
Seandainya rumah tangga itu dibangun di atas tiang.
Tiangnya bernama tanaashuh (saling memberi masukan), tasyaawur (saling meminta saran), dan mu'alajatil akhta' (memperbaiki kekeliruan) dan ini dilakukan dalam forum keluarga (antara suami istri) penuh dengan rasa cinta dan penuh dengan ketenangan, tidak direspon dengan emosi tentu rumah tangga- rumah tangga ini akan diliputi kebaikan, ketenangan, dan kesuksesan.
(Ustadz Dr. Aris Munandar, S.S., M.P.I.)
Elvira semakin dibuat penasaran dengan Mamanya yang terus saja membicarakan kakak iparnya itu. Ia belum bisa menemui Anna, karena harus menyelesaikan tugas kuliahnya dulu sebelum akhirnya kembali lagi ke London.
Elvira pun meminta izin pada Mama dan Papanya untuk berkunjung ke rumah Kakaknya, Danial.
"Percuma juga kamu ke sana, karena nggak akan ada orang," ucap Mamanya.
"Biar El telepon Kak Anna ya Ma, siapa tahu ada di rumahnya,"
"Nggak perlu, kamu tetap di rumah jangan pergi ke mana-mana !"
"Ayolah Ma, El cuma ingin bertemu Kak Danial sebelum kembali ke London,"
Bu Sarah tidak bisa menolak keinginan Elvira yang tak berhenti mendesaknya.
Dengan syarat untuk tidak terlalu dekat dengan Kakak iparnya, karena takut perilaku putrinya seperti sang menantu.
Danial yang mengetahui Elvira akan berkunjung ke rumahnya buru-buru ingin pulang dari kantor.
Namun Arvin menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Ada apa lagi, mau menanyakan soal Hanin?" tanya Danial membuat Arvin merasa geli mendengar sahabatnya itu menyebut nama Hanin.
"Aku dengar tadi kamu bicara sama Elvira ya, bagaimana kabarnya?"
"Sekarang ganti membicarakan adik perempuan aku ya?"
"Iya maaf, aku nggak bisa menyembunyikan perasaan ini terus-menerus Dan kalau Elvira adalah gadis impian aku,"
"Memang kamu pikir aku mau punya adik ipar sepertimu?"
Seketika wajah Arvin berubah menjadi murung. Danial tertawa melihatnya.
"Oke Vin, aku pulang dulu ya,"
Malam itu terasa gerah. Mantan kekasih Maira semakin gelisah karena niat baiknya ditolak mentah-mentah oleh Maira.
Membuat Bapak Maira, Pak Usman Hambali kembali murka melihat sikap putri semata wayangnya yang bertindak acuh tak acuh pada laki-laki pilihannya.
"Kamu nggak perlu resah ya, Bapak janji akan membuat Maira menyetujuinya,"
"Terima kasih Pak, saya berharap Maira bisa menerimanya,"
Di satu sisi, Maira terus meyakinkan suaminya untuk tetap sabar menghadapi masalah ini.
Walau ia merasa sudah tak sanggup, namun tak ada cara lain lagi. Mereka harus bisa mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
__ADS_1
Maira duduk di atas dipan, mengunci rapat pintu kamar, sedang Ibunya masih berdiri di luar pintu kamarnya yang terus meneriaki namanya.
"Diam, pergi kalian dari sini !"
"Sayang, tolong kamu jangan seperti ini ya kasihan anak yang ada di dalam kandungan kamu,"
"Kalau Ibu peduli dengan Maira, kenapa harus melakukan semua ini?"
"Kamu tahu sendiri kan, kalau Ibu dan Bapak sudah tidak bisa mempertahankan rumah tangga ini dan semua itu gara-gara bapakmu yang egois !"
Maira membuka pintu kamarnya, dan meminta Ibunya untuk pergi jauh dari kehidupannya.
Karena ia sudah tak ingin ikut campur dalam hubungan Ibunya dan calon suaminya itu.
"Maira, kasih Ibu kesempatan menjadi Ibu yang baik untuk kamu,"
"Kenapa baru meminta sekarang Bu, saat masih bersama Bapak, justru Ibu malah bersikap liar !"
Karena tidak terima mendengar ucapan Putrinya itu, Ibunya melayangkan telapak tangannya ke wajahnya namun hal itu dicegah oleh calon suaminya.
"Lepaskan Mas, biar anak ini tahu diri siapa yang dia musuhi ini !"
"Lebih baik kita pulang saja, nggak baik kalau kita buat keributan di sini !"
Mereka pergi dari rumah Maira, tak lama kemudian suaminya pulang.
__ADS_1