
Matamu terbuka sebelum mentari ada
Tegap tercipta susun kembali yang hilang
Siap atau tidak, harus berlapang dada
Pantang tumbang sebelum sayang
Itulah yang dirasakan Danial.
Pikiran dan hatinya tidak berfungsi dengan baik.
Harta, Tahta, juga Hanin Haifa tidak lagi menarik.
Apa mampu membawa tulang rusuknya pulang
Apa biar mati dalam bayang-bayang dosa.
"Alhamdulillah kamu hari ini sudah bisa pulang, Ibu boleh kan menginap semalam saja di rumah kamu?"
"Menginap di rumah Anna, belum juga kerja Bu sudah ditanyai soal rumah !" kelakar Anna.
"Pak kok Anna bilang gitu ya, apa dia benar-benar melupakan semuanya?"
Tok...tok...tok..
(suara ketukan pintu ruang rawat Anna)
"Iya, masuk,"
"Assalamualaikum, Anna, Om dan Tante,"
"Kemarin Danial, sekarang temannya. Batinnya. Waalaikumussalam, Tulus !"
"Pasti Danial kan yang kasih tahu kamu kalau aku ada di rumah sakit ini?"
Tulus menggelengkan kepalanya.
"Justru aku yang membawa kamu ke rumah sakit ini !"
"Tulus, bisa temani Anna dulu ya karena kami mau bertemu dengan Dokter,"
"Iya Pak, saya juga mampu kok menemani Anna sampai akhir hayatnya !" canda Tulus, membuat Anna memalingkan wajahnya yang memerah.
Ketika hendak jalankan mobilnya, tiba-tiba dicegat oleh Hanin.
"Sayang, kamu kenapa sih nggak mau balas chat dari aku terus aku telepon juga nggak diangkat !"
"Maaf Han, aku sekarang buru-buru mau ke rumah sakit !"
"Mana janji kamu yang katanya mau adil sama aku?"
Danial menghela napasnya dalam-dalam.
"Oke, terus kamu mau apa?"
"Aku cuma mau kamu selalu ada di sampingku !"
"Kita pergi cari makan yuk, lapar nih !" imbuh Hanin.
"Tapi nggak lama ya, karena aku harus ke rumah sakit menengoknya,"
"Iya deh, terserah kamu !"
Anna dituntun Ibunya keluar dari rumah sakit.
Karena lama menunggu Danial yang tidak kunjung datang, Tulus pun menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang bersama. .
Sepanjang jalan Anna tertidur pulas, sampailah di rumah Danial, terbangun memasang wajah begitu cemas.
"Loh Pak, Bu kenapa kita berhenti di sini?"
__ADS_1
"Ini rumah kamu, masa lupa sih sama rumah sendiri !" sahut Tulus.
"Jadi beneran nih Anna sudah punya rumah, kok bisa ya?" ucap Anna melotot dan mulut yang menganga lebar.
"Anna nggak mau tinggal di sini Bu, lebih baik kita pulang ke Bandung ya !"
"Lalu bagaimana dengan suami kamu, masa kamu tega sih membiarkan dia sendiri di sini?"
"Ha, suami?" kembali melotot.
"Pak, jangan-jangan yang dikatakan Danial kemarin itu benar kalau Anna kehilangan memori ?"
"Apa, Anna kehilangan memorinya?" sahut Tulus, ikut melotot.
"Maksud Ibu ini apa sih, Anna sama sekali nggak ngerti?"
"Ibu akan ceritakan semuanya sama kamu, tapi setelah kita sampai di rumah ya !"
Setelah menuruti keinginan Hanin, Danial menuju ke rumah sakit sendirian. Sampai di sana dia tidak menemukan istrinya, resepsionis rumah sakit mengatakan bahwa Anna sudah pergi dari satu jam yang lalu.
"Halo assalamualaikum Pak, apa Anna bersama dengan Ibu dan Bapak?" tanya Danial di telepon.
"Waalaikumussalam, iya Danial,"
"Maaf Pak, Danial baru saja sampai di rumah sakit karena tadi ada kepentingan mendadak,"
"Iya nggak apa-apa, untung saja ada Tulus,"
"Kalau begitu Danial segera pulang Pak !"
"Danial, kamu nggak perlu khawatirkan Anna lagi karena dia telah memilih untuk tinggal di Bandung !"
