
Malam ini bulan dan bintang ikut berbahagia dengan menghiasi milyaran cahayanya yang terang di angkasa raya.
Anna duduk sila di dipan kayu jati sambil merias diri untuk malam pertama pengantin.
"Malam ini adalah malam pertama kita, aku harus melakukan apa ya supaya bisa membuat mas danial senang?" ucap Anna sambil berpikir.
Sedangkan Danial masih sibuk memainkan telepon genggam nya di ruang tamu.
"Sampai sekarang kamu belum saja menanyakan kabarku," ucap Danial yang semakin cemas.
"Aku cari di internet saja lah bagaimana cara memuaskan suami di atas ranjang, oke sekarang kita baca-baca dulu," ucap Anna sambil scroll telepon genggam nya.
"Banyak juga ya, tapi aku pilih yang anti mainstream saja,"
Jam dinding sudah lewat tengah malam. Namun Danial belum juga menyusul Anna di kamar.
"Mas Danial di mana ya?" tanya Anna kemudian mencari Danial di bawah.
Anna melihat Danial sedang terbaring di sofa dengan telepon seluler nya yang masih ditangannya.
Ia mencoba perlahan membangunkannya, namun kehadirannya sudah diketahui oleh suaminya itu.
Dengan mimik wajah yang terheran-heran melihat Anna, Danial langsung terbangun.
"Kenapa kamu ada di sini?"
"Aku ingin kamu tidur di kamar mas,"
"Maaf aku tadi ketiduran,"
Anna mengangguk dan membiarkan Danial berjalan lebih dulu ke kamar.
"Mas ini kan malam pengantin kita, jadi," ucap Anna yang seketika jadi diam.
"Jadi apa lagi, waktunya untuk tidur bukan?"
Danial merapikan bantal dan menarik selimutnya, dan Anna yang ditinggal sendirian meratapi malam pertamanya yang gagal.
"Ini semua Anna yang memasaknya?" tanya Mama Danial.
"Iya ma, silakan dicoba ya semua, dan tolong katakan apabila ada yang kurang dari masakan anna ini,"
Danial datang dan duduk di kursi sebelah Elvira seperti biasanya, ia lupa kalau kini telah memiliki seorang istri.
"Danial kenapa kamu duduk di sebelah adikmu, kan sudah punya istri jadi duduklah di sampingnya," ucap Mama nya menyuruh Danial untuk duduk di samping Anna.
Danial pun duduk di samping Anna dengan langkah malu-malu.
"Hmmm rasanya enak banget masakan kak Anna ini, apalagi tumis nya yang benar-benar bikin nagih," ucap Elvira saat menikmati makanan buatan kakak iparnya itu.
"Terima kasih El, kalau kamu suka dengan tumis nya besok kakak akan buatkan lagi ya," ucap Anna dengan tersenyum.
"Boleh banget kak,"
"Nggak bisa, karena besok Kakak dan kak Anna akan pergi ke rumah orang tua kak Anna," ucap Danial membuat semua orang bertanya-tanya.
"Kok buru-buru sih Dan, baru juga sehari di sini," ucap Papa Danial.
"Maaf Pa, tapi kita sudah berjanji untuk besok menginap di rumah orang tua Anna,"
"Besok kita pergi ke Bandung, kenapa sebelumnya mas danial nggak bilang sama anna?"
__ADS_1
"Yang penting kan sekarang kamu sudah tahu,"
"Mas, persoalan sekecil apapun kita harus saling kasih tahu sebagai suami istri, supaya nggak terjadi kesalahpahaman antara kita,"
"Terus aku harus every time bilang sama kamu apa yang mau aku lakukan, seperti itu?"
"Benar sekali, ingat mas jangan ada dusta diantara kita berdua ini ya," ucap Anna lalu pergi meninggalkan Danial di meja makan.
Perjalanan ke kota Bandung sungguh tak terasa, sejuknya angin puncak di pagi hari juga cuaca cerah, segarkan mata yang memandang.
"Assalamualaikum Ibu, Bapak," ucap salam Anna.
"Waalaikumussalam Anna, Danial," ucap Ibu Anna dengan gembira saat mengetahui anak dan menantunya di depan mata.
"Kamu kenapa nggak bilang-bilang sama Ibu kalau mau ke sini?"
"Anna nggak mau merepotkan Ibu dan Bapak,"
"Ibu buatkan kalian minuman dulu ya,"
"Bu, biar Anna saja yang buat ya," ucap Anna pergi membuatkan minuman.
