
Setelah Anna membantu ibunya mencuci piring di dapur, ia pergi untuk melihat suaminya.
Anna masih penasaran, apa yang membuat Danial begitu tertawa dan tak beranjak sama sekali dari meja makan.
"Kenapa berhenti tertawa Mas, Anna masih mau melihat tawa itu, tampak manis sekali," ucap Anna tiba-tiba membuat Danial terkejut.
"Aku mau pergi ke teras rumah dulu,"
"Anna ikut ya Mas, sekalian mau sirami tanaman-tanaman yang ada di depan rumah,"
Anna menyirami tanamannya, sedangkan Danial masih saja sibuk dengan telepon seluler nya.
"Mas bisa bantu Anna nggak?"
"Kamu nggak tahu apa aku lagi sibuk ini?"
"Bukannya Mas Danial cuti kerja ya?"
"Lusa aku sudah mulai masuk kerja, jadi nggak bisa berlama-lama di sini,"
Anna mengangguk dan pergi menyirami tanamannya kembali.
Keduanya masuk ke dalam kamar, namun Danial menyuruh Anna untuk duduk di atas dipan mendengarkan apa yang akan ia katakan.
"Ada apa Mas?"
"Aku nggak ingin kamu terus berpikir yang bukan-bukan tentangku, dan ini saatnya kamu tahu kebenarannya," ucap Danial dengan terbata-bata.
"Kebenaran kamu mencintai orang lain kan Mas?" tanya Anna membuat Danial bertanya-tanya.
"Bagaimana kamu tahu itu, sedangkan aku belum mengatakannya?"
"Itu bukan menjadi masalah yang besar untuk Anna, Mas,"
"Tapi Anna mau Mas tetap menjalankan peran sebagai suami yang baik,"
"Dan Anna juga ingin Mas mau menuruti beberapa permintaan Anna ini, kalau masih mau berhubungan dengan perempuan itu,"
"Oke An, aku akan menuruti apa permintaan kamu itu,"
Anna menarik napasnya dalam-dalam.
"Aku ingin setiap hari kita bisa makan bersama dalam satu meja, tidur juga bersama, perlu juga saling memanggil dengan sebutan sayang di manapun berada bukan lagi aku dan kamu,"
"Cuma itu, bisalah," ucap Danial dengan enteng.
"Tapi Mas juga ada permintaan sama Anna, jangan sampai ada yang tahu soal ini termasuk kedua orang tua kita,"
Anna mengangguk mengerti, walau hatinya menolak. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat suaminya mengerti bahwa begitu berartinya kehadirannya.
"Iya Mas, Anna tidur dulu ya," ucap Anna
"Assalamualaikum, selamat malam,"
"Waalaikumussalam, selamat malam juga,"
Keduanya tidur saling membelakangi diri.
__ADS_1
"Bu, Pak, Saya dan Anna memutuskan untuk pindah rumah,"
"Rasanya terburu-buru sekali, Ibu dan Bapak nggak keberatan apabila kalian tinggal di sini, lagi pula hanya kita berdua di rumah ini ya kan pak," ucap Ibu Anna.
"Iya kalian tinggal lah di sini lebih lama,"
"Maaf Pak, Bu, ini sudah menjadi kesepakatan dari kami,"
"Ya kalau itu menurut kalian baik kami nggak bisa berbuat apa-apa, Ibu dan Bapak hanya berdoa semoga kebahagian selalu menyertai kehidupan rumah tangga kalian,"
"Terima kasih Bu, Pak,"
Rumah impian Danial yang ia bangun untuk keluarga kecilnya bersama orang yang dia cintai telah sirna, dan harus berlapang dada membaginya dengan orang yang tak ia cintai.
"Rumah yang sangat indah, banyak sekali barang antik di dalamnya, kira-kira apa ya yang kurang?" ucap Anna saat memasuki rumah Danial.
"Jangan menambah apalagi mengurangi apapun yang ada di sini, mengerti kan?"
"Bukankah ini rumah kita?"
"Ha kita, ini adalah rumahku dan kamu nggak berhak atas apapun di rumah ini !"
"Mas, kita ini kan suami istri dan sudah sepantasnya apa yang jadi milk kamu itu menjadi milikku juga, begitu sebaliknya,"
"Mas nggak perlu khawatir, Anna akan membayar lunas biaya rumah ini, dengan pengabdian anna terhadap mas sebagai seorang istri,"
"Itu saja?"
"Itu sudah seumur hidup Anna, Mas," ucap Anna lalu pergi menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Esok paginya, terlihat begitu semangat Danial menjalani hari ini.