"Iya Pak, Danial mengerti hal itu,"
"Terima kasih Danial, Bapak tutup dulu ya teleponnya,"
Menuju ke garasi, Maira berhenti melangkah karena teringat janjinya untuk menemui sahabatnya yang terbaring di rumah sakit.
"Maaf yah aku baru bisa hubungi kamu, btw kamu mau aku bawa apa ke rumah sakit?"
"Maira, aku sudah pulang !"
"Serius, alhamdulilah kalau kamu sudah pulang. Besok aku main ke rumah kamu boleh ya?"
"Boleh saja, rumah kita kan dekat !"
"Dekat gimana, jauh tahu !"
"Rumah yang di mana sih, Jakarta bukan?"
"Bukan, di Bandung lah !"
"Oh, kamu mau tinggal di Bandung?"
"Dari dulu rumahku memang ada di Bandung Ra !" tegas Anna.
"Oke deh, aku tanya dulu ya sama orang di rumah boleh apa nggak nih ke rumah kamu,"
Senja pamit, tapi berjanji besok kan kembali lagi
Kekasih hati memilih pergi karena merasa asing.
"Assalamualaikum," ucap Danial masuk ke dalam rumahnya.
Membaringkan tubuhnya di sofa.
Kepalanya seakan meledak, memikirkannya.
"Mas janji akan bawa Anna pulang kembali !"
Malam yang sunyi cepat berganti pagi.
__ADS_1
Pria malang itu bangun lebih awal untuk bertemu kekasihnya di Bandung.
Dari secangkir teh hangat di Bumi Pasundan
Wajah ayu mulai layu mendengar kata demi kata dari Bapaknya.
Apa yang membuatnya pilu
Melupakan masa lalu atau memulai baru.
"Apa Anna harus mengingat semuanya?"
"Sudahlah Pak, Bu. Anna mau menjalani hidup seperti ini," lirih Anna melangkah pergi ke kamarnya.
Waktu yang ku tempuh 3 jam untuk menuangkan rindu.
Suara mobil berhenti terdengar dari dalam kamarnya.
Bu Lilis menyuruhnya untuk membukakan pintu rumahnya.
Dag Dig Dug (suara detak jantungnya)
"Selamat Pagi, bisa pas gitu ya. Padahal niatnya mengetuk pintu rumah Anna eh ternyata sampai ke hati juga !" ucap Danial tersenyum simpul.
"Kamu ngapain ke sini, oh pasti mau ngakuin diri sebagai suami aku ya?" tunjuk Anna.
"Siapa yang bertamu Anna?" tanya Bu Lilis terkejut melihat Danial.
"Danial, sudah lama di sini?"
"Baru saja Bu, Bapak ada di rumah?"
"Ih sok akrab ya, panggil Ibu, Bapak !" celetuk Anna.
"Kenapa jadi sewot, Ibu juga nggak marah !"
"Sudah jangan ribut, mari masuk Danial kebetulan Ibu hari ini masak banyak !"
"Wah pasti rasanya enak sekali, terima kasih Bu,"
Anna duduk di sampingnya sambil wajah ditekuk.
"Harusnya kamu tuh bersyukur bisa duduk sedekat ini sama aku, benar kan Bu?"
"Bersyukur bagaimana, kalau niat kamu ke sini untuk menghabiskan makanan aku !" sindir Anna.
"Ibu saja nggak masalah, kenapa ngedumel terus sih !"
"Maaf Bu, Anna sudah kenyang !" kesal Anna.
"Anna, tunggu !" teriak Danial menyusulnya.
"Apalagi sih, maaf ya aku nggak ada urusan sama kamu jadi tolong jangan ganggu lagi !" jelas Anna.
"Siapa bilang nggak ada urusan dengan aku, karena kamu adalah tanggung jawab aku !"
"Astaghfirullah, bandel banget sih dibilangin !"
"Anna, Danial, Bapak sudah datang. Kalian kembali makan ya !" ucap Bu Lilis menatap wajah Danial dan Anna yang masih saling menatap.
"Danial, Anna, ayo !"
"Danial, kapan kamu datang. Maaf ya Bapak baru pulang dari pengajian di Masjid,"
"Iya Pak, oh iya Danial juga izin mau tinggal di sini untuk beberapa hari,"
"Tentu boleh, kamu bisa tidur di kamar Nanda ya !"
"Ibu dan Bapak ini kenapa sih, terlalu mengistimewakan Danial. Batinnya. Bapak mau tambah lauknya?"
"Iya, boleh,"
__ADS_1