My Roommate'Class

My Roommate'Class
Biar Waktu Menjawabnya


__ADS_3

Lebih baik terus bungkam


Dari pada harus keluar kata tajam


Biarlah rasa sakit ini mendekam


Asal jangan wajahmu berubah jadi masam


•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


Berjalan dengan langkah kilat, Bu Lilis berteriak memanggil nama suaminya dari luar rumah.


"Ada apa sih Bu, kenapa harus berteriak?"


"Ibu kesal dengan Bu Sarah, dia datang dan maki-maki Ibu di kios Pak !"


"Memang apa yang sudah Bu Sarah katakan pada Ibu?"


"Bu Sarah bilang Ibu nggak becus mendidik Anna, lalu juga mengatakan kalau Anna nggak pantas untuk anaknya,"


"Dia pikir, dia itu siapa yang seenaknya saja menghakimi kehidupan orang !" gerutu Bu Lilis, memanyunkan bibirnya.


"Istighfar Bu, kita harus bisa bersabar !"


"Pak, jangan karena kita ini orang nggak punya terus bisa seenaknya mereka menindas keluarga kita !"


"Lalu apa yang harus kita lakukan Bu, nggak mungkin juga kan kita memaksakan kehendak mereka,"


"Karena kita juga salah, menyembunyikan keadaan Anna,"


"Ibu nggak tega Pak, melihat Anna tersiksa di sana. Kita harus bisa bantu dia !"


"Ibu benar, kita harus menolong Anna dari kekejaman mertuanya juga perlakuan suaminya yang masih saja berhubungan dengan perempuan lain !"


Bertemu denganmu adalah doaku setiap waktu.


Jika tidak mampu, bisa dengan suaramu yang bernada di dalam hatiku, menari-nari di pikiranku.


"Hari ini aku mau ajak kamu ke studio musik, untuk membahas projek kita yang sedikit lagi berada di titik finishing !"


"Serius kamu, kalau gitu aku mau siap-siap dulu ya !"


"Oke, apa perlu aku jemput kamu ke rumah?"


"Jangan deh, kamu duduk manis saja di sana ya !"


Danial berdeham di belakang istrinya.


"Mas, boleh kan hari ini Anna ke luar rumah untuk membahas masalah projek bersama Tulus?"


"Boleh saja, tapi Mas minta satu hal dari Anna boleh?"


"Tapi jangan minta yang aneh-aneh ya Mas, soalnya Anna buru-buru banget ini !"


"Yah, berarti pagi ini nggak ada sarapan dong ya," ucap Danial membuat Anna melotot, mulutnya menganga lebar.


"Astaghfirullah, Anna lupa buat sarapan untuk Mas !"


"Oke nggak masalah Anna, biar Mas nanti beli di kantin kantor ya !"

__ADS_1


"Maafkan Anna ya Mas, karena bangun kesiangan jadi lupa menyiapkan makanannya,"


"Lebih baik Anna segera pergi, nggak enak juga harus membuat orang menunggu lama kan?"


"Iya Mas, Anna pergi dulu ya. Assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam,"


Terlalu penuh makanan yang ada di mulutnya. Ketika mendapat sebuah pesan dari Danial membuatnya memuntahkan makanannya.


"Uhuk...uhuk, nggak ada hujan nggak ada angin dia memintaku untuk ketemuan !"


"Oke Sayang, kita ketemuan di tempat biasa ya !" tulis pesan Hanin pada Danial.


Kedua matanya tidak bisa berpaling dari lukisan Tuhan yang paling indah. Memandangi wajah manis Anna di depannya.


"Tulus please, kamu jangan melihatku seperti itu. Aku jadi takut loh !"


"Kapan lagi aku bisa menikmati pemandangan yang indah plus gratis lagi, kan?"


Anna menggelengkan kepalanya.


"Sudah saatnya kamu itu mencari pasangan hidup, supaya ada yang terus kamu pandangi setiap waktu !"


"Iya kamu benar, menurut kamu siapa yang cocok menjadi pasangan hidupku ya?"


"Banyak, kamu tinggal mencari yang tepat !"


"Termasuk kamu bukan orangnya?"


Anna terdiam sesaat, lalu tertawa kecil.


"Berapa kali aku bilang sama kamu, kalau aku sudah menjadi istri orang !"


