
Malam ini kembali berteman dengan sepi.
Nasib bulan baik dibanding aku, masih ada bintang-bintang yang mendampingi.
"Kenapa aku jadi memikirkannya, apa hati aku masih berharap?" ucap Anna terus memandangi langit malam.
"Anna besok ada acara nggak, soalnya Ibu mau minta tolong untuk belikan bahan-bahan kue di pasar," ucap Bu Lilis.
"Besok Anna ada janji sama Tulus ke toko buku Bu, insyaallah sepulang dari sana Anna bisa ke pasar,"
"Alhamdulillah kalau kamu bisa, ibu mau tanya apa Danial masih menghubungi kamu?"
"Nggak Bu, biarkan sajalah, dengan begitu dia sudah berhasil melupakan Anna !" ucap Anna memalingkan wajahnya.
"Aneh saja, karena selama kamu pergi dia selalu datang kemari, bahkan menginap,"
"Untuk apa dia datang kemari Bu, bukannya dia sudah bahagia hidup bersama Hanin?"
"Kamu belum tahu saja selama dia ada di sini setiap hari selalu membersihkan kamar kamu, merawat tanaman-tanaman kamu, pokoknya banyak yang berubah darinya !" jelas Bu Lilis.
"Sudah malam Bu, Anna mau istirahat duluan ya !" ucap Anna menarik selimutnya.
Cinta tak selamanya indah
Awal gejalanya memabukkan.
Saat janji dan kesetiaan disepelekan, tanda-tanda kematian.
"Sekarang kamu berhutang budi sama aku, jadi untuk menebusnya dengan menikahi ku !" ucap Hanin membuat Danial geleng-geleng kepala.
"Atau jangan-jangan ini semua adalah rencana kamu agar bisa memisahkan aku dengan Anna?"
"Kamu ini nggak tahu cara berterima kasih ya, sudah bagus aku membebaskan kamu dari dalam jeruji besi itu, masih saja menyalahkan aku?"
"Kamu lihat sekarang, aku yang selalu ada saat kamu butuhkan, bukan istri kamu !"
"Oh ya, aku bebas karena itu bukan kesalahan ku !"
"Satu lagi Han, aku rasa nggak ada lagi yang harus kita perjuangkan dalam hubungan ini !"
"Nggak bisa gitu dong Dan, setelah bisa mendapatkan apa yang kamu mau, seenaknya saja kamu campakkan aku?"
"Kamu sadar nggak sih, siapa yang jahat selama ini?"
"Kamu pikir aku nggak tahu apa yang sudah kamu lakukan di belakang aku, tega ya kamu khianati cinta kita !" jelas Danial dengan sorot mata yang tajam.
"Aku menyesal telah menerima kamu dalam hidupku, mulai hari ini nggak ada lagi hubungan diantara kita !" imbuh Danial pergi meninggalkan Hanin.
Mentari menampakkan diri, sinarnya begitu terik. Menarik hati untuk siap meninggalkan segala yang membuat perih.
"Selamat Pagi, sudah siap pergi hari ini?" ucap Tulus.
"Ayo kita pergi, oh iya nanti kamu pulang duluan ya karena aku harus pergi ke pasar dulu beli pesanan Ibu !"
"Aku ikut ya, lagi pula sudah lama juga aku nggak menginjakkan kaki di Pasar !"
"Yakin mau ikut, nanti kamu pingsan lagi di sana !"
__ADS_1
"Kalau pun aku pingsan, ada pundak kamu yang siap menjadi sandaran ku !" canda Tulus membuat pipi Anna memerah.
Selain layak menjadi suami untuk Anna, Tulus juga berbakat menjadi seorang chef.
Semua bahan pokok makanan dia ketahui.
"Wah, aku rasa sudah saatnya nih kamu menikah !" ucap Anna.
"Kamu nggak sabar ya mau aku masakin setiap hari?"
"Aku, mau nggak ya?"
Kepada hati yang mudah mencintai
Luka ini belum pulih
Tolong jangan kembali memberi perih
"Siapa gerangan yang membuat anak Ibu tersenyum manis seperti itu?" ucap Bu Lilis sambil menyeruput teh hangat.
"Menurut Ibu, Tulus orangnya bagaimana?"
"Tulus anak yang baik, pengertian, sabar !"
