
Terik matahari yang menyengat, mengantarkan Hanin pada seorang wanita paruh baya berkerudung di jalanan kompleks rumahnya.
"Assalamualaikum Tante !" ucap salam Hanin menghampiri Mama Danial yang pulang dari toko.
"Waalaikumussalam, kamu Hanin teman satu kelasnya Danial dulu ya?" tanya Mama Danial begitu pangling melihat penampilan Hanin.
"Iya, ternyata Tante masih ingat ya sama Hanin,"
"Tentu masih ingat dong,"
"Oh iya ada keperluan apa Hanin di sini?"
"Begini Tan, Hanin mau undang Tante Sarah dan Om Saiful untuk datang di acara syukuran rumah baru Hanin,"
"Alhamdulillah, jadi kamu tinggal di sini juga?"
"Iya Tan, supaya bisa dekat dengan calon Mama dan Papa mertua,"
"Maksud Hanin?"
"Hanin cuma bercanda kok Tan,"
"Oh gitu, jadi Hanin sudah tahu kalau Danial sudah menikah?"
"Iya Tan, tapi Tante tahu nggak kalau Danial itu ternyata nggak mencintai istrinya?"
"Kamu tenang saja, cinta akan ada kalau mereka sudah sama-sama terbiasa,"
Hanin begitu ingin mengatakan semua pada Mama Danial, tentang hubungannya dengan Danial. Namun ia rasa ini bukan waktu yang tepat. Mungkin harus mencari cara lain untuk tak lagi merahasiakan semua pada kedua orang tua Danial.
"Kalau begitu Hanin pamit ya Tan, salam untuk Om Saiful ya Tante,"
"Iya Hanin, terima kasih ya,"
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam,"
Pak Saiful ditemani secangkir kopi dan pisang goreng dalam gazebo, di taman rumahnya.
Lalu istrinya menghampirinya dengan wajah yang begitu gelisah.
"Pa, Mama ada berita yang sangat penting !"
"Berita apa Ma, pagi-pagi sudah buat Papa panik aja,"
"Barusan Mama bertemu dengan Hanin di depan rumah kita,"
"Oh iya, lalu di mana dia sekarang?"
"Dia sudah pulang, niatnya cuma ingin mengundang kita ke acara syukuran rumah barunya yang ada di gang sebelah,"
"Akhirnya ya dia bisa memiliki rumah sendiri, setelah bertahun-tahun dia kerja banting tulang untuk keluarganya,"
"Kok Papa bisa tahu semua tentang dia?"
"Papa nggak lagi bermain curang kan sama Mama?"
"Mama jangan berpikir yang buruk dulu sama Papa, Papa tahu Hanin karena dia bekerja di kantor kita,"
"Oh seperti itu, pantas penampilannya jauh berbeda dari yang dulu,"
"Dulu Mama lihat dia itu sangat sederhana, baik dalam berpakaian dan sikapnya juga,"
"Lalu apa yang Mama cemaskan?"
"Mama merasa Hanin ada sesuatu dengan Danial,"
"Mama jangan berprasangka buruk dulu ya, nanti jatuhnya malah jadi fitnah,"
"Papa nggak tahu kenapa Mama bisa punya pikiran seperti ini pada Hanin, bisa-bisanya dia tadi bilang calon Mama dan Papa mertua sama Mama tadi pagi !"
"Ya walau dia bilang hanya bercanda, tapi mama merasa ada yang dia sembunyikan,"
"Mama mau tanya sama Papa nih, apa Papa pernah melihat Hanin dan Danial dekat saat di kantor?"
"Soal itu Papa nggak tahu Ma, tahu sendiri kan Papa sibuk dengan pekerjaan di kantor dan mana sempat untuk cari tahu masalah apa yang terjadi dengan karyawan-karyawati Papa,"
"Kita harus tetap positif thinking Ma, supaya semua baik-baik saja,"
Sentuhan hangat, dan kata-kata manja dari Hanin membuat Danial sulit untuk menahan diri. Terlebih saat ia membutuhkan bahu untuk tempat keluh kesahnya.
"Sayang, janji ya setelah pulang dari kantor main ke rumah ?"
"Iya, aku janji,"
Langit jingga mewarnai hari Hanin untuk membuat Danial semakin hanyut dalam cintanya.
Ia menutup pintu rumahnya rapat-rapat, dan memeluk tubuh Danial dari belakang dengan sangat erat.
