My Roommate'Class

My Roommate'Class
Dia Mulai Mengingat


__ADS_3

Siang ini teriknya matahari sangat menyengat.


Membuat siapa pun di bawahnya terasa terbakar dan membuat kulitnya gosong.


Bahkan mereka yang memakai topi masih bisa ditembus.


Bagaimana dengan seorang perempuan di sana sedang menyeberang jalan memakai pakaian tebal, dan berkacamata terus menerus menyeka peluhnya. Oh Tuhan, panas sekali ya hari ini, batin si perempuan mengeluh sembari buru-buru mencari tempat untuk berteduh.


"Dia ini ke mana sih, terus saja ya mengabaikan aku !" ucap Hanin memanyunkan bibirnya.


"Ngapain dia sendirian di situ, lagi cari mangsa pasti !" ucap seroang perempuan di dalam mobil.


"Hai Hanin, akhirnya ketemu kamu juga !" sapa Anggun.


"Dia lagi. Batinnya. Maaf ya, aku nggak ada waktu buat berurusan sama kamu !"


"Sombong banget kamu, lupa kalau kita satu circle sekarang?"


Hanin menelan ludahnya sia-sia.


"Percuma juga kamu terus membahasnya, berhasil juga nggak !"


"Sebentar lagi kamu akan tahu sendiri, kehancuran Danial tinggal menghitung hari !" jelas Anggun.


"Memang apa yang sudah kamu rencanakan selama ini?"


"Masih mau tahu, katanya tadi nggak peduli,"


"Please Anggun, aku harus tahu juga dong !" desak Hanin.


"Setelah dia kehilangan istrinya, tahta dan harta bendanya juga ikut musnah !"


"Tunggu, jangan bilang kalau ini perbuatan kamu soal Dania yang mau mengundurkan diri dari perusahaan Papanya?"


"Kamu nggak salah, karena itu memang bagian dari rencana ku !"


Di satu sisi, hati Tulus menjadi cemas.


Melihat Danial terus berusaha mendekati Anna yang hilang ingatan.


Membuatnya harus melangkah lebih depan darinya.


"Halo, kamu sekarang ada di mana?" tanya Tulus di telepon.


"Aku lagi di jalan, sebentar lagi juga sampai kok," ucap Anggun menutup teleponnya.


"Anggun, aku minta sama kamu untuk berhenti menganggu Danial !"


"Aku nggak salah dengar nih, bukannya kamu juga menginginkan dia hancur?"


"Karena aku sangat mencintainya, dan aku nggak segan-segan menghancurkan orang yang berani mengganggunya !" jelas Hanin membuat Anggun tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Kamu sadar nggak sih, Danial tuh sekarang mulai mencintai istrinya. Lantas, apa yang akan kamu dapatkan nanti?"


"Ayolah, itu hanya buang-buang waktu saja Hanin !"


"Kamu harus tahu aku ini bukan orang yang mudah menyerah, karena aku sudah dapatkan lampu hijau dari Mamanya !"


"Nggak masalah Danial keluar dari perusahaan Papanya, toh suatu hari nanti dia juga yang akan memiliki perusahan itu !" imbuh Hanin mengibas rambutnya lalu pergi.


Anna duduk sendiri terus melayangkan pikiran di awang-awang.


Melihat itu, Ibu, Bapak, juga sahabatnya ikut meratapi nasibnya.


"Anna, kita pergi jalan-jalan yuk !" ajak Maira membuyarkan lamunannya.


"Lagi nggak mau pergi Ra, maaf ya !"


"Bagaimana kalau Anna bantu Ibu buat kue untuk jualan besok !" sahut Bu Lilis.


"Boleh Bu, dari dulu Anna ingin sekali belajar buat kue !"


"Baiklah, ayo kita buat sekarang !"


"Maira juga ikut deh Tan !"


Saat memasukkan bahan kue ke wadah, terlihat kedua tangan Anna tengah memegangi kepalanya dengan kuat, membuat tubuhnya tidak seimbang, hampir tumbang. Bayang-bayang seseorang muncul dalam ingatannya, sangat jelas.


Seorang laki-laki bertubuh ideal memakai appron pada tubuhnya, bersama seorang perempuan berkerudung seperti dirinya.


"Aku barusan melihat seorang laki-laki ada di dapur membuat kue bersama denganku, tapi aku nggak tahu siapa dia?"


"Apa dia mengatakan sesuatu?"


"Nggak Ra karena begitu cepat sekali, jadi aku nggak bisa melihat kejadian seluruhnya !"


