
"Kamu kapan balik ke jakarta?" ketik pesan Danial ke Hanin.
"Besok aku sudah pulang,"
"Aku mau kita ketemuan,"
"Mas, besok janji kan kita ke rumah Mama?" ucap Anna tiba-tiba membuat Danial terkejut.
"Gimana kalau kita tunda lusa saja ke rumah Mama nya, soalnya Mas banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor,"
"Sayang banget ya, padahal Mama dan Papa begitu merindukan anaknya," ucap Anna sambil menarik napas panjang.
"Oke besok kita jadi pergi ke rumah Mama, Mas mau ke kamar dulu ya,"
Anna begitu senang melihat Danial bisa menyetujui keinginannya.
"Assalamualaikum Mama, Papa," ucap salam Anna dan Danial.
"Waalaikumussalam, akhirnya yang dirindukan datang juga," ucap Mama Danial sambil memeluk menantunya itu.
"Kenapa baru sekarang bisa ke rumah Mama, rindu tahu,"
"Maaf ya Ma, karena kita harus menunggu Mas danial untuk libur kerja dulu,"
"Iya Mama tahu kalau Danial itu sangat sibuk di kantor, dulu saja dia sampai menginap di sana karena harus lembur,"
"Oh iya Mama sudah masak makanan yang banyak hari ini, kita makan sama-sama yuk !" ucap Mama Danial mengajak mereka untuk makan siang bersama.
"Kapan Elvira pulang Ma?"
"Katanya sih libur semesteran nanti,"
"Itu pasti Papa mu Dan, Mama ke sana dulu ya,"
"Iya Ma,"
"Wah sudah ada di sini rupanya, Papa kira kalian akan lupa untuk kemari,
"Nggak dong Pa, yang namanya janji kan harus selalu ditepati,"
"Banyak sekali Bibi Atun masak hari ini ya,"
"Itu Mama yang masak Pa,"
"Benarkah, bersyukur sekali Papa mendapatkan Mama ini, sudah cantik, pandai memasak juga," ucap Papa Danial menggoda istrinya.
"Nikmat mana lagi yang ingin Papa pungkiri, bukan begitu?"
Setelah menyantap makan siang. Mereka duduk bercengkrama di ruang tamu.
"Kalian ini belum berbulan madu ya, tunggu apalagi coba?" tanya Mama Danial.
"Berbulan madu itu perlu, supaya kalian berdua semakin menyatu," imbuh Papa Danial.
"Hmm enaknya berbulan madu di mana ya?" tanya Danial begitu bersemangat.
Anna yang terdiam saja, terheran-heran melihat sikap Danial saat menanggapi perihal berbulan madu.
"Di indonesia ini kan beribu-ribu pulau, banyak pantai dan pegunungan, pilih mana saja yang akan kalian kunjungi," ucap Papa Danial.
__ADS_1
"Mau di mana sayang?" tanya Danial dengan lembut.
"Anna terserah Mas Danial saja pa,"
"Nanti Danial akan pikirkan tempat mana yang akan menjadi pilihan untuk berbulan madu pa,"
"Kalau sudah ketemu tempatnya, hubungi papa ya biar nanti semuanya papa yang tanggung,"
"Nggak perlu pa, biar Danial saja,"
"Anggap saja ini hadiah pernikahan kalian ya,"
"Terima kasih Pa, Ma,"
"Mas sudah nemu belum tempat untuk bulan madu kita?" tanya Anna di atas dipan.
"Sudah, kita akan pergi ke pantai Tanjung Benoa Bali,"
"Anna setuju, Bali adalah tempat yang sangat indah dengan pesona pantainya,"
"Iya,"
"Terima kasih ya Mas, Anna bahagia sekali,"
"Karena mau mengajak Anna untuk berbulan madu,"
Danial mengangguk.
"Mas pergi tidur dulu ya Anna,"
"Assalamualaikum Mas, selamat malam,"
Deburan ombak di pantai, suara burung bersautan, serta angin yang meneduhkan.
Anna membuka kaca jendela dengan tawa yang mekar dari penginapannya yang berdekatan dengan panorama pantai.
"Huh, sungguh indah ciptaannya,"
"Beda ya Mas dengan udara di kota yang begitu berpolusi,"
"Kita jalan-jalan yuk, keliling pantai," ucap Anna yang tidak begitu sabar ingin menikmati keindahan alam sekitar.