"Anna, ini gawat darurat !" teriak Maira berlari mengguncangkan hati Anna dan Bu Lilis.
"Astaghfirullah, bisa nggak kamu beri salam dulu ?"
"Aku mau bicara sama kamu, penting banget !" desak Maira membawa Anna ke luar rumah.
"Oke, sekarang kamu mau bilang soal apa?"
"Dia juga janji nggak mengulanginya lagi, aku rasa Danial benar-benar berubah An !" imbuh Maira membuat Anna mengernyitkan dahinya.
"Sabodo teuing !"
"Tong kitu atuh An, Dia tulus kok mau memperbaiki semuanya sama kamu !"
"Cukup Ra, kamu jauh-jauh kemari cuma untuk memaksaku melupakan kesalahannya?"
"Bukan gitu An, aku mau lihat kamu bahagia itu saja, masalah kamu adalah masalah aku juga !"
"Iya Ra, tapi aku bahagia kok menjalani hidup seperti ini,"
"Ya udahlah kalau memang itu sudah menjadi keputusan kamu, semoga jadi pilihan yang terbaik ya !"
"Selain itu aku juga mau pamit sama kamu, karena harus ikut suami ke rumah orang tuanya di Solo,"
"Oh iya, aku sendiri lagi dong !"
"Sendiri apanya, Tulus masih ada kan?"
"Insyaallah setelah lahiran aku main ke rumah kamu ya, doakan semuanya lancar !"
"Aamiin, aku pasti merindukanmu !" ucap Anna memeluk erat Maira.
"Masalah itu jangan diperpanjang karena bukan STNK, aku percaya kamu bisa menyelesaikannya !"
__ADS_1
"Terima kasih Ra, doakan aku mampu melewati semua ini ya !"
"Pasti bisa !"
"Salam untuk Ibu dan Bapak kamu ya, aku pamit," imbuh Maira melepas pelukan Anna.
Anna menatap lekat gambar dirinya bersama sahabat saat di Sekolah.
Hadirnya membawa canda tawa, suka duka mengiringi perjalanan mereka.
Tidak ada yang dapat memisahkan ikatan kuat itu, kecuali cinta jadi sekat.
Ke mana lagi mencari keabadian, apa harus mati untuk merasakannya?
"Aku turut berduka atas kepergian Maira," ucap Tulus membuyarkan lamunannya.
"Hus, Maira masih hidup Tulus !"
"Siapa yang bilang dia sudah meninggal, dia hanya pergi sebentar kok !"
"Masih ada aku di sini, kamu nggak perlu cemas ya !"
"Oh iya, besok aku main ke rumah kamu ya !"
"Ada apa, bukannya besok kamu mau pergi ke luar kota?"
"Apa aku setega itu meninggalkanmu juga, pokoknya besok kita harus bersenang-senang, setuju?"
"Terserah deh, aku ikut saja !"
"Anna, bisa tolong Ibu sebentar?" teriak Bu Lilis di dapur.
"Maaf Tulus, aku tutup dulu teleponnya ya !"
"Oke, see you tomorrow !"
"Iya Bu, apa yang bisa Anna bantu?"
"Ikut Ibu ke ruang tamu ya !"
Di ruang tamu ada Pak Hamdan sedang menyeduh kopi.
"Pak, katanya mau ngomong sama Anna !"
"Bapak cuma mau memastikan apa kamu benar-benar mencintai Tulus?"
"Kenapa Pak, apakah ucapan Anna waktu itu membuat Bapak dan Ibu ragu?"
"Anna sudah katakan bukan kalau benar-benar serius menjalani hubungan ini bersama Tulus, jadi nggak ada lagi yang harus dikhawatirkan Pak, Bu !"
"Supaya nggak salah dalam memilih sesuatu, lebih baik kamu jalankan sholat istikharah biar tenang juga !" jelas Pak Hamdan.
"Kalau gitu Anna masuk ke kamar dulu ya Pak, Bu !"
"Ibu masih nggak percaya, Anna bisa melupakan Danial secepat itu Pak !"
"Ngomong-ngomong soal Danial, sudah lama dia nggak datang kemari ya Bu,"
__ADS_1
"Apa ini ada kaitannya dengan Hanin ya Pak?"
Pukul 9 malam, Anna keluar dari kamar. Mengangkat kepala dengan kedua mata melotot mengetahui Danial berdiri di luar pintu kamarnya.