"Bagaimana perjalanan kalian, menyenangkan bukan?" tanya Ibu Anna pada Danial.
"Iya Bu sangat menyenangkan,"
"Ini teh hangat nya Mas," ucap Anna sambil memberikan secangkir teh hangat ke Danial.
"Bapak di mana Bu, dari tadi nggak keliatan?"
"Bapak kamu sedari subuh belum pulang juga, mungkin masih di masjid,"
"Abang mu lagi, setelah hari pernikahan kamu dia nggak pulang sama sekali,"
"Kalian lanjutkan ngobrolnya ya, Ibu mau ke dapur dulu,"
"Gimana nikmat kan tehnya Mas?" tanya Anna ke Danial yang sedari tadi tidak berhenti menyeruput teh buatan istrinya itu.
"Seperti teh pada umumnya,"
"Enggak dong, karena teh yang Anna buat ini spesial pakai cinta,"
Danial tersenyum simpul.
"Mas mau jalan-jalan nggak?"
"Aku di sini saja,"
"Ih ayo dong, Mas belum tahu ada apa saja di sini," ucap Anna lalu menggandeng tangan Danial.
"Tara, indah bukan Mas?" ucap Anna membentangkan kedua tangannya.
"Kenapa saat smk dulu semua ini nggak ada?" tanya Danial keheranan.
"Karena ini kebun teh ini baru saja ditanamkan di sini, ya sekitar 3 tahunan lah Mas,"
Danial menuju ke arah barat saat mengetahui banyaknya bunga di sana. Diantara kebun teh yang lebat.
"Bunga itu pasti untuk Anna kan?"
"Kamu mau, ambil sendiri bisa kan?"
__ADS_1
Anna memetik setangkai bunga yang telah layu, dan memberikannya pada Danial.
"Bunga ini untuk Mas,"
"Bunga layu?"
"Iya, tahu nggak kenapa Anna kasih bunga yang layu, bukannya yang segar?"
Danial menggelengkan kepalanya.
"Karena bunga layu ini ibarat Anna sebelum ada Mas Danial, setelah mas hadir dalam hidup Anna maka jadilah seperti bunga yang ini," ucap Anna menunjukkan bunga yang satunya.
"Mas Danial adalah sumber kehidupan bagi anna,"
"Tanpa adanya cinta dari Mas pasti Anna akan menjadi bunga layu seperti ini,"
"Sepertinya cuaca semakin panas ya, lebih baik kita kembali ke rumah," ucap Danial mengalihkan pembicaraan.
"Mas mau kan untuk mulai belajar mencintai anna?"
Seketika Danial terdiam, mana mungkin bisa menuruti keinginan Anna. Karena hatinya hanya untuk orang yang saat ini masih ia nantikan kehadirannya.
"Lupakan saja lah Mas, ayo kita pulang !"
"Waktunya makan, pasti sudah sangat lapar ya kalian,"
"Andai saja beri tahu lebih awal, pasti nggak akan lama menunggu seperti ini," ucap Ibu Anna menyiapkan makanan di atas meja.
"Assalamualaikum," ucap salam Bapak Anna.
"Waalaikumussalam, itu pasti bapak ya bu?"
"Iya, dia selalu tahu kapan waktunya untuk makan,"
"Masha Allah kalian ada di sini, kapan datangnya?"
"Tadi pagi Pak,"
"Kata Ibu, Bapak belum pulang dari subuh, kemana memang?"
"Setelah menikahkan putri kesayangan kami ini, bapak jadi semakin taat untuk beribadah kepada Allah, ya walau usia sudah tidak lagi muda tapi harus etap semangat mencari bekal untuk dibawa ke akhirat nanti,"
"Alhamdulillah, semoga bisa istiqomah ya Pak,"
"Aamiin, mari kita makan sama-sama,"
Setelah menyantap makanan, tiba-tiba Danial mendapatkan sebuah pesan dari telepon genggam nya.
"Dari siapa Mas?" tanya Anna penasaran.
"Hmm pesan dari teman," ucap Danial menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kenapa kamu masih di sini, nggak mau bantu Ibu di dapur?"
"Iya, Anna mau ke dapur dulu,"
Danial pun bisa bernapas bebas setelah mengetahui isi pesan di telepon seluler nya.
Namun juga khawatir jika Anna mengetahui hal ini.
Apa yang akan ia katakan nanti?
__ADS_1