
Sepenggalah matahari naik, Anna termangu di hadapanku sambil sesekali menarik napasnya berat.
"Aku memintamu kemari bukan untuk menjadi manekin, cobalah untuk tersenyum," titah Tulus.
"Oke, aku sudah menyelesaikan apa yang kamu minta kemarin," ucap Anna sambil mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.
Tulus kagum, "Wow, sangat menarik !"
"Seperti kisah asli penulis !"
"Aku berusaha mencari informasi semua itu tapi kamu masih saja mengejekku ya !"
"Jujur aku suka dengan isinya, kalau sudah terbit pasti akan banyak peminatnya,"
Anna menaikkan alisnya, melotot.
"Ingat ya, aku baru saja memberikan buku itu padamu loh !"
"Iya, nanti aku baca sampai akhir kok !"
Di Cafe Panas Dingin, kedua ular berbisa membicarakan mangsanya.
"Sebentar lagi kita akan melihat kehancuran mereka, begitu saling membenci kemudian memilih pergi untuk selama-lamanya," picik Hanin.
__ADS_1
"Kamu benar, mereka yang jahat nggak akan pernah bisa bahagia !"
"Mereka, aku kira kita berdua yang paling jahat?"
Keduanya tertawa tanpa beban.
Di antara kopi dan kue combro yang bersanding, Bu Lilis mengingat putrinya.
"Dulu setiap paginya Anna nggak pernah telat buatkan kita combro ditambah secangkir kopi, Ibu rindu dengannya Pak," ucap Bu Lilis menatap lekat kue combro dan kopi hitam di depannya yang tidak jadi dimakan karena merindu putrinya.
"Bapak juga rindu Bu, setiap merindunya cuma bisa berucap hampa tanpa bertemu itu rasanya sakit sekali," imbuh Pak Hamdan, sambil mengelus dadanya.
Bu Sarah semakin tidak terarah.
"Semenjak hidup bersamanya Danial jadi anak yang pembangkang Pa, dia lebih percaya sama Anna dibandingkan Mamanya sendiri," ucap Bu Sarah, memegang erat gelas ditangannya.
"Nggak sepantasnya Ma, kita ini ikut campur dalam urusan rumah tangga anak kita. Tugas kita hanya mendoakan kebaikan untuk mereka," ucap suaminya yang membuat api amarah itu semakin besar.
"Kok Papa jadi lembek gini sih, harusnya Papa bisa tegas sama Danial supaya dia sadar kalau istrinya itu sama sekali nggak berharga !"
"Papa sadar nggak sih, keluarganya sudah membodohi kita yang asal mau saja menerimanya di keluarga ini padahal anaknya selain penyakitan juga mandul !"
"Astaghfirullah, istighfar Ma, bukannya Mama sendiri yang memilihnya untuk Danial karena dia memang sangat baik,"
__ADS_1
"Itu dulu Pa sebelum Mama tahu semuanya, sekarang kita sudah tahu kebenarannya tapi kenapa masih mau dibodohi oleh mereka?"
"Mama pikir ini saatnya untuk Danial berpisah dengan Anna, Mama nggak mau melihat keluarga kita ditindas terus menerus !" tegas Bu Sarah.
Malam Minggu, waktunya untuk berkencan.
Kali ini mereka memilih ke taman.
Di kelilingi bunga-bunga mekar, dan cahaya lampu yang menyorot keduanya.
"Anna mau dengar sekali lagi, tentang perasaan Mas ke Anna seperti apa. Boleh jujur?" ucap Anna berkaca-kaca.
Danial mencari-cari alasan untuk lari dari pertanyaan itu, namun sulit dihindari karena Anna masih menatapnya tajam.
"Jujur saja sebenarnya perasaan Mas ke Anna itu sangat sayang, tapi Mas juga nggak bisa menghindari perasaan sayang pada Hanin," ucapnya mencari celah agar matanya tidak terlihat berkaca-kaca.
"Aneh ya, padahal ukuran hati pada seorang laki-laki itu cuma 10,5 sentimeter Mas. Mana cukup untuk diisi dua orang sekaligus di sana,"
"Itulah kenyataannya, Mas nggak bisa memilih karena begitu sayang keduanya,"
"Misal Hanin memilih untuk pergi dari hati Mas, apakah Mas siap menerimanya?"
"Anna tolong dong paham sedikit saja, Hanin nggak akan pernah pergi dari hati Mas walau seluruh dunia pun nggak merestuinya. Cinta Mas ke Hanin tetap abadi !" tegas Danial, menggoreskan luka di hati Anna.
__ADS_1
Setelah mendengar isi hati Danial membuat dadanya susah untuk bernapas. Jantungnya berdetak lebih kencang, kepalanya juga terasa berat.