
Sosok wanita yang sedang bersama Hanin itu adalah wanita sosialita, teman satu kelasnya dulu juga Anna dan lainnya saat di smk.
Berparas cantik, dan nyentrik membuat siapapun senang berteman dengannya.
Dia bernama Anggun Ulya Hartono, orang yang dikenal juga sangat dekat dengan Danial Syahreza pada waktu itu.
Anggun dulu bukanlah yang sekarang, ia kembali bersama jiwa yang jauh memberontak.
Ada yang belum usia, yaitu untuk membalas rasa sakit yang belum juga hilang sejak tragedi itu terjadi.
Cinta yang sudah lama dinantinya harus berakhir sebelum memulainya.
Banyak yang mengatakan bahwa itu sebuah kesalahpahaman. Namun dirinya bersikeras menolak, karena cinta yang baru dipupuk telah dibuat mati lebih dulu sebelum berbuah oleh Danial yang hadir menjadi sekat.
"Bagaimana soal pesan botol itu?" tanya Anggun.
"Gagal, karena dia begitu memercayai istrinya itu," ucap Hanin penuh kesal.
"Sudah kuduga pasti nggak akan berhasil, karena aku yakin Danial mulai mempercayai istrinya,"
"Maksud kamu, Danial mulai suka sama Anna?"
"Kenapa nggak, mereka juga hampir 3 bulan bersama,"
"Tapi Danial ngotot nggak akan pernah jatuh cinta dengannya, karena dia akan selalu mencintaiku,"
"Kamu jangan terlalu percaya diri dulu Hanin, mungkin danial hanya ingin membuat hatimu tenang saja padahal aslinya dia sudah jatuh cinta dengan istrinya,"
"Tapi kenapa kamu jadi nggak terima seperti ini, cintamu ini hanya sandiwara belaka bukan?"
"Jelas dong aku nggak terima, karena pasti si belagu Anna itu akan merasa besar kepala karena sudah berhasil mendapatkan cinta Danial,"
"Dan aku nggak akan pernah biarkan dia bisa bahagia setelah apa yang telah dibuatnya dulu,"
"Aku pun juga sama, nggak akan biarkan Danial Syahreza hidupnya bahagia,"
Danial masuk ke rumahnya dengan sumringah, yang ia tujukan untuk istrinya.
"Assalamualaikum,"
"Anna mas pulang nih," ucap salam Danial lalu duduk di sofa seperti biasanya, menanti Anna memanjakan dirinya.
"Waalaikumussalam," ucap Anna lalu kembali ke kamar.
Membuat Danial jadi bertanya-tanya dengan sikap Anna yang pergi begitu saja.
Akhirnya memutuskan untuk menyusulnya ke kamar.
Anna yang sibuk mengambil pakaian kotor, tiba-tiba terkejut melihat Danial ada di sana.
"Mas bantu bawakan ya,"
"Nggak perlu Mas, Anna bisa melakukannya sendiri," ucap Anna dengan wajah datar lalu memilih pergi, namun langkahnya dihentikan oleh Danial, dan anna bersikeras untuk menjauh darinya.
Setelah makan, Danial mencoba meminta saran pada Anna untuk membantunya melihat sebuah barang yang akan dibeli.
__ADS_1
"Anna, Mas minta sarannya dong,"
"Coba lihat, menurut Anna lebih bagus yang mana?"
Anna melihat dari kejauhan. Hingga harus mengecilkan kedua matanya, dan terasa sulit untuk menjawab pertanyaan dari Danial.
"Pilih yang Mas suka saja,"
"Please ya, soalnya ini untuk teman perempuan Mas,"
"Untuk Hanin ya?"
"Kalau Anna yang pilih pasti dia akan suka,"
"Bukan, tapi untuk teman kantor mas yang besok lusa akan pindah ke luar kota,"
"Hanya sebuah kenang-kenangan kecil saja,"
"Oh, berarti harus pilih yang paling berkesan ya Mas,"
"Iya, tapi kalau Anna di situ mana bisa lihat dengan jelas mana yang bagus dan nggak nya,"
"Sini dong, dekat sama Mas !" ucap Danial meraih tangan Anna.
"Jangan jauh-jauh," tegas Danial.
Anna melepaskan genggamannya.
