
Anna terlihat begitu cantik di pesta itu.
Pandangan tamu undangan tertuju padanya.
Namun hanya satu yang ia tunggu, suaminya melihat dirinya.
Bukan pujian yang ia dapatkan, Danial malah mencacinya.
Karena kedatangan Anna kemari membuatnya malu.
Orang akan berpikir dirinya lelaki yang buruk.
Bukannya menggandeng istrinya malah memilih perempuan lain.
"Kenapa Mas, Anna juga berhak kan berada di sini?" ucap Anna menghampiri Danial.
"Hei, tapi Danial nggak butuh kamu di sini !" ucap Hanin sambil melotot.
"Kamu pasti lupa bercermin ya, aku ini adalah istri dari Mas Danial sedangkan kamu sebatas teman saja,"
"Jangan besar kepala dulu ya kamu, ingatlah selalu bahwa Danial itu terpaksa menikah denganmu,"
"Cukup Anna, Mas nggak mau Anna buat keributan di sini !" ucap Danial membuat hati Anna tersentak.
"Siapa yang buat keributan Mas, Anna atau dia !"
"Baiklah kalau kehadiran Anna di sini membuat Mas malu, Anna akan pergi," ucap Anna pergi dari pesta itu, dan disusul oleh Arvin yang mengejarnya.
Danial ikut menyusul mereka, dan menghentikan langkah Arvin.
"Apa maksud kamu membawa Anna kemari?"
"Apa aku salah, kamu tahu kan aku masih sendiri sampai saat ini jadi sah saja dong jika membawa seorang perempuan untuk menemaniku ke pesta,"
"Tapi bukan berarti kamu meminta Anna untuk yang menemani ke pesta ini !"
"Kamu jangan munafik jadi orang, kemarin bilang A sekarang ke B," ucap Arvin pergi meninggalkan Danial seorang diri.
Melihat Anna yang menangis tersedu-sedu membuat dirinya merasa sangat bersalah karena ajakannya harus menyaksikan Anna yang disakiti oleh Danial dan Hanin saat di Pesta.
"Aku minta maaf ya Anna, bukannya bermaksud membuatmu jadi sedih,"
Anna mengusap air matanya, dan tersenyum pada Arvin.
"Antar aku pulang ya Vin, aku nggak mau berlama-lama di sini,"
Arvin pun menyalakan mobilnya, dan mengantarkan Anna pulang.
Anna membaringkan tubuhnya yang dirasa begitu lemas. Ia lupa untuk membeli obat pereda rasa sakitnya karena sudah habis. Danial pun sampai di rumah, ia mencari istrinya karena belum selesai selesai dirinya bicara saat di Pesta tadi.
"Anna bangun, Anna !" teriak Danial saat mengetahui Anna tidur.
"Ada apa Mas?" sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
__ADS_1
"Mas belum selesai bicara sama Anna !"
"Maaf Mas, tapi sekarang kepala Anna terasa sakit sekali,"
"Anna cuma alasan saja kan?"
Karena Danial tak mau mengerti juga, Anna meninggalkannya sendirian di kamar. Ia memilih pergi untuk menenangkan pikirannya.
Pagi buta sekali Tulus sudah berada di kediaman rumah Pak Hamdan, Bapak Anna.
Entah mengapa ia semalam begitu cemas memikirkan Anna. Sampai chat dan teleponnya juga tak dijawab oleh Anna.
"Apa kamu nggak coba mencari tahu ke rumahnya?"
"Danial telah melarang keras saya untuk bertemu dengan Anna, padahal niat saya ingin melindunginya dari perbuatan jahat Hanin !"
"Saya juga khawatir Hanin akan terus menyakiti Anna,"
"Begini saja pak, bagaimana kalau bapak yang coba mencari tahu kabar Anna sekarang,"
"Jika bapak yang meneleponnya, Danial nggak akan curiga,"
Braaaak......
Sebuah teflon terjatuh, hampir saja mengenai kaki Anna. Sampai Danial berdiri dari tempat duduknya. Dan menghampiri istrinya itu.
"Kenapa, Anna mau marah?"
Danial merasa aneh saat melihat Anna yang begitu sulit untuk berbicara, hingga ia berusaha menenangkan istrinya itu namun Anna menyingkirkan tubuhnya hingga terdorong ke meja dapur.
Danial pergi mengerjainya, Anna terus berlari tanpa arah tujuan. Seketika ada mobil yang berhenti di depannya, yang tak lain adalah Tulus.
