus mengalah pada istrinya.
"Assalamualaikum, Mas pulang Anna," ucap salam Danial.
"Waalaikumussalam," ucap Anna lalu pergi ke kamarnya.
Danial pun dibuat bingung dengan sikap Anna yang tidak seperti biasanya.
"Anna kenapa, sedang sakit ya?" tanya Danial saat menyusul Anna ke kamar.
"Nggak apa-apa kok Mas, Anna tadi sudah masak dan Mas bisa makan duluan ya,"
"Oh iya Mas mau minta maaf soal kemarin, bukan bermaksud mau menyakiti hati Anna,"
"Iya Mas, nggak apa-apa kok,"
"Kalau gitu Mas mau makan dulu ya,"
"Sengaja atau nggak disengaja kamu sudah melukai hatiku Mas, terlebih saat tahu kalau orang yang kamu cintai itu sahabatku sendiri," ucap Anna seorang diri.
Setelah makan malam, Danial pun hendak meluruskan tubuhnya ke atas dipan. Namun Anna menghentikannya. Dan menyuruhnya untuk bangun.
"Ada apa Anna?"
"Ini Anna buatkan susu kunyit untuk Mas,"
"Susu kuning, memang ada?"
"Bukan kuning mas tapi kunyit, ya memang ada warna kuningnya karena telah dicampur dengan kunyit,"
"Ayo diminum !"
"Berarti ini minuman jamu dong?"
"Iya, supaya Mas jadi sehat dan kuat !"
"Nggak ah, Mas nggak suka sama jamu !" tegas Danial.
"Mas ini enak loh, dikit saja ya," desak Anna.
"Nggak Anna, Mas kan sudah bilang nggak,"
Anna pun memasukkan susu kunyit itu ke mulut Danial dengan paksa yang sedang menganga lebar.
glek glek glek
"Enak kan Mas, besok Anna buatkan lagi ya,"
"Nggak perlu Anna, cukup sekali saja,"
"Baiklah Mas, maafkan atas segala kesalahan Anna hari ini ya,"
"Assalamualaikum, selamat malam,"
Danial mengusap bekas susu kunyit yang tersisa di bibirnya.
"Waalaikumussalam, selamat malam juga,"
__ADS_1