"Anna di sini saja mas, masih bisa melihat dengan jelas kok,"
"Ada apa, kenapa Anna nggak mau dekat dengan Mas?"
Esok pagi yang belum juga berubah, sikap Anna masih dingin terhadap Danial.
"Mas berangkat kerja dulu ya," ucap Danial sambil mengecup kening anna.
"Assalamualaikum,"
"Eh Anna nggak mau cium tangan Mas nih?" tanya Danial kembali menemui Anna.
"Waalaikumussalam," ucap Anna mencium punggung tangan suaminya.
"Anna, ada yang Mas lupa,"
Danial berjalan menghampirinya, dan memegang erat kedua lengan istrinya, lalu mengecup keningnya dengan lama.
Danial tersenyum sendiri, kali ini bukan memikirkan soal Hanin, tapi Anna yang telah bersikap dingin padanya.
"Dari pagi sampai sekarang aku lihat kamu tuh terus saja memandangi jam dinding, nggak sabar mau apa nih?" ucap Arvin membuyarkan lamunan Danial.
"Nggak ada, aku cuma merasa senang saja saat mengingatnya yang setiap harinya membuatku jadi seperti orang gila," ucap Danial sambil tersenyum.
"Seperti perihal cinta bukan, siapapun yang sedang jatuh cinta pasti akan berperilaku seperti orang gila,"
"Aku juga bilang apa, cepat atau lambat kamu akan mencintainya juga,"
__ADS_1
Danial terdiam seribu bahasa, namun senyum di sudut bibirnya mulai ketahuan.
"Wajar saja kalau aku kagum sama istriku, dia yang setiap hari memperlakukanku dengan baik seperti seorang Raja,"
"Padahal aku selalu membuatnya kecewa Vin,"
"Kalau kamu nggak ingin buat dia kecewa lagi, tinggalkan Hanin,"
"Barulah kalian bisa hidup tentram dan damai,"
"Mana mungkin aku meninggalkan Hanin, aku sangat mencintainya Vin,"
"Kamu tahu kan bertahun-tahun cinta itu aku tunggu, sekarang harus lepaskan begitu saja?"
"Terserah kamu deh, biar waktu yang menjawab semua ini,"
Danial berjalan menuju ruang meeting, namun langkahnya terhenti gara-gara Hanin.
"Sayang kamu kemana saja sih semalam, kenapa aku telepon nggak diangkat, chat juga nggak dibalas?" tanya Hanin dengan memasang wajah cemberut.
Bukannya menjawab pertanyaan Hanin. Danial kembali tersenyum seorang diri.
"Aku lihat akhir-akhir ini kamu tuh jadi kehilangan fokus, terus senyum-senyum sendiri pula,"
"Apa semua ini ada hubungannya dengan Anna?"
"Kenapa, kamu cemburu ya?"
"Danial, jangan membuat aku semakin kesal ya !"
"Apa sih hebatnya dia !
"Dia wangi, pandai memasak, dan sayang sama aku,"
"Sekarang kamu berani ya bicara soal dia di depan aku?"
"Maaf aku harus pergi, karena ada meeting yang sangat penting,"
"Danial tunggu, kamu janji ya nggak lagi abaikan chat dan telepon dari aku?"
"Iya aku janji,"
Anna berharap bisa berhasil mewujudkan cita-citanya, walau Danial tak mendukungnya ia harus tetap berjuang.
"Hai Anna, gimana apa kamu sudah siap untuk membuat projek yang sangat besar ini bersamaku?" tanya Tulus.
"Bismillah, aku siap !"
"Oke, kalau gitu kita harus ke studio musik sekarang juga !"
"Tapi aku mau izin ke Danial dulu ya,"
"Sudah, yuk kita jalan !"
"Rupanya tulus sedang berusaha mendapatkan hati Anna, ini akan semakin seru !" ucap Anggun membuntuti mereka.
__ADS_1
"Bagus Anggun, ini pasti akan membuat Danial semakin membenci Anna. Batinnya. Sayang, aku ada sesuatu untuk kamu nih," ucap Hanin sambil memperlihatkan pada Danial sebuah gambar di handphone nya.
Mengetahui hal itu, Danial langsung mengepalkan tangannya, dan memalingkan wajahnya. Dan bersumpah akan menghukum Anna dengan Tulus.