"Kamu jangan senang dulu, aku membawamu kemari hanya untuk membuat hati Mama dan Papa senang, dan jangan berharap lebih dari ini," ucap Danial membuat hati Anna kembali sedih.
"Aku paham kok Mas, anggap saja kalau ini adalah liburan," ucap Anna dan pergi meninggalkan Danial sendirian.
"Percuma aku ada di sini bersamanya, kalau hatinya saja ada di sana," ucap Anna saat melihat Danial asyik bercanda di telepon genggam nya.
"Wah seru banget naik wahana itu, lihat ah," ucap Anna menghampiri wahana jetski.
"Mbaknya mau naik jetski ya?" tanya seorang laki-laki yang menghampiri Anna.
"Iya Mas, tapi saya takut kalau bermain sendirian,"
"Kalau begitu mari saya temani Mbak," ucap seorang laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya ke Anna.
Melihat kejadian itu, Danial menghampiri Anna dengan wajah yang penuh amarah.
"Ada apa ini, Mas nya mau ngapain?" tanya Danial dengan tangan yang sudah siap untuk menghantamnya.
__ADS_1
"Maaf Mas, saya cuma mau mengajak mbaknya untuk bermain jetski,"
"Dengar ya, nggak ada seorang pun yang bisa menyentuhnya kecuali saya suaminya," ucap Danial dengan tegas.
"Oh Mas nya ini suaminya ya, saya minta maaf," ucap seorang laki-laki itu dan pergi meninggalkan mereka.
"Kamu ini kenapa sih Mas, orang itu kan cuma mau berniat baik,"
"Coba berpikir sedikit, kalau tiba-tiba dia menggoda Anna lalu Anna terhanyut oleh rayuannya, bagaimana ha?"
"Nggak masalah juga, karena dia sudah berbesar hati mengajak Anna bermain jetski,"
"Jadi Anna ingin bermain jetski?"
"Kalau begitu ayo kita naik sekarang,"
Ajak Danial menggandeng tangan Anna untuk mengajaknya naik jetski bersama.
"Kalau terpaksa juga nggak apa-apa kok Mas,"
"Mas nggak terpaksa kok, Anna mau main jetski ya Mas akan turuti,"
Anna tersenyum manis, lalu keduanya memakai pelampung dan naik jetski bersama.
"Anna kalau nanti jatuh ke laut bagaimana, pegangan Mas ya,"
"Iya Mas, Anna akan pegangan terus dan nggak akan melepaskannya," ucap Anna sambil merangkul erat tubuh Danial.
"Oke sudah siap, let's go," teriak Danial dengan menyalakan jetski nya.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Anna dengan perasaan yang begitu tak karuan.
Mereka tertawa lepas di atas laut, begitu bahagia menikmati wahana jetski secara bersama.
{Di restoran penginapan, mereka duduk sambil menikmati minuman}
"Seru banget ya Mas bermain jetski tadi, ini adalah kali pertama Anna merasakannya, dan rasanya jantung Anna tuh mau copot tahu nggak sih," ucap Anna yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Danial.
"Mas, Mas Danial..?" ucap Anna mulai kesal.
"Iya, Anna butuh sesuatu ya?"
"Anna cuma butuh Mas Danial mengerti perasaan Anna, tapi sayangnya Mas hanya mementingkan perasaannya sendiri!"
"Apa yang Anna katakan ini?"
"Apa kurang perhatian yang Mas beri sama Anna selama ini, iya?"
"Kurang, bahkan nggak ada sama sekali loh Mas perhatian ke Anna?"
"Semua yang Mas lakukan itu hanya karena terpaksa, bukan karena kewajiban seorang suami terhadap istrinya !"
"Jadi sekarang sudah mulai protes nih ya?"
"Mas terus saja sibuk chatting dengan dia, cipika-cipiki di depan mata Anna !"
"Siapa suruh cari tahu soal ini, kamu sendiri kan yang memaksanya?"
"Baiklah, kalau memang itu yang Mas inginkan Anna minta maaf kalau banyak salah, dan kekurangannya," ucap Anna dan pergi meninggalkan Danial seorang diri.
__ADS_1