
Angin malam berhembus kencang, mereka bertiga berbincang di ruang tamu ditemani secangkir teh hangat.
Elvira menghabiskan tehnya dan memulai percakapan.
"Teh hangat buatan kak Anna ini memang nikmat banget, sampai habis tak tersisa," ucap Elvira sambil tersenyum.
"Maafkan kak Anna ya, karena hanya bisa berikan secangkir teh saja untuk kamu,"
"No problem kak, cuaca malam ini dingin banget jadi paling pas memang minum teh gini,"
"Kenapa kamu mendadak ke rumah kakak?" tanya Danial.
"Kebiasaan nih kak Danial, El tadi sudah hubungi kakak tapi nggak diangkat kan?"
"Pasti lagi berduaan sama kak Hanin !" imbuh Elvira, seketika langsung menutup mulutnya.
Anna menatap wajah Elvira dengan tajam, melihat itu Danial mengalihkan pembicaraan.
"Kamu mau makan apa, biar kakak belikan di luar ya,"
"Nggak perlu kak, El juga mau pulang kok,"
"Kenapa harus terburu-buru, kamu baru pertama kali mengunjungi kita di sini," ucap Anna.
"Mas dan El tunggu di sini ya, Anna mau pergi ke dapur dulu karena kebetulan tadi habis masak makanan ringan biar bisa buat camilan,"
Anna pergi ke dapur, sedangkan Danial menghampiri Elvira dan memberinya peringatan.
"Elvira, kenapa tadi bisa menuduh kakak sedang bersama Hanin?"
"Hmm, apa yang El tuduhkan itu pasti benar ya?"
__ADS_1
Danial terdiam sesaat, dan mengelaknya.
"Demi Allah kakak nggak sedang bersamanya, tapi kakak sibuk dengan urusan di kantor,"
"Gara-gara kamu sebut namanya, kak Anna jadi sinis kan?"
"Iya sih, tapi kak Anna nggak marah dan kesal kok !"
"Dia seperti itu karena ada kakak, kalau nggak ada juga pasti marah-marah tuh,"
"Hmm jadi maksudnya kak Danial mau kak Anna cemburu nih yee," ucap Elvira terus menggoda Danial.
Anna datang, mengejutkan mereka yang masih asyik bercanda.
"Wah lagi ngomongin apa sih, sepertinya seru banget ya?" tanya Anna sambil meletakkan makanan di meja.
"Ini loh kak, katanya kak Danial itu mau kakak,"
ucap Elvira yang belum selesai karena Danial mencubit pipinya.
"Ih apaan sih kak, apa iya pipi Elvira ini makin tembem kak Anna?"
Anna tersenyum.
"Nggak kok, justru semakin cantik !"
"Ah kak Anna, jadi malu nih El,"
"Kalau gitu makanan ini buat kakak saja, kamu nggak perlu memakannya karena nanti bisa buat pipi mengembang !"
"Nggak bisa gitu dong kak, El mau makan itu !"
__ADS_1
Anna tertawa melihat tingkah kakak beradik itu. Ia begitu iri karena saat masih kecil dirinya selalu jauh dari Abangnya.
Malam semakin gelap gulita, Elvira pamit pulang. Dan mereka saling berpelukan karena akan berpisah lagi.
Anna mendekat pada Danial.
"Beruntungnya menjadi Elvira, begitu dimanja dengan kakak laki-lakinya,"
Danial menatap wajah Anna yang terlihat menyimpan kesedihan.
"Anna jangan bersedih lagi ya, walaupun abang Nanda nggak bisa memberikan kasih sayangnya, masih ada mas yang akan menjaga dan melindungi Anna,"
"Tulus juga berkata seperti itu, dia akan menjaga dan melindungi Anna !" ucap Anna lalu pergi menuju ke kamar.
"Kenapa dia membicarakan Tulus. Batinnya. Anna tunggu, mas mau bicara !" teriak Danial.
Di rumah Maira, melihat istrinya yang sempoyongan, suaminya memintanya untuk berbaring di kamarnya.
Ia meminta Maira untuk jujur atas apa yang telah terjadi dengannya.
"Ibu tadi datang ke rumah, dan memaksa aku untuk menerima calon suaminya,"
"Lalu, kamu bilang setuju?"
"Nggak lah sayang, aku ini masih punya bapak dan nggak mau menerimanya menjadi bapakku !"
Bapak bukanlah orang yang sempurna
Tapi dia selalu berusaha memberikanku kebahagiaan.
Bukan yang bergelimang harta, atau memiliki tahta yang megah.
__ADS_1
Tapi memiliki hati yang selalu ikhlas memberikan cinta dan kasih sayangnya yang tak berbatas.
Mencintai sepenuh hati, segenap jiwa raganya, tanpa pamrih.