My Roommate'Class

My Roommate'Class
Jangan Khawatirkan Aku


__ADS_3

Pertemanan yang sehat itu bisa menjadikan dirimu apa adanya.


Mendukung satu sama lain.


Kamu selalu menikmati kebersamaan dengan temanmu.


Pertemanan mu itu bukan sebuah kompetisi yang mengharuskan menang ataupun kalah.


Dan Kamu juga termotivasi untuk bisa bertumbuh menjadi versi baikmu.




Anna yang tengah bersih-bersih rumah, menerima sebuah pesan dari telepon seluler nya.



"Ketemuan yuk kita !" tulis pesan dari Maira.



"Tapi aku masih beres-beres nih di rumah," jawab pesan Anna.



"Kalau sudah selesai semua, kamu chat aku ya !" tulis pesan Maira.



"Iya, nanti aku kabari,"



"Mas hari ini mau kemana?" tanya Anna pada Danial yang baru saja turun dari kamar.



"Kebetulan hari ini jadwal ke rumah Mama, Anna mau ikut?"



"Nggak deh Mas, karena Anna ada janji dengan Maira,"



"Maira teman satu kelas kita yang dulu di smk bukan?"



"Iya, nggak apa-apa kan?"



"Nggak apa-apa Mas izinkan Anna untuk pergi, apa perlu nanti Mas jemput?"



"Nggak perlu Mas, Anna bisa naik taksi online kok,"



"Ya sudah Mas pergi dulu ya, jaga diri Anna baik-baik,"



"Assalamualaikum," ucap salam Danial yang kini tidak pernah lupa mencium kening istrinya.



"Waalaikumussalam,"



Cafe yang asing bagi Anna. Namun ia merasa begitu nyaman berada di sana.



"Kenapa kamu ajak ketemuan di sini Ra?"



"Nggak apa-apa dong, kita kan belum pernah ke sini,"



"Kamu cari siapa sih, selain ajak aku ada orang lain ya?" tanya Anna saat melihat Maira begitu bingung mencari-cari sesuatu.



"Halo Anna, kita bertemu lagi,"



"Tulus, selalu kebetulan ya kita bertiga bertemu di cafe,"



"Bukan kebetulan Anna, tapi ini sudah direncanakan,"



"Tulus yang meminta aku untuk bawa kamu ke cafe ini,"



"Oh iya, tapi untuk apa?"



"Untuk jadi saksi cinta kita berdua,"


__ADS_1


"Duh lihatlah dia sekarang, sudah bisa menggombal ternyata,"



"Oke, saatnya untuk fokus sama tujuan utama kita ajak Anna kemari," ucap Maira dengan tegas.



"Tujuan apa?" tanya Anna kebingungan.



"Kamu tahu nggak Anna kalau cafe ini adalah tempat favorit Danial?" tanya Tulus.



"Oh iya, sekarang aku jadi tahu," ucap Anna dengan polos.



"Jadi kamu sekali nggak mengetahui hal ini?" tanya Tulus terheran-heran.



"Aku sama sekali nggak tahu apapun, memang ada apa?"



"An, Danial itu sudah bohong sama kamu !" ucap Maira.



"Bohong kalau dia sering datang ke cafe ini?" tanya Anna.



"Mungkin dia kemari sekadar untuk merilekskan pikiran nya setelah seharian bekerja, betul bukan?"



"Ini nih yang bisa buat kamu jadi nggak waras, jangan terlalu polos jadi orang bisa nggak !" ucap Maira dengan kesal.



"Terus masalahnya di mana?"



"Masalahnya kamu nggak tahu kalau Danial berani bermain api di belakangmu !" ucap Maira membuat Anna terdiam sejenak.



"Tahu kan apa yang aku maksud?" tanya Maira.



"Kalian tahu dari mana soal ini, apa Hanin menceritakan semuanya?" ucap Anna.




"Aku tahu, tapi aku juga nggak bisa berbuat apa-apa,"



"Lagi pula yang Hanin katakan itu ada benarnya juga, kalau Danial mencintainya saja," imbuh Anna mencoba tetap tegar.



"Please deh Anna, ini bukan saatnya kamu menyerah oke?" ucap Maira.



"Kamu harus bisa merebut Danial kembali, jangan sampai Hanin memilikinya seutuhnya !"



