
Perlahan menjauhkan dirinya dari suaminya.
Merasa rasa sakit itu kembali menyerang.
Karena tidak tahan lagi, tubuhnya pun roboh.
"Anna, Mas mohon bangunlah !" ucap Danial, menatap istrinya dalam keadaan takut.
Di bawah langit malam yang mendung, berharap hujan jangan dulu turun.
Danial membopong tubuh istrinya ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Kedua matanya yang masih menyimpan air mata, terbuka.
Bicaranya terbata-bata, menahan sakit.
"Tolong ya, Mas mau untuk lepaskan Anna," ucap Anna menatapnya dengan lekat.
"Itu nggak akan pernah terjadi, karena Mas sayang sama Anna,"
"Kalau begitu, jauhi Hanin. Apa Mas bisa?"
"Anna tolong jangan terus menerus mendesak Mas untuk memilih, karena Mas nggak mau kehilangan keduanya !" tegas Danial.
"Sekarang lebih baik kita pergi ke rumah sakit ya, supaya sakit Anna segera diobati,"
__ADS_1
"Kali ini Anna nggak boleh menolak ajakan Mas untuk pergi ke rumah sakit !"
"Nggak perlu Mas, kita pulang saja ya,"
Danial mengiyakan ajakan istrinya, kemudian menyalakan mobilnya dan pergi dari sana.
Melewati seseorang yang duduk sendirian di atas motornya. Tanpa disadari ternyata orang itu adalah Tulus. Sengaja menundukkan wajahnya, supaya tidak terlihat oleh mereka.
Setelah mendengar kabar putrinya jatuh sakit,
seluruh tubuhnya seperti dikerubuti semut. Sampai tangan yang menggenggam handphone tidak kuat menyangga.
"Saya bingung Bu, kenapa Anna selalu menolak untuk dibawa pergi ke rumah sakit padahal penyakitnya terus saja kambuh,"
"Apa Anna sakit ini ada hubungannya dengan Hanin lagi?" tanya Bu Lilis membuatnya diam seribu bahasa.
Bu Sarah mantap untuk membuat Danial menalak istrinya setelah mendengar kabar yang sama. Walau harus menanggung malu dihadapan keluarga besannya.
"Kamu ini benar-benar kepala batu ya, sudah berapa kali Mama bilang kalau dia itu hanya menyusahkan saja, dan jalan terbaiknya adalah berpisah !"
"Ma, Danial saat ini sedang butuh ketenangan diri, tolonglah jangan tambah memperkeruh keadaan !" tegas Danial menutup teleponnya.
"Dulu anak ini menentang saat aku mau menikahkannya dengan Anna, sekarang malah enggan untuk berpisah,"
"Itu artinya Danial sudah mulai mencintai Anna Ma, dia berhasil bisa melupakan Hanin," sahut Pak Saiful tersenyum simpul.
__ADS_1
"Oh, jadi Papa memilih tega melihat anak sendiri menderita karena ulah dia?"
"Cinta sudah ada diantara keduanya, apalagi yang harus dikhawatirkan?"
"Soal keturunan, itu rahasia Allah. Yang kita sendiri nggak tahu kapan waktunya tiba." Pak Saiful menatap istrinya, membuat Bu Sarah kembali memikirkan niatnya yang kuat memisahkan Danial dan Anna.
Aku rasa tak pantas untuk kau cintai balik.
Yang sama seperti mereka.
Menyakitimu tanpa perasaan.
Kecewa, melihatmu terluka sedang aku berdiam diri saja, meratap.
Tak mengapa, sementara biar rasa sakit ini ku genggam erat sampai nanti ku lepaskan sampai tak bersisa.
"Saya nggak menyangka kalau Danial bisa sekejam itu sama Anna, Om !" ucap Tulus mengepalkan tangannya.
"Itulah mengapa saya mau membicarakan soal ini dengannya, kalau dia memang mencintai Hanin lebih baik lepaskan Anna !"
"Om tahu kan, kebanyakan seorang laki-laki itu memiliki keinginan yang lebih, dia nggak akan puas dengan satu saja. Danial salah satunya," ucap Tulus terus menekan Pak Saiful.
"Saya akan bertindak sama dia tegas kalau Anna masih diperlukan seperti ini !"
"Om nggak perlu khawatir soal itu, biar saya yang menanganinya !"
__ADS_1