Tulus yang melihat Anna berlarian, langsung ikut turun untuk mengejarnya.
"Anna tenang ya, aku di sini untuk melindungi kamu," ucap Tulus mencoba menenangkan Anna.
"Bawa aku pergi Tulus, aku mohon,"
Melihat Anna bersama dengan Tulus, Danial berniat untuk membawa Anna pergi bersamanya.
"Jangan sentuh dia, kamu sudah gagal menjadi suaminya !" ucap Tulus melihat Danial menarik tangan Anna.
"Kamu yang harusnya jaga sikap, Anna adalah istriku !"
"Tapi dia ingin pergi bersamaku,"
Mendengar ucapan dari Tulus membuat Danial terkejut. Namun ia tak mau memercayai semua omong kosongnya.
Anna pun angkat bicara, dan membenarkan apa yang telah Tulus ucapkan pada suaminya.
"Jangan larang aku untuk pergi Mas, ayo Tulus kita pergi sekarang juga !"
Danial berdiam diri saja, tak mampu menghentikan Anna yang lebih memilih Tulus ketimbang dirinya, suaminya.
__ADS_1
"Sakit kamu pasti kambuh lagi kan?" tanya Tulus sambil memberikan Anna obat.
"Terima kasih Tulus, kamu selalu ada saat aku butuhkan,"
"Iya dong, aku bukan Danial yang tega mengabaikan istrinya saat sakit,"
Anna termenung, mengapa suaminya tak bisa seperti sahabatnya, Tulus. Yang selalu ada saat dibutuhkan, dan bisa menjaga hatinya dalam suka duka.
Tulus memintanya untuk tetap sabar menghadapi sikap Danial yang memang keras sejak dulu.
Di sisi lain Bu Sarah terus memikirkan Danial yang takut Putra kesayangannya itu menderita, karena Anna menjalin hubungan dengan laki-laki lain.
Ia bertanya-tanya, saat mengetahui suaminya pulang bersama dengan Danial.
"Ada apa ini, kenapa Papa pulang bersama Danial?"
"Papa bertemu Danial di sebuah Danau Ma saat joging pagi, lalu Papa mengajaknya untuk ke rumah,"
"Kamu ada masalah, ceritakan saja Danial jangan kamu pendam sendirian,"
Danial menceritakan semua yang telah terjadi dengan Anna. Orang tuanya juga bingung setelah mendengar cerita darinya karena mereka tak tahu kalau istrinya mengidap suatu penyakit.
"Mama harus tanyakan ini sama orang tua Anna, kenapa mereka menyembunyikannya dari kita?"
Bu Sarah memutuskan untuk pergi sendiri ke Bandung menemui sahabatnya, Bu Lilis. Mencari tahu tentang Anna.
Juga ingin mengingatkan Putrinya supaya bisa menjaga harkat martabat Putranya, Danial.
Kebetulan Bu Lilis sedang menjemur kerupuk mentah di depan rumahnya. Ia bertanya-tanya saat melihat sebuah mobil mewah berhenti di depannya.
"Ternyata kamu, ayo masuk,"
"Rumah kamu sudah banyak yang berubah ya Lis, termasuk juga sikapmu,"
"Kenapa kamu nggak bilang sama aku kalau Anna mengidap penyakit yang berbahaya,"
"Jangan mentang-mentang kita bersahabat, kamu jadi seenaknya sama aku !"
"Maksud kamu apa, aku nggak tahu sama sekali,"
"Kamu masih nggak mau jujur tentang anakmu itu, aku sudah tahu semuanya termasuk hubungan dia dengan Tulus,"
"Kamu salah paham, Anna dan Tulus cuma rekan bisnis saja,"
"Masalah sakit yang Anna derita bukan sakit yang berbahaya seperti kamu bilang tadi, dia memang sering merasakan sakit bahkan saat masa sekolah,"
"Itu terjadi karena ia stress memikirkan mata pelajarannya, dan imun tubuhnya yang kurang baik,"
"Jadi maksud kamu apa yang aku sudah katakan tentang Anna ini semuanya salah?"
"Aku harap kamu bisa percaya sama aku, Anna nggak mungkin melakukan perbuatan semacam itu terhadap Danial,"
"Apa aku tanyakan soal hubungan Danial dengan Hanin juga ya, supaya ia bisa menasehati Danial. Batinnya. Apa ada yang kamu tanyakan lagi?"
__ADS_1