"Karena hanya kamu yang berhak atas Danial, kamu istirnya ingat itu !" imbuh Maira memberikan keyakinan untuk Anna.



"Aku nggak menyangka Hanin akan melakukan semua ini, padahal Anna adalah sahabatnya," ucap Tulus.



"Mungkin ini balasan untukku karena sudah membuat ia begitu kecewa saat di sekolah dulu," ucap Anna.



"Kecewa bagaimana?" tanya Tulus penasaran.



"Dia selalu marah dan berubah sikapnya ketika melihat aku berhasil, padahal dia adalah murid yang berprestasi juga,"



"Banyak orang yang menyayanginya, termasuk kamu bukan?"



"Tapi kenapa Hanin selalu merasa nggak cukup dengan semua kebahagiaan yang ia dapatkan, semenjak itulah persahabatan kita jadi renggang,"



"Dia menghilang dan kita nggak tahu selama ini ada di mana,"



"Lalu kenapa kamu nggak coba jelaskan kesalahpahaman itu dengannya?" tanya Tulus.


__ADS_1


"Dia saja nggak mau bertemu denganku, mana bisa bicara dengannya?"



"Aku baru sadar kalau Danial sudah dari dulu mencintainya,"



"Sudahlah An jangan diungkit lagi kisah masa lalu, itu hanya akan membuat kamu semakin terpuruk," ucap Maira menenangkan Anna.



"Maaf ya bukan bermaksud untuk membuat kalian jadi khawatir seperti ini, aku janji akan jaga diri baik-baik kok," ucap Anna.



"Tapi aku nggak yakin deh, karena kamu itu orangnya terlalu baik !" ucap Maira.



"Anna, coba berpikir deh bagaimana aku bisa diam saja saat kamu tersakiti seperti ini?" imbuh Maira.



"Kalau aku ada di posisi kamu nih ya, pasti sudah meminta cerai sama Danial! " ucap Maira begitu kesal.



"Aku nggak bisa melakukannya ra, karena pasti akan membuat orang tua kita sedih," ucap Anna



"Kalau mereka tahu kelakuan Danial yang sebenarnya, nggak akan menyesal menyuruh kamu untuk berpisah dengannya !"



"Doakan saja agar aku bisa melewati semua ini dengan sabar dan berlapang dada," imbuh Anna menggenggam tangan Maira.



Mama Danial mencari-cari Anna, namun tak juga kelihatan bersama Danial.



"Kenapa Anna nggak ikut, ke mana dia?" tanya Mama Danial.



"Anna ada janji dengan temannya Ma," ucap Danial sambil memainkan telepon genggam nya.



"Kamu itu sedang chat dengan Anna kan?" tanya Mama Danial begitu penasaran.



"Bukan Ma, tapi Hanin," ucap Danial yang hampir saja keceplosan.



"Hanin ini rekan kerja di kantor Ma,"



"Hari ini bukannya kamu libur kerja, tapi kenapa masih saja sibuk membahas soal pekerjaan ya?"



"Hanin cuma tanya soal meeting besok Ma, karena nggak mungkin juga kalau dadakan,"



"Semoga kamu berkata jujur sama Mama ya," ucap Mama Danial lalu pergi ke kamarnya.



"Kalau Mama tahu pasti akan sangat marah besar," ucap Danial seorang diri.



"Dan, kamu sendirian?" tanya Papa Danial yang baru saja pulang joging.



"Iya Pa, Anna sedang pergi bersama temannya,"



"Papa habis olahraga ya?" tanya Danial.



"Iya, kapan-kapan kamu harus ikut papa joging ya !"



"Papa mau mandi dulu,"



"Tuan Danial, Nona Anna mana, kapan lagi Bibi bisa bertemu dengan Nyonya Muda Danial," tanya Bibi Atun.



"Anna sedang pergi bersama temannya Bibi, lain kali Danial janji akan pertemukan bibi dengannya ya," ucap Danial.



"Janji ya Tuan Muda, kalau begitu Bibi pergi untuk bersih-bersih halaman rumah dulu ya,"



Bibi Atun yang begitu penasaran dengan sosok istri dari Tuan Mudanya, karena sama sekali belum pernah melihat Anna. Karena saat itu ia libur kerja di hari pernikahan Danial dan Anna.

__ADS_1


__ADS_2