My Roommate'Class

My Roommate'Class
Jangan Dekati Dia !


__ADS_3

Cinta, tumbuhlah dengan baik ya


Berkembang tanpa harus bercabang


Aku di sini akan terus menyiraminya dengan doa juga harapan


Kamu di sana yang mengaminkan.




"Sebenarnya apa yang sedang terjadi, kenapa tiba-tiba ibu jatuh sakit seperti ini?" tanya Anna didekat ibunya.



Dengan tubu yang masih lemas, wajah letih masih memberikan senyum tulusnya.



"Cuma kecapekan saja, kamu lihat kan Ibu sekarang sudah sehat lagi,"



"Apa ini ada hubungannya dengan Abang Bu?"



"Anna," ucap Bapaknya lalu coba dihentikan oleh istrinya.



"Abang mu saja nggak pulang dari semalam, sudahlah jangan terlalu memikirkan Ibu ya,"



"Bagaimana dengan Danial, dia baik-baik saja kan?"



"Ibu lihat dia sering biarkan kamu sendirian ke mari, kalian bertengkar ya?"



"Mas Danial kerja bu, jadi mana sempat antar Anna ke sini,"



"Semoga rumah tangga kalian bahagia selalu,"



"Tapi Danial pasti kemari juga kan Anna?" tanya Bapaknya.



"Mungkin saja Pak, karena Mas Danial banyak kerjaan di kantor,"



"Kalau Danial nggak bisa kemari, kamu tinggal lah beberapa hari ya," ucap Bapaknya sambil memohon.



"Kamu sudah izin sama Danial kalau mau tinggal di sini untuk beberapa hari?" tanya Ibunya.



"Iya Anna sudah dapat izin dari Mas Danial untuk jaga Ibu di sini,"



Hati Mama Danial tiba-tiba menjadi gelisah, sedari tadi mondar-mandir di depan suaminya.



"Pa, kenapa ya Mama jadi kepikiran sama Danial?"



"Seperti ada yang dia sembunyikan dari kita,"



"Itu cuma perasaan mama saja,"



"Tapi waktu Danial dan Anna menginap di sini, Mama lihat Danial nggak pernah bisa lepas dari handphonenya,"



"Mama takut Danial masih berhubungan dengan perempuan itu Pa,"



"Mama tahu nggak nama perempuan itu, mungkin saja Papa tahu siapa dia,"



"Mama nggak tahu pasti sih Pa, tapi waktu itu sebelum Danial menikah ia sering menceritakan tentang dia,"



"Tapi masih banyak yang belum Mama tahu soal perempuan itu, apa kita harus selidiki hal ini Pa?"



"Kalau Papa sih setuju saja, tapi jangan sampai hal ini diketahui oleh Danial apalagi Anna,"



"Iya Pa, Mama akan jaga rahasia ini,"



Danial duduk seorang diri di sofa.



"Iya Ma, ada apa Mama telepon Danial?" tanya Danial saat berbicara di telepon dengan Mama nya.



"Kamu ini sedang bersama Anna ya?"



"Nggak Ma, Danial baru saja pulang dari kantor,"



"Nggak, memang Anna di mana?"



"Anna tadi siang pergi ke Bandung Ma, katanya Ibunya sedang sakit,"



"Terus kamu nggak ikut ke sana juga?"



"Danial kan harus kerja Ma,"


__ADS_1


"Danial, ingat kamu ini sudah memiliki seorang istri yang seharusnya kamu jaga dengan baik,"



"Jangan malah membiarkan seperti ini, kasihan Anna,"



Danial merenunginya.



"Iya Ma, Danial minta maaf, mungkin besok Danial akan susul Anna ke Bandung,"



"Sampaikan salam Mama untuk Ibunya ya, jaga diri baik-baik di sana,"



"Iya Ma,"



"Assalamualaikum,"



"Waalaikumussalam,"



Tok...tok..tok....


(seseorang telah mengetuk pintu rumah Danial)



"Iya sebentar," ucap Danial sambil membuka pintu rumah nya.



"Danial, aku takut sekali," ucap Hanin gemetaran.



"Hanin, kamu kenapa?"



"Ada yang mencoba meneror aku, kamu bisa lihat ini," ucap Hanin sambil memberikan secarik kertas bertinta merah.



"JANGAN SAKITI DIA, ATAU KAMU AKAN MENYESAL !" tulisan pada kertas yang Hanin terima.



"Kamu dapat ini dari mana?"



"Saat aku hendak masuk ke dalam rumah, benda ini ada di teras rumah,"



"Tapi aku sama sekali nggak tahu siapa yang menaruhnya di sana,"



"Aku yakin Dan, ini pasti perbuatan Anna !"



"Kamu ini bicara apa, mana mungkin Anna melakukan ini dan untuk apa?"