"Sayang, aku nggak mau jika harus jauh dari kamu," ucap Hanin masih memeluk erat tubuh Danial.
"Han, aku juga nggak mau jauh dari kamu," ucap Danial melepaskan pelukan Hanin, dan meraih kedua tangannya.
__ADS_1
"Sekarang aku sudah siap Dan !" ucap Hanin membelai lembut wajah Danial.
"Aku sudah janji sama kamu untuk memberikan semua yang aku punya, termasuk harga diri aku ini,"
"Hus, kamu jangan bicara seperti itu !"
"Aku memang mencintai kamu, tapi aku nggak akan pernah melakukannya,"
"Karena aku sangat menghormatimu,"
"Lalu sampai kapan aku harus menunggunya?"
"Sabarlah menanti, aku janji akan tetap setia sama kamu,"
"Janji ya?"
Ting...tong... (bel rumah Hanin berbunyi)
"Acaranya malam ini kan, kenapa ada orang yang datang ke rumah kamu?"
"Aku cek dulu ya Sayang, tapi kamu ikut ya takut ada apa-apa,"
Mama dan Papa Danial sudah datang, dan menunggu di luar rumah Hanin untuk dibukakan pintunya.
"Selamat datang Om, Tante !" ucap Hanin saat membuka pintu rumahnya.
"Assalamualaikum Hanin,"
"Siapa yang datang?" tanya Danial yang menyusul Hanin.
"Danial, kamu ada di sini?" tanya Mamanya terkejut saat melihat putranya itu ada di sana juga.
Hati Mama Danial semakin terguncang ketika kedua matanya tertuju pada Hanin saat kenakan pakaian yang terlihat begitu kekurangan bahan.
"Silakan masuk Om, Tante,"
"Nggak perlu, Mama cuma ingin kalian jujur !"
"Apa yang sudah kalian perbuat?"
"Seperti yang Tante lihat saat ini, suami orang dengan perempuan lain dalam satu rumah," ucap Hanin membuat Danial kesal.
"Mama tenang dulu ya, Danial dan Hanin nggak melakukan apapun,"
"Sayang, kenapa sih kamu harus terus bohong sih?"
"Sudah saatnya Sayang mereka tahu dengan hubungan kita ini, benar bukan?"
"Diam, kamu jangan menambah masalahku tahu?"
"Tega kamu menghancurkan hati Mama !"
"Ayo Pa, kita pergi dari sini !"
"Ma, Pa, Danial bisa jelaskan semua ini !"
"Sayang, it's okay masih ada aku di sini,"
"Ini rencana kamu kan?"
"Kamu ini kenapa sih?"
"Karena aku bosan terus-menerus bersembunyi dari mereka, wajar dong mereka tahu tentang hubungan kita?"
"Apa sebenarnya kamu ini memang nggak cinta sama aku?"
Makanan telah sedia di atas meja makan, namun yang dinanti belum juga datang.
Hati menjadi gelisah, merana menunggu pesan yang tak kunjung dibalas olehnya.
"Apa Mas Danial lembur kerja ya, tapi kenapa nggak kasih tahu Anna dari awal?"
Ting...tong...(bel rumah berbunyi)
"Itu pasti Mas Danial !" ucap Anna lalu pergi untuk membuka pintu rumahnya.
Wajah lusuh, mata begitu bengkak, juga pakaian yang kusut mengiringi hati Danial yang hancur.
"Apa yang terjadi Mas?"
"Hati Mas sakit telah mengecewakan mereka Anna !"
Anna mencoba menanyakan suaminya yang ada berada di kamar, ia tak ingin Danial terus berlarut dalam kesedihannya.
"Ini Anna buatkan teh hangat biar mas jauh lebih tenang,"
"Terima kasih Anna," ucap Danial sambil menyeruput teh buatan Anna.
"Coba Mas ceritakan pelan-pelan apa yang sebenarnya terjadi?"
"Mama dan Papa sudah tahu tentang hubungan Mas dan Hanin, mereka begitu kecewa saat mengetahuinya,"
"Kok bisa Mas, mereka tahu ini dari mana?"
__ADS_1
"Pulang dari kantor Hanin mengajak Mas untuk mampir ke rumah barunya yang nggak jauh dari rumah Mama, disitulah mereka tahu yang sebenarnya,"
"Mas bingung harus berbuat apa lagi,"
"Mas jangan khawatir ya, Anna akan selalu ada di samping Mas dalam keadaan apapun itu," ucap Anna menggenggam tangan Danial.