"Kamu istirahat saja ya, biar aku yang menyelesaikan semua ini !" ucap Maira membawa Anna pergi ke kamarnya.


Sedang Danial dirundung malang. Kapan belum bisa membuat Mamanya mengekang hawa nafsunya yang terus menginginkan dia berpisah dengan Anna.


"Stop Ma, Danial mohon Mama berhenti menghakiminya, Tolong jangan menjadi manusia yang berubah-ubah Ma, yang dulu sangat mencintai sekarang jadi membencinya !" ucap Danial beranjak dari tempat duduk lalu meraih tangan Bu Sarah untuk digenggam erat.


"Karena Mama sudah tahu semuanya, itulah mengapa Mama bersikeras menjauhkan kamu dengan dia dan keluarganya !"


"Buka mata kamu, Anna sudah melupakan kamu dan keluarganya juga nggak mempedulikan kamu lagi, jadi untuk apa kamu masih bertahan?"


"Lupakan Anna, dan mulailah hidup baru bersama Hanin !" jelas Bu Sarah membuat Danial membisu.


"Danial, kamu jangan menyerah ya. Raih kembali cintanya, Papa percaya kamu bisa !" ucap Pak Samsul menguatkan bahunya.


"Terima kasih Pa, Danial janji akan membawa Anna kembali !"


Sial. Ungkapan yang tepat untuk perasaan Anggun saat ini.

__ADS_1


Setelah mengetahui kabar, Tulus mengentikan rencananya untuk menghancurkan Danial.


"Tulus dengarkan aku, tinggal selangkah lagi kamu berhasil membuatnya hancur setelah itu Danial akan memohon-mohon sama kamu untuk mengembalikan nama baiknya !"


"Lalu kamu bisa memenangkan hati Anna !"


"Tolong kamu mengerti perasaan aku, saat ini bukan masalah menang atau kalah. Tapi aku takut Anna berhasil dikelabuinya lagi, aku nggak mau itu terjadi !"


"Percuma saja aku ngomong sama kamu, karena dari dulu kamu memang nggak bisa untuk diandalkan !" ucap Anggun memalingkan wajahnya dan pergi dari hadapan Tulus.


"Terserah deh, yang penting sekarang aku harus bisa menjauhkan Anna dari Danial !"


"Bedebah ! Biar dengan tangan aku sendiri, pasti bisa menghancurkan Danial !" ucap Anggun mengepalkan tangannya meyakinkan diri.


Maira memberikan segelas air putih untuk Anna supaya tenang.


Dia berpikir kalau sahabatnya itu mulai mengingat satu persatu memori dalam hidupnya.


"Aku jadi penasaran Ra, sama sosok yang aku lihat tadi !"


"Apa kamu mengenalnya?"


"Mungkin itu Abang Nanda kali An, siapa lagi laki-laki yang satu rumah sama kamu, ya kan?"


"Sosok itu bukan Abang Nanda, aku tahu jelas Abang Nanda seperti apa !" jelas Anna.


"Sudah jangan dipaksakan, aku nggak mau kamu jadi semakin sakit mengingatnya !"


"Iya Ra, buat apa aku memikirkannya. Aku sudah berjanji untuk hidup hari ini bukan yang lalu,"


"Oh iya, besok aku harus pulang An, karena kasihan juga Pak Suami ditinggal sendirian di rumah," ucap Maira membuat Anna menghela napas.


"Mau bagaimana lagi, aku sudah nggak berhak memiliki kamu seutuhnya !"


"Kita masih bisa teleponan kok, dan aku selalu siap mendengar keluh kesah mu itu !"


Dering telepon telah memisahkan pelukan hangat keduanya.


Dilihatnya, ternyata panggilan dari Tulus.


"Iya Tulus, ada apa?"


"Aku mau membicarakan hal penting sama kamu, tapi masalahnya ada Maira di samping kamu," ucap Tulus membuat Anna melotot.


"Kok kamu bisa tahu sih Maira ada di dekat aku, takut bocor ya !"


"Apa sih yang nggak bocor kalau dekat sama Maira?"


"Harus ada uang tutup mulut dong, yah nggak sih?" sahut Maira membuat semuanya tertawa.


"Besok saja deh, aku bicarakan ini sama kamu !"

__ADS_1


"Baiklah, kebetulan Maira besok pulang jadi nggak perlu ada yang dikhawatirkan lagi ya !" canda Anna menutup teleponnya.


__ADS_2