"Padahal Hanin mendustakan cintanya, kasihan Danial,"


Tulus melotot.


"Tunggu, kamu juga tahu soal Hanin yang berselingkuh dari Danial?"


"Kamu juga tahu, kenapa harus menyembunyikannya dari aku?"


"Aku pikir saat ini bukan waktu yang tepat untuk kamu mengetahuinya, aku minta maaf ya soal Hanin !"


"Iya Tulus nggak masalah kok, tapi Maira juga tahu hal ini,"


"Nggak masalah, aku yakin Maira bisa jaga rahasia ini baik-baik !"


Jemari tangannya mencari kesempatan meraih kedua tangan Danial.


"Sayang, aku bahagia sekali karena akhirnya kita bisa berduaan seperti ini !"


"Hanin, aku cuma mau tahu bagaimana perasaan kamu sama aku?"


"Kenapa sih kamu selalu menanyakan hal ini, apa semua yang aku lakukan itu nggak cukup buat kamu?"


"Cuma mau tahu saja, kamu serius nggak sih sama hubungan ini?"


"Aku jadi sedih, kalau tahu kamu masih meragukan cintaku !" ucap Hanin menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Oke, aku minta maaf ya. Aku takut kamu hanya mempermainkan perasaanku,"


"Kalau bukan karena membalas rasa sakit ku pada Anna, sudah pasti aku memilih pergi darinya. Batinnya. Nggak dong Sayang, mana mungkin aku mau mengkhianati kamu !"


"Terima kasih ya," ucap Danial menghela napasnya dalam-dalam.


Langit mulai gelap. Mereka belum juga terlelap.


Berharap bisa mengungkap perasaan yang tidak bisa terucap.


Anna memulai percakapan dengan terbata-bata, sambil berusaha mengelap kedua telapak tangannya yang basah.


"Seandainya Hanin berbohong sama Mas, apa Mas akan memaafkannya?"


"Kenapa Anna tiba-tiba bicara seperti itu?"


"Oh, Anna mau lihat Mas dan Hanin bertengkar ya lalu setelah itu kita saling menjauh dan akhirnya Anna bisa menjadi satu-satunya orang yang ada di dalam hati Mas, begitu?"


"Bukan begitu Mas, Anna cuma ingin," ucap Anna yang terhenti karena mendengar bunyi nada panggilan telepon.


"Sebentar, biar Mas angkat dulu telepon darinya,"


"Halo Sayang, besok kita jadi jalan-jalan kan?"


"Jadi dong !" ucap Danial sambil kedua matanya melirik ke arah Anna.


"Kamu ini lagi sama dia ya?"


"Iya, kenapa memang?"


"Pantes, kamu nggak berani bicara banyak-banyak !"


"Bukan begitu, lebih enak lagi kalau kita bicarakan langsung. Sudah dulu ya, besok siang aku tunggu kamu di tempat biasa,"


"Bye Sayang, kiss dulu !" ucap Hanin di telepon membuat tubuh Anna tergelitik.


"Anna cemburu?"


"Cemburu, nggak sama sekali Mas !"


"Kalau gitu pasti mau di kiss juga ya?"


"Nggak ah, malas !"


"Anna tunggu, sini jangan malu-malu!" Teriak Danial menyusul Anna yang lebih dulu pergi ke kamar.


Glek...glek...glek...


"Astaga, pelan-pelan dong minumnya !" ucap Maira.


"Habis aku gerah tahu nggak sama sikap Hanin yang sok manis di depan Danial !"


"Geli tahu waktu dengar dia bilang sayang terus kiss dulu lah, padahal bukan ke Danial saja bilangnya tapi begitu banyak laki-laki yang termakan rayuannya !"


"Sabar ya, kamu harus tetap terlihat tenang di depan Danial. Sebelum akhirnya dia jijik sama Hanin !"


"Sampai kapan Ra, aku harus menyembunyikannya?"


"Tunggu sampai Danial mengetahuinya sendiri, biar mampus tuh orang !"

__ADS_1


"Tapi aku juga takut, hal itu akan membuatnya kehilangan dirinya,"


"Harusnya yang dia takuti itu kalau sampai kehilangan kamu, aduh nggak bisa bayangin deh itu beneran terjadi !"


__ADS_2