Di Padang pasir yang luas, seorang wanita berpakaian ala Timur Tengah sedang berlarian, ternyata ia sedang dikejar oleh seorang lelaki bertubuh tinggi, wanita itu adalah Anna dan yang mengejarnya adalah Tulus.
"Lepaskan aku !" teriak Anna.
"Hei, jangan sakiti dia !" ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul diantara mereka.
Laki-laki itu Danial.
"Kalau kamu berani menyentuhnya lagi, aku akan habisi dirimu !' ucap Danial membentangkan pedang yang begitu tajam.
"Kamu yang selalu menyakitinya, jadi kamulah orang yang harus aku bunuh !" ucap Tulus lalu menyerang Danial.
JLEB
Pedang milik Tulus menancap di tubuh Danial. Dan ia begitu bangga telah mendapatkan Anna.
"Jangan, jangan sakiti dia !" teriak Danial bangun dari tidurnya.
"Kenapa Mas?" tanya Anna yang juga terbangun dari tidurnya karena terkejut.
"Mas bermimpi Tulus membunuh Mas !"
"Tulus, kenapa bisa ada Tulus?"
"Makanya Mas, kalau mau tidur tuh jangan lupa untuk baca doa,"
"Jangan juga tidur dalam keadaan sedih, karena nanti bisa bermimpi buruk,"
"Nggak perlu Mas khawatir sampai harus terbawa mimpi seperti ini, Anna akan tetap menjadi istri Mas !" ucap Anna dengan manja.
Danial mengelap keringatnya yang terus bercucuran. Sambil menatap wajah istrinya.
Pagi yang ceria, seceria wajah anna setelah membersihkan diri, dan merapikan tempat tidurnya, ia begitu bahagia telah mendapatkan malam pertamanya bersama Danial semalam. Sudah lama ia menanti hal itu, yang dirasa sangat begitu sulit. Namun akhirnya bisa terlaksana juga.
"Aku senang sekali karena semalam adalah malam pertama kita berdua !"
"Kalau aku nggak tahu dia terbangun malam hari, pasti ini nggak akan terjadi,"
Masalah satu belum selesai, lalu timbul masalah baru.
Karena begitu jenuh dirasakan, cafe panas dinginlah yang bisa memecahkan masalahnya.
"Ada apa Dan, kenapa terlihat begitu stress sekali?" tanya Arvin.
"Bagaimana aku nggak stress Vin, semalam Mama dan Papa sudah tahu hubungan aku dan Hanin, ditambah lagi soal Anna !"
"Maksudnya Anna yang kasih tahu soal hubunganmu dengan Hanin?"
"Bukan, semua ini gara-gara Hanin yang tiba-tiba mengundang Mama dan Papa ke acara syukuran rumah barunya, dan dia nggak kasih tahu aku sama sekali,"
"Lalu bagaimana dengan Anna?"
"Semakin sulit aku untuk bisa melepaskannya Vin,"
"Karena kamu sangat mencintainya bukan?"
"Bukan itu, aku sudah berhubungan badan dengan dia,"
"Hahaha, kenapa kamu jadi khawatir?"
"Bukannya itu memang kewajiban kamu sebagai seorang suami, memberikan nafkah batin untuk seorang istri,"
"Entahlah aku begitu pusing memikirkan hal ini,"
Dengan langkah pelan, Danial mengetuk pintu rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap salam Danial.
"Waalaikumussalam,"
"Oh iya Mas, Anna sudah siapkan air hangat untuk kita mandi bersama,"
"Apa?" tanya Danial membuka matanya lebar-lebar.
"Anna tunggu ya," ucap Anna lalu pergi menuju ke kamarnya.
"Nggak bisa nih kalau terus-menerus seperti ini. Lama-lama aku bisa sakit jantung !" ucap Danial menghembuskan napasnya dalam-dalam.
Anna tersenyum memandang wajah suaminya yang terlihat begitu cemas.
"Makan yang banyak ya Mas, biar semakin kuat !"
"Nggak Anna, nanti kalau Mas gendut bagaimana?"
"Mau kurus atau gendut, Anna akan tetap suka dengan Mas !"
"Gimana Mas, apa sudah bicara sama Mama dan Papa soal waktu itu?"
__ADS_1
"Mas nggak tahu harus bilang apa sama mereka, pasti mereka nggak mau bertemu dengan Mas,"
"Anna tahu harus berbuat apa supaya mereka mau memaafkan Mas !"