"Tunggu Mas, ada satu lagi permintaan dari Anna"
"Ada lagi?"
Anna mengangguk.
"Setiap berangkat kerja Anna sebagai seorang istri akan selalu mencium tangan Mas, dan Mas sebagai seorang suami juga akan selalu mencium kening Anna,"
"Baiklah Anna sayang, Mas berangkat kerja dulu ya,"
"Hati-hati di jalan ya Mas Sayang," sambil mencium punggung tangan Danial.
Danial pun mengecup kening Anna dengan begitu kilat.
{Di kantor CV. Mahardhika Putra Group}
"Pengantin baru kenapa bisa ada di sini nih?" tanya Arvin menggoda sahabatnya yang datang dengan raut wajah kesal.
"Kamu jangan seperti Anna ya, yang bikin kesal saja !"
"Datang marah-marah, sambutlah hari dengan bahagia, hati yang bersih pikiran jernih, jangan seperti anak SD yang merengek lupa nggak dikasih uang jajan sama ibunya,"
"Kamu tahu kenapa aku kesal hari ini, baru beberapa hari jadi istri sudah banyak aturan yang ini, itulah,"
"Namanya juga perempuan pasti banyak maunya, kalau kita ikhlas menerimanya akan bernilai pahala dan,"
__ADS_1
"Oh iya hari ini dia masuk kantor nggak?"
"Kalaupun ada jangan macam-macam ya, ingat kalau kamu sekarang sudah jadi suami orang,"
"Nggak ada yang perlu ku takuti Vin, karena semua sudah mendapat persetujuan dari anna,"
"Maksudnya gimana tuh, jangan bilang kamu sudah beri tahu anna soal perempuan ini,"
"Memang iya, dan dia sama sekali nggak marah, apalagi cemburu,"
"Beruntung ya kamu mendapatkannya,"
"Beruntung, dia yang beruntung mendapatkan aku yang selain tampan, kaya, juga pintar,"
"Iya semuanya memang kamu dapatkan, sayangnya itu semua milik allah,"
"Nggak masalah, yang penting sekarang aku tampan, juga kaya," ucap Danial tertawa, hingga tak sadar ada seorang wanita yang menghampiri mereka.
"Hai Dan, hai juga Vin," ucap seorang wanita berpenampilan menarik.
"Aku dengar kamu sudah menikah ya Dan?"
"Hai juga, iya benar aku memang sudah menikah,"
"Menikah tapi kok diam-diam?"
"Maaf yah, kamu juga sih yang nggak balas pesan dan telepon dariku,"
"Oh iya, sorry handphone aku baru saja di servis,"
"Oh pantesan, aku kira kamu kenapa-kenapa,"
"Aku pergi ke ruangan kerja dulu ya, sampai bertemu lagi," ucap Arvin meninggalkan mereka berdua.
"Han, kamu tahu nggak aku begitu merindukanmu,"
"Apa masih ada rindu itu untukku, bukankah saat ini hanya tentang istrimu saja?"
"Kamu nggak tahu kalau aku menikah ini karena dijodohkan, dan parahnya lagi dijodohkan dengan orang yang sama sekali nggak aku cintai,"
"Really, masih zaman ya sekarang soal perjodohan itu,"
"Entahlah, dan orang yang aku cintai selama ini itu hanya kamu han,"
"Kamu itu nggak berubah ya dari dulu, selalu suka bermulut manis,"
"Apa selama ini aku pernah berkata bohong sama kamu, nggak kan?"
"Nggak ada gunanya lagi bicara soal cinta, kamu saja saat ini sudah berdua dan,"
"Kita masih bisa kok menjalaninya, dan kamu nggak perlu khawatir ya,"
"Kamu mau aku jadi orang ketiga dalam rumah tanggamu gitu, apa kata orang-orang nanti dan?"
"Aku nggak peduli apapun yang mereka katakan tentangku, yang aku mau saat ini hanya bisa bersamamu,"
"Lalu bagaimana dengan istrimu?"
__ADS_1
"Dia sudah setuju dengan apapun yang akan aku lakukan, dan nggak akan pernah mau ikut campur,"
"Mana mungkin hati seorang istri bisa menerima dengan suka hati suaminya mencintai wanita lain. Batinnya. Aku nggak bisa menjawabnya sekarang dan, karena banyak sekali kerjaan hari ini, sampai ketemu lagi ya," ucap Hanin meninggalkan Danial seorang diri di sana.