
Di luar rumah Maira selalu bersikap ceria, dan bahagia.
Kenyataannya bukan demikian, ia dan suami sama-sama harus berjuang untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
Pernikahan Maira bukan seperti Anna.
Ia menikah dengan seorang laki-laki pilihannya namun bukan keinginan dari Bapaknya. Yang ternyata lebih setuju dengan kekasih Maira dulu.
Maira mengakhiri hubungannya dengan mantan kekasih lantaran berbeda prinsip.
Ia memilih tetap berkarir walau sudah berumah tangga, namun sang mantan kekasih tidak menginginkan hal itu.
Belum juga berakhir masalah pertikaian dari kedua orang tuanya, ia harus dihadapkan dengan masalah baru.
Maira pulang setelah bertemu dengan Anna, ia sampai sebelum suaminya tiba di rumah.
Dan disambut oleh Ibunya yang berada di rumahnya saat itu. Ibunya tak sendiri, ia bersama laki-laki lain.
"Sayang, kamu sudah pulang?" ucap Ibunya menghampirinya dan merangkul Maira.
Maira melepaskan rangkulan Ibunya, dan menjauhkan dirinya.
"Ibu ngapain ada di sini?"
"Ibu rindu sekali sama kamu, kita makan sama-sama di luar yuk,"
"Sama Ibu?"
Terdengar langkah kaki dari ruang tengah. Seorang laki-laki bertubuh tinggi dan ramping, menghampiri Maira dan Ibunya.
"Kenapa dia ada di sini Bu?"
"Jaga sikap kamu Maira, ini calon suami Ibu !"
"Buat Ibu kan, tapi nggak buat Maira !" tegas Maira, lalu pergi ke kamarnya.
"Maira tunggu !" teriak Ibunya, menghampiri Maira ke kamarnya.
Di tepi jalanan kompleks rumah Danial. Mobil Tulus terparkir di sana. Ia memantau Anna dari jauh, karena tak mau jika Danial sampai tahu dan menyalahkan Anna lagi.
"Mas pergi dulu ya, Anna jaga diri baik-baik di rumah," ucap Danial di depan rumahnya, pamit ke kantor.
"Iya Mas, hati-hati di jalan ya,"
Tulus memalingkan wajahnya, saat Danial melintas di depannya.
Saat Anna hendak masuk ke rumahnya, Tulus mengejutkannya.
"Tulus, sejak kapan kamu ada di sini?"
"Saat kamu menengok ke belakang,"
Keduanya tertawa kecil.
"Hari ini jadi kan ke toko bukunya?"
"Jadi dong, aku ambil tas dulu ya,"
__ADS_1
Balik kanan, balik kiri terus berulang kali.
Hanin merasa letih jika terus seperti ini. Tidak ada yang bisa ia raih dari semua mimpi-mimpinya karena Danial belum juga memberikan kepastian untuknya.
"Rencana A nggak mempan, sekarang kita harus ganti ke rencana B nya !" ucap Hani sambil menggigit bibirnya.
Hanin mencoba menghubungi Anggun untuk membicarakan tentang rencananya. Keduanya bertemu di cafe Panas Dingin.
"Kamu ke mana saja selama ini, kenapa tiba-tiba menghilang, terus sekarang jadi aneh banget tahu nggak sih !" ucap Hanin.
"Aku seperti ini tuh karena Anna !"
"Anna, memang apa yang sudah dia lakukan sama kamu?"
"Gara-gara dia aku harus menyamar, kemana-mana pakai pakaian seperti ******* ini, dan harus kucing-kucingan dengan orang-orang biadab itu !"
"Kok bisa, gimana ceritanya?"
"Sudahlah ceritanya panjang, dan aku nggak mau mengingat kejadian itu lagi !"
"Oke sekarang kita harus ganti rencana ke B, dan kali ini aku mau kamu yang turun tangan sendiri,"
"Memang apa rencana kamu?"
Di sudut ruangan, keduanya saling bertukar pikiran untuk projek nulis bareng. Canda dan tawa selalu beriringan. Buku dan Tulus adalah satu paket yang komplit untuk kehidupan Anna.
Selalu bisa membuat hatinya lega.
"Stop, jangan kamu teruskan tawa itu !" ucap Tulus membuat Anna kebingungan.