"Aku masih belum sepenuhnya percaya kalau ini adalah perbuatan Anna,"



"Aku harus tanyakan hal ini pada Anna. Batinnya. Lalu kamu mau apa sekarang?"



"Kamu bisa kan antar aku pulang, please?"



Anna tengah duduk sendirian di teras rumah. Tiba-tiba telepon nya berdering.


Ada sebuah pesan gembar dari nomor tak dikenal.



"Nomor siapa ya ini?" tanya Anna lalu membuka pesan dari nomor tidak dikenal tersebut.



Anna terkejut melihat foto tersebut yang tak lain wajah suaminya yang bersama dengan hanin.



"Nggak ada artinya aku berpesan padamu Mas, karena pasti akan kamu abaikan juga,"



"Ayo kita makan sama-sama, Ibu sudah masak masakan kesukaan Anna," ucap Ibunya.



"Iya Bu,"



Anna bangun pagi untuk menyirami tanaman-tanamannya. Lalu Ibunya menghampirinya.



"Anna kalau ingin pulang ke jakarta hari ini juga nggak apa-apa kok, ibu sudah sehat,"



"Bu, nggak apa-apa kan kalau Anna masih ingin tinggal di sini?"



"Bagaimana dengan Danial?"



"Mas Danial sudah dewasa Bu, pasti bisa melakukan semua dengan sendiri,"



"Anna, kalau kamu ada masalah jangan takut untuk cerita sama Ibu ya,"



"Nggak ada kok Bu, Anna hanya rindu dengan Ibu, Bapak, juga suasana desa seperti ini,"



Sebuah mobil putih mewah telah berhenti di depan rumah Anna.

__ADS_1



"Lihat siapa yang datang, pasti itu Danial," ucap Ibunya.



Seorang laki-laki bertubuh tinggi semampai, rambut ikal dan memakai kaca mata hitam menghiasi wajahnya yang tampan.



"Tulus?" ucap Anna dan menghampirinya.



"Assalamualaikum Anna, Ibu" ucap salam Tulus.



"Waalaikumussalam, ada apa nih tiba-tiba datang ke rumah?"



"Kenapa, apakah aku dilarang untuk bertemu dengan Ibu?" ucap Tulus menghampiri ibu Anna yang masih berdiri di sana.



"Bagaimana kabar Ibu?"



"Alhamdulilah Ibu sehat,"



"Kemari ingin bertemu Ibu atau Anna?"



"Bertemu Ibu dahulu lalu ke Anna,"



"Oh iya Tulus bawa buah-buahan yang segar baru dipetik dari pohonnya untuk Ibu,"



"Kenapa harus repot-repot membawa semua ini?"



"Nggak kok Bu, kebetulan baru panen juga di kebun jadi daripada nggak ada yang memakannya lebih baik saya bawa kemari,"



"Mari masuk, Ibu buatkan teh hangat dulu ya,"



"Kenapa masih berdiri?"



"Belum dipersilakan untuk duduk,"



"Silakan duduk Tuan Tulus,"



"Danial di mana, apa masih tidur?"



"Dia nggak ada di sini,"



"Kok bisa, dia itu suamimu harusnya selalu bersama kemanapun kamu pergi,"



"Pasti mau bilang kalau dia sibuk kerja kan, hai Anna, aku pun juga sibuk kerja,"



"Tapi aku masih bisa sempatkan waktu luang untuk keluarga dan teman, sedangkan dia?"



"Sebenarnya kamu kemari ada perlu apa?" tanya Anna mengalihkan pembicaraan.



"Aku mau bicarakan soal projek baru kita yang waktu itu kamu bilang,"



"Soal itu aku belum membicarakannya dengan Danial,"



"Aku harap kali ini kamu bersungguh-sungguh untuk menggapai cita-citamu ya, dan nggak mau mendengar kata nanti lagi,"



"Iya bawel aku janji,"



Setelah minum teh bersama, Tulus ingin Anna mengajaknya ke kebun Teh yang tak jauh dari rumahnya.



"Ternyata masih sama ya An, nggak berubah," ucap Tulus saat melihat rindangnya kebun teh.



"Sepertinya kamu deh yang sudah berubah,"



"Mana mungkin aku berubah, semuanya masih sama seperti dulu,"



"Juga cinta yang masih sama An. Batinnya. Kamu mungkin yang berubah,"



"Iya, aku sudah berubah jadi wonder woman !" ucap Anna yang ingin memukul Tulus.



"Anna," teriak Danial yang tiba-tiba ada di belakang mereka.



"Mas Danial, kenapa kamu bisa ada di sini?"



"Ayo kita pulang," ucap Danial menarik paksa tangan Anna.



"Danial cobalah untuk bersikap yang manis, dia itu istrimu !" ucap Tulus.

__ADS_1



"Kamu diam saja ya, jangan mengajariku !" ucap Danial membawa Anna dengan paksa, dan pergi meninggalkan Tulus sendiri.


__ADS_2