"Iya maaf, seharusnya kita bisa tenang berada di sini,"
"Ha, kenapa begitu?"
"Karena mereka salah menganggap dirinya bisa membuat semua orang yang membacanya bisa menghilangkan stress, tapi kalau aku hanya cukup melihatmu tertawa seperti itu,"
"Aduhai, manisnya Abang ini kalau menggoda,"
"Nggak lah, aku serius tahu !"
"Lebih baik kita serius dengan projek ini, oke?"
Matahari telah menunjukkan sinarnya yang jingga dari kaca jendela. Mengakhiri pertemuan Anna dan Tulus di toko buku.
"Sampai bertemu besok ya, ingat jangan sampai terlambat,"
"Kapan aku pernah terlambat coba?"
"Terlambat menyadari aku mencintaimu,"
"Sepertinya aku memang harus pergi, sebelum sang pujangga ini menjadi-jadi,"
"Aku antar sampai rumah?"
"Nggak perlu, nanti kamu ribut lagi sama Danial,"
"Baiklah, hati-hati ya di jalan,"
__ADS_1
Saat Tulus melangkah untuk pergi dari Toko Buku. Tiba-tiba ada yang menariknya ke dalam toko.
"Anggun?"
"Hai Tulus, aku senang kamu masih mengingatku,"
Anggun mengajak Tulus untuk berbincang di sebuah cafe yang tak jauh dari toko buku.
Ia menceritakan semua tentang keinginannya yang ingin bekerja sama dengan Tulus untuk menghancurkan Danial.
"Jadi kamu masih memendam dendam itu?"
"Iya, sampai saat ini rasanya masih sangat sakit Tulus !"
"Tapi kamu salah jika mengira aku bermusuhan dengan Danial, karena sampai sekarang kita masih bersahabat,"
Anggun harus mencari cara lain untuk membuat Tulus mau mengikuti kemauannya.
"Bukannya kamu mencintai Anna?"
Tulus memalingkan wajahnya, lalu tertunduk.
"Aku dan Anna hanya sebatas teman, dan memang kita semua berteman bukan?"
"Iya memang, tapi teman juga bisa jadi lebih dari seorang teman,"
"Seperti Danial dan Hanin yang sama-sama saling mencintai,"
"Kamu tahu soal itu, siapa yang sudah memberitahumu?"
"Tulus, berita hubungan mereka itu sudah tersebar di mana-mana,"
"Aku juga tahu kalau Danial dan Anna sudah menikah, kasihan ya Anna harus menderita karena ulah Danial dan sahabatnya sendiri,"
"Apa kamu tega melihat orang yang kamu cintai menderita?"
"Jangan mau seperti aku, yang menderita karena cinta,"
Tulus terlihat memikirkan perkataan dari Anggun. Bahwa apa yang dikatakannya tidaklah salah, ia memang harus memberikan pelajaran untuk Danial karena selalu membuat Anna terluka.
"Oke, aku akan coba ikuti saran kamu untuk menghancurkan Danial !"
"Nah gitu dong, itu baru namanya gentleman !"
"Ternyata gampang juga ya membuatnya percaya sama aku. Tunggu Danial, sebentar lagi kamu akan merasakan akibat dari perlakuan kamu dulu. Batinnya. Yuk kita minum kopi nikmat ini !" ucap Anggun dengan gembira.
Bu Sarah terus membicarakan soal menantunya yang menurutnya begitu buruk. Ia menyesal telah menjodohkan Danial dengannya.
"Apa sih maunya, seharusnya dia itu bersyukur bisa mendapatkan Danial !"
"Bukan seenaknya memperlakukan Danial seperti itu, apa dia pikir bisa melakukan semuanya tanpa Danial?"
"Cukup Ma, Papa bosan jika terus mendengar celotehan Mama setiap hari yang nggak berhenti membicarakan soal Anna !"
"Pa, ini itu tentang martabat Danial sebagai suami yang harusnya diperlakukan baik oleh istrinya bukan sebaliknya !"
"Tapi semua yang Mama katakan ini belum tentu benar adanya, kita nggak bisa menyalahkan seseorang tanpa ada bukti,"
__ADS_1
"Bukti apa lagi Pa, semua sudah jelas kalau Anna sudah mempermainkan Danial !"